Berita

Capaian Unggul Bioteknologi UM Bandung Dorong Penguatan Kualitas Akademik

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung kembali menorehkan prestasi membanggakan di bidang akademik. Program Studi Strata Satu (S-1) Bioteknologi resmi meraih akreditasi “Unggul” dari Lembaga Akreditasi Mandiri Program Studi Keteknikan, sebuah pengakuan prestisius yang menegaskan kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi di kampus tersebut.

Predikat tertinggi ini ditetapkan melalui Keputusan Lembaga Akreditasi Mandiri Program Studi Keteknikan Nomor: 0051/SK/LAM Teknik/AS/IV/2026. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa Prodi Bioteknologi UM Bandung telah memenuhi standar nasional tertinggi dalam aspek pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ketua Program Studi Bioteknologi UM Bandung Wulan Pertiwi mengungkapkan rasa syukur sekaligus apresiasi atas capaian tersebut. Ia menilai, keberhasilan ini merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan kerja keras, kolaborasi, dan dedikasi seluruh sivitas akademika.

“Capaian ini menjadi wujud komitmen kami dalam menjaga mutu tridarma perguruan tinggi. Selain itu, ini juga memperkuat identitas Bioteknologi UM Bandung sebagai program studi yang berilmu, berakhlak, berdampak, dan bersinar,” ujarnya, Kamis (23/04/2026).

Lebih lanjut, Wulan menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi, mulai dari pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, laboran, hingga mahasiswa dan alumni. Ia menegaskan bahwa sinergi dan kebersamaan menjadi faktor kunci dalam meraih predikat “Unggul”.

Menurutnya, capaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga momentum untuk terus meningkatkan kualitas dan memperluas kontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Senada dengan itu, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UM Bandung, Arief Yunan, menyebut pencapaian ini sebagai tonggak penting dalam perjalanan akademik kampus. Ia menilai keberhasilan Prodi Bioteknologi telah memperkuat tradisi akademik sekaligus meningkatkan pengakuan eksternal terhadap UM Bandung.

Arief berharap capaian ini dapat diikuti oleh program studi lain di lingkungan kampus. Dalam dua tahun ke depan, ia menargetkan setidaknya ada dua program studi tambahan yang meraih akreditasi “Unggul” agar UM Bandung memenuhi syarat memperoleh predikat institusi “Unggul”.

Ia pun mengajak seluruh sivitas akademika untuk terus berdoa dan berikhtiar demi mewujudkan target tersebut, seraya berharap setiap langkah yang ditempuh mendapat bimbingan dan keberkahan.

Sementara itu, Kepala Bagian Promosi dan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UM Bandung Abdul Rohim menilai capaian ini sebagai dorongan strategis dalam memperkuat citra kampus di mata publik. Menurutnya, akreditasi “Unggul” akan meningkatkan kepercayaan masyarakat, sekaligus menjadi daya tarik bagi calon mahasiswa dari berbagai daerah.

“Prestasi ini menjadi energi baru bagi UM Bandung untuk terus menghadirkan pendidikan yang berkualitas, inovatif, dan berdampak luas,” ujarnya.

Dengan capaian tersebut, UM Bandung semakin menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang adaptif, kompetitif, dan berorientasi pada mutu dalam menjawab tantangan pendidikan di era modern.***(FK/FA)

Administrator

Rezeki Itu Bukan Soal Banyak Atau Sedikit

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Banyak orang masih menganggap rezeki itu murni hasil kerja keras. Padahal, dalam Islam, rezeki bukan cuma soal usaha, tapi juga sangat berkaitan dengan seberapa dekat seseorang dengan Allah SWT.

Hal ini disampaikan Kaprodi Pendidikan Agama Islam UM Bandung Dr Iim Ibrahim MAg dalam kajian Islam dan pendidikan di Masjid Raya Mujahidin pada Selasa (14/04/2026).

Menurut Iim, tanpa disadari setiap muslim sebenarnya selalu memohon rezeki kepada Allah, bahkan lewat ibadah rutin seperti salat. Ini jadi pengingat penting bahwa sumber rezeki sejatinya bukan manusia, melainkan Allah SWT.

“Kesadaran ini penting supaya kita tidak hanya bergantung pada usaha, tapi juga memperkuat hubungan spiritual dengan Allah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Al-Qur’an sudah memberikan panduan jelas tentang bagaimana rezeki bisa terbuka, salah satunya melalui ketakwaan. Dalam Surah At-Thalaq ayat 2 disebutkan bahwa orang yang bertakwa akan diberi jalan keluar oleh Allah.

Tak hanya itu, pada ayat berikutnya juga dijelaskan bahwa Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka bagi hamba-Nya yang bertawakal. Menurut Iim, tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi sikap yakin setelah melakukan ikhtiar maksimal.

“Ketika seseorang bertawakal, dia menyerahkan hasil usahanya kepada Allah dengan penuh keyakinan. Di situlah muncul ketenangan hati,” jelasnya.

Iim juga mengingatkan pentingnya menjaga salat sebagai bentuk ketaatan. Dalam Surah Thaha ayat 132 ditegaskan bahwa Allah tidak meminta rezeki kepada hamba-Nya, justru Allah yang menjamin rezeki tersebut.

Baginya, ini menunjukkan bahwa ibadah bukan sekadar kewajiban, tetapi juga jalan untuk mendapatkan keberkahan hidup.

Selain itu, ia mengajak umat Islam untuk memperbanyak istighfar dan sedekah sebagai bagian dari ikhtiar spiritual. Dua amalan ini diyakini bisa membuka pintu rezeki sekaligus membawa keberkahan dalam kehidupan.

Meski begitu, Iim menegaskan bahwa usaha tetap penting. Islam mengajarkan keseimbangan antara doa dan ikhtiar, sehingga keduanya harus berjalan bersama.

Di akhir penyampaiannya, ia mengajak umat Islam untuk selalu bersyukur atas setiap nikmat yang diterima. Dengan rasa syukur, hati akan terasa lebih tenang dan rezeki pun menjadi lebih berkah.

“Rezeki itu bukan soal banyak atau sedikit, tetapi tentang keberkahan dan ketenangan dalam menjalaninya,” tandasnya.***(FA)

Administrator

BEI Apresiasi UM Bandung sebagai Mitra Literasi Investasi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Galeri Investasi Syariah (GIS) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sukses menggelar kegiatan “Road to Pekan Reksa Dana” pada Senin (20/04/2026).

Acara ini berlangsung di Auditorium Kiai Haji Ahmad Dahlan, lantai tiga gedung UM Bandung, dan diikuti antusias oleh para mahasiswa yang ingin belajar lebih jauh tentang dunia investasi.

Kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi menjadi ruang belajar yang santai sekaligus edukatif bagi mahasiswa. Di sini, peserta diajak memahami pentingnya investasi sejak dini, terutama dalam menghadapi tantangan finansial di masa depan.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UM Bandung, Ia Kurnia, menilai kegiatan ini sebagai langkah positif dalam mendorong literasi dan inklusi pasar modal di kalangan mahasiswa. 

“Acara ini juga menjadi rangkaian peluncuran Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana dan Pekan Reksa Dana pada tanggal 27 April nanti,” ucap Ia Kurnia.

Ia Kurnia menambahkan, kegiatan yang digelar di lima kota ini penting untuk membuka wawasan mahasiswa terkait berbagai pilihan investasi.

“Kegiatan ini tentu bukan hanya menambah wawasan akademik terkait investasi, melainkan dapat diaplikasikan dalam pengambilan keputusan investasi,” terangnya.

Hadir sebagai keynote speaker, Deputi Kepala Wilayah Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Adnan Bahalwan turut memberikan pandangan strategis.

Ia menyampaikan bahwa Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini memiliki 69 Galeri Investasi Syariah yang tersebar di berbagai kampus dan instansi, termasuk di Jawa Barat.

Menurut Adnan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UM Bandung memiliki peran penting sebagai mitra strategis dalam penguatan literasi pasar modal.

“Tentu Fakultas Ekonomi dan Bisnis UM Bandung menjadi salah satu mitra strategis dan pionir dalam memberikan literasi dan inklusi sebagai penunjang pertumbuhan pasar modal khususnya di Jawa Barat,” ungkap Adnan.

Ia juga mengingatkan bahwa masih banyak masyarakat yang keliru dalam memahami investasi. “Padahal, investasi bukan menggunakan uang sisa, melainkan uang yang memang kita sisihkan sejak awal,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa mahasiswa kini punya peluang besar untuk mulai berinvestasi sejak kuliah, apalagi dengan hadirnya berbagai platform yang mudah diakses dan diawasi OJK.

Menutup penyampaiannya, Adnan menyoroti tingginya minat masyarakat Jawa Barat terhadap investasi. “Jawa Barat yang menjadi provinsi terbesar dalam menyumbang kontribusi Single Investor Identification atau SID. Ini menjadi bukti antusiasme warga Jawa Barat dalam mengakses produk keuangan,” imbuhnya.

Ia pun mengajak semua pihak untuk memperkuat kolaborasi. “Marilah kita jadikan pertumbuhan SID yang masif ini berbanding lurus dengan kualitas literasi keuangan,” tandas Adnan.***

Administrator

Bonus Demografi Jadi Kekuatan, Pemuda Harus Berani dan Berilmu

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kaprodi Agribisnis Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Alghif Aruni Nur Rukman mengajak generasi muda untuk mulai mempersiapkan diri dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Menurutnya, bonus demografi yang akan dimiliki Indonesia di masa mendatang berpotensi menjadi kekuatan besar bagi bangsa.

“Bonus demografi yang nantinya akan dimiliki oleh Indonesia akan menjadi kekuatan besar jika para pemuda mampu menjadi aktor perubahan sosial yang memiliki keberanian berbasis pengetahuan,” ucap Alghif, dikutip dari kanal YouTube UM Bandung, Selasa (21/04/2026).

Alghif menekankan pentingnya evaluasi diri bagi generasi muda, khususnya dalam melihat kontribusi nyata yang telah diberikan kepada masyarakat.

Ia berharap pemuda tidak hanya berorientasi pada pencapaian pribadi, tetapi juga mampu memperkuat karakter serta memahami peran strategisnya dalam sejarah perubahan sosial.

Lebih lanjut, ia mengajak pemuda untuk mendefinisikan ulang makna kesuksesan. Menurutnya, kesuksesan tidak semata diukur dari harta, jabatan, atau kemewahan materi semata.

“Kesuksesan yang sejati adalah kebermanfaatan bagi orang lain. Pekerjaan yang dianggap sederhana seperti petani pun memiliki nilai kesuksesan yang tinggi karena menjadi penyedia kebutuhan pangan dasar manusia,” terangnya.

Selain itu, Alghif juga menyoroti pentingnya kepekaan sosial terhadap berbagai persoalan di sekitar, seperti ketidakadilan dan kerusakan lingkungan.

Hal ini dinilai penting sebagai bahan introspeksi sekaligus pendorong untuk melakukan perubahan positif.

Ia menegaskan bahwa pemuda harus berani bertindak dengan berlandaskan nilai-nilai Islam guna memperbaiki kondisi sosial saat ini.

“Sebaik-baiknya orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, sehingga kontribusi nyata hari ini akan menjadi saksi sekaligus bekal kita kelak di hadapan Allah SWT,” jelasnya.

Alghif mengingatkan bahwa peluang menuju Generasi Emas 2045 harus dipersiapkan melalui langkah nyata sejak sekarang, bukan sekadar menjadi angan-angan tanpa usaha.

Di akhir, ia berharap Program Studi Agribisnis UM Bandung mampu mencetak generasi muda yang percaya diri, berdaya saing, serta memberikan manfaat luas bagi lingkungan.

“Pemuda adalah kunci kemajuan bangsa yang berlandaskan pada kemaslahatan umat,” pungkasnya.***

 

Administrator

Dari Refleksi ke Aksi, Hari Kartini Hidupkan Perempuan Masa Kini

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Setiap 21 April selalu membawa nuansa yang berbeda. Lebih dari sekadar kebaya dan seremoni, ada jejak panjang perjuangan yang terus hidup hingga hari ini. Hari Kartini menjadi pengingat bahwa perjalanan perempuan Indonesia menuju kesetaraan tidak pernah instan.

Di tengah momentum itu, Tania Kirana Aprilia, Ketua Korps Protokoler Mahasiswa (KPM) Universitas Muhammadiyah Bandung, memaknai peringatan ini dengan sudut pandang yang lebih reflektif. Baginya, Raden Ajeng Kartini bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan sumber inspirasi yang tetap hidup di masa kini.

Menurut Tania, keberanian Kartini pada zamannya adalah sesuatu yang luar biasa. Di tengah keterbatasan dan kuatnya budaya yang membatasi perempuan, Kartini hadir dengan gagasan besar tentang pendidikan dan kesetaraan.

“Setahu saya, Kartini adalah sosok perempuan hebat yang berani menyuarakan pemikiran di zamannya. Dia memperjuangkan hak perempuan agar bisa mendapatkan pendidikan dan kesempatan yang sama untuk berkembang,” ujarnya di kampus UM Bandung, Selasa (21/04/2026).

Bagi Tania, kisah Kartini bukan sekadar cerita masa lalu. Justru dari situlah perempuan masa kini bisa belajar tentang arti keberanian, ketekunan, serta pentingnya ilmu pengetahuan sebagai bekal menghadapi masa depan.

Ia menilai, warisan terbesar Kartini bukan hanya pemikiran, tetapi semangat yang terus menyala. Semangat untuk belajar tanpa henti, percaya diri, dan berani mengambil peran di ruang publik.

“Legacy Kartini yang paling terasa sampai sekarang adalah keberanian perempuan untuk tampil, berkarya, dan memimpin. Sekarang perempuan punya banyak peluang di pendidikan, organisasi, dunia kerja, bahkan kepemimpinan. Itu salah satu buah perjuangan Kartini,” kata Tania.

Sebagai mahasiswi yang aktif berorganisasi, Tania mengaku nilai-nilai tersebut menjadi motivasi tersendiri dalam menjalani peran. Ia meyakini, perempuan masa kini tidak cukup hanya cerdas, tetapi juga harus aktif, adaptif, dan mampu memberikan dampak nyata.

“Hari Kartini mengingatkan kita bahwa perempuan jangan ragu bermimpi besar. Perempuan bisa menjadi apa pun selama mau belajar, berusaha, dan menjaga nilai diri,” tambahnya.

Lebih jauh, ia berharap peringatan Hari Kartini tidak berhenti pada simbol semata. Ada pesan penting yang perlu terus dihidupkan, yakni dorongan untuk meningkatkan kualitas diri sekaligus memperluas kontribusi bagi masyarakat.

Peringatan tahun 2026 ini pun menjadi refleksi bersama bahwa perjuangan perempuan belum benar-benar usai. Jika dahulu fokusnya pada akses pendidikan, kini tantangannya bergeser: bagaimana perempuan Indonesia mampu berdiri mandiri, berprestasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.***

Administrator

Dari Cemas ke Tawakal, NGOPI UM Bandung Jadi Ruang Refleksi Mahasiswa

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Suasana hangat dan penuh refleksi terasa dalam kegiatan Ngobrolin Perkara Iman (NGOPI) yang digelar Himpunan Mahasiswa Prodi Farmasi (Himprofar) bersama Pimpinan Komisaria IMM Saintek Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Sabtu (18/04/2026).

Bertempat di Auditorium Kiai Haji Ahmad Dahlan, lantai tiga gedung UM Bandung, kegiatan ini mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan mahasiswa masa kini, yakni “Overthinking vs Tawakal: Kurang Iman atau Kurang Tenang?”. Tema ini pun berhasil menarik antusiasme peserta, baik dari internal maupun eksternal kampus.

Ketua Pelaksana, Muhammad Masdar Fauzy, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk kolaborasi positif antarorganisasi mahasiswa di lingkungan UM Bandung.

Ia menilai, NGOPI bukan sekadar forum diskusi, tetapi juga ruang untuk mempererat silaturahmi. “Kegiatan ini menjadi jembatan untuk memperkuat ukhuwah islamiyah di kampus kita,” ujarnya.

Fauzy juga berharap, melalui kegiatan ini mahasiswa bisa mendapatkan sudut pandang baru dalam menghadapi kegelisahan yang kerap muncul di tengah kehidupan yang serba cepat.

“Semoga kegiatan ini bisa menghadirkan solusi spiritual, sehingga kita bisa belajar bertawakal dengan lebih baik,” tambahnya.

Apresiasi juga datang dari Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UM Bandung, Arief Yunan. Ia menilai kegiatan seperti ini sangat relevan dengan kondisi zaman yang penuh ketidakpastian.

Menurutnya, situasi yang sering disebut sebagai era VUCA—volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity—membuat banyak orang, khususnya mahasiswa, mudah merasa cemas dan tidak tenang.

“Oleh karena itu, kita perlu menyeimbangkan antara usaha dan doa. Selain itu, penting juga untuk meningkatkan kompetensi agar lebih siap menghadapi masa depan,” jelasnya.

Dalam sesi utama, Ustadz Naufal Fatyu sebagai narasumber mengajak peserta memahami fenomena overthinking yang semakin akrab di kalangan generasi muda, terutama di era digital saat ini.

Ia menjelaskan bahwa akar dari overthinking sering kali terletak pada cara seseorang mengelola pikiran dan merespons ketidakpastian hidup. “Sering kali kita terlalu membebani pikiran dengan hal-hal yang belum tentu terjadi,” ungkapnya.

Naufal menegaskan bahwa dalam pandangan Islam, kegelisahan bukan untuk dihindari, tetapi dikelola melalui ikhtiar dan tawakal. Ia mengingatkan agar tidak menyerahkan seluruh beban hati kepada logika semata. “Kita tidak perlu memaksakan semua hal harus sesuai dengan ‘seharusnya’. Coba ubah menjadi ‘semampunya’,” katanya.

Lebih jauh, ia juga mengajak peserta untuk berdamai dengan masa lalu, memaafkan diri sendiri, dan melihat setiap takdir sebagai bagian dari kebaikan yang telah ditetapkan.

Dengan suasana diskusi yang santai namun penuh makna, kegiatan NGOPI ini menjadi ruang refleksi yang menyegarkan—mengingatkan bahwa di tengah overthinking, selalu ada jalan untuk kembali tenang melalui tawakal.***(FK)

Administrator