Berita

Kisah Hangat Lebaran, Mahasiswa Non-Muslim UM Bandung Disambut Layaknya Keluarga

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Jarak ribuan kilometer antara Kabupaten Sarmi, Papua, dan Kota Bandung tak menghalangi Gracella Weyasu merasakan makna “pulang” pada Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Di tengah sepinya suasana kos saat libur lebaran, mahasiswa perantau non-muslim itu justru menemukan kehangatan keluarga di tempat yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Rumah itu adalah kediaman sahabatnya, Nurul Hasyanah, mahasiswa Prodi PIAUD UM Bandung. Tanpa memandang perbedaan agama maupun suku, Nurul dan keluarganya membuka pintu lebar-lebar, menjadikan Grace—sapaan akrab Gracella—sebagai bagian dari keluarga di momen istimewa tersebut.

Bagi Grace, menjadi perantau berarti harus akrab dengan kesunyian. Terlebih ketika harga tiket pulang kampung melambung tinggi, sementara teman-temannya memilih kembali ke daerah masing-masing. Di saat itulah, ajakan hangat dari Nurul menjadi secercah cahaya yang mengusir rasa sepi.

“Kamu jangan sendirian di kos, ikut teteh saja ke rumah. Ibu sudah tanya terus kapan Grace datang ke rumah,” kenang Grace menirukan ajakan Nurul yang mengundangnya ke Baleendah, Kabupaten Bandung.

Sesampainya di sana, Grace disambut dengan penuh kehangatan. Ia bahkan dibuatkan baju lebaran seragam layaknya anggota keluarga lainnya. Tak hanya menjadi tamu, Grace juga turut ambil bagian dalam persiapan menjelang hari raya, mulai dari membersihkan rumah hingga membuat kue bersama.

“Ada rasa bangga tersendiri saat aku ikut memegang kanebo dan membersihkan kaca rumah. Aku merasa ikut berkontribusi dalam menyambut tamu-tamu yang akan datang,” ungkap mahasiswa Prodi Akuntansi UM Bandung tersebut.

Selama tinggal bersama, Grace juga menunjukkan antusiasme tinggi untuk memahami makna Ramadhan dan tradisi Idul Fitri. Ia bahkan ikut berbuka puasa bersama keluarga Nurul. Puncak kebersamaan terjadi saat pagi Idul Fitri, ketika Grace turut ke masjid mengenakan busana seragam keluarga dan menyaksikan salat Id dari saf paling belakang dengan penuh haru.

“Momen bersalaman dan bermaaf-maafan itu menjadi puncak dari segalanya. Pelukan hangat yang kuterima memberitahuku bahwa rumah bukanlah soal tempat lahir, melainkan di mana kita disayangi,” tuturnya.

Kisah ini menjadi cerminan nyata bahwa toleransi dan kasih sayang mampu melampaui sekat perbedaan, sekaligus menegaskan nilai-nilai keberagaman yang dijunjung tinggi dalam Islam, khususnya di lingkungan sivitas UM Bandung.***(FK)

Administrator

Ribuan Jamaah Padati UM Bandung, Salat Idul Fitri 1447 H Berlangsung Khidmat

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ribuan warga Muhammadiyah bersama masyarakat sekitar memadati halaman parkir Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung pada Jumat, 20 Maret 2026, untuk melaksanakan salat Idul Fitri 1447 Hijriah.

Sejak pagi hari, jamaah mulai berdatangan dan memenuhi area kampus yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752. Kapasitas halaman yang luas tidak mampu menampung seluruh jamaah, sehingga sebagian di antaranya menggelar sajadah hingga ke ruas jalan kampus dan area parkir belakang.

Pelaksanaan salat Id berlangsung dengan khidmat. Suasana religius terasa kuat dengan gema takbir yang berkumandang, menyatukan ribuan jamaah dalam suasana penuh kekhusyukan setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadhan.

Bertindak sebagai khatib, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, Zaini Abdul Malik, menyampaikan pesan tentang pentingnya mensyukuri nikmat Allah SWT karena telah diberikan kesempatan untuk menunaikan ibadah Ramadhan hingga Idul Fitri.

“Semoga kita bisa kembali suci seperti bayi yang baru lahir. Semoga juga ibadah saum Ramadhan dan salat-salat malam kita diterima Allah SWT. Kita berdoa kepada Allah SWT semoga dosa-dosa kita diampuni,” ujarnya.

Dalam khutbahnya, Zaini menjelaskan bahwa ibadah puasa tidak hanya bermakna menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas hubungan sosial antar sesama.

Ia mengajak jamaah untuk mempererat silaturahmi, baik dengan keluarga maupun kerabat, sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, kurangnya interaksi sosial akibat rutinitas yang monoton dapat berdampak pada kesehatan mental. Oleh karena itu, menjaga hubungan sosial dinilai penting untuk menciptakan keseimbangan batin.

“Gangguan mental itu sangat berbahaya. Oleh karena itu, saum itu ibadah fisik yang sangat bagus untuk kesehatan mental kita. Ditandai dengan kuatnya kita dalam menahan godaan dan selalu istigfar kalau ada hal-hal yang berakibat dosa. Karena sesungguhnya jihad yang paling besar itu adalah melawan hawa nafsu diri sendiri,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa Ramadhan merupakan sarana pembinaan diri yang tidak hanya membentuk kesalehan spiritual, tetapi juga melahirkan pribadi yang tangguh dan sabar dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Setelah pelaksanaan salat Id dan khutbah, jamaah membubarkan diri dengan tertib. Sejumlah jamaah terlihat mengabadikan momen kebersamaan dengan berfoto dan merekam video di area kampus, menandai perayaan Idul Fitri yang berlangsung penuh makna.***(FA/FK)

Administrator

Akademisi UM Bandung Beberkan Pemicu Terjadinya Kejahatan Besar

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Naera Zhafira Azkiati Zamzami menyoroti kasus Epstein Files sebagai representasi kejahatan besar yang tidak lazim terjadi secara tiba-tiba. 

Dia menilai, kasus tersebut berkaitan erat dengan penyimpangan moral serta menurunnya empati dalam diri pelaku.

Dalam program Kajian Ramadhan di kanal YouTube UM Bandung, Selasa (17/03/2026), Naera menjelaskan bahwa fenomena tersebut dapat dipahami melalui konsep authority bias.

Menurutnya, individu yang memiliki relasi kuasa, jabatan, atau kekayaan cenderung berada pada posisi yang membuat tindakannya sulit dicurigai, bahkan kerap dianggap wajar oleh lingkungan sekitarnya.

Dia menegaskan bahwa dalam perspektif Islam dan psikologi, kejahatan besar merupakan proses yang berkembang secara bertahap.

Penyimpangan tersebut tumbuh dari akumulasi kerusakan moral, hilangnya empati, serta munculnya keyakinan bahwa diri kebal terhadap hukum.

“Hal tersebut berawal dari kerusakan hati yang tidak lagi dipenuhi nilai ketakwaan,” ujarnya.

Dalam pandangan Islam, lanjut Naera, kekuasaan sejatinya adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, bukan sebagai hak istimewa untuk mengeksploitasi orang lain.

Dia menambahkan, tanpa kontrol moral yang kuat, kekuasaan berpotensi menurunkan sensitivitas empati seseorang.

Kondisi ini dapat mendorong individu memandang orang lain sekadar sebagai alat, yang pada akhirnya menjadi awal dari kerusakan psikologis dan sosial.

Lebih lanjut, Naera mengungkapkan bahwa dalam kasus Epstein, pelaku diduga menggunakan strategi manipulasi psikologis dan grooming sebagai bentuk eksploitasi halus.

Modus ini dilakukan dengan membangun kepercayaan secara bertahap melalui pemberian bantuan, hadiah, atau perhatian berlebih sehingga korban merasa memiliki keterikatan emosional dan utang budi.

Sebagai upaya pencegahan, ia mendorong masyarakat untuk meningkatkan kesadaran psikologis serta keberanian dalam menyuarakan ketidakadilan.

Menurutnya, kalangan akademisi memiliki peran penting dalam menumbuhkan kesadaran kritis sekaligus melindungi kelompok rentan dari potensi penyalahgunaan kekuasaan.

Selain itu, pendidikan tinggi juga dituntut untuk membangun kepekaan mahasiswa terhadap ketimpangan relasi kuasa guna menciptakan lingkungan akademik yang aman dan beretika.

Naera berharap setiap individu mampu memadukan profesionalitas dengan nilai-nilai spiritual, sehingga setiap tindakan yang dilakukan membawa kemaslahatan, bukan kerusakan bagi sesama.***(FA/FK)

Administrator

Pelantikan Pengurus KPM UM Bandung, Bangun Kepemimpinan Profesional dan Berintegritas

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung melalui Bagian Kemahasiswaan dan Pengembangan Karier resmi melantik kepengurusan UKM Korps Protokoler Mahasiswa (KPM) pada Sabtu (14/03/2026).

Pelantikan tersebut menjadi momentum penting bagi keberlanjutan organisasi dalam memperkuat peran protokoler mahasiswa di lingkungan kampus.

Kegiatan yang digelar di Auditorium Kiai Haji Ahmad Dahlan itu mengusung tema “Meneguhkan Kepemimpinan Profesional Berintegritas dan Berlandaskan Nilai Islam untuk Menuju KPM yang Inklusif dan Terpercaya.”

Tema tersebut mencerminkan komitmen organisasi untuk membangun kepemimpinan yang tidak hanya profesional, tetapi berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Dalam pelantikan tersebut, Tania Kirana resmi menjabat sebagai Ketua KPM UM Bandung periode 2026–2027.

Dia menyampaikan bahwa kepemimpinan yang kini diembannya merupakan kelanjutan dari fondasi kuat yang telah dibangun oleh kepengurusan sebelumnya.

"Kesuksesan yang akan dicapai oleh KPM UM Bandung tidak hanya cukup dari kepemimpinan. Namun, dari keluarga KPM UM Bandung itu sendiri," ucap Tania.

Pada masa kepemimpinannya, Tania mengusung konsep Kabinet Arthadhira sebagai arah gerak organisasi.

Nama kabinet tersebut dipilih untuk merepresentasikan nilai dan semangat yang ingin dihadirkan dalam kepengurusan baru.

Dia menjelaskan bahwa kata artha bermakna nilai dan kebermanfaatan, sedangkan dhira menggambarkan keteguhan serta keberanian dalam melangkah menghadapi tantangan organisasi.

"Kabinet ini menjadi semangat bagi kami untuk menumbuhkan kepemimpinan yang bernilai, berani, dan bertanggung jawab untuk membawa organisasi ini ke arah yang lebih baik," jelasnya.

Sementara itu, Ketua KPM periode sebelumnya, Shalbi Naila Makarim, turut memberikan ucapan selamat kepada kepengurusan baru yang telah dilantik.

Dia secara simbolis menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan sekaligus harapan bagi masa depan organisasi.

"Sukseskan visi dan misi yang sudah dijalankan agar KPM lepas landas menjadi organisasi yang maju," pesan Shalbi.

Dia juga berharap agar KPM UM Bandung dapat menjadi ruang bagi para anggota untuk terus berkembang dan berproses dalam organisasi.

"Jadikan KPM sebagai wadah amal ibadah kalian untuk menjadi pribadi yang dapat mengabdi, selalu berbagi, dan menginspirasi," terangnya.

Menanggapi hal tersebut, Pembina KPM Euis Evi Puspitasari menegaskan bahwa UKM ini memiliki peran yang sangat penting sebagai garda terdepan dalam berbagai kegiatan kampus sejak berdiri hingga sekarang.

"Selama delapan tahun, KPM sudah melenggang di UM Bandung untuk menjalankan fungsinya sebagai garda terdepan kampus," ungkap Euis.

Dia menambahkan bahwa pengalaman berorganisasi di tingkat UKM akan menjadi portofolio berharga bagi mahasiswa ketika memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan studi.***(FK)

Administrator

Seniman Muslim Harus Menghadirkan Keindahan yang Bermakna

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen prodi Kriya Tekstil dan Fashion Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Nanang Rizali menegaskan bahwa keberhasilan sebuah karya kriya sangat ditentukan oleh landasan niat serta nilai-nilai spiritual yang menyertai proses perancangannya.

Menurutnya, istilah kriya tidak sekadar merujuk pada aktivitas membuat kerajinan tangan. Lebih dari itu, kriya memiliki makna yang mendalam sebagai pekerjaan tangan yang spesifik dan harus memuat nilai keindahan, kebaikan, kebenaran, serta memberikan manfaat bagi penggunanya.

“Istilah kriya punya makna yang mendalam sebagai pekerjaan tangan yang spesifik dan harus mengandung nilai keindahan, kebaikan, kebenaran, dan manfaat bagi pengguna,” ujar Nanang dalam Kajian Ramadan di kanal YouTube UM Bandung pada Senin (16/03/2026).

Nanang menjelaskan bahwa tahap awal dalam proses berkarya harus diawali dengan niat yang berlandaskan kalimat syahadah sebagai fondasi spiritual paling mendasar.

Dalam pandangannya, niat dalam seni Islami tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fungsional semata, tetapi juga mengandung dimensi ibadah dan pemenuhan kebutuhan rohani.

“Niat dalam seni Islami tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fungsional semata. Namun, harus mengandung nilai ibadah dan pemenuhan kebutuhan rohani,” jelasnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya tahap qiraah, yakni proses membaca, meneliti, dan mengkaji secara mendalam melalui studi empirik maupun kajian kepustakaan sebagai landasan teori dalam perancangan karya.

“Proses membaca dan mengkaji ini merupakan bentuk ijtihad kreatif agar karya yang dihasilkan memiliki landasan ilmu yang kuat dan referensi yang jelas,” imbuhnya.

Dalam perjalanan menghasilkan wujud visual karya, lanjut Nanang, terdapat pula proses tazkiah, yaitu tahap pencerahan rohani yang bertujuan menyatukan tenaga, pikiran, dan perasaan seorang kreator.

Penyatuan antara aspek lahiriah dan batiniah ini dinilai sangat penting agar karya yang dihasilkan mampu memberikan kenyamanan sekaligus pencerahan bagi para penikmatnya.

“Penyatuan aspek lahiriah dan batiniah dalam proses kreatif ini sangat krusial agar karya yang tercipta dapat memberikan kenyamanan dan pencerahan bagi yang menikmatinya,” tuturnya.

Mengenai profil lulusan seni kriya, Nanang menekankan pentingnya prinsip “3D”, yaitu adib (taat beribadah), alim (berilmu), dan arif (bijaksana).

Menurutnya, ketiga nilai tersebut harus melekat pada setiap seniman Muslim agar tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kebijaksanaan dalam berkarya dan berperan di tengah masyarakat.

“Lulusan seni kriya diharapkan tidak hanya memiliki keterampilan teknis yang mumpuni, tetapi memiliki kebijaksanaan dan kearifan dalam bertindak serta berkarya di tengah masyarakat,” tegasnya.

Ia pun mengingatkan bahwa setiap karya seni seharusnya mencerminkan nilai-nilai luhur. Hal ini karena Allah SWT mencintai keindahan dalam setiap ciptaan-Nya.

Oleh sebab itu, aktivitas berkarya perlu dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menghadirkan karya budaya yang membawa kemaslahatan dan keindahan bagi sesama.

“Mari kita jadikan aktivitas berkarya ini sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan menghasilkan karya budaya yang membawa kemaslahatan dan keindahan bagi sesama,” pungkasnya.***

Administrator

UM Bandung Akan Gelar Salat Idul Fitri 1447 Hijriah pada Jumat 20 Maret 2026

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung akan menyelenggarakan salat Idul Fitri 1447 Hijriah pada Jumat, 20 Maret 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari agenda ibadah tahunan yang terbuka bagi masyarakat luas.

Pelaksanaan salat Idul Fitri ini merujuk pada Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2 Tahun 2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah.

Kepala Lembaga Pengembangan dan Pengkajian Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) UM Bandung Dikdik Dahlan Lukman mengajak kaum muslimin, khususnya masyarakat yang berdomisili di kawasan Bandung Timur, untuk melaksanakan salat Idul Fitri di lingkungan kampus UM Bandung.

“Untuk itu, kepada kaum muslimin, khususnya yang berdomisili di kawasan Bandung Timur, kami menghimbau untuk berbondong-bondong melaksanakan salat Idul Fitri yang tempatnya tepat di lapangan parkir kampus UM Bandung,” ujarnya di kampus UM Bandung, Sabtu (14/03/2026).

Ia menjelaskan bahwa salat Idul Fitri akan dimulai pada pukul 06.15 WIB. Adapun yang akan bertindak sebagai imam sekaligus khatib adalah Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat Dr Zaini Abdul Malik SAg MA.

Dikdik juga mengimbau jamaah agar datang lebih awal untuk memudahkan pengaturan parkir kendaraan, baik di dalam maupun di sekitar area kampus UM Bandung yang beralamat di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Kota Bandung.

“Oleh karena itu, jamaah salat id diimbau untuk datang lebih pagi ke UM Bandung agar bisa memarkirkan kendaraannya di dalam dan area kampus,” katanya.

Selain menyediakan lokasi salat, UM Bandung juga membuka layanan penitipan zakat fitrah bagi jamaah yang belum menunaikan kewajibannya. Layanan tersebut akan difasilitasi melalui Lazismu Kantor Layanan UM Bandung sebelum pelaksanaan salat Idul Fitri dimulai.

“Bagi jamaah salat id yang kebetulan belum membayarkan zakat fitrah, Lazismu Kantor Layanan UM Bandung, insyaallah standby dan bisa melayani akad penitipan zakat fitrah sebelum pelaksanaan salat id berlangsung,” tutur Dikdik.

Ia juga mengingatkan jamaah untuk membawa perlengkapan salat dari rumah masing-masing. Selain itu, jamaah diharapkan sudah dalam keadaan berwudu sebelum tiba di lokasi agar dapat langsung duduk dan mempersiapkan diri mengikuti salat Idul Fitri dengan lebih tenang dan khusyuk.

Menurutnya, penyelenggaraan salat Idul Fitri di UM Bandung setiap tahun selalu mendapat sambutan luas dari masyarakat. Jamaah yang hadir tidak hanya berasal dari kalangan warga dan simpatisan Muhammadiyah di Bandung Timur, tetapi juga dari berbagai lapisan masyarakat sehingga area kampus kerap dipadati peserta salat Id.

Di akhir keterangannya, Dikdik mengajak seluruh umat Islam untuk menjaga ketertiban serta saling menghormati apabila terdapat perbedaan pandangan dalam penentuan Hari Raya Idul Fitri.

“Mari kita laksanakan salat Idul Fitri 1447 Hijriah dengan tertib dan khusyuk. Adapun nanti misalnya ada perbedaan penentuan lebaran, mari kita saling menghargai dan menghormati sebagai sesama umat Islam,” tandasnya.***(FA)

Administrator