Berita

HKI UM Bandung, Tempat Tumbuh Calon Praktisi Hukum

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Siapa bilang kuliah hukum isinya hanya menghafal pasal dan membaca buku tebal sepanjang hari?

Di Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, mahasiswa justru diajak belajar dengan cara yang lebih seru, aplikatif, dan relevan dengan persoalan yang benar-benar terjadi di tengah masyarakat.

Pengalaman itu dirasakan langsung oleh Fadila Rizka Anggraeni. Mahasiswi semester enam ini mengaku menemukan suasana belajar yang jauh dari kesan monoton.

Baginya, kuliah di HKI UM Bandung bukan sekadar mengejar nilai, tetapi menjadi ruang untuk bertumbuh, berdiskusi, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional.

Di balik kesibukannya sebagai mahasiswa, Fadila memiliki hobi membaca novel dan buku pengembangan diri.

Dua buku favoritnya, "Nunchi" dan "Laut Bercerita", membuatnya semakin peka terhadap persoalan kemanusiaan, empati, dan keadilan.

Ketertarikan itu kemudian menemukan jalannya ketika ia memutuskan bergabung dengan Prodi HKI UM Bandung.

"Di sini kita enggak cuma belajar teori hukum. Banyak mata kuliah yang membuat kita memahami bagaimana hukum hadir untuk menyelesaikan persoalan masyarakat," ujar Fadila saat ditemui di sela-sela Ujian Akhir Semester (UAS), Kamis (16/7/2026).

Menurutnya, mahasiswa mempelajari berbagai cabang ilmu hukum secara komprehensif. Mulai dari hukum perkawinan, waris, wakaf, penyelesaian sengketa keluarga, hingga hukum pidana, hukum perdata, dan hukum acara perdata.

Seluruh materi dipelajari melalui pendekatan akademis, islami, dan profesional sehingga mahasiswa memiliki bekal yang kuat, baik secara keilmuan maupun praktik.

Yang membuat Fadila semakin nyaman adalah budaya belajar di HKI UM Bandung yang terbuka dan suportif. Dosen tidak hanya mengajar di depan kelas.

Namun, menjadi mentor yang siap berdiskusi, memberikan arahan, serta mendorong mahasiswa untuk berani berpikir kritis dan menyampaikan pendapat.

Materi perkuliahan pun dirancang mengikuti perkembangan zaman. Hukum Islam dipelajari berdampingan dengan hukum nasional sehingga mahasiswa mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang dan lebih siap menghadapi tantangan dunia hukum yang terus berkembang.

Belajar di HKI UM Bandung juga jauh dari kata membosankan. Selain kuliah di kelas, mahasiswa aktif mengikuti diskusi, presentasi, analisis kasus, penelitian, hingga program magang di berbagai lembaga hukum, pengadilan, dan institusi lainnya.

Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja. Tak heran jika Fadila semakin optimistis menatap masa depannya.

Menurutnya, peluang karier lulusan HKI sangat luas, mulai dari hakim, advokat, pengacara, konsultan hukum, peneliti, dosen, hingga berbagai profesi di lembaga pemerintahan maupun institusi yang bergerak di bidang hukum. 

Anggapan bahwa lulusan HKI hanya bisa bekerja di Kantor Urusan Agama (KUA), menurutnya, sudah tidak lagi sesuai dengan realitas saat ini.

Bukan hanya soal akademik, Fadila juga menemukan lingkungan kampus yang membuatnya berkembang sebagai pribadi.

Teman-teman yang saling mendukung, dosen yang memotivasi, serta banyaknya kegiatan organisasi, kompetisi, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi pengalaman yang memperkaya perjalanan kuliahnya.

Ia pun mengapresiasi komitmen Prodi HKI UM Bandung yang terus menghadirkan pembelajaran inovatif agar mahasiswa siap menghadapi perubahan zaman.

Menurutnya, kampus memberikan ruang yang luas bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik, kepemimpinan, komunikasi, hingga pengalaman lapangan yang dibutuhkan di dunia kerja.

Menjelang akhir perbincangan, Fadila membagikan pesan bagi para pelajar yang sedang menentukan pilihan jurusan kuliah.

Menurutnya, memilih program studi tidak boleh sekadar ikut-ikutan teman atau tren media sosial.

"Kenali passion kalian sejak awal. Kalau kita kuliah di jurusan yang memang sesuai minat, proses belajarnya akan terasa lebih menyenangkan, kita lebih semangat berkembang, dan lebih siap menghadapi masa depan," tuturnya.

Bagi calon mahasiswa yang ingin belajar hukum dengan pendekatan yang aplikatif, didampingi dosen yang suportif, serta memperoleh pengalaman praktik sejak masih kuliah, Prodi Hukum Keluarga Islam UM Bandung menawarkan lebih dari sekadar ruang belajar.

Program studi ini menjadi tempat bertumbuh bagi generasi muda yang ingin membangun kompetensi, karakter, dan profesionalisme untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus tantangan dunia kerja.***

Administrator

Kriya Tekstil UM Bandung Berbicara di Panggung Seni Dunia Lewat Karya Ken Atik

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung kembali menorehkan prestasi di kancah internasional melalui kiprah akademisinya di bidang seni.

Ketua Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion (KTF) UM Bandung Ken Atik berhasil lolos sebagai peserta Pameran Prakriti–Pustaka–Padma 2026, sebuah pameran seni internasional bergengsi yang digelar di Museum ARMA (Anak Agung Rai Museum of Art), Ubud, Bali.

Keikutsertaan Ken Atik menjadi bukti bahwa karya akademisi UM Bandung mampu bersaing di ruang apresiasi seni global.

Prestasi tersebut diraih melalui proses kuratorial yang diselenggarakan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, sehingga tidak semua seniman dapat menjadi bagian dari pameran yang mempertemukan puluhan perupa dari berbagai negara itu.

"Saya mendapat undangan dari ISI Bali untuk mengikuti Pameran Prakriti melalui proses kuratorial. Alhamdulillah karya saya lolos dan dapat menjadi bagian dari pameran internasional tersebut sebagai artist textile," ujar Ken.

Dalam pameran tersebut, Ken menghadirkan karya tekstil berukuran 110 x 225 sentimeter yang mengeksplorasi perpaduan teknik batik, lukis, art foiling, hingga ikat celup menggunakan pewarna sintetis di atas kain sutra.

Karya itu merepresentasikan kekayaan kriya tekstil Indonesia melalui pendekatan artistik yang memadukan tradisi dan eksplorasi visual kontemporer.

Bagi UM Bandung, capaian tersebut bukan sekadar keberhasilan individu. Keikutsertaan Ken Atik menjadi representasi kualitas akademisi sekaligus menunjukkan bahwa karya-karya yang lahir dari lingkungan kampus memiliki daya saing di tingkat internasional.

Meski tidak dapat hadir langsung pada pembukaan pameran di Bali, karya yang ditampilkan menjadi duta kreatif yang membawa nama Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung ke hadapan komunitas seni dunia.

"Ini menjadi kebanggaan bagi UM Bandung, khususnya Prodi Kriya Tekstil dan Fashion. Dosen-dosen kami terus mendapatkan kepercayaan untuk mengikuti berbagai pameran internasional. Semoga ini menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk terus berkarya dan membangun karakter profesional sebagai perupa ataupun desainer," katanya.

Menurut Ken, keterlibatan dosen dalam forum seni internasional merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Pengalaman berkarya, berjejaring, serta berdialog dengan seniman dari berbagai negara akan memperkaya proses pembelajaran di kelas sekaligus membuka perspektif baru bagi mahasiswa mengenai perkembangan seni dan desain di tingkat global.

Pameran Prakriti–Pustaka–Padma 2026 diselenggarakan oleh ISI Denpasar dengan Ketua Panitia I Wayan Suardana.

Mengusung tiga gagasan utama, yakni Prakriti sebagai simbol alam yang menjadi sumber inspirasi penciptaan, Pustaka sebagai warisan pengetahuan lintas generasi, dan Padma atau bunga teratai sebagai metafora proses kreatif yang terus bertumbuh.

Ajang seni yang dibuka Rektor ISI Bali Kun Adnyana pada 5 Juli 2026 itu merupakan bagian dari peringatan 30 tahun Museum ARMA.

Sebanyak 50 seniman dari delapan negara, yaitu Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, Iran, dan Indonesia, berpartisipasi dengan menghadirkan beragam medium karya, mulai dari patung, keramik, batik, wastra, tekstil, hingga seni kontemporer.

Keikutsertaan Ken Atik dalam forum bergengsi tersebut semakin mempertegas komitmen UM Bandung untuk mendorong dosen tidak hanya unggul dalam pendidikan dan penelitian. Namun, aktif berkarya di ruang-ruang kreatif internasional.

Pengalaman tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa agar terus mengembangkan kreativitas, memperluas jejaring, dan melahirkan karya yang mampu berbicara di panggung seni dunia.***

Administrator

Satu Unggahan di Media Sosial Bisa Menjadi Amal atau Dosa

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Di era digital, informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah unggahan dapat menyebar ke jutaan orang, membentuk opini, bahkan memengaruhi keputusan publik.

Sayangnya, kecepatan itu juga diiringi meningkatnya penyebaran hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, fitnah, hingga manipulasi konten yang mengancam kehidupan sosial.

Fenomena tersebut semakin kompleks seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Konten berupa foto maupun video hasil rekayasa kini tampil semakin realistis sehingga sulit dibedakan dari kenyataan.

Di tengah situasi tersebut, literasi digital saja dinilai belum cukup. Masyarakat juga membutuhkan pedoman etika yang berlandaskan nilai-nilai agama agar mampu menyikapi informasi secara bijak.

Pandangan itu disampaikan Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Ayi Yunus Rusyana saat menjadi narasumber dalam Gerakan Subuh Mengaji (GSM) yang diselenggarakan Aisyiyah Jawa Barat.

Dalam kajian bertajuk Fikih Informasi, ia mengulas bagaimana Islam memberikan panduan dalam menerima, mengolah, dan menyebarkan informasi di tengah disrupsi digital.

Menurut Ayi, Muhammadiyah sebenarnya telah merumuskan pedoman etika bermedia sosial melalui Hasil Musyawarah Nasional Tarjih Muhammadiyah di Makassar pada 2018 yang kemudian ditanfidzkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Pedoman tersebut menjadi respons atas berbagai persoalan informasi yang terus berkembang di ruang digital.

Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi informasi merupakan nikmat dari Allah SWT yang seharusnya dimanfaatkan untuk menghadirkan kemaslahatan, bukan justru menjadi sarana menyebarkan kebohongan, kebencian, maupun fitnah.

"Perkembangan teknologi informasi adalah nikmat dari Allah SWT. Namun, nikmat itu harus digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan, bukan justru menjadi sarana menyebarkan kebohongan, kebencian, ataupun fitnah," ujarnya.

Ayi menjelaskan, media sosial telah mengubah setiap orang menjadi produsen sekaligus penyebar informasi. Jika dahulu masyarakat hanya mengandalkan radio, televisi, atau surat kabar, kini siapa pun dapat menyampaikan informasi kepada publik hanya melalui telepon pintar dalam hitungan detik.

Di sisi lain, kemajuan teknologi AI membuat masyarakat harus semakin berhati-hati. Berbagai konten visual yang beredar di media sosial tidak lagi mudah dibedakan antara yang asli dan hasil manipulasi.

"Sekarang teknologi AI mampu menghasilkan video yang tampak nyata. Karena itu kita tidak boleh mudah percaya hanya karena melihat sebuah video atau unggahan di media sosial," katanya.

Dalam perspektif fikih informasi, lanjut Ayi, aktivitas bermedia sosial bukan sekadar urusan teknologi, melainkan juga bagian dari tanggung jawab keagamaan.

Oleh karena itu, setiap informasi yang diterima maupun dibagikan harus berlandaskan tiga nilai utama, yakni tauhid, akhlak karimah, dan kemaslahatan.

Tauhid mengajarkan bahwa kebenaran sejati bersumber dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Akhlak karimah menjadi landasan etika dalam berkomunikasi, sedangkan kemaslahatan menuntut agar setiap informasi yang disebarkan benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat.

"Kalau sebuah informasi tidak sesuai dengan nilai tauhid, tidak memperkuat akhlak, dan tidak membawa kemaslahatan, maka tidak perlu dibaca apalagi disebarkan," tegasnya.

Ayi juga mengingatkan pentingnya budaya tabayun sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 6.

Menurutnya, sebelum membagikan informasi, masyarakat perlu melakukan tiga langkah penting, yakni klarifikasi kepada pihak yang berwenang, konfirmasi kepada sumber utama, dan komparasi dengan berbagai referensi yang kredibel.

"Jika kita belum mampu melakukan klarifikasi, konfirmasi, dan komparasi, maka sikap terbaik adalah tidak menyebarkan informasi tersebut," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Islam secara tegas melarang penyebaran hoaks, fitnah, ghibah, adu domba (namimah), maupun berbagai bentuk cyberbullying.

Perbuatan tersebut bukan hanya melanggar etika sosial, tetapi juga termasuk perbuatan haram karena merusak kehormatan manusia dan mengancam persatuan umat.

"Hoaks dan kebohongan hukumnya haram mutlak karena dapat menimbulkan keresahan, memecah persatuan, dan merusak kehidupan sosial," katanya.

Lebih jauh, Ayi mengajak masyarakat memanfaatkan media sosial sebagai ruang dakwah yang mencerdaskan dan mencerahkan.

Dalam Islam, informasi memiliki fungsi mendidik (at-ta'lim), memberikan pencerahan (at-tanwir), menjernihkan persoalan (at-tawdhih), memperbarui wawasan (at-tajdid), serta menghadirkan nasihat (an-nasihah).

Karena itu, ia mendorong warga Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk aktif membagikan ilmu pengetahuan, ringkasan kajian, dan berbagai konten edukatif sebagai bagian dari dakwah amar makruf nahi mungkar.

Sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah, UM Bandung, lanjut Ayi, memiliki tanggung jawab melahirkan lulusan yang tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi.

Namun, memiliki integritas, kemampuan berpikir kritis, dan tanggung jawab moral dalam memproduksi maupun menyebarkan informasi. 

Penguatan literasi digital Islami, menurutnya, harus menjadi bagian dari kontribusi kampus dalam menjawab tantangan perkembangan teknologi.

Menutup kajiannya, Ayi mengajak keluarga, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, hingga pemerintah untuk bersama-sama membangun budaya digital yang sehat melalui penguatan literasi, pembiasaan tabayun, dan penegakan hukum terhadap penyebar hoaks serta fitnah.

"Kita berharap setiap aktivitas bermedia sosial menjadi bagian dari amal saleh yang membawa manfaat, memperkuat persaudaraan, dan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT," pungkasnya.***

Administrator

UM Bandung Perkuat Budaya Riset, Ayi Yunus Dorong Dosen Raih Rekognisi Nasional

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung terus memperkuat budaya akademik dengan mendorong dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi sebagai peneliti yang produktif dan berdampak. 

Komitmen tersebut ditegaskan melalui peluncuran Sistem Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) yang diharapkan menjadi fondasi penguatan tata kelola riset di lingkungan kampus.

Wakil Rektor I UM Bandung Ayi Yunus Rusyana mengatakan, profesi dosen menuntut pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara utuh.

Mengajar di ruang kelas merupakan bagian penting dari tugas dosen, tetapi harus diiringi dengan penelitian, publikasi ilmiah, serta pengabdian kepada masyarakat yang berkualitas.

Menurutnya, salah satu tantangan yang masih dihadapi perguruan tinggi adalah pola pikir sebagian dosen yang masih memandang profesinya sebatas mengajar.

Padahal, dosen juga harus membangun karier akademik melalui jabatan fungsional dan menghasilkan karya ilmiah yang memberi kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan maupun kemajuan institusi.

"Masih ada dosen yang mindset-nya seperti guru. Cara pandang seperti ini harus mulai diubah. Dosen harus memikirkan jabatan fungsionalnya, membangun karier akademik, sekaligus berkontribusi terhadap kemajuan lembaga," ujarnya.

Ayi menegaskan, penelitian tidak boleh dipandang sebagai pemenuhan administrasi semata. Sebaliknya, riset harus dirancang melalui sistem yang jelas agar setiap tahapan.

Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hingga pelaporan, berjalan secara terarah dan menghasilkan luaran yang berkualitas.

"Jangan asal meneliti. Jangan hanya mengejar laporan selesai. Yang paling penting adalah outcome-nya. Dipublikasikan di jurnal apa, terindeks SINTA berapa, itu yang harus menjadi orientasi," katanya.

Oleh karena itu, kehadiran Sistem LPPM menjadi langkah strategis untuk membangun tata kelola penelitian yang lebih tertib, transparan, dan akuntabel.

Sistem tersebut diharapkan memudahkan dosen mengelola seluruh proses penelitian sekaligus mempercepat pengembangan karier akademik melalui peningkatan publikasi dan jabatan fungsional.

Selain itu, Ayi mendorong dosen UM Bandung untuk mulai berkompetisi memperoleh hibah penelitian nasional, seperti Program BIMA dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Menurutnya, hibah internal kampus sebaiknya menjadi stimulus bagi dosen baru sebelum melangkah ke kompetisi riset tingkat nasional.

Ia juga mengingatkan bahwa dampak penelitian tidak boleh berhenti pada publikasi jurnal. Hasil riset perlu dikomunikasikan kepada masyarakat melalui laman kampus, media massa, maupun media sosial agar menjadi rujukan publik dan memberikan manfaat yang lebih luas.

"Dengan sistem LPPM yang baru, saya berharap budaya riset di UM Bandung semakin kuat, semakin banyak dosen yang berkembang karier akademiknya, dan reputasi kampus terus meningkat melalui karya-karya ilmiah yang benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat," pungkasnya.***

Administrator

Kuliah Profesi Apoteker di UM Bandung, Bekal Nyata Menuju Dunia Kerja

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Memilih kampus untuk melanjutkan pendidikan profesi menjadi salah satu keputusan penting bagi lulusan Sarjana Farmasi. Yang dicari bukan sekadar tempat kuliah, tetapi lingkungan belajar yang mampu membentuk kompetensi, karakter, sekaligus kesiapan menghadapi dunia kerja sebagai apoteker.

Pertimbangan itulah yang mengantarkan Zakiatun Nufus, lulusan cumlaude Program Studi Farmasi STIK Siti Khadijah Palembang dengan IPK 3,57, memilih Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung.

Bagi perempuan yang pernah menjadi asisten dosen tersebut, pendidikan profesi bukan sekadar mengejar gelar, melainkan bekal untuk menjadi tenaga kesehatan yang profesional dan siap mengabdi kepada masyarakat.

"Saya melihat dosen-dosen di UM Bandung memiliki latar belakang pendidikan yang sangat baik. Mayoritas merupakan lulusan perguruan tinggi negeri maupun swasta ternama di Indonesia. Itu menjadi salah satu alasan saya yakin kuliah di sini," ungkapnya di sela-sela PKPA di Rumah Sakit Jiwa Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (14/07/2026).

Keyakinan itu semakin bertambah setelah mengikuti perkuliahan. Menurut Kia, sapaan akrabnya, proses pembelajaran berlangsung interaktif. Dosen tidak hanya menyampaikan teori, tetapi berbagi pengalaman nyata di lapangan sehingga mahasiswa memiliki gambaran yang lebih utuh tentang tantangan profesi apoteker.

Selain kualitas dosen, fasilitas pembelajaran juga menjadi nilai tambah yang ia rasakan. Laboratorium yang lengkap serta sarana praktik yang terus dikembangkan membuat mahasiswa dapat mengasah keterampilan sejak dini sekaligus membangun rasa percaya diri sebelum terjun ke dunia kerja.

Hal lain yang menurut Zakia membedakan PSPPA UM Bandung adalah penguatan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Baginya, seorang apoteker tidak hanya dituntut menguasai ilmu kefarmasian, tetapi memiliki etika profesi dan tanggung jawab moral dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

"Menurut saya, itu yang menjadi keunggulan Prodi Apoteker UM Bandung. Kami tidak hanya belajar tentang obat dan pelayanan kefarmasian, tetapi dibekali pemahaman agama yang berkaitan dengan etika profesi. Bekal itu penting karena apoteker nantinya akan berhadapan langsung dengan masyarakat," tuturnya.

Persiapan mahasiswa sebelum memasuki dunia praktik pun menjadi pengalaman yang paling berkesan baginya. Sebelum menjalani PKPA, mahasiswa mendapatkan pembekalan akademik, penguatan materi, hingga simulasi yang membantu mereka lebih siap menghadapi berbagai kondisi di wahana praktik.

Saat ini, Zakia menjalani PKPA di Rumah Sakit Jiwa Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Dari Senin hingga Jumat, ia mengikuti berbagai aktivitas pelayanan kefarmasian sejak pagi hingga petang sebagai bagian dari proses pembentukan kompetensi profesional calon apoteker.

Tak hanya itu, persiapan menghadapi Ujian Kompetensi Apoteker Indonesia (UKAI) juga dilakukan secara bertahap. Dosen akademisi maupun dosen praktisi rutin mengadakan diskusi, pembahasan studi kasus, serta latihan soal sehingga mahasiswa memiliki bekal yang matang sebelum mengikuti ujian.

"Kami tidak dilepas begitu saja. Sebelum menjalani praktik maupun menghadapi UKAI, kami mendapat pembekalan, pendampingan, dan diskusi intensif bersama dosen. Proses itulah yang membuat kami lebih siap dan lebih percaya diri," ujar Zakia.

Menurutnya, peluang karier lulusan profesi apoteker masih sangat luas. Seorang apoteker dapat berkarier di rumah sakit, puskesmas, apotek, industri farmasi, pedagang besar farmasi, dinas kesehatan, hingga BPOM. Bahkan, kesempatan menjadi wirausaha dengan mendirikan apotek sendiri juga terbuka lebar setelah memenuhi ketentuan profesi.

Oleh karena itu, Zakia mengajak para lulusan Sarjana Farmasi yang masih ragu untuk segera melanjutkan pendidikan profesi.

"Kalau ingin berkarier sebagai apoteker, jangan ragu melanjutkan ke pendidikan profesi. Selain menjadi syarat legal untuk bekerja, peluang kariernya juga sangat luas. Bahkan, kita juga punya kesempatan membangun usaha sendiri di bidang farmasi," pesannya.

Bagi gadis asal Palembang yang hobi membaca, menyanyi, dan menonton itu, pengalaman belajar di PSPPA UM Bandung bukan hanya membantunya memperoleh kompetensi akademik,.

Namun, juga membentuk kepercayaan diri, etika, dan kesiapan menjadi apoteker profesional yang siap memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

Itulah alasan mengapa ia merasa telah menemukan lingkungan belajar yang tepat untuk mengawali perjalanan kariernya sebagai tenaga kesehatan.***

Administrator

UM Bandung Hadirkan Riset Berbasis Bukti demi Masa Depan Pertanian Berkelanjutan

UMBANDUNG.AC.ID, Klaten -- Regenerasi petani menjadi salah satu tantangan paling mendesak dalam pembangunan pertanian Indonesia.

Menurunnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor ini mendorong perlunya kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Namun, mampu menciptakan ekosistem pertanian yang lebih inovatif, adaptif, dan menarik bagi kaum muda.

Berangkat dari isu tersebut, tim dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung penerima Hibah BIMA Program Penelitian Dosen Pemula (PDP) Tahun 2026 tengah mengembangkan penelitian bertajuk "Evaluasi Kebijakan Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan pada Petani di Eks-Keresidenan Surakarta, Jawa Tengah."

Penelitian ini diarahkan untuk mengukur efektivitas implementasi kebijakan pertanian berkelanjutan sekaligus merumuskan rekomendasi kebijakan yang lebih responsif terhadap tantangan di lapangan.

Salah satu tahapan penelitian dilakukan melalui diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) bersama Komunitas Petani Muda Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (11/7/2026).

Forum tersebut menjadi ruang bagi para peneliti untuk menggali pengalaman, kebutuhan, dan perspektif petani muda sebagai aktor utama dalam transformasi sektor pertanian.

Diskusi turut melibatkan 25 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang sedang menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sumber.

Kehadiran mereka memperkaya proses penelitian melalui pertukaran perspektif akademik sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menghasilkan solusi berbasis kebutuhan lapangan.

Ketua tim peneliti, Mohammad Hilal Nu'man, mengatakan penelitian ini memiliki urgensi yang tinggi mengingat keberlanjutan sektor pertanian sangat ditentukan oleh kualitas kebijakan yang mampu menjawab tantangan regenerasi petani.

"Penelitian ini diharapkan menjadi bahan evaluasi terhadap kebijakan sistem budidaya pertanian berkelanjutan yang telah berjalan. Selain itu, hasil penelitian juga dapat menjadi rekomendasi kebijakan yang lebih adaptif, khususnya dalam mendorong keterlibatan generasi muda sebagai aktor utama pembangunan pertanian di masa depan," ujarnya.

Menurut Hilal, hasil kajian awal menunjukkan bahwa persoalan regenerasi petani bukan hanya menjadi tantangan di Jawa Tengah. Namun, dialami berbagai daerah di Indonesia, termasuk Bandung Raya, Jawa Barat.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa upaya menarik minat generasi muda ke sektor pertanian memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif daripada sekadar program pendampingan.

Ia menilai pembangunan pertanian berkelanjutan perlu didukung oleh kebijakan yang mengintegrasikan teknologi, digitalisasi, kewirausahaan, dan penguatan komunitas.

Pendekatan tersebut dinilai lebih sesuai dengan karakter generasi muda sekaligus mampu meningkatkan daya saing sektor pertanian di tengah perubahan sosial dan ekonomi.

Sebagai perguruan tinggi yang mengusung visi Islamic Technopreneurial University, UM Bandung memosisikan riset sebagai instrumen strategis dalam menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).

Melalui kolaborasi multidisiplin, penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan pertanian berkelanjutan, penguatan ketahanan pangan, serta penyusunan kebijakan yang lebih aplikatif bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan.

Penelitian ini dipimpin oleh Mohammad Hilal Nu'man (Ilmu Hukum) dengan anggota Rikki Maulana Yusup (Administrasi Publik), Abin Suarsa (Manajemen Keuangan Berkelanjutan), dan Eni Kusumawati (Agribisnis). Tim lapangan diperkuat oleh Mety Mediastuti Sofyan (Administrasi Publik) bersama Sukri Ramadhan (Manajemen Industri Pangan/Pertanian).***

Administrator