Berita

Prestasi Perdana PSPPA UM Bandung, Seluruh Mahasiswa Angkatan Pertama Lulus Ukomnas

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ada kabar membanggakan dari Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) angkatan pertama berhasil lulus 100 persen Ujian Kompetensi Nasional Program Diploma dan Profesi Apoteker (Ukomnas PDPA).

Ujian ini menggunakan metode Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dan Computer Based Test (CBT) Nasional.

Capaian ini menjadi catatan penting bagi PSPPA UM Bandung. Pasalnya, mereka merupakan angkatan pertama yang mengikuti Ukomnas PDPA sejak program profesi apoteker tersebut hadir di UM Bandung.

Ukomnas PDPA menjadi salah satu tahap penting sebelum calon apoteker memasuki dunia praktik kefarmasian. Melalui ujian ini, mahasiswa diuji dari sisi pengetahuan, keterampilan, sekaligus kesiapan profesional.

Dekan Fakultas Farmasi UM Bandung Dwintha Lestari menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Ia juga mengucapkan selamat kepada seluruh mahasiswa PSPPA angkatan pertama.

Menurut Dwintha, kelulusan 100 persen tidak datang secara instan. Ada proses panjang yang dijalani mahasiswa bersama dosen dan seluruh tim pendukung di Fakultas Farmasi.

“Alhamdulillah, ini berkat kerja sama seluruh dosen yang memberikan skill lab, tutor, bimbingan, dan try out kepada mahasiswa PSPPA angkatan pertama,” ujar Dwintha di UM Bandung pada Selasa (25/08/2026).

Ia menilai capaian tersebut menjadi semakin istimewa karena kelulusan Ukomnas PDPA 100 persen masih tergolong jarang terjadi di perguruan tinggi swasta.

Dwintha juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang ikut mendukung proses pendidikan mahasiswa. Mulai dari pimpinan, pemegang standar, tenaga kependidikan, laboran, hingga tim sarana dan prasarana.

“Tidak hanya itu, berkat seluruh pimpinan, pemegang standar, tendik, laboran, sarpras, dan seluruh pihak lainnya yang menjadi pendukung, mahasiswa dapat mengikuti Ukomnas dengan baik,” katanya.

Capaian tersebut diharapkan tidak berhenti pada angka kelulusan. Dwintha ingin prestasi ini menjadi awal untuk menjaga kualitas pendidikan PSPPA UM Bandung secara berkelanjutan.

Ia berharap capaian positif tersebut dapat terus dipertahankan. Terutama dalam mengantarkan mahasiswa hingga menyelesaikan seluruh tahapan pendidikan profesi apoteker.

“Semoga capaian ini menjadi langkah awal untuk mengabdikan ilmu dan kompetensi kefarmasian secara profesional, berintegritas, serta memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” tandasnya.

Kelulusan 100 persen ini sekaligus menjadi modal penting bagi mahasiswa PSPPA angkatan pertama untuk melangkah ke tahap berikutnya. Mereka kini memiliki bekal akademik dan kompetensi untuk mengembangkan profesi di bidang kefarmasian.

Di sisi lain, UM Bandung masih membuka pendaftaran mahasiswa baru. Pendaftaran saat ini telah memasuki gelombang ketiga yang akan ditutup pada 20 September 2026.

UM Bandung berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Kota Bandung. Kampus ini telah memperoleh akreditasi “Baik Sekali” dari BAN-PT.

Saat ini, UM Bandung memiliki lima fakultas. Program yang tersedia mencakup 18 program studi strata satu, dua program magister, dan satu program profesi apoteker.

Capaian PSPPA angkatan pertama menjadi salah satu bukti bahwa kualitas pendidikan tidak hanya dibangun melalui proses pembelajaran di ruang kelas. Lebih dari itu, kualitas lahir dari kerja sama, pendampingan, dan kesungguhan seluruh sivitas akademika.

Bagi mahasiswa PSPPA UM Bandung angkatan pertama, kelulusan 100 persen bukan sekadar angka. Ini adalah langkah awal untuk membawa ilmu kefarmasian dari kampus menuju pengabdian nyata bagi masyarakat.***(FA/FK)

Administrator

Dosen UM Bandung Ungkap Cara Artis Hijrah Bangun Kesalehan di Media Sosial

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Media sosial kini menjadi ruang baru bagi masyarakat untuk menampilkan sekaligus memaknai keberagamaan.

Fenomena ini diteliti Femi Fauziah Alamsyah, dosen Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, melalui riset tentang identitas kesalehan artis hijrah di Instagram.

Dalam disertasinya berjudul “Identitas Kesalehan Populer Artis Hijrah di Media Sosial”, Femi mengkaji akun Instagram Shireen Sungkar, Larissa Chou, Ricky Harun, dan Arie Untung.

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode netnografi terhadap 40 konten berupa foto, video, caption, dan komentar pengikut.

Disertasi tersebut dipertahankan dalam sidang terbuka promosi doktor pada Sabtu, 22 Agustus 2026, di Aula Selatan Gedung Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Femi menempuh Program Doktor Studi Agama-Agama dengan konsentrasi Agama dan Media.

Kesalehan Tak Sekadar Simbol

Femi menemukan bahwa identitas kesalehan di media sosial tidak dibangun hanya melalui simbol-simbol agama.

Visual, narasi kehidupan sehari-hari, dan pesan emosional ikut membentuk cara audiens mengenali dan memaknai kesalehan figur publik.

“Ketika ditampilkan melalui media sosial, simbol-simbol Islam memperoleh nilai tertentu atau sign value yang kemudian dipahami, dibicarakan, dan dinegosiasikan oleh para pengikut,” ujar Femi.

Interaksi pengikut juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Komentar dan percakapan digital dapat menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, memberikan validasi sosial, sekaligus menegosiasikan makna keberagamaan.

Temuan ini menunjukkan bahwa media sosial bukan sekadar tempat mempublikasikan aktivitas keagamaan.

Platform digital juga menjadi ruang interaktif yang ikut membentuk identitas dan pengalaman keberagamaan penggunanya.

Konsep Kesalehan Sirkulatif

Salah satu kontribusi utama penelitian Femi adalah konsep kesalehan sirkulatif (circulative piety).

Konsep ini menjelaskan bahwa kesalehan dapat bergerak melalui konten, simbol, respons, dan interaksi pengguna, sehingga pemaknaan keagamaan terus berkembang di ruang digital.

Penelitian tersebut juga menghasilkan model sirkulasi kesalehan populer di media sosial.

Model ini menggambarkan bagaimana narasi dan simbol keagamaan diproduksi, ditampilkan, mendapat respons sosial, kemudian kembali beredar melalui interaksi digital.

Menurut Femi, temuan tersebut penting bagi pengembangan kajian komunikasi keagamaan, khususnya dalam memahami perubahan pola dakwah di era digital.

Pesan agama kini tidak hanya berjalan satu arah, tetapi dapat berkembang melalui percakapan dan partisipasi audiens.

“Bagi kajian Komunikasi dan Penyiaran Islam, penelitian ini menunjukkan semakin pentingnya memahami media sosial sebagai ruang baru komunikasi keagamaan,” katanya.

Penelitian ini sekaligus memberikan perspektif bagi masyarakat agar lebih kritis dalam memahami konten keagamaan di media sosial.

Kesalehan yang tampil secara digital tidak hanya perlu dilihat dari simbol yang tampak. Namun, dari konteks, narasi, interaksi, dan makna yang terbentuk di baliknya.

Sidang promosi doktor Femi dipimpin Dindin Solahudin sebagai ketua sidang dan M Yusuf Wibisono sebagai sekretaris.

Tim promotor terdiri atas Agus Ahmad Safei, Moch Fakhruroji, dan Dadang Darmawan.***

Administrator

Timbangan IoT UM Bandung Bantu Kader Pantau Balita

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Teknologi akan lebih bermakna ketika mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.

Hal inilah yang coba dilakukan tim dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Posyandu Mayasari 3, Kabupaten Bandung.

Tim menghadirkan timbangan balita ramah anak berbasis Internet of Things (IoT) yang terhubung dengan dashboard digital.

Inovasi tersebut dipadukan dengan edukasi Prophetic Parenting agar pemantauan tumbuh kembang anak tidak hanya berbasis data, tetapi juga diperkuat dengan peran orang tua di rumah.

Program bertajuk “Pemberdayaan Posyandu melalui Inovasi Timbangan Balita Ramah Anak Berbasis IoT dan Penyuluhan Prophetic Parenting di Posyandu Mayasari 3” ini dipimpin dosen Prodi Teknik Informatika UM Bandung Dianti Eka Aprilia.

Program tersebut merupakan Skema Pengabdian Masyarakat Pemula dengan pendanaan dari Kemdiktisaintek.

Dianti mengatakan, inovasi ini berangkat dari kebutuhan yang ditemukan langsung di lapangan.

Tim terlebih dahulu melakukan Focus Group Discussion (FGD), observasi layanan, dan analisis kebutuhan bersama kader Posyandu Mayasari 3 serta bidan desa pada 20 Juli 2026.

“Fokus utama kegiatan ini adalah membantu mewujudkan layanan posyandu yang lebih efisien, ramah anak, berbasis teknologi, sekaligus mendorong keterlibatan orang tua dalam memantau tumbuh kembang anak,” ujar Dianti.

Tim PKM terdiri atas Dianti Eka Aprilia sebagai ketua, bersama Mulki Rezka Budi Pratama dari Prodi Teknik Elektro dan Dian Kusumawati dari Prodi PIAUD.

Tim juga melibatkan mahasiswa Sultan Fadhilah Hilmiqashmal dan Zahra Hariah Attin dari Prodi Teknik Informatika serta Ridwan Romadlon dari Prodi Teknik Elektro.

Timbangan IoT Ramah Anak

Salah satu inovasi utama program ini adalah timbangan balita berbasis IoT dengan desain menyerupai mobil-mobilan. Bentuk tersebut dirancang agar anak merasa lebih nyaman dan tidak terlalu tegang saat menjalani penimbangan.

Hasil pengukuran juga dapat dikirim secara digital ke dashboard posyandu. Dengan cara ini, kader dapat mengurangi pencatatan manual dan menyimpan data pertumbuhan balita secara lebih rapi.

Timbangan tersebut nantinya terintegrasi dengan Rasi Balita, dashboard berbasis web yang digunakan untuk mencatat, menyimpan, dan memantau data pertumbuhan balita.

Sistem ini diharapkan membantu kader bekerja lebih efisien sekaligus memudahkan orang tua mengetahui perkembangan anak.

“Teknologi yang kami hadirkan diharapkan bukan hanya menjadi alat, tetapi benar-benar membantu kader dalam memberikan pelayanan dan membantu orang tua dalam memantau tumbuh kembang anak,” kata Dianti.

Teknologi Bertemu Pengasuhan

Program ini tidak hanya berfokus pada perangkat teknologi. Tim UM Bandung juga memberikan edukasi Prophetic Parenting kepada orang tua untuk memperkuat pola pengasuhan di rumah.

Materi diberikan melalui modul pengasuhan anak usia 0–8 tahun yang membahas kasih sayang, keteladanan, kesehatan, kecintaan terhadap ilmu, serta pendampingan penggunaan teknologi. Sebanyak 50 eksemplar modul telah diserahkan kepada posyandu dan orang tua balita.

Penyuluhan pada 18 Agustus 2026 di Posyandu Mayasari 3, Kampung Cikalamiring RT 01 RW 03, Desa Ciporeat, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, diikuti 38 orang tua balita.

Sebanyak 35 peserta mengikuti pre-test dan post-test, disertai diskusi mengenai pengalaman dan tantangan dalam mendampingi anak.

Dianti menilai, pemantauan tumbuh kembang tidak cukup dilakukan ketika anak berada di posyandu. Data pertumbuhan akan lebih berarti jika diikuti perhatian dan pendampingan orang tua secara konsisten di rumah.

“Orang tua perlu memahami bahwa tumbuh kembang anak merupakan proses yang harus dipantau secara berkelanjutan. Karena itu, teknologi dan edukasi pengasuhan perlu berjalan bersama,” jelasnya.

Disiapkan untuk Jangka Panjang

Tahap berikutnya, tim akan menyerahkan timbangan IoT dan aplikasi Rasi Balita kepada Posyandu Mayasari 3. Tim juga menyiapkan pelatihan penggunaan alat dan aplikasi, implementasi, pendampingan, hingga evaluasi.

Langkah tersebut dilakukan agar inovasi tidak berhenti sebagai produk PKM. Harapannya, teknologi tersebut dapat digunakan dan dipelihara oleh mitra secara berkelanjutan.

Melalui perpaduan IoT dan Prophetic Parenting, UM Bandung ingin membantu menghadirkan layanan posyandu yang lebih praktis, ramah anak, tertata, dan dekat dengan kebutuhan keluarga.

Program ini sekaligus menunjukkan bahwa inovasi perguruan tinggi dapat diterjemahkan menjadi solusi sederhana yang manfaatnya bisa dirasakan langsung masyarakat.***

Administrator

Umat Islam Sudah Punya Pedoman, Tantangannya Kini Membaca dan Menjawab Zaman

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kebangkitan umat Islam tidak cukup dengan mengingat kejayaan masa lalu. Mengenang sejarah masa lalu harus jadi spirit.

Hal yang lebih penting adalah bagaimana umat mampu membaca kondisi saat ini, memahami persoalan yang dihadapi, lalu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan modern.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Adian Husaini dalam Dialog Nasional Keagamaan Awaken Chapter 2 bertajuk “Persatuan Umat Islam: Spirit Kemerdekaan Menuju Kebangkitan Umat” yang digelar BEM UM Bandung bersama Rumah Pemuda Madani, Sabtu (22/8/2026).

Menurut Adian, umat Islam memiliki modal penting untuk bangkit, yakni Al-Qur’an sebagai sumber ajaran dan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, tantangannya bukan mencari pedoman baru. Namun, bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan sesuai dengan kebutuhan zaman.

“Manusia dan panduannya sama. Sekarang kita tinggal mengaktualisasikannya dengan disesuaikan dengan kondisi saat ini,” ujar Adian.

Ia menegaskan, kebangkitan umat tidak hanya berkaitan dengan politik. Kebangkitan juga harus terlihat dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi, kehidupan sosial, sains, teknologi, dan kebudayaan.

Dalam konteks pendidikan, Adian mengajak umat mengevaluasi apakah sistem pendidikan saat ini sudah mampu melahirkan manusia yang berilmu, berkarakter, dan memiliki orientasi kehidupan yang baik.

Adian juga menilai perbedaan latar belakang organisasi tidak seharusnya menjadi penghalang persatuan.

Pengalamannya belajar di pesantren hingga kemudian terlibat dalam Majelis Tablig Pimpinan Pusat Muhammadiyah menunjukkan bahwa titik temu umat tetap dapat dibangun di atas sumber ajaran Islam dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Ia kemudian mengajak peserta melihat sejarah Islam secara lebih kritis. Setelah hijrah Rasulullah SAW pada 622 Masehi, umat Islam berkembang menjadi kekuatan besar dan melahirkan berbagai pusat peradaban, termasuk di Andalusia.

Namun, sejarah tidak semestinya hanya menjadi bahan kebanggaan. Sejarah perlu menjadi cermin untuk melihat posisi umat saat ini.

Sekaligus menjawab pertanyaan: apakah perjuangan umat sudah berhasil, di mana kelemahannya, dan apa yang perlu diperbaiki?

Adian mengingatkan pesan Mohammad Natsir tentang pentingnya mengetahui “sekarang pukul berapa”.

Pesan ini mengajarkan bahwa setiap perjuangan membutuhkan kemampuan membaca keadaan, memahami persoalan, dan menentukan langkah yang tepat.

Dalam konteks Indonesia, Adian juga membedakan antara kemerdekaan dan kemampuan mengisi kemerdekaan.

Setelah terbebas dari penjajahan, tantangan berikutnya adalah memastikan kemerdekaan membawa kemajuan melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi, karakter, dan kehidupan sosial.

Dengan begitu, semangat kemerdekaan tidak berhenti pada perayaan sejarah, tetapi menjadi dorongan untuk membangun masa depan.

Bagi Adian, umat Islam sudah memiliki sumber ajaran dan teladan yang kuat; tantangannya adalah menjadikannya kekuatan nyata untuk menjawab persoalan zaman.

Dialog tersebut turut menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat Usep Sudrajat dan dosen Universitas Brawijaya A Dedi Mulawarman.***

Administrator

Bukan Sekadar Nostalgia, Ini Kunci Kebangkitan Umat Islam di Era Modern

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kebangkitan umat Islam tidak cukup dibicarakan sebagai kejayaan masa lalu. Generasi muda perlu membekali diri dengan ilmu, literasi, kemampuan teknologi, kemandirian ekonomi, serta kecakapan sosial dan politik agar mampu menjawab tantangan zaman.

Pesan tersebut mengemuka dalam Dialog Nasional Keagamaan Awaken Chapter 2 bertajuk “Persatuan Umat Islam: Spirit Kemerdekaan Menuju Kebangkitan Umat” yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bersama Rumah Pemuda Madani di Auditorium KH Ahmad Dahlan, UM Bandung, Sabtu (22/8/2026).

Dialog yang mempertemukan pemuda dan mahasiswa ini menjadi ruang untuk memperluas wawasan sekaligus mendorong generasi muda memahami persoalan umat secara lebih utuh.

Pembahasan tidak hanya menyentuh aspek keagamaan, tetapi juga pendidikan, ekonomi, teknologi, sosial, politik, dan kebudayaan.

Wakil Presiden BEM UM Bandung Fajar Abidin mengatakan, semangat tajdid Muhammadiyah sejak dirintis KH Ahmad Dahlan pada 1912 telah mendorong pembaruan melalui pendidikan dan kegiatan sosial. Menurutnya, nilai tersebut perlu terus dipahami dan dikembangkan generasi muda sesuai kebutuhan zaman.

“Melalui dialog ini dan audiensi bersama pelajar Kota Bandung, kami ingin memupuk kembali nilai-nilai dan gerakan Islam secara utuh,” ujar Fajar.

Wakil Rektor I UM Bandung Ayi Yunus Rusyana menilai kebangkitan umat pada abad ke-15 Hijriah membutuhkan kesiapan di berbagai bidang, terutama pendidikan, ekonomi, politik, dan teknologi.

Tantangannya, umat Islam masih lebih sering berperan sebagai konsumen dalam ekonomi dan objek dalam politik. “Perbaikan pendidikan dan literasi sangat mendesak,” kata Ayi.

Menurutnya, penguatan sumber daya manusia menjadi salah satu kunci agar umat tidak hanya mampu mengikuti perkembangan, tetapi juga menghasilkan inovasi dan mengambil peran dalam menentukan masa depan.

Karena itu, UM Bandung mengembangkan visi Islamic Technopreneurial University untuk memadukan nilai-nilai Islam dengan kemampuan teknologi dan kewirausahaan.

Dialog menghadirkan Wakil Ketua PWM Jawa Barat Usep Sudrajat, Ketua Umum DDII Adian Husaini, dan dosen Universitas Brawijaya A Dedi Mulawarman.

Adian Husaini mengingatkan agar gagasan kebangkitan tidak berhenti pada romantisme sejarah.

Menurutnya, kebangkitan harus diwujudkan melalui peningkatan kualitas pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, sosial, dan kebudayaan dengan Al-Qur’an dan keteladanan Rasulullah SAW sebagai landasan.

“Kebangkitan umat tidak hanya soal politik. Umat perlu memahami kondisi hari ini, mengevaluasi kelemahan, dan membangun kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.

Sementara itu, A Dedi Mulawarman membahas kemandirian umat melalui perspektif Tjokroisme.

Mengacu pada pemikiran HOS Tjokroaminoto, ia menekankan tiga fondasi yang perlu diperkuat, yakni semurni-murni tauhid, setinggi-tinggi ilmu, dan sepintar-pintar siyasah.

Tiga prinsip tersebut, kata Dedi, dapat menjadi bekal bagi generasi muda untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri: memperkuat iman, meningkatkan pengetahuan, serta memiliki kecakapan dalam mengelola persoalan sosial dan politik.

Dialog ini pada akhirnya menegaskan bahwa persatuan umat bukan sekadar slogan.

Persatuan perlu diterjemahkan menjadi kerja nyata melalui peningkatan kualitas pendidikan, penguatan literasi, penguasaan teknologi, kemandirian ekonomi, serta kemampuan generasi muda berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa.***

Administrator

Pakai AI untuk Riset, Ini Tips Agar Mahasiswa Tak Kehilangan Nalar

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kecerdasan buatan (AI) semakin banyak digunakan mahasiswa untuk mencari ide, menyusun tulisan, hingga membantu proses penelitian. Namun, AI sebaiknya tidak diposisikan sebagai pengganti peneliti.

Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad Dr Ira Mirawati MSi mengatakan, mahasiswa dapat memanfaatkan AI sebagai partner diskusi untuk membantu membuka kebuntuan dalam penelitian, bukan menyerahkan seluruh proses berpikir kepada teknologi.

“Jadikan AI sebagai partner diskusi yang membukakan jalan buntu, memperbaiki struktur berpikir, dan mempercepat teknis penulisan agar kita bisa fokus pada esensi inovasi ide kita,” kata Ira dalam Workshop Riset di Era AI bertajuk “Strategi Riset dan Etika Akademik bagi Mahasiswa PTKI” di Universitas Muhammadiyah Bandung pada Kamis (20/8/2026).

Menurut Ira, salah satu manfaat AI bagi mahasiswa adalah membantu menemukan dan memetakan gagasan ketika mereka belum tahu harus memulai penelitian dari mana.

“Adanya AI untuk mahasiswa berarti tidak ada lagi stuck, bingung mau melakukan apa,” ujarnya.

Meski demikian, mahasiswa tetap harus menentukan sendiri substansi penelitian. AI dapat membantu menemukan ide dan menyusun jalur berpikir, tetapi keputusan mengenai masalah, argumentasi, data, dan arah penelitian tetap menjadi tanggung jawab peneliti.

Jangan Minta AI Menulis Semua

Ira mengingatkan mahasiswa untuk tidak menggunakan AI secara instan dengan meminta teknologi tersebut membuat seluruh proposal penelitian dalam satu perintah.

“Kesalahan terbesar pemula adalah meminta AI menulis seluruh proposal dalam satu kali prompt atau perintah,” tuturnya.

Sebaliknya, penggunaan AI sebaiknya dilakukan secara bertahap dan iteratif. Mahasiswa dapat memulai dari satu bagian penelitian, kemudian mengembangkan dan mengevaluasinya sebelum melanjutkan ke bagian berikutnya.

Kerangka penelitian juga dapat dibangun secara bertahap, mulai dari latar belakang, rumusan masalah, tinjauan pustaka, hingga metodologi penelitian.

Menurut Ira, mahasiswa juga perlu memberikan instruksi yang jelas kepada AI. Data statistik dan informasi yang digunakan pun harus berasal dari sumber yang benar agar AI tidak menghasilkan jawaban yang keluar dari konteks penelitian.

Dengan pola tersebut, AI bukan hanya dipakai untuk menghasilkan teks, tetapi juga untuk menguji gagasan, menemukan kelemahan argumentasi, memperbaiki struktur berpikir, dan mempercepat pekerjaan teknis.

Tetap Cek Hasil AI

Tahap paling penting, kata Ira, justru dilakukan setelah AI memberikan hasil. Mahasiswa tidak boleh langsung menganggap jawaban AI sebagai fakta.

Setiap informasi perlu diperiksa kembali untuk mengantisipasi halusinasi AI, terutama ketika menyangkut data, referensi, nama penulis, teori, maupun klaim akademik.

Mahasiswa juga perlu memastikan tulisan akhir tetap mencerminkan pemikiran dan gaya bahasa mereka sendiri serta melakukan pemeriksaan plagiarisme.

“AI adalah alat atau tool, bukan penulis pengganti atau author. Oleh karena itu, setiap argumen, data, dan klaim di dalam proposal adalah seratus persen tanggung jawab kita,” tegas Ira.

Ira juga menilai perguruan tinggi perlu mulai memiliki kebijakan yang jelas mengenai penggunaan AI. Menurutnya, larangan semata tidak cukup karena teknologi tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan akademik.

“Bagaimanapun AI tidak terhindarkan lagi dan bagaimana kita mengarahkan anak-anak didik kita menggunakan AI lebih bermanfaat lagi, tetapi sesuai dengan etikanya,” katanya.

Workshop yang berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga UM Bandung, tersebut diikuti ratusan mahasiswa dari UM Bandung dan sejumlah perguruan tinggi di Bandung Raya.

Anggota DPR RI Komisi VIII Atalia Praratya turut memberikan pandangan mengenai perkembangan AI dan pentingnya menjaga etika dalam penggunaannya. Rektor UM Bandung, jajaran pimpinan kampus, dan para mahasiswa juga hadir dalam kegiatan tersebut.

Bagi mahasiswa, pesan Ira sederhana: gunakan AI untuk membantu berpikir, bukan untuk menggantikan pikiran.***(FK)

Administrator