Berita

Jumlah Mahasiswa Terus Bertambah, Fakultas Agama Islam Semakin Berkembang

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung yang resmi berdiri pada 2016 terus menunjukkan perkembangan signifikan dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Sejak awal pendiriannya, UM Bandung secara bertahap mengalami transformasi kelembagaan dan infrastruktur pendidikan.

Pada masa awal operasional, kegiatan perkuliahan UM Bandung masih dilaksanakan di gedung kawasan Palasari, Kota Bandung. Hingga akhirnya, pada 2019, UM Bandung menempati gedung milik sendiri setinggi 14 lantai yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Bandung.

Kehadiran UM Bandung merupakan perwujudan cita-cita panjang para kader dan sesepuh Muhammadiyah Jawa Barat. Selain itu, berdirinya kampus ini juga merupakan hasil penggabungan sejumlah institusi pendidikan Muhammadiyah yang telah lebih dahulu eksis.

Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) kemudian bertransformasi menjadi Fakultas Agama Islam (FAI), sementara Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah (STIEM) berkembang menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Seiring perjalanan waktu, Fakultas Agama Islam UM Bandung menunjukkan pertumbuhan yang cukup pesat. Dekan FAI UM Bandung, Prof Dr H Afif Muhammad MA, mengungkapkan bahwa perkembangan tersebut terlihat jelas dari meningkatnya jumlah mahasiswa dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Afif, pertumbuhan jumlah mahasiswa merupakan salah satu indikator penting keberhasilan fakultas, sekaligus menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kualitas sumber daya manusia dan mutu akademik. “Ukuran sukses fakultas salah satunya bisa dilihat dari jumlah mahasiswa yang terus bertambah,” ujarnya.

Saat ini, FAI UM Bandung tercatat memiliki lebih dari 1.200 mahasiswa aktif. Jumlah tersebut dinilai cukup besar untuk ukuran Fakultas Agama Islam, terlebih di tengah persaingan penerimaan mahasiswa yang semakin ketat.

“Sekarang mencari mahasiswa FAI itu tidak mudah,” kata Afif saat memberikan sambutan pada acara pelepasan dosen FAI UM Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan pada Senin (02/02/2026).

Ia juga menyoroti kondisi pendidikan tinggi Islam di Jawa Barat yang saat ini memiliki lebih dari 300 perguruan tinggi Islam, yang secara langsung menjadi kompetitor dalam menarik minat calon mahasiswa baru.

Afif mencontohkan, di Kota Bandung pernah berdiri Fakultas Ushuluddin di salah satu kampus Islam ternama, namun kini sudah tidak lagi beroperasi. Berbeda dengan kondisi tersebut, FAI UM Bandung dinilai mampu bertahan dan berkembang dengan status yang resmi, legal, serta telah terakreditasi.

Selain itu, Afif mengingatkan masyarakat terkait maraknya perguruan tinggi yang beroperasi tanpa standar akademik yang memadai. Ia juga melontarkan refleksi kritis mengenai pendirian Fakultas Agama Islam di berbagai kampus, apakah benar-benar didasarkan pada kebutuhan masyarakat atau sekadar mengikuti tren.

Menutup sambutannya, Afif mendorong agar mahasiswa FAI UM Bandung dibekali keterampilan lintas disiplin, khususnya di bidang sains dan teknologi. Menurutnya, pemahaman terhadap isu siber dan teknologi digital menjadi kebutuhan mendesak agar lulusan Fakultas Agama Islam tetap relevan dan kompetitif di tengah dinamika masyarakat modern yang semakin digital.***(FA)

Administrator

Program Akuisisi Pengetahuan Lokal Buka Peluang Publikasi Ilmiah Terbuka di UM Bandung

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menandatangani naskah kerja sama di Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Rabu (04/02/2026).

Penandatanganan tersebut dirangkaikan dengan sosialisasi Program Akuisisi Pengetahuan Lokal (APL) yang diikuti oleh sivitas akademika UM Bandung sebagai upaya memperluas diseminasi karya ilmiah akademisi.

Ketua MPI PWM Jawa Barat Kelik Nursetiyo Widiyanto menyambut baik kerja sama tersebut sebagai langkah strategis dalam penguatan literasi dan pengelolaan pengetahuan di lingkungan Muhammadiyah.

Ia menjelaskan bahwa MPI merupakan salah satu dari dua belas majelis di Muhammadiyah yang memiliki fokus pada pengembangan kepustakaan dan informasi.

Kelik mengungkapkan bahwa saat ini MPI PWM Jawa Barat menjalankan sejumlah program kolaboratif bersama Lembaga Pengembangan Pesantren, Majelis Dikdasmen, dan Lembaga Seni Budaya Aisyiyah.

Keempat lembaga tersebut memiliki irisan program yang erat dengan penguatan literasi, budaya baca, serta pengembangan kepustakaan di lingkungan pendidikan Muhammadiyah.

Salah satu program unggulan yang telah berjalan adalah Mentari atau Muhammadiyah Membaca Setiap Hari yang dilaksanakan di sekolah-sekolah dan pesantren Muhammadiyah di Jawa Barat. Program yang digagas bersama BRIN ini menjadi bagian dari upaya menumbuhkan budaya literasi sejak dini secara berkelanjutan.

Seiring berkembangnya program literasi, MPI juga mulai mengembangkan program penerbitan buku. Dari sinilah diskusi dengan BRIN mengenai Program Akuisisi Pengetahuan Lokal bermula, terlebih UM Bandung memiliki banyak dosen dengan karya tulis yang telah maupun akan diterbitkan dan berpotensi masuk dalam skema APL. Program ini juga membuka peluang bagi karya visual dan audiovisual ilmiah untuk diikutsertakan.

Direktur Repositori, Multimedia, dan Penerbitan Ilmiah BRIN Hendro Subagyo menyampaikan bahwa APL dirancang untuk memberikan insentif kepada para kreator karya ilmiah, baik dalam bentuk buku maupun audiovisual.

Menurutnya, semangat utama APL adalah memperluas akses ilmu pengetahuan kepada masyarakat melalui keterbukaan informasi ilmiah, sejalan dengan gerakan global open science yang juga menjadi perhatian UNESCO.

Sementara itu, Wakil Rektor II UM Bandung Ahmad Diponegoro mengapresiasi kepercayaan MPI PWM Jawa Barat dan BRIN yang menjadikan UM Bandung sebagai tuan rumah kegiatan tersebut.

Ia berharap kerja sama ini tidak berhenti pada penandatanganan naskah semata, tetapi berlanjut dalam bentuk implementasi nyata yang mendukung pengembangan karier akademik serta penyebaran karya ilmiah sivitas UM Bandung secara lebih luas.***

Administrator

Koperasi dan UMKM Jadi Fondasi Ekonomi Kerakyatan Berkelanjutan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Program Studi Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Suparjiman MM menegaskan bahwa koperasi memiliki peran strategis dalam membangun dan memperkuat ekonomi kerakyatan di Indonesia. Menurutnya, koperasi merupakan wujud nyata praktik demokrasi ekonomi sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 UUD 1945.

Suparjiman menjelaskan bahwa koperasi tidak sekadar badan usaha, melainkan sarana partisipasi masyarakat dalam kegiatan produksi dan distribusi ekonomi. Melalui koperasi, anggota berperan sebagai pemilik sekaligus pengguna jasa sehingga berhak memperoleh sisa hasil usaha sesuai kontribusinya.

Ia menambahkan bahwa ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi demokratis yang bertujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, khususnya masyarakat kecil. Konsep ini berlandaskan prinsip keadilan dan demokrasi ekonomi serta menempatkan rakyat sebagai subjek utama pembangunan, dengan kepemilikan yang bersifat kolektif dan berpihak pada kepentingan bersama.

Dalam pemaparannya pada program GSM Aisyiyah Jawa Barat, Kamis (05/02/2026), Suparjiman menyebut pemahaman ekonomi kerakyatan dapat dilihat dari dua pendekatan, yakni pelaku ekonomi skala kecil seperti koperasi, petani, dan UMKM, serta pendekatan sistem ekonomi yang menekankan pembangunan partisipatif. Kedua pendekatan tersebut saling melengkapi untuk mewujudkan sistem ekonomi yang adil dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kerja sama, pembinaan, dan penguatan jejaring usaha agar ekonomi rakyat tumbuh lebih berdaya saing. Pengembangan ekonomi kerakyatan juga perlu memperhatikan potensi lokal daerah melalui penguatan UMKM, pembentukan koperasi produktif, serta dukungan kebijakan dan infrastruktur dari pemerintah daerah agar kesejahteraan masyarakat dapat terwujud secara inklusif dan berkelanjutan.***

Administrator

Melalui Musykom 2026, IMM Saintek UM Bandung Perkuat Regenerasi Kepemimpinan Kader

BANDUNGMU.COM, Bandung -- Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Saintek Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sukses menyelenggarakan Musyawarah Komisariat (Musykom) 2026.

Kegiatan ini mengusung tema “Transformasi Kepemimpinan PK IMM Saintek UM Bandung Menuju Organisasi yang Adaptif dan Progresif” dan dilaksanakan pada Jumat (24/01/2026) di SMP Muhammadiyah 9 Kota Bandung.

Musykom merupakan forum permusyawaratan tertinggi di tingkat komisariat yang berfungsi sebagai wadah evaluasi kepemimpinan periode sebelumnya sekaligus merumuskan arah gerak organisasi ke depan. Forum ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat konsolidasi dan keberlanjutan gerakan kader IMM.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh perwakilan PC IMM Kota Bandung, Ayunda Halimah Nurlatifah, bersama Wakil Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 9 Kota Bandung, Rakanda Muhammad Faris Rasyadan.

Dalam sambutannya, keduanya menekankan pentingnya kader IMM untuk terus menghadirkan gerakan yang relevan dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai ideologis Muhammadiyah sebagai landasan perjuangan organisasi.

Pada kesempatan tersebut, Ketua PK IMM Saintek UM Bandung periode 2024–2025, Danu Arya Ramadhani, menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepemimpinannya selama satu periode. Ia menuturkan bahwa berbagai dinamika organisasi yang dihadapi menjadi proses pembelajaran kolektif dalam memperkuat fondasi gerakan kader di tingkat komisariat.

Rangkaian Musykom berlangsung secara demokratis dan khidmat dengan menjunjung tinggi nilai musyawarah serta semangat kekeluargaan. Melalui proses sidang dan pemilihan, forum akhirnya menetapkan pimpinan baru PK IMM Saintek UM Bandung periode 2025–2026.

Adapun susunan pimpinan terpilih yakni Adam Purnama sebagai Ketua, Roudotul Farikhah sebagai Sekretaris, dan Ai Elsa Nabila sebagai Bendahara. Kepemimpinan baru ini diharapkan mampu membawa PK IMM Saintek UM Bandung menjadi organisasi yang lebih adaptif dalam merespons tantangan zaman.

Selain itu, kepengurusan baru juga diharapkan semakin progresif dalam mengembangkan gerakan intelektual, sosial, dan dakwah kemahasiswaan. Musykom 2026 pun tidak hanya menjadi momentum regenerasi kepemimpinan, tetapi juga ruang refleksi bersama untuk memperkuat komitmen kader dalam mewujudkan PK IMM Saintek sebagai organisasi yang berdaya saing, responsif, dan berkemajuan.***

Administrator

Riset Berdampak Sebagai Ukuran Baru Keunggulan Fakultas Agama Islam

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Hendar Riyadi MAg menilai Fakultas Agama Islam (FAI) tengah berada di tengah tantangan yang kian kompleks seiring laju perubahan zaman yang sangat cepat. Tanpa langkah transformasi yang progresif dan visioner, FAI berpotensi tertinggal serta kehilangan relevansi strategisnya di masa depan.

Hal tersebut disampaikan Hendar dalam sambutannya pada acara pelepasan dosen Fakultas Agama Islam UM Bandung yang digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Senin (02/02/2026). Ia menegaskan bahwa transformasi FAI tidak bisa berhenti pada aspek administratif semata, tetapi harus menyentuh paradigma keilmuan sekaligus kontribusi sosial yang nyata bagi masyarakat.

Dalam refleksinya, Hendar juga menyinggung perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang turut memengaruhi cara berpikir akademik saat ini. Menurutnya, AI dapat menjadi mitra diskusi intelektual yang membuka perspektif baru, khususnya dalam merespons isu-isu futuristik yang sebelumnya belum banyak dipikirkan dalam kajian keislaman.

Dari refleksi tersebut, Hendar memperkenalkan gagasan FAI 5.0 sebagai fase transformasi peradaban. Ia menjelaskan bahwa FAI telah melewati fase normatif, administratif, akademik formal, hingga tahap substansi dan relevansi, dan kini diarahkan untuk berperan aktif dalam pembangunan peradaban, bukan sekadar unggul dalam akreditasi.

Hendar juga mengkritisi realitas perguruan tinggi Islam yang masih kerap terjebak dalam normativisme administratif. Beban akreditasi dan tuntutan formal dinilai sering menggeser perhatian dari nilai-nilai humanisme, bahkan mengabaikan dimensi kemanusiaan dosen dan sivitas akademika, padahal FAI seharusnya hadir sebagai ruang transformatif yang menawarkan solusi atas persoalan riil masyarakat.

Sorotan lain diarahkan pada rendahnya dampak sosial riset akademik. Hendar menilai sebagian besar penelitian masih diposisikan sebagai kewajiban administratif, belum sepenuhnya diarahkan untuk menjawab persoalan konkret seperti jeratan rentenir, pinjaman online, ketimpangan ekonomi, serta problem sosial-keagamaan yang dihadapi umat.

Sebagai langkah ke depan, ia menggagas prinsip “satu dosen, satu warisan” melalui karya pengabdian unggulan dan inovasi berdampak, sekaligus mendorong FAI menjadi pusat healing sosial di tengah krisis multidimensi.

Hendar berharap dalam empat tahun ke depan mayoritas riset FAI berdampak langsung bagi masyarakat, kurikulum berbasis problem nyata diperkuat, dan FAI tampil sebagai rujukan nasional Islam transformatif menuju visi FAI 5.0 sebagai fakultas peradaban.***

Administrator

Berbicara Isu Sosial Tanpa Kata, Karya Mahasiswa FSH UM Bandung Tampil Kritis

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Fakultas Sosial dan Humaniora (FSH) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menyelenggarakan pameran karya inovasi dan kreasi dosen serta mahasiswa dari empat Program Studi di lingkungan FSH. Pameran bertajuk Darma Sinergi Humaniora ini menjadi ruang temu gagasan lintas disiplin yang menampilkan beragam karya akademik dan kreatif.

Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora UM Bandung Irianti Usman mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut sebagai representasi nyata integrasi keilmuan di lingkungan FSH. Menurutnya, keempat program studi di FSH—Psikologi, Kriya Tekstil dan Fashion, Administrasi Publik, serta Ilmu Komunikasi—saling terhubung dan tidak dapat berdiri sendiri. Hal itu tercermin dari karya-karya mahasiswa yang ditampilkan dalam pameran.

Ia menegaskan bahwa pameran ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya, tetapi juga sarana dakwah serta penguatan nilai-nilai humaniora di UM Bandung. Sejumlah karya bahkan menunjukkan pemanfaatan alat ukur psikologi, media komunikasi visual, hingga pendekatan kreatif lainnya yang saling melengkapi.

Sementara itu, Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Bandung Hendar Riyadi menyampaikan bahwa inovasi di era saat ini tidak lagi lahir dari spesialisasi yang terpisah, melainkan dari perjumpaan dan kolaborasi lintas bidang. Menurutnya, kolaborasi antara ilmu komunikasi dengan kriya, tekstil, dan fashion akan melahirkan gagasan baru yang relevan dengan isu sosial.

“Di Program Studi Ilmu Komunikasi, poster berbicara tentang isu yang sedang berkembang. Di Kriya Tekstil dan Fashion juga berbicara isu. Ketika keduanya digabungkan, hasilnya bukan sekadar tugas akhir semester, tetapi karya kreatif yang memiliki makna dan daya guna,” ujarnya.

Hendar juga menekankan bahwa makna tidak cukup hanya diperbincangkan, tetapi harus diwujudkan dalam berbagai bentuk karya. Mahasiswa Ilmu Komunikasi berperan dalam menyampaikan pesan, sementara mahasiswa Kriya Tekstil dan Fashion berperan merancang serta menyentuh pesan tersebut melalui desain. Kolaborasi ini dinilainya relevan dengan perkembangan industri kreatif saat ini.

Oleh karena itu, ia berpesan agar mahasiswa UM Bandung tidak membatasi diri pada sekat-sekat jurusan. “Belajarlah melintasi disiplin keilmuan, karena kehidupan di dunia nyata tidak selalu bekerja berdasarkan kurikulum tertentu. Saya berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi, tetapi juga embrio lahirnya ekosistem kreatif di kampus,” tambahnya.

Pembukaan pameran berlangsung meriah dan khidmat. Para mahasiswa berkumpul untuk mengikuti pembukaan sekaligus melihat berbagai karya kreatif yang dipamerkan. Usai seremoni, Wakil Rektor, Dekan FSH, Ketua Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion, serta sejumlah dosen berkeliling meninjau karya di sepanjang Selasar Gagasan.

Adapun karya yang ditampilkan meliputi poster isu sosial, alat ukur psikologi, alat peraga pembelajaran, hingga rancangan busana. Poster-poster tersebut mengangkat berbagai isu aktual di Indonesia, seperti bencana alam di Pulau Sumatra, persoalan lingkungan, ketenagakerjaan, politik, korupsi, keadilan, serta tema-tema sosial lainnya yang dikemas secara kreatif dan kritis.

Beragam karya kreatif ditata secara rapi dan strategis sehingga mudah diakses serta dinikmati oleh sivitas akademika UM Bandung. Penataan tersebut membuat pameran tampil menarik dan komunikatif bagi pengunjung, sekaligus menjadi spot swafoto dadakan bagi mahasiswa untuk dibagikan di media sosial.***

Administrator