Berita

PKM Psikologi UM Bandung Dorong Kemandirian Perempuan Nasyiatul Aisyiyah

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sukses menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) pada Sabtu (07/02/2026). Kegiatan tersebut dilaksanakan di lantai dua Gedung UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752.

PKM ini diikuti oleh anggota Pimpinan Cabang dan Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiyah (NA) se-Kota Bandung. Seluruh peserta terlihat antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang difokuskan pada peningkatan kesiapan perempuan dalam memasuki dunia kerja.

Ketua Pelaksana Kegiatan Tasya Augustiya menjelaskan bahwa kegiatan PKM ini merupakan realisasi dari dana hibah yang diperoleh dari Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui program RisetMu batch ke-9.

“Alhamdulillah, beberapa waktu lalu kami mendapatkan dana hibah dari Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui RisetMu batch ke-9,” ujar Tasya di sela-sela kegiatan.

Ia menambahkan, kegiatan yang dilaksanakan bekerja sama dengan Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kota Bandung tersebut bertujuan membekali perempuan NA agar lebih siap dalam melamar pekerjaan yang sesuai dengan minat dan potensi masing-masing.

Menurut Tasya, tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan di Indonesia masih relatif rendah. Oleh karena itu, melalui kegiatan ini pihaknya berupaya mendorong kader Nasyiatul Aisyiyah agar menjadi lebih mandiri dan percaya diri, terutama dalam proses mencari maupun melamar pekerjaan.

Dalam pelaksanaannya, para peserta mendapatkan berbagai materi penting, mulai dari pelatihan wawancara kerja, pengenalan potensi diri, hingga arahan pengembangan karier. Metode yang digunakan juga bersifat interaktif melalui diskusi, simulasi wawancara, serta pelatihan penulisan curriculum vitae (CV).

Melalui pelatihan tersebut, Tasya berharap perempuan di lingkungan Nasyiatul Aisyiyah dapat memiliki keyakinan diri yang kuat dalam meraih pekerjaan impian. Ia juga menekankan bahwa perempuan tidak harus terpaku pada pekerjaan formal di perusahaan semata.

Menurutnya, perempuan memiliki fleksibilitas yang luas dalam menentukan dan mengembangkan karier, baik di sektor formal maupun nonformal, sesuai dengan kemampuan serta pilihan hidup masing-masing.

Sementara itu, Ketua PDNA Kota Bandung Febriyani Nuril Akmaliyah menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan PKM tersebut. Ia menilai program ini sangat bermanfaat bagi perempuan Nasyiatul Aisyiyah di Kota Bandung, khususnya mereka yang berada pada usia produktif dan sedang mempersiapkan masa depan karier.

Febriyani berharap para peserta dapat memperoleh pekerjaan yang ideal dan sesuai dengan keterampilan di bidang masing-masing. “Mudah-mudahan pekerjaan yang dijalani ke depan tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga memberikan manfaat bagi orang banyak,” pungkasnya.***(FK)

Administrator

Etika dan Akhlak Jadi Penopang Kebebasan Akademik Mahasiswa UM Bandung

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Herry Suhardiyanto menegaskan bahwa kebebasan akademik mahasiswa harus dijalankan secara bertanggung jawab dan berlandaskan etika serta moral. Kebebasan tersebut, menurutnya, tidak dapat dimaknai secara sembarangan tanpa batasan nilai.

Penegasan itu disampaikan Herry saat mengisi Expo dan Kuliah Umum yang digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung, Jumat (06/02/2026). Kegiatan tersebut diikuti antusias oleh lebih dari seribu mahasiswa dari berbagai program studi.

Dalam pemaparannya, Herry menjelaskan bahwa mahasiswa merupakan insan akademik yang memiliki peran strategis sebagai pencari ilmu, agen perubahan, sekaligus calon pemimpin masa depan. Oleh karena itu, setiap sikap dan perilaku mahasiswa akan menjadi cerminan kualitas pribadi sekaligus nama baik institusi.

“Mahasiswa bukan hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga membawa identitas kampus dan Muhammadiyah di mana pun berada,” ujar Herry. Ia menekankan pentingnya kesadaran mahasiswa terhadap peran tersebut dalam kehidupan akademik maupun sosial.

Rektor menegaskan bahwa etika merupakan fondasi utama dalam dunia akademik. Etika berfungsi sebagai pedoman agar kebebasan berpikir dan berekspresi tetap berada dalam koridor nilai-nilai kebaikan. “Kecerdasan intelektual tanpa etika akan kehilangan makna. Ilmu harus dibangun di atas akhlak,” tegasnya.

Menurut Herry, etika mahasiswa tercermin dalam perilaku sehari-hari, seperti kejujuran dalam ujian dan tugas, kedisiplinan mengikuti perkuliahan, serta kesantunan dalam berkomunikasi dengan dosen dan tenaga kependidikan. Hal-hal tersebut dinilainya sebagai bagian penting dari pembentukan karakter akademik.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kebebasan akademik bukanlah kebebasan tanpa batas. Mahasiswa memang memiliki hak untuk berdiskusi, bertanya, dan menyampaikan pendapat, namun semua itu harus tetap berada dalam koridor hukum, norma, dan nilai agama. “Kebebasan akademik tidak boleh disalahartikan sebagai kebebasan untuk bersikap tidak sopan atau melanggar aturan,” katanya.

Herry juga menyoroti fenomena penyalahgunaan media sosial yang kerap mengatasnamakan kebebasan akademik. Ia mengingatkan mahasiswa agar tetap menjaga etika di ruang digital, karena setiap unggahan tetap melekat pada identitas akademik yang bersangkutan.

Sebagai mahasiswa Muhammadiyah, Herry menegaskan adanya tanggung jawab moral yang lebih luas. Nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, seperti kejujuran, kedisiplinan, dan akhlakul karimah, harus menjadi landasan dalam bersikap. “Mahasiswa Muhammadiyah harus tampil sebagai teladan, tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara moral,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa UM Bandung telah memiliki kode etik mahasiswa yang mengatur perilaku akademik maupun nonakademik. Pelanggaran serius, seperti plagiarisme, kekerasan, dan pelecehan, akan ditindak tegas sebagai upaya menjaga marwah akademik kampus. “Aturan dibuat bukan untuk mengekang, tetapi untuk membentuk karakter,” jelasnya.

Menutup materinya, Rektor UM Bandung mengajak mahasiswa untuk menyeimbangkan kebebasan berpikir dengan tanggung jawab moral. Ia berharap mahasiswa UM Bandung mampu menjadi insan akademik yang kritis, santun, dan berintegritas. “Kebebasan akademik adalah hak, tetapi etika dan tanggung jawab adalah kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan,” pungkasnya.

Kegiatan ini untuk pertama kalinya digelar dalam format kuliah umum bertema “Etika Perilaku Mahasiswa: Antara Kebebasan Akademik dan Tanggung Jawab Moral”. Program tersebut menjadi upaya edukatif dan reflektif untuk menanamkan pemahaman komprehensif kepada mahasiswa tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kebebasan akademik dan tanggung jawab moral dalam kehidupan kampus.***

Administrator

Ujian Berbasis Praktik, Motekart Expo Jadi Wadah Ekspresi Mahasiswa PIAUD UM Bandung

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Riuh alunan musik, semarak warna kostum, serta gerak tari yang ceria mewarnai Auditorium KH Ahmad Dahlan di lantai tiga Gedung Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Rabu (04/02/2026). Sejak awal kegiatan, suasana terasa hidup, menghadirkan nuansa berbeda ketika ruang akademik menjelma menjadi panggung ekspresi dan kreativitas mahasiswa.

Kemeriahan tersebut merupakan bagian dari Motekart Expo, agenda rutin yang kembali digelar oleh Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) UM Bandung. Dalam kegiatan ini, mahasiswa PIAUD tampil secara berkelompok dengan kostum kreatif hasil rancangan sendiri, menampilkan tarian, nyanyian, serta interaksi yang penuh energi di hadapan para dosen penilai.

Di balik suasana yang menyenangkan, Motekart Expo sejatinya merupakan rangkaian ujian akhir semester (UAS). Dosen PIAUD UM Bandung, Isya Siti Aisyatul Mbz, menjelaskan bahwa konsep ujian ini dirancang untuk memberi ruang bagi mahasiswa mengekspresikan kreativitas sekaligus menguji kompetensi secara langsung. Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi UAS bagi mahasiswa PIAUD angkatan 2024.

Isya menjelaskan, Motekart Expo mengolaborasikan tiga mata kuliah, yakni seni musik, seni tari, dan bahasa daerah. Melalui kolaborasi ini, mahasiswa tidak hanya dituntut mampu tampil di atas panggung, tetapi juga menyajikan konsep pembelajaran yang relevan dengan karakter dan kebutuhan anak usia dini.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menampilkan beragam pertunjukan secara berkelompok, mulai dari tarian, musik, hingga penggunaan bahasa daerah. Meski dilakukan secara tim, penilaian tetap memperhatikan capaian individu berdasarkan indikator yang telah ditetapkan oleh dosen pengampu.

Lebih dari sekadar tugas kuliah, Motekart Expo dirancang sebagai bekal praktik nyata bagi mahasiswa setelah lulus. Penampilan yang disajikan di atas panggung merupakan simulasi pembelajaran yang kelak akan diterapkan di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Melalui kegiatan ini, Isya berharap mahasiswa terus mengembangkan kreativitas dan mampu membawa pengalaman belajar dari bangku kuliah ke dunia kerja. Ia menekankan pentingnya mengimplementasikan hasil pembelajaran tersebut di sekolah masing-masing pada masa mendatang.

Pengalaman belajar yang aplikatif menjadi ciri khas Program Studi PIAUD UM Bandung. Hal ini semakin diperkuat dengan keberadaan Taman Kanak-Kanak (TK) Labschool PIAUD di area belakang kampus, yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mempraktikkan ilmunya secara langsung, berinteraksi dengan anak usia dini, serta mengasah kompetensi sebagai calon pendidik yang kreatif dan profesional.***

Administrator

Jumlah Mahasiswa Terus Bertambah, Fakultas Agama Islam Semakin Berkembang

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung yang resmi berdiri pada 2016 terus menunjukkan perkembangan signifikan dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Sejak awal pendiriannya, UM Bandung secara bertahap mengalami transformasi kelembagaan dan infrastruktur pendidikan.

Pada masa awal operasional, kegiatan perkuliahan UM Bandung masih dilaksanakan di gedung kawasan Palasari, Kota Bandung. Hingga akhirnya, pada 2019, UM Bandung menempati gedung milik sendiri setinggi 14 lantai yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Bandung.

Kehadiran UM Bandung merupakan perwujudan cita-cita panjang para kader dan sesepuh Muhammadiyah Jawa Barat. Selain itu, berdirinya kampus ini juga merupakan hasil penggabungan sejumlah institusi pendidikan Muhammadiyah yang telah lebih dahulu eksis.

Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) kemudian bertransformasi menjadi Fakultas Agama Islam (FAI), sementara Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah (STIEM) berkembang menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Seiring perjalanan waktu, Fakultas Agama Islam UM Bandung menunjukkan pertumbuhan yang cukup pesat. Dekan FAI UM Bandung, Prof Dr H Afif Muhammad MA, mengungkapkan bahwa perkembangan tersebut terlihat jelas dari meningkatnya jumlah mahasiswa dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Afif, pertumbuhan jumlah mahasiswa merupakan salah satu indikator penting keberhasilan fakultas, sekaligus menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kualitas sumber daya manusia dan mutu akademik. “Ukuran sukses fakultas salah satunya bisa dilihat dari jumlah mahasiswa yang terus bertambah,” ujarnya.

Saat ini, FAI UM Bandung tercatat memiliki lebih dari 1.200 mahasiswa aktif. Jumlah tersebut dinilai cukup besar untuk ukuran Fakultas Agama Islam, terlebih di tengah persaingan penerimaan mahasiswa yang semakin ketat.

“Sekarang mencari mahasiswa FAI itu tidak mudah,” kata Afif saat memberikan sambutan pada acara pelepasan dosen FAI UM Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan pada Senin (02/02/2026).

Ia juga menyoroti kondisi pendidikan tinggi Islam di Jawa Barat yang saat ini memiliki lebih dari 300 perguruan tinggi Islam, yang secara langsung menjadi kompetitor dalam menarik minat calon mahasiswa baru.

Afif mencontohkan, di Kota Bandung pernah berdiri Fakultas Ushuluddin di salah satu kampus Islam ternama, namun kini sudah tidak lagi beroperasi. Berbeda dengan kondisi tersebut, FAI UM Bandung dinilai mampu bertahan dan berkembang dengan status yang resmi, legal, serta telah terakreditasi.

Selain itu, Afif mengingatkan masyarakat terkait maraknya perguruan tinggi yang beroperasi tanpa standar akademik yang memadai. Ia juga melontarkan refleksi kritis mengenai pendirian Fakultas Agama Islam di berbagai kampus, apakah benar-benar didasarkan pada kebutuhan masyarakat atau sekadar mengikuti tren.

Menutup sambutannya, Afif mendorong agar mahasiswa FAI UM Bandung dibekali keterampilan lintas disiplin, khususnya di bidang sains dan teknologi. Menurutnya, pemahaman terhadap isu siber dan teknologi digital menjadi kebutuhan mendesak agar lulusan Fakultas Agama Islam tetap relevan dan kompetitif di tengah dinamika masyarakat modern yang semakin digital.***(FA)

Administrator

Koperasi dan UMKM Jadi Fondasi Ekonomi Kerakyatan Berkelanjutan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Program Studi Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Suparjiman MM menegaskan bahwa koperasi memiliki peran strategis dalam membangun dan memperkuat ekonomi kerakyatan di Indonesia. Menurutnya, koperasi merupakan wujud nyata praktik demokrasi ekonomi sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 UUD 1945.

Suparjiman menjelaskan bahwa koperasi tidak sekadar badan usaha, melainkan sarana partisipasi masyarakat dalam kegiatan produksi dan distribusi ekonomi. Melalui koperasi, anggota berperan sebagai pemilik sekaligus pengguna jasa sehingga berhak memperoleh sisa hasil usaha sesuai kontribusinya.

Ia menambahkan bahwa ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi demokratis yang bertujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, khususnya masyarakat kecil. Konsep ini berlandaskan prinsip keadilan dan demokrasi ekonomi serta menempatkan rakyat sebagai subjek utama pembangunan, dengan kepemilikan yang bersifat kolektif dan berpihak pada kepentingan bersama.

Dalam pemaparannya pada program GSM Aisyiyah Jawa Barat, Kamis (05/02/2026), Suparjiman menyebut pemahaman ekonomi kerakyatan dapat dilihat dari dua pendekatan, yakni pelaku ekonomi skala kecil seperti koperasi, petani, dan UMKM, serta pendekatan sistem ekonomi yang menekankan pembangunan partisipatif. Kedua pendekatan tersebut saling melengkapi untuk mewujudkan sistem ekonomi yang adil dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kerja sama, pembinaan, dan penguatan jejaring usaha agar ekonomi rakyat tumbuh lebih berdaya saing. Pengembangan ekonomi kerakyatan juga perlu memperhatikan potensi lokal daerah melalui penguatan UMKM, pembentukan koperasi produktif, serta dukungan kebijakan dan infrastruktur dari pemerintah daerah agar kesejahteraan masyarakat dapat terwujud secara inklusif dan berkelanjutan.***

Administrator

Program Akuisisi Pengetahuan Lokal Buka Peluang Publikasi Ilmiah Terbuka di UM Bandung

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menandatangani naskah kerja sama di Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Rabu (04/02/2026).

Penandatanganan tersebut dirangkaikan dengan sosialisasi Program Akuisisi Pengetahuan Lokal (APL) yang diikuti oleh sivitas akademika UM Bandung sebagai upaya memperluas diseminasi karya ilmiah akademisi.

Ketua MPI PWM Jawa Barat Kelik Nursetiyo Widiyanto menyambut baik kerja sama tersebut sebagai langkah strategis dalam penguatan literasi dan pengelolaan pengetahuan di lingkungan Muhammadiyah.

Ia menjelaskan bahwa MPI merupakan salah satu dari dua belas majelis di Muhammadiyah yang memiliki fokus pada pengembangan kepustakaan dan informasi.

Kelik mengungkapkan bahwa saat ini MPI PWM Jawa Barat menjalankan sejumlah program kolaboratif bersama Lembaga Pengembangan Pesantren, Majelis Dikdasmen, dan Lembaga Seni Budaya Aisyiyah.

Keempat lembaga tersebut memiliki irisan program yang erat dengan penguatan literasi, budaya baca, serta pengembangan kepustakaan di lingkungan pendidikan Muhammadiyah.

Salah satu program unggulan yang telah berjalan adalah Mentari atau Muhammadiyah Membaca Setiap Hari yang dilaksanakan di sekolah-sekolah dan pesantren Muhammadiyah di Jawa Barat. Program yang digagas bersama BRIN ini menjadi bagian dari upaya menumbuhkan budaya literasi sejak dini secara berkelanjutan.

Seiring berkembangnya program literasi, MPI juga mulai mengembangkan program penerbitan buku. Dari sinilah diskusi dengan BRIN mengenai Program Akuisisi Pengetahuan Lokal bermula, terlebih UM Bandung memiliki banyak dosen dengan karya tulis yang telah maupun akan diterbitkan dan berpotensi masuk dalam skema APL. Program ini juga membuka peluang bagi karya visual dan audiovisual ilmiah untuk diikutsertakan.

Direktur Repositori, Multimedia, dan Penerbitan Ilmiah BRIN Hendro Subagyo menyampaikan bahwa APL dirancang untuk memberikan insentif kepada para kreator karya ilmiah, baik dalam bentuk buku maupun audiovisual.

Menurutnya, semangat utama APL adalah memperluas akses ilmu pengetahuan kepada masyarakat melalui keterbukaan informasi ilmiah, sejalan dengan gerakan global open science yang juga menjadi perhatian UNESCO.

Sementara itu, Wakil Rektor II UM Bandung Ahmad Diponegoro mengapresiasi kepercayaan MPI PWM Jawa Barat dan BRIN yang menjadikan UM Bandung sebagai tuan rumah kegiatan tersebut.

Ia berharap kerja sama ini tidak berhenti pada penandatanganan naskah semata, tetapi berlanjut dalam bentuk implementasi nyata yang mendukung pengembangan karier akademik serta penyebaran karya ilmiah sivitas UM Bandung secara lebih luas.***

Administrator