Berita

Magister PAI UM Bandung Siap Cetak Pendidik yang Berilmu dan Berkarakter

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dunia terus berubah, dan pendidikan Islam pun dituntut ikut menyesuaikan diri. Bukan lagi cukup dengan menguasai kitab dan metode mengajar konvensional, pendidik masa kini juga perlu peka membaca arah zaman.

Menjawab kebutuhan itu, Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung membuka Program Magister Pendidikan Agama Islam (S2 PAI) untuk tahun akademik 2026/2027.

Program ini terbuka luas, mulai dari guru, dosen, praktisi pendidikan, pengelola lembaga pendidikan, hingga lulusan S1 yang ingin naik level, baik secara akademik maupun profesional.

Kepala Bagian Penerimaan Mahasiswa Baru dan Promosi UM Bandung, Abdul Rohim, menjelaskan bahwa S2 PAI ini tidak sekadar soal menambah gelar di depan atau belakang nama.

Yang lebih penting, program ini ingin membentuk pendidik yang mampu melahirkan gagasan dan inovasi pendidikan Islam yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

“Pendidikan bukan hanya soal mengajar, tetapi membentuk generasi yang berilmu, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman. Melalui Magister PAI, kami ingin membekali para pendidik dan praktisi pendidikan dengan kompetensi yang lebih matang, baik secara akademik maupun profesional,” ujarnya di UM Bandung, Rabu (19/8/2026).

Salah satu yang bikin program ini menarik ada di kurikulumnya. Bukan cuma teori yang dikejar, mahasiswa diajak mengasah kemampuan analitis, meneliti, sekaligus mencari solusi atas persoalan pendidikan yang berkembang di tengah masyarakat.

Jadi, apa yang dipelajari di kelas benar-benar bisa dibawa ke lapangan. Tidak melulu belajar dengann kondisi yang menoton.

Sebagai bagian dari keluarga besar pendidikan tinggi Muhammadiyah, S2 PAI UM Bandung juga tidak melupakan ciri khasnya lewat penguatan mata kuliah Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK).

Bukan sekadar pelengkap, AIK justru jadi bagian penting yang membentuk lulusan agar tidak hanya cakap secara keilmuan, tapi juga kuat secara nilai dan pemahaman keislaman.

“Melalui AIK, mahasiswa tidak hanya dibekali keilmuan akademik. Namun, juga wawasan keislaman dan kemuhammadiyahan yang menjadi ruh dari setiap lulusan UM Bandung dan kampus-kampus Muhammadiyah di Indonesia,” kata Abdul.

Menariknya lagi, kompetensi yang dibangun lewat program ini tidak membatasi lulusan hanya jadi pendidik di kelas.

Peluang kariernya justru terbuka lebar, mulai dari peneliti, pengembang kurikulum, pengelola lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, sampai sektor pemerintahan. 

Dengan bekal yang beragam ini, lulusan diharapkan bisa mengambil peran lebih besar dalam menghadirkan pembaruan pendidikan Islam.

“Kami ingin lulusan Magister PAI tidak hanya menjadi pengajar yang mumpuni. Namun, jadi agen perubahan yang mampu menciptakan inovasi pendidikan Islam yang relevan dengan perkembangan zaman,” tutur Abdul.

Bagi yang tertarik, pendaftaran S2 PAI UM Bandung sudah dibuka sejak 27 Juli dan akan berlangsung hingga 20 September 2026.

Calon mahasiswa yang dinyatakan lolos seleksi nantinya akan mengikuti matrikulasi atau penguatan akademik pada 28 September 2026, sebelum resmi memulai perkuliahan perdana pada 5 Oktober 2026.

Soal berkas, tidak perlu khawatir ribet. Cukup siapkan formulir pendaftaran, ijazah S1 atau SKL, transkrip nilai yang sudah dilegalisasi, KTP, pas foto terbaru ukuran 3x4, CV, dan bukti pembayaran biaya pendaftaran.

Khusus untuk pendaftar berstatus ASN, TNI, Polri, atau pegawai, jangan lupa lengkapi juga surat izin belajar dari instansi masing-masing.

Di penghujung penjelasannya, Abdul mengajak para pendidik dan lulusan S1 yang ingin memperdalam Pendidikan Agama Islam untuk tidak ragu melanjutkan studi di UM Bandung.

“Kami berharap program ini dapat melahirkan lulusan yang unggul secara akademik dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan Islam di Indonesia,” pungkasnya.

Singkatnya, S2 PAI UM Bandung menawarkan perpaduan yang cukup lengkap: penguatan akademik, pendekatan yang aplikatif, sekaligus nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan yang jadi napas dalam setiap proses pembelajarannya.

Kombinasi inilah yang menjadikan program ini pilihan menarik bagi siapa pun yang ingin menjadikan pendidikan Islam bukan sekadar bidang keilmuan, tapi juga ruang untuk berkontribusi nyata bagi masyarakat.***(FA)

Administrator

UM Bandung Perkuat Kapasitas Remaja Jelegong Lewat Literasi dan Teknologi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ada yang berbeda dari kesibukan remaja Karang Taruna di Kampung Talun, Desa Jelegong, Kabupaten Bandung, belakangan ini.

Bukan cuma sibuk urusan agenda rutin kampung, sejak Juni 2026 sebanyak 40 anggota Karang Taruna di sana justru menekuni sesuatu yang jauh lebih ambisius: belajar memimpin, memperdalam literasi Islami, sampai bereksperimen dengan kecerdasan buatan (AI).

Semua itu berjalan lewat program pengabdian kepada masyarakat Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, yang didukung pendanaan BIMA Kemdiktisaintek 2026.

Program ini diketuai Hernawati bersama Iim Ibrohim dan Supala, dengan Hikmi berperan sebagai narasumber pelatihan AI. Empat mahasiswa Pendidikan Agama Islam — Leon, Nizma, Aldi, dan Surya — turut dilibatkan sebagai bagian dari tim pendampingan di lapangan.

Menariknya, program ini dirancang bukan sekadar sebagai ruang pelatihan satu arah. Ada visi yang lebih besar di baliknya: mendorong remaja untuk berani mengambil peran aktif dalam kehidupan sosial dan pendidikan di lingkungannya sendiri.

Materinya pun cukup lengkap, mencakup kepemimpinan, penguatan akhlak, literasi Islami, pemanfaatan AI, hingga pengelolaan pojok baca dan gerobak literasi.

Memimpin Itu Soal Mendengarkan, Bukan Sekadar Memerintah

Dalam sesi kepemimpinan, Supala mengajak peserta untuk melihat kepemimpinan dari sudut yang lebih membumi.

Baginya, seorang pemimpin sejati dibentuk dari hal-hal fundamental: tanggung jawab, kemampuan mendengarkan, dan keteladanan — bukan semata soal jabatan atau wewenang.

Untuk memastikan materi ini benar-benar meresap, peserta diajak menjalani simulasi dan studi kasus, sehingga mereka bisa merasakan langsung bagaimana menghadapi dinamika persoalan organisasi yang sesungguhnya.

Di sisi lain, Iim Ibrohim menyoroti aspek yang tak kalah krusial: akhlak sebagai fondasi dalam penggunaan ilmu dan teknologi. Menurutnya, kecakapan memimpin atau menguasai teknologi tanpa dibarengi akhlak yang baik justru berpotensi disalahgunakan.

"Sepintar apa pun seseorang memimpin atau menguasai teknologi, tanpa akhlak yang baik semua itu bisa disalahgunakan," ujarnya.

AI di Tangan yang Tepat, Bukan Sekadar Tren

Bagian yang paling menantang sekaligus membuka wawasan baru bagi para remaja mungkin ada di sesi pelatihan AI bersama Hikmi.

Alih-alih hanya dikenalkan secara teoretis, peserta langsung diajak mempraktikkan pemanfaatan AI untuk menyusun materi kegiatan, membuat konten edukatif, hingga mendukung pekerjaan organisasi sehari-hari.

Namun, Hikmi tidak berhenti pada aspek teknis semata. Ia turut menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis, kejujuran, ketepatan informasi, penghormatan terhadap hak cipta, serta etika dalam menggunakan AI — sebuah pengingat bahwa penguasaan teknologi mesti berjalan beriringan dengan tanggung jawab dalam menggunakannya.

Merawat Budaya Membaca dari Akar Rumput

Di ranah literasi, tim pengabdian bersama Karang Taruna membangun pojok baca dengan koleksi 245 buku. Hernawati menjelaskan, pengelolaannya sengaja diserahkan secara bertahap kepada anggota Karang Taruna, dengan harapan program ini tetap berkelanjutan sekalipun masa pendampingan telah usai.

Selain pojok baca, hadir pula gerobak literasi yang berkeliling ke sejumlah RT setiap Minggu — sebuah pendekatan yang menempatkan literasi bukan sebagai sesuatu yang menunggu untuk didatangi.

Namun, aktif menjemput minat baca warga. Melalui inisiatif ini, anggota Karang Taruna diposisikan sebagai pengelola sekaligus penggerak budaya membaca di lingkungannya sendiri.

Bekal untuk Masa Depan yang Lebih Berdaya

Ketua Karang Taruna Kampung Talun, Adi Surya, menyampaikan apresiasinya terhadap program ini. Menurutnya, para anggota memperoleh pengalaman baru yang berharga.

Mulai dari kepemimpinan dan pengelolaan pojok baca hingga pemanfaatan AI untuk kebutuhan organisasi. Ia berharap kegiatan ini dapat terus berjalan secara mandiri, dengan tetap menjaga komunikasi bersama UM Bandung.

Perpaduan antara literasi Islami, akhlak, kepemimpinan, AI, dan budaya membaca dalam program ini pada dasarnya diarahkan untuk membentuk generasi muda yang seimbang.

Yakni memiliki kemampuan intelektual yang mumpuni, kecakapan teknologi yang relevan, karakter yang kuat, sekaligus kepedulian sosial yang tinggi.

Program ini juga menegaskan pergeseran peran remaja, dari sekadar peserta pelatihan menjadi pengelola dan penggerak kegiatan di lingkungannya sendiri.

Dengan pendekatan tersebut, UM Bandung berharap gerakan literasi dan pemberdayaan remaja di Kampung Talun dapat terus berkembang setelah program pengabdian berakhir.

Sekaligus memberi manfaat yang berkelanjutan bagi anak-anak, remaja, dan masyarakat secara luas.***

Administrator

UM Bandung Perkuat Ekosistem Riset dan Inovasi untuk Menjawab Tantangan Bangsa

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Mengisi kemerdekaan di era modern tidak cukup dengan mengenang perjuangan masa lalu. Bangsa Indonesia perlu memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, membangun sumber daya manusia unggul, serta menghadirkan inovasi yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Herry Suhardiyanto saat menjadi pembina upacara HUT ke-81 Republik Indonesia di halaman depan UM Bandung, Senin (17/8/2026).

Menurut Herry, tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” perlu diwujudkan melalui langkah nyata. Perguruan tinggi memiliki posisi penting karena menjadi ruang bertemunya ilmu pengetahuan, generasi muda, riset, dan inovasi yang dapat memperkuat kemandirian bangsa.

“Universitas bukan hanya tempat memperoleh gelar akademik. Universitas adalah tempat membangun peradaban, mengembangkan ilmu pengetahuan, membentuk karakter, dan mempersiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman,” ujar Herry.

Oleh karena itu, UM Bandung berkomitmen memperkuat pendidikan, riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Kampus tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan, tetapi gagasan, pengetahuan, teknologi, dan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Komitmen tersebut sejalan dengan visi UM Bandung sebagai Islamic Technopreneurial University. Herry menilai perkembangan teknologi dan kewirausahaan harus berjalan bersama nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan agar kemajuan menghasilkan manfaat yang lebih luas.

“Kita tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi. Kita harus menjadi pencipta dan pengembang teknologi. Kita tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi. Kita harus mampu menghasilkan pengetahuan dan inovasi,” tegasnya.

Untuk mewujudkan arah tersebut, UM Bandung perlu membangun ekosistem akademik yang mendorong dosen dan mahasiswa untuk aktif melakukan riset, menciptakan inovasi, dan menghasilkan karya yang dapat diterapkan di masyarakat.

Dalam kerangka Caturdharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah, penguatan tersebut diwujudkan melalui peningkatan mutu pembelajaran, riset yang produktif, inovasi yang aplikatif, serta pengabdian yang mampu menjawab persoalan masyarakat.

Herry juga menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tinggi tidak cukup diukur dari nilai akademik dan jumlah lulusan. Pendidikan harus membentuk manusia yang kompeten, berintegritas, berakhlak, kreatif, mampu berkolaborasi, dan memiliki kepedulian sosial.

Kepada mahasiswa, Herry berpesan agar masa kuliah tidak hanya diarahkan untuk mengejar nilai dan ijazah. Mahasiswa UM Bandung perlu membangun kompetensi, karakter, jejaring, kreativitas, dan keberanian untuk menghasilkan karya.

“Jadilah generasi yang mampu bersaing secara global, tetapi tetap memiliki jati diri dan nilai-nilai keislaman,” pesannya.

Sementara kepada dosen dan tenaga kependidikan, Herry mendorong peningkatan profesionalisme dan kualitas pelayanan. Setiap pekerjaan di kampus, menurutnya, merupakan bagian dari pengabdian untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memperbesar manfaat perguruan tinggi bagi masyarakat.

UM Bandung juga didorong memperkuat budaya kolaborasi dan kerja lintas bidang. Menurut Herry, kekuatan sivitas akademika perlu diarahkan untuk membangun kampus yang lebih adaptif, produktif, dan mampu merespons perubahan dengan cepat.

Semangat perbaikan juga harus menjadi bagian dari perjalanan UM Bandung. Capaian yang sudah baik perlu dipertahankan, kekurangan diperbaiki, dan target yang belum tercapai terus diperjuangkan.

Prinsip fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan, kata Herry, dapat menjadi etos seluruh sivitas akademika untuk terus meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat riset, melahirkan inovasi, dan memperluas manfaat pengabdian.

Dengan semangat tersebut, UM Bandung memaknai kemerdekaan bukan sekadar melalui peringatan, tetapi melalui kerja nyata untuk membangun manusia unggul, memperkuat kemandirian ilmu dan teknologi, serta menghasilkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat.

Herry menegaskan, UM Bandung ingin mengambil bagian dalam membangun Indonesia masa depan: berdaulat melalui penguasaan ilmu dan teknologi, adil melalui kebermanfaatan bagi masyarakat, dan makmur melalui sumber daya manusia yang unggul serta berdaya saing.

“Mari bekerja lebih baik, belajar lebih sungguh-sungguh, berinovasi lebih berani, melayani dengan lebih ikhlas, dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi umat dan bangsa,” pungkas Herry.***(FA/FK)

Administrator

Dadang Kahmad: Jangan Jadikan Sekolah Sekadar Tempat Menitipkan Anak

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Memilih sekolah untuk anak bukan sekadar mencari lembaga dengan label favorit, fasilitas lengkap, atau reputasi tinggi. Yang lebih penting adalah memastikan sekolah mampu membantu anak berkembang sesuai potensi, minat, dan kebutuhannya.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Ketua BPH UM Bandung Dadang Kahmad menilai pendidikan yang berkualitas harus mampu menyeimbangkan ilmu pengetahuan, keterampilan, karakter, dan akhlak.

Pandangan itu disampaikan Dadang dalam program Catatan Akhir Pekan TV-Mu. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai akademik atau nama besar sekolah.

“Pendidikan itu tidak hanya memberikan hard skill, tetapi soft skill. Anak harus memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi harus memiliki karakter dan akhlak yang baik,” ujar Dadang.

Dadang mengingatkan orang tua agar tidak menjadikan status sekolah favorit sebagai ukuran utama ketika memilih pendidikan bagi anak.

Sekolah dengan fasilitas lengkap dan reputasi baik memang dapat memberikan lingkungan belajar yang mendukung. Namun, hal itu tidak otomatis membuat setiap anak berhasil.

“Sekolah favorit itu bukan jaminan bahwa anak pasti berhasil. Yang paling penting adalah bagaimana anak memiliki motivasi untuk belajar, kemudian ada guru yang baik dan orang tua yang memberikan dukungan,” katanya.

Oleh karena itu, orang tua perlu memahami karakter, minat, kemampuan, dan gaya belajar anak.

Setiap anak memiliki kebutuhan berbeda sehingga pilihan sekolah sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Selain motivasi anak, kualitas guru juga menjadi faktor penting. Menurut Dadang, guru tidak cukup hanya menyampaikan materi pelajaran.

Namun, harus mampu menciptakan suasana belajar yang menarik dan mendorong siswa aktif berpikir.

“Guru itu harus mampu membangkitkan motivasi anak. Materinya juga harus menarik sehingga anak tidak merasa belajar sebagai sesuatu yang membosankan,” tuturnya.

Pembelajaran yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, lanjut Dadang, akan membantu anak memahami manfaat ilmu.

Dengan begitu, proses belajar tidak hanya berorientasi pada nilai, tetapi membangun kemampuan berpikir dan memecahkan masalah.

Dadang juga menekankan bahwa pendidikan anak tidak berhenti ketika jam sekolah selesai.

Keluarga memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan belajar sekaligus memperkuat karakter yang ditanamkan di sekolah.

“Jangan sampai sekolah itu hanya menjadi tempat menitipkan anak. Pendidikan harus menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah dan orang tua,” ujarnya.

Menurutnya, orang tua dapat berperan melalui pendampingan belajar, pemberian motivasi, pembiasaan disiplin, serta penanaman tanggung jawab di rumah.

“Kalau sekolah dan orang tua bisa bekerja sama dengan baik, anak akan mendapatkan lingkungan pendidikan yang lebih kuat. Jadi, tidak bisa hanya diserahkan kepada sekolah,” kata Dadang.

Dalam perspektif pendidikan Muhammadiyah, keberhasilan pendidikan tidak hanya menghasilkan anak yang unggul secara akademik.

Pendidikan juga diarahkan untuk membentuk manusia yang beriman, berakhlak, mampu bekerja sama, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Keseimbangan hard skill dan soft skill semakin penting di tengah perubahan dunia kerja dan perkembangan teknologi yang berlangsung cepat.

“Anak-anak kita harus mempunyai kemampuan beradaptasi, mampu bekerja sama, mampu berkomunikasi, kreatif, inovatif, dan memiliki empati. Itu bagian dari pendidikan yang tidak kalah penting dari kemampuan akademik,” jelas Dadang.

Kemampuan tersebut diharapkan membuat anak tidak hanya siap mencari pekerjaan. Namun, mampu menciptakan peluang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dadang turut menyoroti persoalan pendidikan Indonesia, termasuk anak yang tidak melanjutkan sekolah serta lulusan yang belum sepenuhnya terserap dunia kerja.

Menurutnya, memperluas akses pendidikan saja tidak cukup. Sekolah juga perlu memastikan kompetensi yang diberikan relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat.

“Pendidikan harus mampu menjawab kebutuhan zaman. Jangan sampai anak sudah bersekolah lama, tetapi ketika selesai tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkan masyarakat dan dunia kerja,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pendidikan perlu terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, perubahan dunia kerja, dan dinamika sosial.

Dadang juga mengingatkan pentingnya nilai ikhlas dan ihsan dalam penyelenggaraan pendidikan.

Ikhlas berarti menjalankan proses pendidikan dengan niat yang baik, sedangkan ihsan mendorong setiap pihak untuk memberikan hasil terbaik.

“Kalau pendidikan dilakukan dengan ikhlas dan ihsan, maka kita tidak hanya mengejar hasil secara duniawi, tetapi berusaha memberikan yang terbaik dan bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Nilai tersebut, kata Dadang, perlu diterapkan oleh seluruh ekosistem pendidikan, mulai dari guru, siswa, orang tua hingga pengelola lembaga pendidikan.

Muhammadiyah sendiri memiliki jaringan pendidikan yang tersebar di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan.

“Jangan sampai anak tidak sekolah hanya karena orang tuanya merasa tidak mampu. Muhammadiyah mempunyai banyak sekolah yang bisa menjadi pilihan masyarakat,” katanya.

Pada akhirnya, Dadang mengingatkan orang tua agar tidak terjebak dalam persaingan memilih sekolah berdasarkan nama besar semata.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membantu anak mengenali potensinya, menguasai ilmu, membangun karakter, serta memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan bekerja sama.

“Yang paling penting bukan gengsi sekolahnya, tetapi bagaimana anak itu tumbuh menjadi manusia yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan bermanfaat,” pungkas Dadang.

Dengan demikian, pendidikan bukan sekadar mengejar nilai dan ijazah. Pendidikan merupakan proses panjang untuk membentuk manusia yang memiliki pengetahuan, karakter, kepekaan sosial, dan kesiapan menghadapi masa depan.

Sekolah memberikan ruang untuk belajar. Guru memberikan arah. Orang tua memberikan dukungan. Sementara itu, anak perlu terus menumbuhkan kemauan untuk berkembang.***

Administrator

Kekayaan Hayati Indonesia Belum Tergarap Maksimal, UM Bandung Perkuat Kolaborasi Riset

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kekayaan hayati Indonesia bukan sekadar warisan alam yang perlu dilestarikan. Namun, menyimpan potensi besar untuk melahirkan inovasi di bidang kesehatan, pangan, kosmetik, hingga sanitasi. 

Tantangannya, masih banyak tanaman lokal yang belum mendapatkan perhatian serius dari dunia riset, padahal berpotensi memiliki kandungan nutrisi dan senyawa bioaktif yang bernilai.

Perspektif tersebut mengemuka dalam Kuliah Umum dan Diskusi Kolaborasi Riset Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bertajuk “Natural-Based Innovation: Opportunities for Pharmaceutical, Functional Food, Cosmetics and Personal Care Products Research and Development” yang digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan, UM Bandung, Kamis (13/08/2026).

Kegiatan yang diikuti dosen dan mahasiswa UM Bandung itu menghadirkan dosen Universiti Putra Malaysia (UPM) Yaya Rukayadi.

Forum ini tidak hanya membahas pemanfaatan bahan alam. Namun, memperluas cara pandang sivitas akademika tentang pentingnya menghubungkan kekayaan lokal dengan riset ilmiah dan kolaborasi lintas institusi.

Wakil Rektor III UM Bandung Ahmad Diponegoro mengatakan, kehadiran akademisi dengan pengalaman penelitian di tingkat internasional dapat menjadi pemantik bagi sivitas akademika untuk memperluas jejaring dan menghasilkan kerja sama riset yang lebih konkret.

“Apa yang diberikan oleh Profesor Yaya yang sudah berpengalaman di mancanegara dapat menjadi inspirasi kita untuk kolaborasi riset, kolaborasi penelitian, dan pengabdian,” kata Ahmad.

Ia berharap mahasiswa tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan. Namun, melihat penelitian sebagai ruang untuk mengembangkan gagasan dan menjawab persoalan nyata di masyarakat.

“Kepada para mahasiswa juga diharapkan mendapatkan wawasan yang luas mengenai ilmu pengetahuan yang beliau tekuni,” ujarnya.

Menurut Ahmad, kuliah umum semestinya tidak berhenti pada penyampaian materi. Pengetahuan yang diperoleh perlu dikembangkan menjadi diskusi, penelitian bersama, ataupun program pengabdian yang memberikan dampak nyata.

“Kami berharap kegiatan ini ada diskusi yang sangat baik untuk kita manfaatkan,” tuturnya. Ahmad kemudian secara resmi membuka kegiatan Guest Lecture & Discussion on Research Collaboration tersebut.

Dari Obat hingga Pangan Fungsional

Dalam paparannya, Yaya menjelaskan bahwa pemanfaatan bahan alam memiliki spektrum yang jauh lebih luas daripada sekadar pengembangan obat.

Bahan alami dapat diteliti untuk menghasilkan functional food, kosmetik, produk personal care, bahan sanitasi, hingga pengawet alami.

Salah satu konsep yang diperkenalkan adalah neglected plants, yakni tanaman yang relatif kurang mendapat perhatian dalam pengembangan riset, meskipun berpotensi memiliki kandungan nutrisi atau aktivitas biologis yang bermanfaat.

Konsep tersebut menjadi penting karena Indonesia memiliki keragaman tanaman dan pangan lokal yang sangat luas.

Sejumlah bahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti kenikir, sawo, oncom, dage, dan buah buni, dapat menjadi objek penelitian untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Dengan demikian, bahan lokal tidak hanya dipandang sebagai bagian dari tradisi kuliner atau budaya. Namun, sebagai sumber pengetahuan yang dapat dikaji menggunakan pendekatan ilmiah.

Temulawak dan Daun Salam Jadi Contoh

Salah satu tanaman yang dibahas dalam forum tersebut adalah temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb).

Tanaman yang telah lama dimanfaatkan masyarakat ini diketahui mengandung sejumlah komponen aktif, termasuk kurkuminoid dan xanthorrhizol, yang hingga kini terus menjadi objek penelitian.

Contoh lain adalah daun salam (Syzygium polyanthum), tanaman yang sangat akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Selain digunakan sebagai bumbu masakan, daun salam memiliki peluang untuk dikaji melalui penelitian aktivitas antimikroba serta potensi pemanfaatannya sebagai food grade sanitizer dan natural food preservative.

Meski demikian, Yaya menekankan bahwa potensi bahan alam tidak boleh langsung disamakan dengan klaim manfaat kesehatan.

Setiap bahan tetap membutuhkan proses penelitian dan pengujian yang memadai sebelum dapat dikembangkan menjadi produk.

Pengembangan bahan alam perlu ditopang penelitian sistematis, pengujian aktivitas biologis, kajian keamanan, serta pembuktian ilmiah.

Pendekatan tersebut penting untuk memastikan produk yang dihasilkan tidak hanya menarik secara komersial, tetapi aman, efektif, dan memenuhi standar yang berlaku.

Kearifan Lokal dan Sains Harus Berjalan Bersama

Diskusi tersebut memperlihatkan bahwa kearifan lokal dan sains modern dapat saling menguatkan.

Pengetahuan masyarakat mengenai tanaman tertentu dapat menjadi titik awal munculnya pertanyaan penelitian.

Sementara metode ilmiah diperlukan untuk menguji, mengembangkan, dan membuktikan potensinya.

Bagi UM Bandung, forum ini menjadi momentum strategis untuk memperluas wawasan sivitas akademika sekaligus membuka peluang kolaborasi penelitian dan pengabdian bersama akademisi maupun institusi lain.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendorong riset kampus agar tidak berhenti pada publikasi ilmiah.

Lebih dari itu, hasil penelitian dapat diarahkan menuju inovasi yang memiliki manfaat nyata, nilai tambah ekonomi, serta peluang hilirisasi.

Pada akhirnya, tanaman yang selama ini dianggap biasa atau bahkan terlupakan dapat memperoleh makna baru ketika dikaji melalui pendekatan ilmiah.

Dari kekayaan hayati lokal, terbuka peluang untuk melahirkan inovasi di bidang kesehatan, pangan, kosmetik, dan berbagai kebutuhan masyarakat lainnya.

Dari kearifan lokal lahir pertanyaan ilmiah. Dari riset yang kuat, tumbuh inovasi yang memberi manfaat.***(HMA)

Administrator

Dadang Kahmad Dorong Media Muhammadiyah Jadi Kekuatan Strategis di Era Digital

UMBANDUNG.AC.ID, Jakarta -- Perubahan teknologi digital yang berlangsung semakin cepat telah mengubah lanskap komunikasi secara fundamental.

Masyarakat kini tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi dapat memproduksi dan menyebarluaskannya dalam hitungan detik.

Kondisi tersebut menuntut Muhammadiyah untuk memperkuat kapasitas dan kualitas medianya. Muhammadiyah dinilai tidak cukup hanya menjadi konsumen informasi.

Namun, perlu tampil sebagai produsen informasi yang kredibel, bernilai, mencerahkan, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad menyampaikan hal tersebut saat membuka Jambore Media AfiliasiMu #3 bertema “Penguatan Media AfiliasiMu dalam Era Digital” di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada 12–13 Agustus 2026.

Dadang yang juga menjabat Ketua Badan Pembina Harian UM Bandung menilai, keberadaan Media AfiliasiMu memiliki posisi strategis dalam memperkuat gerakan Muhammadiyah di tengah perubahan ekosistem komunikasi yang semakin dinamis.

Ia mengapresiasi panitia yang telah menyelenggarakan jambore tersebut. Menurutnya, kegiatan ini tidak sekadar menjadi forum pertemuan para pengelola media.

Namun, menjadi ruang untuk memperkuat kesadaran bahwa media merupakan bagian penting dari gerakan Muhammadiyah.

“Jambore ini bukan sekadar pertemuan para pengelola media. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk memperkuat kesadaran kita bahwa media merupakan bagian penting dari gerakan Muhammadiyah di tengah perubahan zaman yang sangat cepat,” ujarnya.

Menurut Dadang, pola masyarakat dalam memperoleh informasi telah berubah secara drastis.

Jika dahulu informasi banyak diperoleh melalui surat kabar, radio, dan televisi, kini masyarakat dapat mengakses berbagai informasi melalui telepon pintar dalam hitungan detik.

Perubahan tersebut sekaligus membuat batas antara produsen dan konsumen informasi semakin tipis.

Setiap orang memiliki kemampuan untuk membuat, mengemas, sekaligus menyebarkan informasi kepada publik.

Dalam situasi tersebut, Muhammadiyah menghadapi tantangan sekaligus peluang besar. Organisasi tidak cukup hanya mengikuti arus informasi.

Namun, harus memiliki kemampuan untuk memproduksi konten yang akurat, bernilai, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Dalam situasi seperti ini, Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi. Namun, Muhammadiyah harus menjadi produsen informasi yang berkualitas, terpercaya, mencerahkan, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat,” tegasnya.

Dadang juga mendorong media Muhammadiyah untuk memperluas orientasinya. Media tidak seharusnya hanya berfungsi sebagai kanal publikasi kegiatan organisasi.

Namun, perlu menjadi ruang bagi gagasan, ilmu pengetahuan, dakwah, pendidikan, kebudayaan, serta berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat.

Menurutnya, ukuran keberhasilan media tidak semata-mata terletak pada kecepatan menyajikan berita, jumlah pengikut, ataupun tingginya angka tayangan.

Lebih jauh, media harus mampu membangun kepercayaan publik melalui informasi yang benar, bermutu, dan memiliki tanggung jawab sosial.

“Kita membutuhkan media yang tidak hanya cepat, tetapi juga benar. Tidak hanya ramai, tetapi juga bermutu. Tidak hanya mengejar jumlah penonton dan pengikut, tetapi mampu membangun kepercayaan publik,” katanya.

Tantangan tersebut semakin besar di tengah derasnya arus informasi digital. Masyarakat saat ini tidak lagi menghadapi kekurangan informasi.

Namun, justru berhadapan dengan limpahan berita, opini, video, gambar, dan komentar dari berbagai platform.

Persoalannya, tidak seluruh informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Fakta dapat bercampur dengan hoaks, sementara konten edukatif dapat berkelindan dengan informasi yang provokatif dan menyesatkan.

Oleh karena itu, Dadang menekankan pentingnya media Muhammadiyah mengambil peran sebagai penjaga kualitas informasi.

Prinsip tabayyun perlu ditempatkan sebagai salah satu landasan etis dalam menjalankan kerja jurnalistik dan mengelola berbagai produk media.

Ia mengingatkan agar kecepatan produksi konten tidak mengorbankan akurasi dan kebenaran.

Demikian pula popularitas tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan etika dan tanggung jawab kepada publik.

“Kecepatan tidak boleh mengalahkan ketepatan. Popularitas tidak boleh mengalahkan kebenaran. Dan kepentingan mendapatkan perhatian publik tidak boleh mengalahkan akhlak serta tanggung jawab,” tegas Dadang.

Ia berharap Media AfiliasiMu mampu membangun jurnalisme Muhammadiyah yang cepat, akurat, berimbang, beretika, mencerdaskan, dan mencerahkan.

Hal tersebut semakin penting karena media digital memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi dan opini publik.

Di sisi lain, Dadang melihat perkembangan teknologi digital sebagai peluang yang tidak boleh dilewatkan.

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), media sosial, video pendek, podcast, live streaming, hingga mesin pencari dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan dakwah dan gagasan Muhammadiyah.

Menurutnya, teknologi memungkinkan gagasan dari kader Muhammadiyah di daerah menjangkau masyarakat yang lebih luas, bahkan lintas negara.

Ceramah, penelitian, gagasan pendidikan, maupun karya intelektual dapat dikemas dalam berbagai format digital sehingga lebih mudah diakses publik.

Namun, pemanfaatan teknologi membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas lebih dari sekadar kemampuan teknis.

Insan media Muhammadiyah juga harus memiliki wawasan keislaman dan kemuhammadiyahan, kompetensi jurnalistik, literasi digital, integritas, serta kepekaan terhadap persoalan sosial.

“Jangan hanya berbicara tentang bagaimana membuat konten yang viral, tetapi juga bagaimana membuat konten yang bernilai.

Karena tujuan akhir media Muhammadiyah bukan sekadar viralitas, tetapi kemanfaatan,” ujarnya.

Dadang menilai keberhasilan media Muhammadiyah seharusnya diukur dari seberapa besar pengaruh positif yang dapat dihadirkannya di tengah masyarakat.

Pertumbuhan pengikut dan jumlah tayangan penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Atas dasar itu, ia mendorong Jambore Media AfiliasiMu menjadi ruang pembelajaran bersama bagi para pengelola media Muhammadiyah.

Forum tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertukaran pengalaman, tetapi berkembang menjadi ruang penguatan kapasitas, inovasi, dan kolaborasi.

Ke depan, Dadang berharap terbentuk ekosistem media Muhammadiyah yang kuat dan terintegrasi.

Media di tingkat pusat, wilayah, daerah, perguruan tinggi, sekolah, rumah sakit, amal usaha, organisasi otonom, hingga komunitas kader perlu saling terhubung dan memperkuat.

Ia menawarkan semangat “Satu gerakan, banyak kanal; banyak kanal, satu nilai.”

Menurutnya, Muhammadiyah dapat menggunakan beragam platform dan gaya komunikasi.

Namun, seluruhnya harus tetap berangkat dari nilai yang sama, yakni Islam Berkemajuan, dakwah yang mencerahkan, ilmu pengetahuan, kemanusiaan, kebangsaan, dan kemaslahatan.

Pada akhirnya, Dadang berharap Jambore Media AfiliasiMu menghasilkan tiga capaian utama.

Apa saja? Yakni peningkatan kapasitas insan media, peningkatan kualitas konten, serta penguatan kolaborasi antarmedia Muhammadiyah.

“Dengan demikian, Media AfiliasiMu tidak hanya menjadi jaringan media Muhammadiyah. Namun, menjadi kekuatan komunikasi digital Muhammadiyah yang mampu menghadirkan gagasan Islam Berkemajuan kepada masyarakat luas,” pungkasnya.

Jambore Media AfiliasiMu #3 diharapkan menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem media Muhammadiyah yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Lebih dari sekadar mengikuti perubahan digital, media Muhammadiyah diharapkan mampu mengarahkan teknologi untuk memperluas dakwah, memperkuat literasi publik, serta menghadirkan informasi yang mencerdaskan, mencerahkan, dan memberdayakan masyarakat.***

Administrator