Berita

Dosen PIAUD UM Bandung Kembangkan Soundbook Interaktif Kakawihan Sunda

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Tim peneliti Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung mendiseminasikan hasil hibah penelitian RisetMu 2025–2026 di TKIT Al-Fatwa, Jalan PLN Cigereleng Nomor 21, Kecamatan Regol, Kota Bandung, Senin (04/05/2026).

Kegiatan ini disambut hangat oleh Kepala TKIT Al-Fatwa, Wiwi Widianti, yang mengapresiasi inovasi media pembelajaran yang dinilai relevan dan aplikatif bagi anak usia dini.

Penelitian bertajuk “Pengembangan Interactive Soundbook Kakawihan Barudak Sunda sebagai Media Pembelajaran Anak Usia Dini” ini diketuai oleh Lilis Lismarina bersama tiga mahasiswa, yakni Syifa Lailya Wigaswanda, Nabila Julianti R, dan Dinda Hanifah.

Produk yang dikembangkan berupa interactive soundbook, yakni buku anak inovatif yang dilengkapi fitur suara serta elemen interaktif seperti tarik-ulur, dorong, pop-up, dan geser.

Media ini dirancang untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan budaya Sunda melalui lima lagu kakawihan barudak, yaitu Jaleuleu Ja, Kacang Panjang, Eundeuk-Eundeukan, Sur Sér, dan Endog-endogan.

Setiap lagu disajikan dengan ilustrasi gerakan kaulinan barudak yang menarik dan edukatif.

Antusiasme siswa terlihat tinggi saat soundbook diperkenalkan. Anak-anak tampak tertarik dan aktif mencoba berbagai fitur interaktif yang tersedia.

“Mereka sangat antusias, bahkan tidak bosan mendengarkan lagu meski diputar berulang kali,” ujar Nabila, anggota tim peneliti.

Apresiasi juga datang dari guru kelas, Eni, yang menilai media tersebut mendukung kebutuhan pembelajaran.

Ia menyebut soundbook ini dapat menjadi referensi tambahan dalam mengajarkan kakawihan barudak kepada siswa.

Sementara itu, Lilis Lismarina menjelaskan bahwa riset ini merupakan bentuk implementasi etnopedagogi di lingkungan PAUD.

“Penelitian ini bertujuan mengintegrasikan nilai budaya lokal dalam pembelajaran, sekaligus melestarikan kakawihan barudak Sunda,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan berbasis budaya membuat proses belajar menjadi lebih relevan, menarik, dan bermakna bagi anak usia dini.

Melalui diseminasi ini, ia berharap interactive soundbook tidak hanya menjadi media pembelajaran yang menyenangkan.

Namun, menjadi sarana pewarisan budaya Sunda kepada generasi penerus sejak dini.***

Administrator

INCODE 2026 Jadi Ajang Strategis Bahas Tantangan Ekonomi Digital

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung melalui Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) menjadi tuan rumah The 3rd International Conference on Digital Economics (INCODE) yang digelar pada Selasa (28/04/2026).

Konferensi ini mengangkat tema “Fostering Sustainable Economic Growth and Innovation through Research and Community Engagement”.

Dekan FEB UM Bandung Ia Kurnia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kolaborasi antara UM Bandung, UM Sidoarjo, dan Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (AFEB) PTMA.

Rangkaian acara juga mencakup berbagai kompetisi akademik dan non-akademik yang mendapat antusiasme tinggi dari peserta. 

Menurutnya, hal tersebut mencerminkan meningkatnya minat terhadap riset ekonomi digital dan keberlanjutan, sekaligus menjadi ruang pengembangan kapasitas dan daya saing mahasiswa.

Ia berharap kegiatan ini mampu memberi dampak jangka panjang serta memperkuat jejaring global antarperguruan tinggi.

Sekretaris AFEB PTMA, Meika Kurnia Puji, menilai tema konferensi relevan dengan dinamika global yang berubah sangat cepat.

Ia menyoroti peran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang telah mentransformasi dunia kerja, sehingga lulusan perguruan tinggi kini tidak hanya bersaing dengan sesama manusia, tetapi juga dengan teknologi otomasi.

Oleh karena itu, ia mendorong perguruan tinggi untuk tidak sekadar mengejar keunggulan akademik, tetapi menjadi katalisator transformasi sosial.

Dalam sesi internasional, Bahromjon Khalilov Bahodirovich dari The Asia International University, Uzbekistan, memaparkan inovasi layanan perbankan berbasis integrasi teknologi biometrik dan AI.

Ia menegaskan bahwa biometrik menjadi fondasi penting dalam meningkatkan keamanan sekaligus personalisasi layanan digital.

Selain itu, pemanfaatan voice assistant dinilai mampu mempermudah transaksi kompleks, mengurangi kesalahan manusia, dan mempercepat layanan mandiri.

Sementara itu, Hisham Bin Sabri dari Malaysia menekankan pentingnya integrasi ekonomi syariah dalam kerangka keberlanjutan global (Environmental, Social, and Governance/ESG).

Ia menjelaskan bahwa konsep maqasid al-shari’ah sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam menjaga kesejahteraan manusia dan keseimbangan lingkungan. 

Digitalisasi instrumen keuangan sosial Islam seperti zakat dan wakaf, lanjutnya, berpotensi memperluas dampak ekonomi inklusif serta mendukung pencapaian SDGs.

Rangkaian INCODE 2026 telah berlangsung sejak 25 April 2026 melalui berbagai agenda daring dan luring, termasuk kegiatan lapangan di kawasan Antapani dan Suci, Kota Bandung.***(FK)

Administrator

Kasus Daycare Jadi Momentum Evaluasi Sistem Pengasuhan Anak di Indonesia

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kasus dugaan kekerasan fisik dan psikis terhadap anak di sebuah daycare di Yogyakarta yang viral memicu beragam reaksi publik.

Di tengah keprihatinan tersebut, muncul perdebatan di media sosial yang membandingkan antara ibu bekerja dan ibu yang tidak bekerja.

Dosen Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Muhammadiyah Bandung Rizka Saputri SPdI MPd menilai narasi yang berkembang cenderung menyederhanakan persoalan.

Menurutnya, komentar seperti anjuran berhenti bekerja atau anggapan bahwa pengasuhan terbaik hanya oleh ibu berpotensi menambah beban psikologis bagi perempuan.

Ia menjelaskan, pandangan tersebut mengandung asumsi problematis karena mereduksi persoalan yang kompleks menjadi sekadar pilihan personal.

Padahal, isu pengasuhan anak seharusnya dilihat secara lebih luas dan sistematis.

Rizka menegaskan bahwa pengasuhan tidak dapat diukur hanya dari kehadiran fisik ibu.

Dalam perspektif pendidikan anak usia dini, pengasuhan merupakan proses kolaboratif antara orang tua dan lingkungan yang mampu memberikan rasa aman, kehangatan, serta stimulasi yang konsisten.

Ia juga mengingatkan bahwa anak usia dini berada pada fase emas perkembangan yang membutuhkan pola asuh tepat.

Mengacu pada teori kelekatan John Bowlby, kualitas hubungan emosional sejak usia 0–2 tahun menjadi fondasi penting bagi pembentukan konsep diri anak.

Lebih lanjut, Rizka memandang daycare sebagai bagian dari sistem pengasuhan yang lebih luas, bukan pengganti peran ibu.

Dalam realitas sosial saat ini, keberadaan daycare perlu dipahami secara objektif agar dapat dikembangkan menjadi layanan yang aman dan berkualitas.

Menurutnya, kasus ini seharusnya menjadi refleksi bersama untuk memperbaiki sistem pengasuhan, bukan saling menyalahkan.

Ia menekankan bahwa setiap anak, baik diasuh di rumah maupun di daycare, berhak mendapatkan pengasuhan yang aman, manusiawi, dan berkualitas.***

Administrator

Rektor UM Bandung Tekankan Ekonomi Digital Harus Inklusif dan Berkelanjutan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Herry Suhardiyanto menegaskan pentingnya membangun ekonomi digital yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi keberlanjutan dan inklusivitas.

Hal itu disampaikannya dalam International Conference on Digital Economics 2026 (INCODE) ke-3 yang digelar di UM Bandung pada 25–28 April 2026.

Lebih jauh, Herry menyoroti bahwa ekonomi digital tidak semata dibangun melalui teknologi, tetapi melalui keterhubungan antara riset, masyarakat, dan dunia usaha.

Dia menyebut, inovasi akan lebih berdampak ketika hasil penelitian tidak berhenti di jurnal, tetapi diterapkan langsung di komunitas, pasar, dan sektor UMKM.

Menurutnya, ekosistem yang menghubungkan perguruan tinggi, industri, dan masyarakat terbukti mampu mempercepat adopsi teknologi digital.

Oleh karena itu, peran kampus menjadi krusial dalam menjembatani inovasi agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Herry juga menekankan bahwa digitalisasi membawa peluang besar, seperti menekan biaya transaksi, membuka akses pasar, serta memperluas kesempatan ekonomi.

Namun, dia mengingatkan bahwa tanpa nilai dan tata kelola yang baik, teknologi justru berpotensi memperlebar kesenjangan sosial.

“Ketika platform digital dirancang untuk efisiensi dan inklusi, serta didukung tata kelola data yang baik, maka pertumbuhan ekonomi akan lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menyoroti pentingnya sistem pembiayaan digital yang terintegrasi. Menurutnya, ekosistem ekonomi digital membutuhkan dukungan dari berbagai instrumen, seperti fintech, investasi berdampak, instrumen syariah, hingga skema pembiayaan berbasis komunitas.

Dalam konteks regional, Herry menilai Jawa Barat memiliki potensi besar sebagai pusat ekonomi digital nasional.

Dengan jumlah penduduk yang besar dan didominasi generasi muda, wilayah ini dinilai memiliki kekuatan dalam mendorong inovasi, mulai dari technopreneur di Bandung hingga UMKM kreatif di berbagai daerah.

Dia juga menegaskan bahwa perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi pusat solusi bagi persoalan nyata di masyarakat.

Kampus, kata dia, tidak lagi sekadar ruang belajar, tetapi laboratorium hidup yang mampu melahirkan inovasi berbasis kebutuhan daerah.

“Sejatinya riset akademik harus menghasilkan kebijakan berbasis data yang dapat langsung diterapkan, bukan hanya menjadi laporan yang tersimpan,” tegasnya.

Herry mengajak kepada seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah.

Menurutnya, sinergi tersebut menjadi kunci dalam menciptakan inovasi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi masyarakat.***(FA)

Administrator

Simposium HKI UM Bandung Bahas Keadilan dan Realitas Sosial dalam Hukum Keluarga Islam

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) bersama Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) HKI Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menggelar Simposium Hukum Keluarga Islam pada Sabtu (25/4/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang akademik yang tidak hanya menghadirkan diskusi ilmiah, tetapi juga mempererat silaturahmi antar sivitas akademika di lingkungan Prodi HKI.

Bertempat di Lantai 2 Ruang 3 Gedung UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, simposium mengangkat tema “Menelaah Hukum Keluarga Islam dalam Perspektif Keadilan dan Realitas Sosial”.

Tema tersebut dinilai kontekstual dengan dinamika sosial yang terus berkembang dan menuntut pendekatan hukum yang adaptif.

Ketua Pimpinan Komisariat IMM HKI UM Bandung Fadila Rizka Anggreani menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai wadah yang konstruktif untuk membangun komunikasi akademik antara mahasiswa dan dosen.

Menurutnya, interaksi yang terjalin dalam forum seperti ini penting untuk menciptakan iklim akademik yang sehat dan kolaboratif.

Ia menegaskan bahwa simposium tidak sekadar menjadi ruang transfer pengetahuan, melainkan juga momentum untuk mempererat hubungan akademik dalam suasana yang lebih dialogis dan terbuka.

Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga aktif terlibat dalam proses pertukaran gagasan.

“Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah belajar, tetapi juga sebagai sarana bersilaturahmi antara mahasiswa dan dosen di Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Bandung,” ujar Fadila.

Lebih lanjut, Fadila menjelaskan bahwa simposium ini menjadi ruang produktif untuk mendiskusikan berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks.

Ia berharap dari forum ini lahir pemikiran kritis yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan Hukum Keluarga Islam di tengah masyarakat.

Menurutnya, keberadaan forum ilmiah seperti ini penting untuk melatih kepekaan akademik mahasiswa terhadap isu-isu aktual.

Dengan demikian, mahasiswa dapat mengembangkan perspektif yang lebih komprehensif dalam melihat fenomena hukum yang terjadi.

Fadila juga berharap seluruh peserta dapat memperoleh wawasan yang lebih luas serta manfaat jangka panjang dari kegiatan tersebut.

Ia menekankan bahwa ilmu yang diperoleh diharapkan tidak berhenti di forum, tetapi dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

“Semoga apa yang kita dapatkan pada acara kali ini bisa bermanfaat untuk hari ini, esok, dan seterusnya,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Program Studi HKI Universitas Muhammadiyah Bandung, Yudi Daryadi, memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.

Ia menilai simposium tersebut relevan dengan perkembangan kehidupan manusia, khususnya dalam konteks keberagamaan yang terus mengalami dinamika.

Yudi mengungkapkan bahwa tema yang diangkat mencerminkan upaya untuk menyeimbangkan antara nilai keadilan dan realitas sosial.

Menurutnya, kajian Hukum Keluarga Islam tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial yang terus berubah.

Ia juga menekankan pentingnya mahasiswa untuk selalu mengikuti perkembangan realitas sosial, baik dalam penelitian maupun dalam penyusunan karya ilmiah.

Hal ini dinilai penting agar kajian akademik tetap relevan dan memiliki dampak nyata di masyarakat.

Dalam simposium tersebut turut hadir Hakim Pengadilan Agama Kota Cimahi Ahmad Hidayat sebagai narasumber utama.

Kegiatan berlangsung dengan rangkaian pembukaan, dilanjutkan diskusi yang konstruktif dan edukatif mengenai perkembangan serta dinamika Hukum Keluarga Islam, yang diikuti oleh sivitas akademika Prodi HKI.***(FK)

Administrator

Kepemimpinan Adaptif Jadi Kunci Hadapi Berbagai Tantangan Pendidikan Tinggi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung Herry Suhardiyanto menegaskan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) memiliki peran strategis dalam memperkuat cabang dan ranting Persyarikatan Muhammadiyah. Peran ini dinilai semakin penting di tengah dinamika global yang kian kompleks, cepat berubah, dan sarat ketidakpastian.

Menurut Herry, PTMA tidak hanya berfungsi sebagai institusi pendidikan formal. Lebih dari itu, PTMA juga menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, riset, pengabdian kepada masyarakat, serta penguatan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

“Perguruan tinggi Muhammadiyah Aisyiyah harus menjadi pusat ilmu, pusat riset, sekaligus pusat pengabdian yang memberi manfaat nyata bagi umat,” ujarnya, dikutip dari program Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat, Jumat (24/04/2026). Ia menegaskan bahwa keberadaan kampus harus memberikan dampak langsung bagi masyarakat luas.

Ia menekankan bahwa penguatan cabang dan ranting Muhammadiyah perlu didorong melalui inovasi pendidikan dan riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. “Kampus tidak boleh hanya menghasilkan teori, tetapi juga solusi konkret yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegasnya.

Herry menguraikan pentingnya siklus pengembangan ilmu pengetahuan yang berjalan secara sistematis, mulai dari pengkajian hingga implementasi. “Kita harus membangun explicit knowledge dan tested knowledge agar organisasi memiliki daya tahan yang kuat,” jelasnya.

Dalam konteks penelitian, ia menekankan pentingnya memahami “research gap” sebagai dasar menghasilkan riset yang relevan. “Jangan berhenti pada riset teoretik, tetapi masuklah ke riset praktis yang benar-benar memberdayakan cabang dan ranting,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi global yang berada dalam situasi VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) yang menuntut kesiapan tinggi. “Kalau kita tidak punya kesadaran situasi, kita bisa terjebak dalam fenomena boiling frog,” ungkapnya.

Selain itu, Herry menegaskan bahwa kepemimpinan adaptif menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan tinggi. Ia juga menyoroti ketimpangan sosial dan ekonomi yang perlu dijawab melalui penguatan ekonomi kerakyatan dan riset ekonomi syariah.

Dalam aspek kelembagaan, ia memaparkan strategi UM Bandung melalui pendekatan balanced scorecard dengan fokus pada reputasi dan kebermanfaatan. “Keputusan harus berbasis evidence, tetapi tetap dipandu oleh hikmat kebijaksanaan agar tujuan keadilan sosial bisa tercapai,” pungkasnya. ***(FA)

Administrator