Berita

Kriya Tekstil UM Bandung Cetak Textile Creator Berkarakter

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung terus mengukuhkan perannya sebagai ruang pendidikan kreatif yang memadukan budaya, inovasi, dan keberlanjutan. Program studi ini dirancang untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki visi keilmuan, kepekaan budaya, serta karakter profesional yang kuat.

Kepala Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung Saftiyaningsih Ken Atik menegaskan bahwa keunggulan utama prodi terletak pada pendekatan keilmuan yang menempatkan tekstil sebagai medium utama dalam proses penciptaan karya. Menurutnya, pembelajaran tidak berhenti pada aspek visual atau gaya semata, melainkan menempatkan tekstil sebagai sarana berpikir, bereksplorasi, dan berinovasi.

“Tekstil kami posisikan sebagai medium sentral dalam berkarya. Mahasiswa diajak memahami tekstil secara utuh, bukan sekadar sebagai produk akhir, tetapi sebagai proses kreatif yang sarat makna,” ujar Ken Atik saat ditemui di Kampus UM Bandung pada Selasa (24/02/2026).

Ia menjelaskan, pembelajaran di Prodi Kriya Tekstil dan Fashion difokuskan pada tiga ranah utama, yakni structure design, surface design, serta integrasi dan implementasi tekstil. Ketiga ranah ini menjadi fondasi pengembangan kompetensi mahasiswa sejak tahap konseptual hingga aplikasi karya.

Pada ranah structure design, mahasiswa dibekali pemahaman mendalam mengenai struktur material tekstil. Mereka tidak hanya merancang bentuk, tetapi juga mempelajari bagaimana struktur tekstil dibangun melalui berbagai teknik seperti tenun, anyam, rajut, crochet, hingga manipulasi material tekstil secara kreatif dan eksperimental.

Sementara itu, pada ranah surface design, mahasiswa diarahkan untuk menggali kekayaan budaya lokal sebagai sumber inspirasi utama. Ken Atik menekankan bahwa wastra Nusantara menjadi fondasi penting dalam proses kreatif agar karya yang dihasilkan tetap berakar pada identitas budaya. “Budaya lokal kami jadikan basis inovasi, sehingga karya yang lahir memiliki nilai artistik sekaligus jati diri,” tuturnya.

Lebih jauh, integrasi dan implementasi tekstil menjadi ciri khas yang membedakan lulusan Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung. Lulusan diproyeksikan tidak hanya sebagai perancang busana, tetapi sebagai textile creator dan innovator yang mampu menghadirkan solusi desain lintas bidang, mulai dari produk kreatif hingga kebutuhan industri.

Dari sisi kurikulum, pembelajaran dirancang berbasis Project-Based Learning. Proses belajar berlangsung melalui studio praktik, eksplorasi teknik dan material, serta proyek desain yang berangkat dari persoalan nyata. Mahasiswa dilatih merespons isu keberlanjutan, pengelolaan limbah tekstil, hingga pengembangan teknik tradisional agar relevan dengan kebutuhan produk modern.

Integrasi teknologi juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Mahasiswa diperkenalkan pada desain tekstil digital, desain fashion berbasis teknologi, hingga konsep hybrid craft yang menjembatani warisan kriya dengan inovasi masa depan. Pendekatan ini dilakukan agar mahasiswa adaptif terhadap dinamika industri kreatif yang terus berkembang.

Selain itu, Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung secara aktif membangun koneksi dengan dunia industri melalui program magang, kerja profesi, dan kolaborasi dengan UMKM. Upaya ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pengalaman nyata agar siap memasuki dunia kerja dan pasar kreatif.

Dengan pendekatan tersebut, Ken Atik optimistis lulusan Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung memiliki prospek karier yang luas. “Lulusan kami diproyeksikan menjadi kriyawan tekstil profesional, perancang fashion, wirausahawan kreatif, hingga peneliti pemula yang berkarakter, beretika, dan berorientasi pada keberlanjutan,” pungkasnya. ***(HMA)

Administrator

Pajak Bukan Sekadar Kewajiban, tetapi Cermin Tanggung Jawab Warga Negara

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah Bandung melalui Tax Center menggelar webinar bertajuk Pelatihan Pelaporan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Melalui Coretax pada Senin (23/02/2026). Kegiatan yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom ini diikuti ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, serta perwakilan perusahaan di Kota Bandung.

Webinar tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan literasi perpajakan di tengah masyarakat, seiring dengan meningkatnya tuntutan kepatuhan pajak sebagai salah satu pilar pembiayaan pembangunan nasional. Pembina Tax Center UM Bandung, Yuniati, menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki nilai strategis dalam mendorong pemahaman pajak yang lebih komprehensif.

Menurut Yuniati, pajak tidak dapat dipandang semata sebagai kewajiban administratif, melainkan instrumen ekonomi yang berperan penting dalam menopang pembangunan negara. “Pajak bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi kontribusi nyata kita sebagai warga negara dalam pembangunan bangsa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, melalui pelatihan ini peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman konseptual mengenai pelaporan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi, tetapi juga dibekali keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan wajib pajak. Kompetensi tersebut diharapkan mampu membantu masyarakat dalam melaksanakan kewajiban perpajakan secara benar dan sesuai ketentuan.

Sejalan dengan itu, Ketua Program Studi Akuntansi UM Bandung, Iman Harjono, menilai kegiatan ini sebagai bentuk partisipasi aktif dunia akademik dalam mendukung sistem perpajakan nasional. Ia menekankan bahwa ketepatan dan kepatuhan pelaporan SPT Tahunan merupakan indikator integritas sekaligus profesionalisme, khususnya bagi insan akuntansi.

“Transformasi digital perpajakan melalui sistem Coretax menuntut sumber daya manusia yang adaptif, cermat, dan kompeten,” kata Iman. Menurutnya, penguasaan sistem ini menjadi penting tidak hanya untuk kepatuhan pajak, tetapi juga sebagai bekal mahasiswa dalam menghadapi kebutuhan dunia kerja di sektor keuangan dan perpajakan.

Dari sisi kelembagaan, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UM Bandung, Ia Kurnia, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya webinar tersebut. Ia menilai pelatihan ini sangat relevan, mengingat batas waktu pelaporan SPT Tahunan Orang Pribadi hingga 31 Maret serta penerapan Coretax sebagai sistem utama dalam administrasi perpajakan.

Ia berharap peserta dapat langsung mengimplementasikan materi yang diperoleh, khususnya dalam pemanfaatan Coretax. “Sistem Coretax dikembangkan untuk menjadikan penyusunan SPT Tahunan Orang Pribadi lebih modern, efisien, efektif, dan cepat,” pungkasnya.***(FA)

Foto: Istockphoto

Administrator

Pendidikan Puasa Anak Usia Dini Perlu Pendekatan Menyenangkan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Muhammadiyah Bandung Rizka Saputri menyampaikan bahwa Ramadan merupakan bulan yang sarat makna sekaligus momentum tepat untuk mengenalkan pendidikan puasa kepada anak usia dini.

Menurutnya, melalui pendekatan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak, Ramadan dapat menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai-nilai keislaman sekaligus membentuk karakter sejak dini secara alami dan menyenangkan.

Rizka menjelaskan bahwa konsep puasa pada dasarnya masih bersifat abstrak bagi anak usia dini. Karena itu, pengenalan puasa tidak dapat dilakukan secara instan atau dengan pendekatan yang kaku dan menekan.

“Konsep puasa perlu dijelaskan dengan cara yang sederhana dan konkret, salah satunya melalui cerita agar anak mudah memahami maknanya,” ujarnya. Metode bercerita dinilai efektif karena dekat dengan dunia imajinasi anak.

Ia menuturkan, cerita tentang puasa dapat diawali dengan penjelasan perintah puasa dalam Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan tujuan dan cara menjalankannya. Anak perlu dikenalkan bahwa puasa bertujuan membentuk pribadi bertakwa melalui bahasa yang mudah dipahami.

Terkait strategi agar anak belajar puasa tanpa merasa tertekan, Rizka menekankan pentingnya memahami karakter anak yang masih berada pada tahap pra-operasional. Guru dan orang tua disarankan menghadirkan cerita-cerita menyenangkan tentang Ramadan, seperti sahur bersama keluarga atau kegiatan di masjid, bukan menonjolkan larangan semata.

Selain dilakukan secara bertahap melalui kesepakatan bersama anak, Rizka menegaskan pentingnya apresiasi terhadap proses belajar puasa. “Puasa melatih sabar, disiplin, jujur, empati, dan gemar berbagi, sehingga pujian dan dukungan menjadi bagian penting dalam pendidikan karakter anak,” pungkasnya.***(FA)

Administrator

Ramadhan Sebagai Momentum Menyempurnakan Integritas Diri

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kaprodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Bandung Iman Harjono menyampaikan bahwa filosofi akuntansi dapat dijadikan sarana audit diri yang mendalam, terutama pada bulan Ramadhan yang sarat dengan momentum evaluasi spiritual.

Menurutnya, nilai-nilai utama dalam profesi akuntan seperti integritas, transparansi, dan akuntabilitas memiliki irisan kuat dengan ajaran Islam. Ramadhan pun menjadi ruang yang tepat untuk memaknai nilai tersebut, tidak hanya dalam konteks profesi, tetapi juga kehidupan personal.

Iman menjelaskan bahwa akuntansi tidak sekadar berbicara tentang angka dan laporan keuangan. Lebih dari itu, akuntansi dapat menjadi metafora kehidupan, karena setiap manusia sejatinya memiliki “laporan amal” yang kelak akan diperiksa secara menyeluruh tanpa peluang revisi.

“Sebagaimana laporan keuangan harus jujur dan akurat, demikian pula hidup manusia akan diperiksa Allah dengan catatan yang sempurna, tanpa ada yang terlewat,” ujarnya saat mengisi Kajian Ramadhan di YouTube UM Bandung pada Jumat (20/02/2026).

Kesadaran akan pencatatan amal ini, lanjut Iman, semestinya menumbuhkan kehati-hatian dalam bersikap dan bertindak. Setiap ucapan dan perbuatan memiliki konsekuensi spiritual yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ia memosisikan Ramadhan sebagai audit internal spiritual sebelum datangnya hari hisab. Seperti halnya dalam dunia korporasi, audit internal dilakukan untuk memastikan kesiapan sebelum audit eksternal, demikian pula Ramadhan menjadi waktu refleksi dan pembenahan diri sebelum pertanggungjawaban akhir.

Menutup refleksinya, Iman menegaskan bahwa Ramadhan adalah kesempatan untuk memperbaiki “laporan hidup” dengan menambah aset amal dan mengurangi liabilitas dosa. Ia berharap bulan suci ini benar-benar melahirkan pribadi yang berintegritas, sehingga kelak kitab amal dibuka dengan senyum, bukan kegelisahan.***

Administrator

Memahami Salat Tarawih Secara Jernih Melalui Hadis Rasulullah

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Setiap datangnya bulan Ramadhan, masjid-masjid kembali dipenuhi cahaya ibadah. Lantunan Al-Qur’an terdengar di malam hari, saf-saf salat terisi rapat, dan satu amalan khas Ramadhan pun kembali dikerjakan, yaitu salat Tarawih. Meski rutin dilakukan setiap tahun, Tarawih kerap memunculkan pertanyaan seputar hukum, pelaksanaan, hingga jumlah rakaatnya.

Untuk memahami Tarawih secara jernih, rujukan utama tentu hadis-hadis Nabi Muhammad saw. Dari riwayat Aisyah, diketahui bahwa Rasulullah saw pernah melaksanakan salat malam Ramadhan di masjid dan diikuti para sahabat. 

Namun, beliau tidak terus-menerus mengimami karena khawatir salat tersebut akan dianggap wajib oleh umat. Dari peristiwa ini, para ulama menegaskan bahwa Tarawih adalah ibadah sunnah, dianjurkan tetapi tidak diwajibkan.

Makna kesunnahan ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah yang menjelaskan bahwa Nabi saw menganjurkan qiyam Ramadhan tanpa perintah yang bersifat mengikat. Siapa pun yang melaksanakannya dengan iman dan mengharap pahala dijanjikan ampunan dosa. Hal ini menunjukkan bahwa Tarawih merupakan ibadah yang sarat keutamaan, namun tetap memberi ruang kelapangan bagi umat.

Dalam praktiknya, Nabi saw juga tidak selalu melaksanakan Tarawih berjamaah setiap malam. Riwayat Abu Dzar menerangkan bahwa Rasulullah saw baru mengimami salat malam pada beberapa malam terakhir Ramadhan. Meski demikian, beliau menegaskan keutamaan mengikuti imam hingga selesai, yang pahalanya dicatat seperti qiyam satu malam penuh.

Terkait jumlah rakaat, Aisyah menuturkan bahwa Rasulullah saw tidak pernah menambah salat malamnya, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan, lebih dari sebelas rakaat termasuk witir. Riwayat ini menjadi dasar kuat bahwa praktik qiyam Ramadhan Nabi saw berjumlah sebelas rakaat.

Adapun waktu yang paling utama untuk tarawih adalah pada larut malam. Namun, salat tarawih juga boleh dikerjakan pada awal malam setelah Isya, terutama demi kemudahan jamaah dan untuk meraih keutamaan salat berjamaah. Dengan demikian, tarawih hadir sebagai ibadah sunnah yang penuh rahmat, memberi ruang keluasan sekaligus mendidik umat dalam keikhlasan dan kesungguhan beribadah.***

Sumber: muhammadiyah.or.id | Foto: istockphoto

 

Administrator

Puasa Bukan Tentang Menahan Lapar Tapi Bagaimana Menata Jiwa

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Rektor III UM Bandung Zamah Sari menegaskan bahwa Ramadhan merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk menguji sekaligus merefleksikan kegembiraan sejati dalam menjalankan ibadah puasa, bukan sekadar kegembiraan yang bersifat lahiriah. 

Hal tersebut ia sampaikan saat mengisi Kajian Ramadan di kanal YouTube Universitas Muhammadiyah Bandung, Kamis (19/02/2026).

Ia menjelaskan bahwa umat Islam di Indonesia memiliki beragam tradisi lokal dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi-tradisi tersebut tumbuh dari budaya, kebersamaan, dan nilai sosial yang mengakar kuat, sehingga menjadi ekspresi kegembiraan kolektif masyarakat.

Menurut Zamah, berbagai daerah mengekspresikan suka cita Ramadhan dengan cara yang khas, mulai dari pawai obor, makan bersama, mandi ritual, hingga kegiatan sosial. “Tradisi ini menandakan bahwa Ramadhan selalu hadir sebagai bulan yang dinanti dan disambut dengan sukacita,” ujarnya.

Ia mencontohkan tradisi Cucurak di tanah Sunda sebagai simbol kebersamaan dan saling memaafkan, Megibung di Bali yang menegaskan nilai kesetaraan, Marpangir di Sumatera Utara serta Balimau di Sumatera Barat sebagai ritual pembersihan diri, hingga Padusan di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai persiapan spiritual menjelang Ramadhan.

Meski demikian, Zamah mengingatkan bahwa kegembiraan Ramadhan tidak boleh hanya bertumpu pada hawa nafsu dan kesenangan jasmani. “Kalau kegembiraan itu hanya soal perut dan suasana ramai, maka makna puasa justru hilang, karena puasa mengajarkan kita menahan lapar dan haus,” tegasnya.

Ia juga menilai kegembiraan yang hanya didasarkan pada akal dan nalar memiliki keterbatasan. Akal memang mampu memahami manfaat puasa secara fisik, tetapi pada saat yang sama sering kali menegosiasikan ketentuan syariat sesuai dengan kepentingan pribadi.

Lebih lanjut, Zamah menekankan bahwa yang benar-benar diuji dalam ibadah puasa adalah hati nurani dan iman. “Yang dipanggil Allah dalam puasa itu bukan perut dan bukan akal, tetapi hati kita,” katanya. Karena itu, Ramadhan harus menjadi ruang introspeksi atas perjalanan hidup selama sebelas bulan sebelumnya.

Menurutnya, Ramadhan merupakan momentum tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Sekaligus peneguhan kalimah tauhid agar manusia tidak menuhankan selain Allah, baik harta, jabatan, keluarga, maupun hawa nafsu. Dalam dimensi sosial, zakat fitrah juga menjadi sarana membersihkan harta dan menumbuhkan kepedulian.

Zamah menyimpulkan bahwa kegembiraan sejati Ramadhan lahir dari hati yang bersih dan merdeka dalam iman. “Kegembiraan yang hakiki itu ketika hati kita mampu mengatakan tidak pada dosa dan kompromi,” pungkasnya, seraya menegaskan bahwa tradisi Ramadhan boleh dirayakan, namun kesungguhan hati tetap menjadi kunci utama kualitas ibadah puasa.***(FA)

Administrator