Berita

Kuliah Farmasi di UM Bandung, Investasi Cerdas untuk Masa Depan di Dunia Kesehatan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Memilih program studi bukan sekadar menentukan tempat kuliah, tetapi menentukan arah masa depan. Di tengah tingginya kebutuhan tenaga kesehatan profesional, Prodi Farmasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung hadir sebagai salah satu pilihan yang kian diminati calon mahasiswa dari berbagai daerah, bahkan dari mancanegara.

Baru berusia satu dekade sejak berdiri pada 2016, UM Bandung menunjukkan perkembangan yang pesat. Kampus ini kini telah memiliki lima fakultas dengan 18 program sarjana, dua program magister, dan satu Prodi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA).

Pada 2024, UM Bandung meraih akreditasi "Baik Sekali" dari BAN-PT, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu kampus swasta yang diperhitungkan di Jawa Barat.

Prodi Farmasi sendiri juga telah mengantongi akreditasi "Baik Sekali" dari LAM-PTKes, dan menjadi salah satu program studi yang konsisten menarik minat calon mahasiswa setiap tahunnya.

Ketua Prodi Farmasi UM Bandung Mutiara Imansari menjelaskan bahwa prodi ini terbuka bagi lulusan SMA atau Madrasah Aliyah jurusan IPA, maupun lulusan SMK Farmasi dan bidang kesehatan lainnya.

Di bangku kuliah, mahasiswa akan mempelajari berbagai disiplin ilmu yang menjadi fondasi dunia kefarmasian. Mulai dari kimia farmasi, kimia medisinal, farmakologi, farmasetika, teknologi farmasi, hingga farmasi klinis dan komunitas. 

"Mahasiswa belajar bagaimana obat ditemukan, diformulasikan, diproduksi, didistribusikan, hingga digunakan secara efektif, aman, dan rasional oleh pasien. Tujuan akhirnya adalah memastikan obat benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Mutiara, di kampus UM Bandung, Rabu (22/07/2026).

Ia menambahkan, lulusan Farmasi UM Bandung memiliki peluang karier yang sangat luas.

Selain menjadi apoteker atau tenaga kefarmasian di rumah sakit dan apotek, lulusan juga dapat berkarier di industri farmasi, industri kosmetik, industri pangan, laboratorium, lembaga penelitian, hingga instansi pemerintah seperti BPOM, Kemenkes, dan Dinas Kesehatan. 

Bahkan, terbuka pula kesempatan untuk menjadi akademisi atau membangun usaha sendiri di bidang kesehatan.

Keunggulan lain dari Prodi Farmasi UM Bandung terletak pada kurikulum berbasis kompetensi yang didukung fasilitas pembelajaran modern dan dosen-dosen berpengalaman di bidangnya.

Proses pendidikan pun tidak berhenti pada aspek akademik semata, karena turut mengintegrasikan nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan, sehingga mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi tenaga farmasi yang kompeten, tetapi berintegritas, berkarakter, dan menjunjung tinggi etika profesi.

Pengalaman itu dirasakan langsung oleh Surya Khairul Rizky, mahasiswa Farmasi angkatan 2023.

Baginya, memilih UM Bandung menjadi salah satu keputusan terbaik dalam perjalanan pendidikannya. 

"Kuliah di UM Bandung itu benar-benar keputusan yang tepat buat saya. Saya tidak hanya mendapatkan ilmu, tetapi pengalaman organisasi, lingkungan yang suportif, dan dosen-dosen yang selalu mendorong mahasiswa untuk berkembang," katanya.

Surya mengakui bahwa kuliah di Farmasi memiliki ritme yang cukup padat, dengan praktikum yang berlangsung tiga hingga empat kali setiap pekan, disertai penyusunan jurnal dan laporan praktikum yang membutuhkan ketelitian tinggi.

Namun, suasana belajar yang kondusif membuat tantangan tersebut terasa lebih ringan.

"Prosesnya memang padat, tetapi karena suasananya suportif dan dosennya enak ngajarnya, jadi enggak berasa berat buat para mahasiswa," tuturnya.

Ia juga menilai kualitas laboratorium yang terus diperbarui setiap tahun menjadi nilai tambah tersendiri.

Hal itu membuat mahasiswa dapat belajar menggunakan fasilitas dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Didukung tata kelola laboratorium yang semakin profesional sehingga menciptakan lingkungan praktikum yang aman dan nyaman.

Surya optimistis prospek lulusan Farmasi akan semakin cerah seiring berkembangnya industri kesehatan di Indonesia.

Menurutnya, kebutuhan tenaga farmasi yang kompeten akan terus meningkat, baik di sektor pelayanan kesehatan, industri, penelitian, maupun pemerintahan. 

"Kuliah Farmasi di UM Bandung bukan cuma memberikan bekal ilmu dan keterampilan. Namun, mempersiapkan kami agar siap bersaing dan berkontribusi secara profesional di dunia kesehatan," pungkasnya.

Dengan kombinasi kurikulum yang adaptif, dosen berpengalaman, fasilitas laboratorium modern, serta penguatan karakter melalui nilai-nilai Islam, Prodi Farmasi UM Bandung terus membuktikan diri sebagai ruang belajar yang tidak hanya melahirkan lulusan kompeten, tetapi siap menjawab kebutuhan dunia kesehatan. 

Tak heran jika program studi ini menjadi salah satu destinasi favorit bagi calon mahasiswa yang ingin meniti karier di bidang kefarmasian, dengan bekal akademik yang kuat dan pengalaman belajar yang menyenangkan.***(FA)

Administrator

Jurnalistik Menjadi Fondasi Branding Sekolah Muhammadiyah di Era Digital

UMBANDUNG.AC.ID, Purwokerto -- Membangun citra sekolah di era digital tidak cukup hanya mengandalkan promosi atau unggahan kegiatan seremonial di media sosial. Kepercayaan publik justru lahir dari cerita-cerita inspiratif yang dikemas melalui karya jurnalistik yang berkualitas.

Hal tersebut disampaikan dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Roni Tabroni saat menjadi narasumber dalam Akademi Jurnalistik Muhammadiyah (AJM) bertema "Branding Sekolah Muhammadiyah melalui Kehumasan di Era Digital" di Auditorium UMP, Sabtu-Minggu (18–19/7/2026).

Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menjelaskan, AJM dirancang untuk memperkuat kapasitas humas sekolah Muhammadiyah.

Tujuannya agar mampu menghasilkan pemberitaan yang berkualitas sekaligus memperluas publikasi berbagai prestasi dan inovasi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan.

Menurut Roni, masih banyak program unggulan sekolah Muhammadiyah yang belum dikenal masyarakat karena belum dikelola menjadi informasi yang menarik dan bernilai berita.

"Yang kita butuhkan bukan sekadar publikasi kegiatan, tetapi kemampuan mengolah peristiwa menjadi cerita yang bermakna dan menginspirasi masyarakat. Sekolah Muhammadiyah memiliki begitu banyak konten positif yang layak diketahui publik," ujarnya.

Doktor Ilmu Komunikasi tersebut menegaskan bahwa branding yang kuat dibangun melalui informasi yang kredibel, inspiratif, dan bermanfaat.

Ketika sekolah mampu menceritakan prestasi siswa, inovasi guru, pengabdian kepada masyarakat, hingga budaya akademik yang positif, kepercayaan publik akan tumbuh dengan sendirinya.

Karena itu, humas sekolah dituntut tidak hanya piawai mengelola media sosial, tetapi menguasai keterampilan jurnalistik.

Mulai dari mencari informasi, melakukan peliputan, menulis berita, memproduksi konten, hingga mendistribusikannya melalui berbagai platform digital.

Roni juga mengingatkan pentingnya menjalin kemitraan dengan media massa sebagai bagian dari strategi membangun reputasi sekolah.

Di sisi lain, keberhasilan kehumasan membutuhkan dukungan penuh dari pimpinan sekolah, baik dalam penyediaan SDM, fasilitas, maupun kebijakan yang mendukung publikasi.

Ia berharap Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah terus memperkuat fungsi kehumasan di sekolah-sekolah Muhammadiyah.

Menurutnya, investasi pada SDM komunikasi dan jurnalistik merupakan langkah strategis untuk membangun citra positif Persyarikatan di era digital.

"Bila sekolah mampu menghadirkan informasi yang berkualitas, kredibel, dan bermanfaat bagi masyarakat, maka yang terbangun bukan hanya popularitas, tetapi juga kepercayaan publik. Itulah fondasi utama branding sekolah Muhammadiyah di era digital," pungkasnya.***

Administrator

Siapa Menguasai Ruang Informasi, Berpeluang Membentuk Cara Berpikir Masyarakat

UMBANDUNG.AC.ID, Purwokerto -- Ketua PP Muhammadiyah sekaligus Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UM Bandung Dadang Kahmad menegaskan bahwa MPI memegang peran strategis sebagai penggerak utama transformasi dakwah Muhammadiyah di era digital. 

Di tengah derasnya arus informasi dan pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), Muhammadiyah dituntut hadir sebagai rujukan informasi yang kredibel sekaligus pelopor pemanfaatan teknologi yang beretika.

Hal tersebut disampaikan Dadang saat membuka Rapat Kerja Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah Tahun 2026 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Jumat (17/7).

Menurutnya, perubahan lanskap komunikasi menuntut dakwah Muhammadiyah untuk beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam yang menjadi fondasi Persyarikatan.

Ia menjelaskan bahwa dakwah pada masa kini tidak lagi cukup dilakukan melalui mimbar pengajian. Dakwah harus menjangkau ruang-ruang digital dengan memanfaatkan berbagai media komunikasi, mulai dari buku, jurnal ilmiah, media massa, televisi, radio, media sosial, podcast, video digital, hingga teknologi AI.

“Dakwah pada hari ini tidak cukup dilakukan hanya dari mimbar ke mimbar. Dakwah zaman kini harus berlangsung melalui buku, jurnal, media massa, televisi, radio, media sosial, podcast, video digital, hingga kecerdasan artifisial. Siapa yang menguasai ruang informasi, ia memiliki peluang besar membentuk cara berpikir masyarakat,” ujar Dadang.

Menurutnya, kemajuan teknologi informasi membawa dua wajah sekaligus. Di satu sisi membuka akses pengetahuan yang semakin luas, namun di sisi lain memunculkan tantangan berupa maraknya hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, hingga polarisasi sosial.

Oleh karena itu, Muhammadiyah harus mampu tampil sebagai sumber informasi yang terpercaya, menenangkan, mencerahkan, dan mempersatukan masyarakat.

“Muhammadiyah tidak boleh menjadi korban disinformasi, hoaks, ujaran kebencian, maupun polarisasi sosial. Muhammadiyah harus menjadi sumber informasi yang terpercaya, menenangkan, mencerahkan, dan mempersatukan,” tegasnya.

Dadang menambahkan, prinsip tabayyun sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 6 harus menjadi landasan dalam membangun budaya komunikasi yang sehat sekaligus praktik jurnalisme yang bertanggung jawab.

Verifikasi informasi, menurutnya, merupakan nilai Islam yang semakin relevan di tengah banjir informasi digital.

Selain itu, ia menaruh perhatian besar terhadap perkembangan Artificial Intelligence. Dadang menilai AI merupakan teknologi yang tidak boleh dipandang semata sebagai ancaman, tetapi juga tidak boleh diterima tanpa sikap kritis dan kerangka etik yang kuat.

“Muhammadiyah harus menjadi pelopor pemanfaatan AI yang berlandaskan nilai-nilai Islam, ilmu pengetahuan, dan etika kemanusiaan,” katanya, seperti dikutip dari laman muhammadiyah.or.id.

Oleh karena itu, Dadang berharap Rapat Kerja MPI mampu menghasilkan peta jalan transformasi digital Muhammadiyah yang komprehensif.

Beberapa agenda strategis yang perlu menjadi perhatian meliputi penguatan literasi digital warga Muhammadiyah, pengembangan arsip digital dan perpustakaan Muhammadiyah, penguatan media Muhammadiyah sebagai rujukan publik, pengembangan konten dakwah yang kreatif, ilmiah, dan dekat dengan generasi muda, hingga penyusunan pedoman etika pemanfaatan AI di lingkungan Persyarikatan.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah tumbuh sebagai gerakan ilmu yang berakar pada tradisi literasi. Oleh karena itu, budaya membaca, menulis, meneliti, dan berpikir ilmiah harus terus diperkuat agar tetap menjadi identitas utama Persyarikatan.

Dadang berharap perpustakaan Muhammadiyah tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi buku. Namun, berkembang menjadi pusat lahirnya gagasan, inovasi, riset, dan solusi atas berbagai persoalan umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Di bidang media, ia menegaskan pentingnya menghadirkan jurnalisme yang berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.

Menurutnya, media Muhammadiyah harus mampu memberikan perspektif yang mencerdaskan publik, memperkuat persaudaraan, membela kebenaran, serta menghadirkan optimisme di tengah berbagai tantangan zaman.

“Media Muhammadiyah jangan sekadar memberitakan peristiwa, tetapi harus menghadirkan perspektif yang mencerdaskan.

Jurnalisme Muhammadiyah harus menjadi jurnalisme untuk kemanusiaan yang membela kebenaran, memperkuat persaudaraan, mengangkat suara mereka yang lemah, serta menghadirkan harapan di tengah berbagai krisis,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan agar media Muhammadiyah tidak terjebak pada sensasionalisme demi mengejar perhatian publik.

Sebaliknya, objektivitas, keberimbangan, akurasi, serta akhlak harus menjadi prinsip yang melekat dalam setiap karya jurnalistik yang dihasilkan.

Menutup sambutannya, Dadang berharap Rapat Kerja MPI PP Muhammadiyah Tahun 2026 tidak berhenti pada penyusunan program administratif semata.

Namun, mampu melahirkan langkah-langkah strategis yang memperkuat Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu, gerakan dakwah, dan gerakan peradaban yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai Islam.***

Administrator

PSYNTECH Dorong Inovasi Psikologi untuk Menjawab Kebutuhan Masyarakat

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Belajar psikologi di era digital tak lagi sebatas memahami teori perilaku manusia. Mahasiswa juga ditantang menciptakan solusi nyata yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat melalui inovasi dan teknologi.

Semangat itulah yang mewarnai penyelenggaraan PSYNTECH Volume 3 (Psychology Startup Expo & Pitching Competition) yang digelar Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung pada Sabtu (18/7/2026).

Bertempat di Auditorium Kiai Haji Ahmad Dahlan UM Bandung, kegiatan bertema "Humanizing Innovation: Technology for People Powered by Psychology" ini menjadi panggung bagi mahasiswa untuk memamerkan startup sekaligus mempresentasikan gagasan bisnis yang memadukan ilmu psikologi, teknologi, dan semangat kewirausahaan.

Ketua Pelaksana PSYNTECH Volume 3 Irfa Nabila Nursyaida mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang kolaborasi yang mendorong mahasiswa mengembangkan inovasi yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

"Melalui kegiatan ini, kami ingin membuktikan bahwa psikologi tidak hanya kami pelajari di ruang kelas, tetapi bisa diwujudkan dalam solusi yang berdampak," ujar Irfa.

Menurutnya, berbagai startup yang dipamerkan dalam ajang tersebut merupakan hasil kreativitas mahasiswa dalam mengintegrasikan pendekatan psikologi dengan perkembangan teknologi.

Ia berharap PSYNTECH menjadi ruang belajar, berkolaborasi, sekaligus memperkuat jejaring antarmahasiswa untuk melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Sementara itu, Ketua Program Studi Psikologi UM Bandung Rika Dwi Agustiningsih menjelaskan bahwa PSYNTECH telah memasuki penyelenggaraan tahun ketiga dan menjadi bagian penting dari implementasi mata kuliah kewirausahaan di Prodi Psikologi.

"Mata kuliah ini dirancang untuk menjembatani antara ilmu psikologi dengan semangat kewirausahaan dan pemanfaatan teknologi yang saat ini berkembang," kata Rika.

Ia menegaskan bahwa expo dan pitching competition tersebut bukan sekadar pameran karya mahasiswa, melainkan bukti bahwa proses pembelajaran di kelas mampu melahirkan produk dan ide bisnis yang aplikatif.

Menurutnya, PSYNTECH juga telah berkembang menjadi tradisi akademik yang terus mendorong lahirnya inovasi berbasis psikologi dari tahun ke tahun.

Lebih jauh, Rika berharap pengalaman mengikuti PSYNTECH dapat menjadi bekal mahasiswa dalam merancang masa depan kariernya.

Melalui pembelajaran kewirausahaan, mahasiswa didorong menjadi lulusan yang tidak hanya siap bekerja. Namun, mampu menciptakan lapangan kerja dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

"Semoga mahasiswa Prodi Psikologi menjadi lulusan yang sesuai dengan visi kampus yakni menjadi wirausaha yang membuka lapangan pekerjaan dan menciptakan kebermanfaatan bagi umat manusia," pungkasnya.

Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora UM Bandung Irianti Usman turut mengapresiasi kreativitas mahasiswa yang berhasil menghadirkan berbagai inovasi, khususnya di bidang layanan kesehatan mental.

Menurutnya, karya-karya tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa Psikologi UM Bandung mampu mengembangkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

"Kita harus show off pada dunia bahwa UM Bandung pencetak entrepreneur yang akhlaknya islami banget," ungkap Irianti.

Ia optimistis inovasi mahasiswa Psikologi UM Bandung akan terus berkembang menjadi solusi yang semakin integratif, holistik, dan berdaya guna bagi bangsa.

Menurutnya, lulusan UM Bandung tidak hanya dibekali kompetensi akademik dan jiwa kewirausahaan. Namun, karakter Islami yang menjadi fondasi dalam berkarya dan memberikan manfaat bagi sesama.***(FK)

Administrator

Produktif Berkarya, 12 Film Pendek Mahasiswa KPI UM Bandung Raih Pengakuan LSF RI

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kreativitas mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung kembali menorehkan prestasi membanggakan.

Sebanyak 12 film pendek karya mahasiswa resmi dinyatakan lulus sensor oleh Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia, menandai bahwa karya yang lahir dari ruang perkuliahan telah memenuhi standar untuk dipublikasikan secara luas.

Ketua Prodi KPI UM Bandung, Rahmat Alamsyah, mengatakan capaian tersebut bukan sekadar memenuhi persyaratan administrasi. Namun, menjadi pengakuan resmi atas kualitas karya mahasiswa.

Menurutnya, keberhasilan ini menjadi penyemangat untuk terus meningkatkan mutu produksi film di lingkungan Prodi KPI.

"Raihan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas produksi film mahasiswa. Ketika karya sudah mendapat pengakuan dari lembaga resmi negara, standar yang kami bangun juga harus semakin tinggi," ujarnya, Sabtu (18/7/2026).

Dua belas film yang lolos sensor merupakan karya mahasiswa angkatan 2022 dan 2023. Film-film tersebut ialah "Amor Fati", "Hanya Rindu", "Where's My Home", "Titik Nol", "Paradox", "Just a Smile", "Luruh", "Bunga Terakhir", "Karma", "Langkah di Tengah Badai", "OBSESSED", dan "Titik Koma".

Rahmat menilai keberhasilan tersebut lahir dari proses kreatif yang dijalani mahasiswa secara serius, mulai dari penulisan naskah, penyutradaraan, produksi, hingga pascaproduksi.

Budaya berkarya yang terus dibangun menjadi kekuatan Prodi KPI dalam mencetak lulusan yang siap bersaing di industri kreatif.

Ke depan, Prodi KPI UM Bandung akan memperkuat ekosistem pembelajaran perfilman melalui pengembangan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE), penambahan mata kuliah produksi film, serta perluasan kolaborasi dengan pelaku industri.

Fokus tersebut melengkapi kekhasan Prodi KPI UM Bandung dalam penguatan kompetensi di bidang film, jurnalistik, media, dan daipreneur.

Produktivitas menghasilkan film pendek kini telah menjadi budaya akademik di Prodi KPI UM Bandung.

Mahasiswa tidak hanya ditantang menyelesaikan tugas perkuliahan. Namun, didorong menghadirkan karya yang mengangkat persoalan sosial dan memberikan dampak bagi masyarakat.

Salah satu karya yang mendapat perhatian ialah Where's My Home? garapan sutradara muda M Zaka Imam Hakim.

Film tersebut mengangkat isu perundungan di sekolah dan minimnya kehangatan keluarga melalui kisah seorang remaja yang kehilangan rasa memiliki tempat untuk pulang.

"Kami ingin menyampaikan bahwa rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi ruang yang menghadirkan rasa aman, kasih sayang, dan tempat bagi anak untuk didengar. Harapannya, film ini membuka ruang diskusi dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap isu yang kami angkat," kata Zaka.

Sebelumnya, pada Rabu, 15 Juli 2026, Prodi KPI UM Bandung dan mahasiswa semua angkatan juga menggelar Cinematology 3.0 tahun 2026 di Bandung Creative Hub (BCH).

Kegiatan ini merupakan ajang screening dan pemutaran perdana film-film karya mahasiswa KPI UM Bandung angkatan 2023-2024.***(FA) 

Administrator

Film Mahasiswa KPI UM Bandung Buktikan Sinema Kampus Makin Berkualitas

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Lampu dipadamkan, layar menyala, dan Bandung Creative Hub berubah menjadi ruang yang dipenuhi tawa, haru, hingga ketegangan.

Sebelas film pendek karya mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sukses menghipnotis penonton dalam ajang Cinematology 3.0, Rabu (15/07/2026).

Ajang tahunan tersebut menjadi panggung apresiasi bagi mahasiswa semester empat dan enam untuk menampilkan karya sinematik mereka.

Sebanyak 11 film diputar, yakni "Sink", "Sunyi", "Hasad", "Empty Within", "Rasiah", "Besok Jadi Apa", "Hening yang Kita Pilih", "Framed Memories", "Impian Tukang Bubur", "Salah Tempat", dan "Somnabulisme".

Beragam tema yang diangkat, mulai dari persoalan psikologis, relasi antarmanusia, hingga isu sosial, berhasil menghadirkan pengalaman emosional bagi penonton.

Kegiatan yang dihadiri mahasiswa lintas angkatan, orang tua, tamu undangan, dan masyarakat umum ini menunjukkan bahwa film mahasiswa telah berkembang menjadi karya seni yang mampu berkomunikasi dengan publik, bukan sekadar memenuhi tugas akademik.

Ketua Prodi KPI UM Bandung Rahmat Alamsyah mengatakan film merupakan bentuk karya budaya yang paling utuh karena memadukan gagasan, sastra, visual, audio, dan seni bertutur.

Menurutnya, film memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan sekaligus menanamkan nilai-nilai kehidupan.

"Film bukan sekadar sarana hiburan, melainkan bisa menjadi jalan menyebarkan nilai-nilai kebaikan Islam. Selain itu, melalui film juga kita bisa berdakwah," ujarnya.

Rahmat mengapresiasi perkembangan kualitas karya mahasiswa dan menegaskan bahwa penguatan bidang perfilman menjadi identitas Prodi KPI UM Bandung.

Ke depan, kurikulum akan diperkuat dengan mata kuliah produksi film agar mahasiswa menguasai seluruh proses kreatif, mulai dari pengembangan ide, penulisan skenario, penyutradaraan, sinematografi, hingga distribusi karya.

Ia menambahkan, Cinematology bukan hanya mengajarkan keterampilan teknis membuat film. 

Namun, membentuk mahasiswa menjadi content creator, filmmaker, storyteller, dan dai digital yang mampu menghadirkan karya visual berkualitas dengan berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah Sinematografi dan Produksi Film Dakwah Kelik Nursetiyo Widianto menjelaskan bahwa mahasiswa juga dilatih memahami ekosistem industri kreatif melalui promosi film, publikasi di media sosial, hingga penyelenggaraan pemutaran film secara mandiri.

Seluruh karya mahasiswa juga akan didaftarkan untuk memperoleh piagam lulus sensor dari Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

Tahun lalu, 12 film mahasiswa KPI UM Bandung berhasil memperoleh piagam lulus sensor.

Salah satu film yang menarik perhatian penonton adalah "Sunyi" karya sutradara muda Anadza Bilqis.

Film tersebut mengisahkan perjuangan seorang mahasiswa tunarungu di bidang komunikasi yang terinspirasi dari pengalaman Ziyan Shafi Nur Fadhilah, mahasiswa KPI angkatan 2023.

"Melalui film ini kami ingin menyampaikan bahwa komunikasi bukan hanya tentang mendengar dan berbicara, tetapi tentang empati, penerimaan, dan saling memahami. Harapannya, penonton dapat melihat bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkarya, dan meraih impiannya," tutur Bilqis.

Bilqis mengungkapkan, proses produksi "Sunyi" diawali dengan riset mendalam, penyusunan naskah, pengolahan visual, hingga pemilihan aktor yang mampu menggunakan bahasa isyarat agar cerita terasa autentik.

Menurutnya, pengalaman belajar di Prodi KPI UM Bandung membekali mahasiswa untuk terlibat dalam seluruh tahapan produksi film sehingga mampu melahirkan karya yang tidak hanya artistik, tetapi juga membawa nilai dakwah, edukasi, dan kepedulian sosial.

"Ke depannya, saya berharap film-film pendek karya mahasiswa Prodi KPI UM Bandung semakin berkembang. Tidak hanya diputar di lingkungan kampus, tetapi mampu berkompetisi di berbagai festival dan menjadi media dakwah serta edukasi yang memberikan dampak positif bagi masyarakat," pungkas Bilqis.***

Administrator