Berita

Dadang Kahmad Ajak Umat Islam Tingkatkan Kepedulian dan Introspeksi Diri

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad mengajak umat Islam untuk memahami makna Halal Bihalal secara lebih mendalam.

Ia menegaskan bahwa tradisi tersebut tidak semestinya hanya dimaknai sebagai agenda seremonial tahunan pasca Idul Fitri, melainkan sebagai momentum memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas.

Dalam tausiah Halal Bihalal UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa (31/03/2026), Dadang menjelaskan bahwa tradisi Halal Bihalal di masyarakat Jawa Barat memiliki tiga unsur utama. 

“Dalam tradisi masyarakat Jawa Barat, Halal Bihalal tidak lepas dari tiga unsur utama. Apa saja? Yakni silaturahmi, tausiah, dan kebersamaan, termasuk di dalamnya makan bersama,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dadang menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan ketakwaan sebagaimana terkandung dalam nilai Surah Al-Anfal ayat 29.

Ia menyebut bahwa kehidupan sosial yang sehat harus dibangun di atas fondasi kesabaran, sikap saling memaafkan, serta menjauhi rasa dendam.

Mengutip sumber dari Humas UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dadang juga menyoroti pentingnya kejujuran dalam kehidupan bermasyarakat.

“Bekerjalah dengan kejujuran. Dalam sistem sosial kita tidak boleh ada dusta di antara kita, agar tercipta kehidupan yang harmonis dan membahagiakan,” katanya.

Ia turut membagikan pengalamannya saat berkunjung ke sejumlah negara seperti Selandia Baru, Swedia, dan Singapura.

Menurutnya, negara-negara tersebut menunjukkan praktik nilai-nilai keislaman yang kuat dalam kehidupan sosial, meskipun bukan negara dengan mayoritas penduduk muslim.

Mantan Direktur Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu berharap sivitas akademika dan umat Islam dapat terus meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT, memperkuat kepedulian sosial melalui sikap dermawan, serta berani mengakui kesalahan.

“Orang yang hebat adalah mereka yang mampu mengakui kesalahannya dan tidak merasa paling benar,” imbuh Dadang, yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Pembina Harian Universitas Muhammadiyah Bandung.

Menutup tausiahnya, Guru Besar Sosiologi tersebut mengajak umat Islam untuk menjadikan Halal Bihalal sebagai titik awal perubahan diri ke arah yang lebih baik.

“Selamat mengikuti Halal Bihalal. Mari menjadi pribadi yang hebat, bermanfaat, dan terbaik bagi sesama,” pungkasnya.***

_____

Sumber teks dan foto: uinsgd.ac.id

Administrator

Gunakan AI dengan Cerdas, Verifikasi Tetap Jadi Kunci Utama

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen prodi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Ahmad Suryan menyoroti pentingnya peran sekaligus etika dalam penggunaan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang kini semakin lekat dengan aktivitas digital generasi muda.

Menurutnya, AI memiliki keunggulan dalam hal kecepatan pencarian informasi serta kemampuan mengolah dan merangkai data secara sistematis.

Namun, di balik kemudahan tersebut, teknologi ini tetap menyimpan potensi risiko apabila digunakan tanpa dilandasi etika yang kuat.

Ahmad menjelaskan bahwa meskipun AI mampu meningkatkan efisiensi dalam berbagai pekerjaan, pengguna tetap perlu berhati-hati terhadap kemungkinan munculnya informasi yang keliru, terutama jika sumber yang digunakan tidak kredibel.

Ia menegaskan bahwa niat positif menjadi fondasi utama dalam memanfaatkan teknologi ini agar tidak disalahgunakan.

Selain itu, pengguna juga diingatkan untuk tidak sepenuhnya bergantung pada kecanggihan AI.

“Menggunakan AI harus dilandasi niat yang baik dan tujuan yang positif agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain,” ujar Ahmad, dikutip dari kanal YouTube UM Bandung, Selasa (31/03/2026).

Dalam hal pencarian informasi, Ahmad mengimbau masyarakat agar tidak menjadikan AI sebagai satu-satunya rujukan, terlebih dalam persoalan penting seperti keagamaan.

Ia menyarankan agar setiap informasi yang dihasilkan AI tetap diverifikasi kepada pihak yang kompeten guna menghindari kesalahpahaman.

“Khusus dalam urusan agama, kita harus tetap bertanya kepada ahlinya seperti ulama atau kiai dan tidak menelan mentah-mentah hasil rangkuman AI,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ahmad juga membagikan tips teknis agar penggunaan AI lebih optimal, yakni dengan memberikan perintah atau pertanyaan yang spesifik agar hasil yang diperoleh lebih akurat.

Ia menambahkan, mengarahkan AI untuk merujuk pada sumber resmi, seperti situs Muhammadiyah dalam konteks ibadah, dapat membantu meminimalisir kesalahan informasi.

“Berikanlah perintah yang spesifik kepada AI agar informasi yang ditarik berasal dari sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.

Sebagai penutup, Ahmad menekankan pentingnya sikap kritis dan tanggung jawab sebelum menyebarluaskan konten yang dihasilkan AI ke ruang publik.

Ia berharap kemudahan akses informasi melalui teknologi ini justru mampu meningkatkan literasi digital masyarakat secara lebih bijak.

“Mari kita jadikan AI sebagai alat bantu yang bermanfaat dengan tetap mengedepankan verifikasi agar tidak menjadi sarana penyebaran informasi yang keliru,” tandasnya.***(FK)

Sumber Foto: Istockphoto

Administrator

Jaga Lisan dan Perilaku, Kunci Puasa Berkualitas Menurut Dosen UM Bandung

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Program Studi Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Rikki Maulana Yusup menegaskan bahwa etika merupakan fondasi nilai yang sangat penting dalam kehidupan manusia, khususnya bagi umat Islam yang tengah menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Dia menjelaskan bahwa keberhasilan puasa tidak semata diukur dari kemampuan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga dari sejauh mana seseorang mampu menjaga perilaku dari hal-hal tercela, seperti berkata kasar, menggunjing, dan berbohong. Dalam hal ini, dia mengingatkan bahwa ajaran dalam hadis menekankan pentingnya meninggalkan perkataan dusta agar puasa memiliki nilai di sisi Allah.

Menurutnya, Ramadan seharusnya dimaknai sebagai momentum pembinaan diri yang intensif, layaknya proses pembentukan karakter untuk melatih disiplin moral dan kesopanan. Dia menekankan bahwa puasa yang berkualitas harus diiringi dengan upaya menjaga etika dan moral dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, dia menguraikan bahwa etika memiliki cakupan yang luas, yakni etika umum yang berlaku bagi seluruh manusia serta etika khusus yang berkaitan dengan profesi tertentu. Dalam konteks ini, setiap individu, baik dosen, mahasiswa, maupun Aparatur Sipil Negara (ASN), memiliki tanggung jawab untuk mematuhi kode etik sesuai dengan perannya masing-masing.

Dia juga menekankan bahwa etika merupakan pedoman universal yang mengarahkan seseorang untuk bertindak secara benar, baik, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, penerapan etika tidak hanya penting dalam ranah personal, tetapi juga dalam kehidupan profesional dan sosial.

Selain itu, kebiasaan menjaga tutur kata yang santun selama Ramadan dinilai memiliki potensi untuk membentuk karakter yang lebih baik secara berkelanjutan. Kebiasaan tersebut diharapkan tidak hanya berlangsung selama bulan suci, tetapi juga menjadi bagian dari perilaku sehari-hari setelah Ramadan berakhir.

Dia menilai bahwa perbaikan etika individu akan berdampak luas terhadap kualitas hubungan sosial, baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. Dengan demikian, penguatan nilai-nilai moral selama Ramadan dapat berkontribusi pada terciptanya kehidupan sosial yang lebih harmonis.

Menutup pemaparannya, dia mengajak masyarakat untuk memanfaatkan sisa waktu di bulan Ramadan sebagai sarana introspeksi diri. Dia berharap setiap individu mampu meningkatkan kualitas spiritual dan sosialnya, serta menjadikan etika sebagai landasan utama dalam setiap tindakan agar membawa manfaat bagi sesama.***(FK)

Administrator

Akademisi UM Bandung Soroti Pentingnya Zero Waste dalam Mengurangi Dampak Sampah

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Gaya hidup ramah lingkungan kini semakin digaungkan, termasuk oleh dosen Program Studi Bioteknologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Noviani Arifina Istiqomah. Ia mengajak masyarakat untuk mulai lebih peduli terhadap dampak sampah melalui penerapan gaya hidup zero waste dalam keseharian.

Menurut Noviani, sampah yang dihasilkan manusia sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Ia menegaskan bahwa sampah hanya berpindah tempat dan meninggalkan dampak kerusakan lingkungan yang jauh lebih lama dibandingkan masa penggunaannya.

“Sampah yang kita hasilkan tidak pernah benar-benar hilang. Namun, hanya berpindah tempat dan meninggalkan jejak kerusakan yang jauh lebih lama dibandingkan dengan masa pemakaiannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa konsep zero waste bukanlah sesuatu yang harus dilakukan secara sempurna dalam waktu singkat. Lebih dari itu, zero waste adalah upaya sadar untuk mengurangi sampah melalui pola konsumsi yang lebih bijak dan dilakukan secara konsisten.

“Zero waste merupakan upaya kita untuk mengurangi sampah secara sadar melalui pola konsumsi yang lebih bijak tanpa harus menuntut kesempurnaan secara instan,” jelasnya.

Dalam praktiknya, Noviani menyarankan masyarakat untuk mulai dari langkah sederhana, seperti berani menolak penggunaan barang sekali pakai yang sebenarnya tidak diperlukan. Kebiasaan kecil ini, jika dilakukan secara terus-menerus, dinilai mampu memberikan dampak besar bagi lingkungan.

Selain itu, ia juga memperkenalkan konsep pengelolaan sampah 5R yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Konsep tersebut meliputi refuse (menolak), reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle (mendaur ulang), dan rot (mengomposkan). Menurutnya, pendekatan ini dapat membantu masyarakat mengelola sampah dengan lebih sistematis dan efektif.

Noviani turut menyoroti persoalan sampah makanan yang masih kerap dianggap sepele. Ia menegaskan bahwa membuang makanan sama saja dengan menyia-nyiakan berbagai sumber daya, mulai dari air, energi, hingga tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksinya.

“Sampah makanan adalah masalah besar. Oleh karena itu, kita harus belajar menghargai setiap butir nasi dengan cara menghabiskannya dan mengolah sisa organik menjadi kompos,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa perubahan pola pikir menjadi kunci utama dalam membangun kebiasaan hidup yang lebih peduli lingkungan. Menurutnya, dunia tidak membutuhkan segelintir orang yang hidup sempurna tanpa sampah, melainkan jutaan orang yang mau berproses meski secara perlahan.

“Dunia lebih membutuhkan jutaan orang yang mau berproses meskipun perlahan, daripada segelintir orang yang melakukannya dengan sempurna,” imbuhnya.

Karena itu, Noviani menekankan pentingnya komitmen dan kemauan dari setiap individu untuk memulai perubahan. Ia berharap kesadaran ini dapat tumbuh menjadi gerakan kolektif yang berkelanjutan.

“Kita tidak perlu menjadi sempurna untuk memulai. Yang penting adalah adanya kemauan yang kuat untuk berubah secara bertahap dan konsisten demi masa depan generasi mendatang. Mari kita mulai dari langkah kecil yang konsisten,” pungkasnya.***(FK)

Administrator

Amal Sedikit Tapi Konsisten Lebih Dicintai Allah

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Cecep Taufikurrohman menegaskan bahwa perpisahan dengan bulan suci Ramadhan bukan sekadar pergantian waktu, melainkan menjadi ujian keimanan bagi setiap muslim yang telah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.

Buya Cecep—sapaan akrabnya—mengajak umat Islam untuk menyambut bulan Syawal dengan penuh rasa syukur, tanpa menghilangkan keharuan saat berpisah dengan Ramadhan.

“Berpisah dengan bulan suci Ramadhan itu tidak mudah. Ada kebahagiaan, tetapi juga ada kesedihan yang mendalam,” ujarnya seperti dikutip dari program Gerakan Subuh Mengaji (GSM) pada Jumat (27/03/2026).

Menurutnya, perpaduan antara rasa bahagia dan sedih tersebut merupakan tanda hidupnya hati seorang mukmin.

Kebahagiaan muncul karena Allah SWT memberikan kekuatan untuk beribadah, sementara kesedihan hadir karena belum tentu seseorang dapat kembali bertemu dengan Ramadhan di tahun berikutnya.

Dia menekankan bahwa seorang mukmin tidak hanya berorientasi pada banyaknya amal yang dilakukan, tetapi lebih penting memastikan apakah amal tersebut diterima oleh Allah SWT.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS Al-Ma’idah ayat 27 yang menegaskan bahwa Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.

Dalam pemaparannya, Buya Cecep juga mengajak umat Islam untuk meneladani generasi terbaik umat Islam yang senantiasa menjaga kualitas amal. Mereka tidak hanya bersungguh-sungguh dalam beribadah.

Namun, terus memohon agar amalnya diterima oleh Allah SWT, sebagaimana nasihat Ali bin Abi Thalib yang menekankan pentingnya diterimanya amal dibanding sekadar pelaksanaannya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa rasa khawatir terhadap amal yang tidak diterima merupakan bentuk kerendahan hati di hadapan Allah SWT.

Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Mu’minun ayat 60 tentang orang-orang yang beramal dengan hati penuh rasa takut karena menyadari akan kembali kepada Tuhan.

Namun demikian, dia mengingatkan bahwa rasa takut tidak boleh berubah menjadi pesimisme. Islam mengajarkan keseimbangan antara rasa takut dan harapan.

“Khaufan wa thama’an, takut tetapi tetap optimis, itu yang harus kita jaga,” jelasnya.

Dalam suasana menyambut Syawal, Buya Cecep menuturkan bahwa kegembiraan Idul Fitri merupakan bagian dari ajaran Islam.

Umat Islam dianjurkan mengekspresikan rasa syukur melalui kebahagiaan, mempererat silaturahmi, dan menampilkan sikap terbaik dalam kehidupan sehari-hari.

Dia juga mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit.

Oleh karena itu, indikator keberhasilan Ramadhan tidak hanya diukur dari ibadah selama sebulan, tetapi dari keberlanjutan amal setelahnya.

Menurutnya, jika seseorang tetap istiqamah dalam kebaikan setelah Ramadhan, hal itu menjadi tanda bahwa ibadahnya diterima.

Sebaliknya, jika kembali pada kebiasaan buruk, maka hal tersebut perlu menjadi bahan evaluasi diri.

Pada akhir penyampaiannya, Buya Cecep mengajak umat Islam untuk senantiasa berdoa agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan di masa mendatang.

“Allahumma la taj’alhu akhiral ‘ahdi min shiyamina iyyahu…” (Ya Allah, jangan jadikan Ramadhan ini sebagai Ramadhan terakhir bagi kami).

Dia menegaskan bahwa Syawal sejatinya bukanlah akhir dari ibadah, melainkan awal untuk menjaga konsistensi dalam kebaikan.

“Menjemput Syawal dengan penuh kesyukuran dan kegembiraan menjadi tanda bahwa nilai-nilai Ramadhan benar-benar hidup dalam diri setiap muslim,” tandasnya.***(HMA)

Administrator

Transisi Bioenergi Sebagai Strategi Krusial dalam Mengatasi Krisis Energi Global

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Arief Yunan, menegaskan bahwa transisi menuju bioenergi dan energi terbarukan menjadi langkah krusial dalam menghadapi krisis energi dan kerusakan lingkungan global.

Ia menjelaskan, ketergantungan dunia terhadap bahan bakar fosil yang mencapai 60 persen telah mempercepat perubahan iklim. Karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dikutip dari kanal YouTube UM Bandung, Kamis (26/03/2026), Arief mengaitkan upaya pelestarian lingkungan dengan nilai spiritual dalam Surah Al-Baqarah ayat 164 tentang anugerah alam semesta.

Menurutnya, pemanfaatan energi harus dilakukan secara bijak sebagai bentuk rasa syukur. “Al-Qur'an telah mengingatkan bahwa fenomena alam adalah anugerah yang harus dimanfaatkan dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Dalam aspek teknologi, Arief menyebut bioenergi dari bahan organik seperti tanaman dan limbah biomassa sebagai alternatif yang potensial. Pemanfaatannya dinilai mampu menekan emisi gas rumah kaca sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.

Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah dalam pengembangan energi terbarukan, namun menekankan pentingnya partisipasi masyarakat. “Bioenergi bukan sekadar pilihan teknis, tetapi solusi nyata untuk masa depan yang berkelanjutan,” jelasnya.

Selain itu, Arief mengingatkan pentingnya budaya hemat energi dalam kehidupan sehari-hari. Ia pun mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan demi mewujudkan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.***(FK)

Administrator