Berita

Kehadiran Ayah Berpengaruh pada Rasa Aman Anak, Dosen UM Bandung Jelaskan Alasannya

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Rizka Saputri menilai gerakan ayah mengantar anak di hari pertama sekolah seharusnya tidak dipandang sebagai agenda seremonial tahunan.

Lebih dari itu, gerakan tersebut perlu menjadi pintu masuk untuk membangun budaya pengasuhan yang menempatkan ayah sebagai sosok yang hadir secara utuh dalam tumbuh kembang anak.

Menurut Rizka, kehadiran ayah pada hari pertama sekolah memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar mengantar anak ke gerbang sekolah.

Momen tersebut menjadi simbol keterlibatan ayah dalam proses pendidikan sejak usia dini, sekaligus upaya memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak.

Ia mengungkapkan, keterlibatan ayah dalam pengasuhan menjadi isu yang penting di Indonesia. Berdasarkan data UNICEF tahun 2021, Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dalam fenomena fatherless.

Oleh karena itu, Gerakan Ayah Mengantar Anak dinilai dapat menjadi salah satu langkah awal untuk mengurangi minimnya keterlibatan ayah dalam kehidupan anak.

"Gerakan ini penting karena bisa menjadi salah satu upaya meminimalisasi fenomena fatherless di Indonesia. Kehadiran ayah pada hari pertama sekolah bukan sekadar mengantar, tetapi menunjukkan bahwa ayah juga memiliki peran dalam pendidikan anak," ujarnya, di kampus UM Bandung, pada Senin (13/07/2026).

Rizka menjelaskan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan dapat berdampak pada perkembangan psikologis anak.

Anak berpotensi mengalami penurunan rasa percaya diri, berkurangnya rasa aman, hingga kesulitan membangun kemampuan sosial saat berinteraksi dengan lingkungan.

Menurutnya, hari pertama sekolah merupakan fase transisi yang tidak mudah bagi anak. Mereka memasuki lingkungan baru, bertemu guru dan teman-teman yang belum dikenal, sehingga membutuhkan dukungan emosional dari kedua orang tuanya, terutama ayah yang kehadirannya sering kali kurang optimal dalam proses pengasuhan.

"Anak kita sedang memasuki lingkungan yang baru. Nah, kehadiran ayah akan membantu menumbuhkan rasa percaya diri dan rasa aman sehingga anak lebih siap beradaptasi dengan lingkungan sekolah," katanya.

Rizka menegaskan, Gerakan Ayah Mengantar Anak akan memberikan dampak yang lebih besar apabila tidak berhenti sebagai kegiatan simbolis.

Hal yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang, dari sekadar menjadikan momen ini sebagai seremoni menjadi komitmen jangka panjang dalam pengasuhan.

Menurutnya, keterlibatan ayah seharusnya dimulai sejak masa kehamilan, seperti mendampingi ibu saat pemeriksaan kehamilan, memenuhi kebutuhan ibu, hingga hadir saat proses persalinan.

Peran tersebut kemudian berlanjut ketika anak lahir, mulai dari mendampingi proses pengasuhan, berbagi tanggung jawab merawat anak, hingga aktif mengikuti perjalanan pendidikan anak di sekolah.

"Bukan hanya mengantar di hari pertama sekolah. Ayah juga perlu mengetahui siapa guru anak, mengikuti perkembangan belajarnya, hadir saat pembagian rapor, dan bersama-sama mengevaluasi tumbuh kembang anak," jelasnya.

Ia menambahkan, dalam keluarga, ayah dan ibu memiliki peran yang saling melengkapi. Oleh karena itu, pengasuhan yang ideal tidak dapat dibebankan hanya kepada ibu, tetapi membutuhkan kolaborasi yang konsisten antara keduanya.

Rizka berharap Gerakan Ayah Mengantar Anak dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa pendidikan anak dimulai dari keluarga.

Semakin aktif keterlibatan ayah sejak usia dini, semakin besar pula peluang anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, memiliki kemampuan sosial yang baik, dan siap menghadapi berbagai tahapan perkembangan di masa depan.***(FA)

Administrator

Roni Tabroni Sebut Jurnalisme Harus Menjadi Kekuatan Sosial di Tengah Disrupsi Digital

UMBANDUNG.AC.ID, Jakarta -- Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Roni Tabroni menegaskan bahwa jurnalisme harus melampaui fungsi konvensional sebagai penyampai informasi.

Di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap mengutamakan kecepatan dan sensasi, media dituntut menjadi kekuatan yang mampu menggerakkan kepedulian sosial, mendorong aksi nyata, dan menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat.

Gagasan tersebut ia tuangkan dalam buku terbarunya berjudul "Jurnalisme untuk Kemanusiaan" yang diluncurkan di Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini menegaskan bahwa buku tersebut merupakan pengembangan dari karya sebelumnya, Jurnalisme Filantropi, yang lebih banyak membahas kerangka konseptual dan akademik. 

Melalui buku terbaru ini, ia berupaya menjawab kebutuhan mahasiswa, akademisi, hingga praktisi media yang menginginkan panduan implementasi jurnalisme filantropi dalam praktik jurnalistik sehari-hari.

Ia menegaskan, jurnalisme filantropi tidak berhenti pada proses menyampaikan fakta kepada publik. Lebih dari itu, media harus mampu menghubungkan informasi dengan tindakan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Jurnalisme filantropi bukan sekadar menyampaikan fakta, melainkan menghubungkan informasi dengan aksi nyata untuk kemaslahatan publik," ujar Roni.

Atas dasar itu, buku Jurnalisme untuk Kemanusiaan menyajikan panduan praktis yang dapat diterapkan di ruang redaksi.

Mulai dari perencanaan liputan, pengumpulan data, penyusunan naskah, pembangunan ekosistem media, hingga model bisnis yang memungkinkan media tetap berkelanjutan tanpa kehilangan orientasi kemanusiaan.

Bagi Roni, media memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar mendokumentasikan peristiwa. Jurnalisme seharusnya mampu menggerakkan kepedulian publik sekaligus menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan sosial.

"Media yang baik bukan hanya menghadirkan informasi, tetapi mampu menggerakkan kepedulian dan menghadirkan solusi bagi masyarakat," katanya.

Roni juga menilai konsep jurnalisme filantropi bukanlah gagasan yang lahir dari ruang hampa. Paradigma tersebut berakar kuat pada nilai-nilai luhur bangsa Indonesia seperti gotong royong, tolong-menolong, dan semangat berbagi yang telah lama menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

"Jurnalisme filantropi lahir dari nilai-nilai Indonesia, gotong royong, tolong-menolong, dan semangat berbagi yang telah menjadi kekuatan bangsa sejak lama," tuturnya.

Menurut Komisioner KPID Jawa Barat periode 2020–2024 itu, predikat Indonesia sebagai salah satu negara paling dermawan di dunia merupakan modal sosial yang sangat besar untuk membangun praktik jurnalistik yang tidak hanya mengejar perhatian publik. Namun, memperkuat solidaritas dan mendorong perubahan sosial yang berkelanjutan.

Pemikiran Roni mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh media yang hadir dalam peluncuran buku tersebut. Di antaranya Direktur TVMu Makroen Sanjaya, Ketua Lazismu Ahmad Mujadid Rais, Pemimpin Redaksi CNN Indonesia Titin Rosmasari, dan Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Teguh Santosa.

Titin Rosmasari menilai jurnalisme dan kemanusiaan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, liputan mengenai persoalan publik harus mampu mendorong lahirnya kebijakan yang menyelesaikan masalah, bukan sekadar menghadirkan cerita yang menyentuh emosi.

Sementara itu, Teguh Santosa menegaskan bahwa nilai kemanusiaan memang menjadi fondasi utama jurnalisme. Ia mengingatkan agar media tidak hanya bekerja di hilir dengan memberitakan dampak suatu peristiwa.

Namun, berperan di hulu melalui fungsi mitigasi dengan mengawal kebijakan publik agar berbagai krisis kemanusiaan dapat dicegah sejak awal.***

Administrator

Jejak Kreativitas Mahasiswa UM Bandung Menghias Pameran Batik Nasional di JICC

UMBANDUNG.AC.ID, Jakarta -- Kriyanian Prodi Kriya Tekstil dan Fashion Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Bandung ikuti Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara 2026 dari Rabu-Minggu (08-12/7/2026).

Acara yang berlangsung di Hall A Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, itu digelar oleh Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI). Adapun tema yang diambil pada acara tersebut yakni ”Rupa Makna Tambal Nusantara”.

Mahasiswa Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung Wafa Ulhaq Ramadania mengatakan, dalam pameran tersebut, Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung menghadirkan berbagai produk-produk batik terbaik dari para mahsiswa.

”Kami di sini menghadirkan berbagai produk-produk batik yang berasal dari hasil pembelajaran kami selama perkuliahan, seperti batik tulis, batik cap, hinggga penerapan tekstil pada interior,” ucap Wafa di sela-sela kegiatan.

Berbagai macam produk, dari motif batik hadir, mulai dari bantal, lampu, hingga berbagai aksesoris dalam booth tersebut.

”Semoga Kriyanian Prodi Kriya Tekstil dan Fashion Universitas Muhammadiyah Bandung terus berkembang dan sukses terus ke depannya,” terangnya.

Salah satu pengunjung booth yakni Melati sangat kagum dengan berbagai produk yang dihadirkan dalam pameran kali ini. Menurutnya, berbagai produk dan karya seni ini sebagai bentuk apresiasi kekayaan bangsa.

”Luar biasa sekali booth UMKM dari Universitas Muhammadiyah Bandung ini yang pastinya  karya-karya mahasiswa ini turut melestarikan batik Nusantara,” ucap Melati.

Batik Asli Indonesia

Pada pembukaan acara, Ketua Umum APPBI Komarudin Kudiya menegaskan bahwa acara tersebut menjadi gerakan kebudayaan yang berpihak pada pelestarian batik asli Indonesia.

”Puspa Nuswantara hadir sebagai ruang bersama untuk mempertemukan seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem batik,” kata Komarudin.

Salah satu dosen Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung ini menegaskan bahwa batik merupakan identitas bangsa yang mengandung nilai sejarah, filosofi, dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Oleh karena itu, lanjut Komarudin, keberadaan para perajin harus terus diperkuat agar mampu menghadapi tantangan industri modern, maraknya produk tiruan, serta perubahan tren pasar.

”Kami ingin masyarakat semakin mengenal, mencintai, dan menggunakan batik asli sebagai bagian dari kebanggaan nasional,” jelasnya.

Hadir pada pembukaan acara ini Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Reni Yanita, dan sejumlah tamu undangan lainnya.***

Administrator

UM Bandung Bangun Kepemimpinan Transformatif Guna Tingkatkan Mutu Akademik

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung terus memperkuat fondasi kelembagaan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya kampus menghadapi perubahan dunia pendidikan tinggi yang semakin dinamis.

Memasuki usia satu dekade, UM Bandung memilih fokus pada penguatan tata kelola. Tujuannya bukan sekadar menjaga organisasi tetap berjalan. Kampus ingin mempercepat transformasi akademik sekaligus memperluas dampaknya bagi masyarakat.

Komitmen itu diwujudkan dengan memperkuat kepemimpinan di tingkat universitas dan fakultas. Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menetapkan Arief Yunan sebagai Sekretaris Universitas, Ia Kurnia sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Cecep Taufiqurrohman sebagai Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) untuk masa bakti 2026–2030.

Bagi UM Bandung, pergantian kepemimpinan bukan sekadar mengisi jabatan. Momentum ini menjadi bagian dari strategi kampus untuk mempercepat peningkatan mutu akademik, memperkuat tata kelola, dan memperluas kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat.

Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto mengatakan, jabatan adalah amanah. Setiap pemimpin harus bekerja dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan semangat melayani. Pemimpin kampus juga dituntut mampu menjadi motor penggerak perubahan, bukan hanya menjalankan fungsi administratif.

"Jabatan ini bukan sekadar kehormatan, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik kepada persyarikatan, institusi, maupun kepada Allah SWT. Oleh karena itu, mari kita bekerja dengan penuh integritas, profesionalisme, dan semangat melayani," ujarnya.

Menurut Herry, tantangan perguruan tinggi saat ini semakin kompleks. Karena itu, kampus membutuhkan tata kelola yang profesional, adaptif, dan akuntabel. Penguatan kepemimpinan menjadi salah satu kunci agar inovasi dan kualitas layanan akademik terus berkembang.

Ia juga mengingatkan bahwa kemajuan universitas tidak pernah lahir dari kerja satu orang. Keberhasilan hanya bisa dicapai melalui kolaborasi seluruh sivitas akademika.

"Keberhasilan universitas bukan ditentukan oleh satu orang, melainkan hasil kerja bersama seluruh elemen. Mari bangun kolaborasi, saling menguatkan, dan jadikan nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan sebagai ruh dalam setiap langkah pengabdian," katanya.

Selain memperkuat tata kelola, UM Bandung juga terus mendorong peningkatan mutu akademik, pengembangan riset, perluasan jejaring kerja sama, dan lahirnya inovasi yang berdampak. Seluruh kebijakan, kata Herry, harus memberi manfaat bagi mahasiswa, dosen, dan masyarakat.

Arah pengembangan tersebut sejalan dengan pertumbuhan UM Bandung dalam beberapa tahun terakhir. Sejak meraih akreditasi "Baik Sekali" dari BAN-PT pada 2024, kampus ini terus memperluas layanan akademiknya.

Saat ini UM Bandung memiliki lima fakultas, 18 program studi sarjana, satu program magister, serta Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker. Dalam waktu dekat, Program Magister Pendidikan Agama Islam juga akan segera melengkapi jenjang pendidikan di kampus tersebut.

Melalui penguatan tata kelola dan kepemimpinan, UM Bandung ingin membangun organisasi yang lebih lincah menghadapi perubahan. Targetnya bukan hanya meningkatkan daya saing kampus, tetapi juga menghadirkan pendidikan yang berkualitas, inovatif, dan memberi manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.***(HMA)

Administrator

Rektor UM Bandung Ajak Mahasiswa Jadi Kreator Sinema Berkarakter Bangsa

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Film bukan sekadar hiburan. Di balik setiap adegan dan cerita, tersimpan nilai budaya yang mampu membentuk cara pandang masyarakat. Karena itu, kemampuan memilih dan memaknai tontonan menjadi bagian penting dari literasi yang harus dimiliki setiap orang.

Pesan tersebut disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Herry Suhardiyanto saat membuka kegiatan LSF Goes to Campus bertajuk Literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri: Memajukan Budaya Menonton Sesuai Usia di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Bandung, Kamis (9/7/2026).

Menurut Herry, kualitas budaya suatu bangsa salah satunya dapat dilihat dari film-film yang dihasilkannya. Sinema tidak hanya merekam realitas, tetapi mampu membentuk tren, memengaruhi pola pikir, hingga menjadi wajah budaya suatu negara di mata dunia.

Ia mencontohkan dominasi industri film Hollywood yang telah lama menjadi rujukan global. Di kawasan Asia, Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok juga berhasil menghadirkan karya-karya yang diminati penonton internasional sekaligus memperkenalkan identitas budaya masing-masing melalui layar lebar.

Dalam konteks tersebut, Herry menilai budaya sensor mandiri menjadi semakin relevan. Masyarakat, terutama generasi muda, perlu memiliki kemampuan menyaring pesan yang terkandung dalam film dan memilih tontonan yang sesuai dengan usia serta nilai-nilai yang ingin dibangun.

Mahasiswa, lanjutnya, memiliki peran strategis untuk menyebarluaskan pemahaman tersebut kepada masyarakat. Namun, ia berharap peran mahasiswa tidak berhenti sebagai penonton yang kritis, tetapi berkembang menjadi kreator yang mampu menghasilkan film berkualitas dengan mengangkat nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

"Jangan puas hanya menjadi konsumen film. Kalau bisa, kita harus mampu menciptakan film-film yang baik sebagai hasil penerjemahan nilai-nilai budaya bangsa yang tinggi," ujarnya.

Herry juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat kuat untuk diangkat menjadi karya sinema. Nilai moderasi, semangat Bhinneka Tunggal Ika, keramahan masyarakat, hingga keberagaman budaya merupakan modal besar untuk melahirkan film-film yang tidak hanya menghibur, tetapi mampu memperkuat persatuan bangsa.

Sebagai contoh, ia menyebut sejumlah film nasional yang dinilai berhasil menghadirkan pesan inspiratif, seperti "Laskar Pelangi", "Sang Pencerah", hingga film klasik "Bandung Lautan Api." Menurutnya, karya-karya tersebut menunjukkan bahwa film Indonesia mampu menghadirkan hiburan sekaligus menyampaikan nilai perjuangan, pendidikan, dan kebangsaan yang relevan lintas generasi.

Kegiatan LSF Goes to Campus turut menghadirkan Ketua Subkomisi Pemantauan Lembaga Sensor Film (LSF) Erlan Basri. Acara tersebut diikuti dosen dan mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UM Bandung serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Diskusi berlangsung interaktif dengan mengangkat pentingnya membangun budaya menonton yang cerdas melalui penerapan sensor mandiri sebagai bagian dari penguatan literasi media di era digital.***(FA)

Administrator

Kampus Ambil Peran Membangun Generasi yang Cerdas Memilih Tontonan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Perkembangan platform digital membuat akses masyarakat terhadap film dan berbagai konten audiovisual semakin mudah. Di sisi lain, kondisi tersebut menuntut kemampuan literasi yang lebih baik agar masyarakat mampu memilih tontonan secara bijak.

Menjawab tantangan itu, Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bersama Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia menggelar program LSF Goes to Campus sebagai upaya memperkuat budaya sensor mandiri di kalangan mahasiswa.

Kegiatan bertajuk "Literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri: Memajukan Budaya Menonton Sesuai Usia" tersebut berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung pada Kamis (9/7/2026).

Program ini merupakan implementasi kerja sama LSF dengan sekitar 60 perguruan tinggi di Indonesia untuk memperluas literasi perfilman di lingkungan akademik.

Ketua Komisi III LSF RI Kuat Prihatin mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya memilih tontonan sesuai usia.

Menurutnya, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen literasi yang menyebarkan pemahaman tersebut kepada keluarga, teman, dan lingkungan sekitarnya.

"Kampus kami harapkan menjadi pusat edukasi literasi perfilman. Mahasiswa dapat menjadi penyambung pesan kepada masyarakat tentang pentingnya memilih tontonan yang tepat," ujarnya.

Ia menambahkan, tantangan literasi saat ini tidak hanya berasal dari film, tetapi juga dari derasnya arus konten di media sosial.

Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki kesadaran untuk menyaring informasi dan konten yang dikonsumsi secara lebih cerdas dan bertanggung jawab.

Sementara itu, Kaprodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UM Bandung Rahmat Alamsyah menilai kolaborasi dengan LSF selaras dengan penguatan kompetensi mahasiswa, khususnya di bidang sinematografi dan film dakwah.

Menurutnya, kegiatan ini melengkapi pembelajaran di kelas melalui pemahaman mengenai regulasi, etika, dan budaya sensor yang dibutuhkan saat memasuki industri kreatif.

Rahmat menjelaskan bahwa film merupakan perpaduan berbagai disiplin ilmu, mulai dari seni, teknologi, komunikasi, hingga sastra.

Oleh karena itu, film tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi memiliki peran sebagai sarana pendidikan, pembentukan karakter, dan penyampaian nilai-nilai kemanusiaan.

"Film tidak hanya menjadi hiburan. Selama mampu mengajak kepada nilai-nilai kebaikan, kepedulian, dan kemanusiaan, film juga dapat menjadi media dakwah," katanya.

Ia juga mengajak mahasiswa menyikapi perkembangan kecerdasan buatan (AI) secara bijak. Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat pendukung proses kreatif, tetapi orisinalitas, etika, dan tanggung jawab harus tetap menjadi fondasi utama dalam menghasilkan karya yang berkualitas.***(FA)

Administrator