Berita

Usia Ke-8, Himtekpa UM Bandung Siap Tingkatkan Kontribusi Untuk Masyarakat

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan (Himtekpa) UM Bandung berhasil menyelenggarakan perayaan Dies Natalis ke-8 pada Sabtu (11/4/2026).

Acara yang digelar di Auditorium Kiai Haji Ahmad Dahlan, lantai tiga UM Bandung, tersebut dihadiri oleh dosen dan mahasiswa dari Program Studi Teknologi Pangan.

Ketua Pelaksana M Ridho Al Hafizh menyampaikan bahwa perayaan Dies Natalis tahun ini mengangkat tema “Nusantara Color Science: Transforming Tradition Into Innovation”.

Ia menjelaskan bahwa berdirinya Himtekpa UM Bandung dilatarbelakangi oleh semangat kebersamaan serta kecintaan mahasiswa terhadap ilmu pangan.

“Antusiasme anggota Himtekpa sangat luar biasa. Kami dipersatukan oleh rasa kekeluargaan dan kecintaan yang sama terhadap ilmu pangan,” ujar Ridho.

Ridho juga mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu delapan tahun, Himtekpa telah melaksanakan berbagai program yang memberikan dampak positif bagi sivitas akademika maupun masyarakat.

“Layaknya di laboratorium saat dua zat dicampurkan hingga menghasilkan reaksi, di himpunan ini kami menggabungkan ide, tenaga, dan waktu untuk menciptakan dampak bagi masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Himtekpa UM Bandung M Fathir Lukman menegaskan bahwa Dies Natalis menjadi momen penting untuk merefleksikan perjalanan organisasi selama delapan tahun terakhir.

“Alhamdulillah, himpunan ini terus konsisten dalam mencetak mahasiswa yang kreatif dan berkualitas melalui berbagai kegiatan yang dilaksanakan,” kata Fathir.

Ia berharap peringatan Dies Natalis ke-8 ini dapat memotivasi Himtekpa UM Bandung agar terus konsisten menghadirkan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Semoga Himtekpa terus melahirkan mahasiswa yang kreatif dan mampu memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat,” tuturnya.

Mengembangkan inovasi

Di sisi lain, dosen Teknologi Pangan UM Bandung Fahmi Ilman Fahrudin turut menyampaikan apresiasi atas capaian Himtekpa yang kini memasuki usia delapan tahun.

Menurutnya, Program Studi Teknologi Pangan UM Bandung memiliki kebanggaan tersendiri karena mampu mendorong lahirnya inovasi berbasis pemanfaatan sumber daya alam Indonesia.

“Indonesia dengan kekayaan sumber daya yang dimiliki menjadi kebanggaan bagi kami sebagai mahasiswa Teknologi Pangan untuk terus mengembangkan inovasi yang bermanfaat,” ungkap Fahmi.

Ia menambahkan, mahasiswa Teknologi Pangan memiliki peran strategis dalam mengimplementasikan keilmuannya guna memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Semoga ke depan Himtekpa semakin berkembang, semakin solid, dan terus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” tandasnya.***(FK)

Administrator

Siap Jadi Apoteker Masa Depan? Mulainya dari UM Bandung

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Buat kamu yang punya mimpi jadi apoteker profesional, Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) di Universitas Muhammadiyah Bandung bisa jadi pilihan yang menarik. Program ini hadir bukan sekadar mencetak tenaga kesehatan, melainkan membentuk lulusan yang berkarakter dengan integrasi nilai keislaman dan semangat kewirausahaan.

Di sini, proses belajar dirancang nggak monoton. Mahasiswa diajak memahami dunia farmasi secara lebih luas, mulai dari aspek klinis hingga peluang bisnis di bidang kesehatan. Jadi, kamu enggak hanya siap kerja, tapi juga punya peluang untuk menciptakan lapangan kerja sendiri.

Salah satu keunggulan PSPPA UM Bandung adalah kolaborasinya dengan para praktisi aktif. Mulai dari tenaga profesional di rumah sakit, industri farmasi, hingga instansi pemerintah, semuanya terlibat langsung dalam proses pembelajaran mahasiswa.

Ketua Prodi PSPPA UM Bandung Adam Aulia Rahman menjelaskan bahwa keterlibatan praktisi ini penting agar mahasiswa punya gambaran nyata tentang dunia kerja. Dengan begitu, mereka bisa lebih siap menghadapi tantangan profesi apoteker setelah lulus.

Enggak cuma itu, kurikulum di PSPPA UM Bandung juga mengusung konsep Islamic Pharmatechnopreneur. Konsep ini mendorong mahasiswa untuk unggul secara akademik sekaligus memiliki jiwa inovatif dan kewirausahaan yang berlandaskan nilai Islami.

Supaya makin matang, mahasiswa juga dibekali pengalaman langsung lewat Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA). Lewat program ini, mereka bisa belajar langsung di berbagai instansi dan merasakan bagaimana dinamika kerja di dunia farmasi sesungguhnya.

Pengalaman PKPA ini juga jadi kesempatan emas untuk membangun jaringan profesional. Ditambah dengan kuliah pakar bersama preseptor, mahasiswa bisa mendapatkan insight berharga yang enggak selalu didapat di ruang kelas.

Dengan semua keunggulan tersebut, lulusan PSPPA UM Bandung punya peluang karier yang luas. Mulai dari apotek, industri farmasi, instansi pemerintah, hingga menjadi entrepreneur di bidang kesehatan. Jadi, kalau kamu ingin jadi apoteker yang kompeten, beretika, dan siap bersaing, PSPPA UM Bandung bisa jadi langkah awal yang tepat.***

Administrator

Kerja Sambil Kuliah? S2 Manajemen UM Bandung Bisa Jadi Pilihan Tepatmu

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kabar baik buat kamu para alumni Universitas Muhammadiyah Bandung! Program Studi Magister Manajemen (MM) saat ini resmi membuka pendaftaran mahasiswa baru untuk semester ganjil tahun akademik 2026/2027.

Menariknya, ada kesempatan spesial yang sayang untuk dilewatkan. Bagi alumni UM Bandung yang ingin melanjutkan studi ke jenjang magister, tersedia Beasiswa Prestasi Alumni dengan potongan biaya yang cukup signifikan.

Dari total biaya kuliah Rp25 juta untuk 4 semester, kamu hanya perlu membayar Rp20 juta—tentunya dengan memenuhi syarat yang ditentukan.

Program ini ditujukan bagi alumni yang tidak hanya ingin melanjutkan pendidikan, tetapi memiliki rekam jejak akademik dan profesional yang baik.

Secara umum, pendaftar harus merupakan alumni UM Bandung, memenuhi persyaratan administrasi, serta siap menyelesaikan studi tepat waktu dalam 4 semester.

Selain itu, calon mahasiswa juga wajib mengikuti seluruh ketentuan akademik dan administrasi yang berlaku di kampus.

Dari sisi akademik, syaratnya cukup menantang namun sepadan. Calon penerima beasiswa harus memiliki IPK minimal 3,5 saat menempuh pendidikan sarjana, serta lolos seleksi penerimaan mahasiswa baru Magister Manajemen.

Sementara itu, dari sisi profesional, pelamar diharapkan sudah bekerja di instansi pemerintah, perusahaan, atau organisasi lainnya, serta melampirkan surat rekomendasi dari pimpinan sebagai bentuk dukungan.

Pendaftaran sudah dibuka mulai sekarang hingga 15 April 2026. Prosesnya pun fleksibel.

Kenapa? Karena bisa dilakukan secara online atau langsung datang ke kampus UM Bandung yang berlokasi di Bandung Timur.

Tepatnya di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Cipadung Kidul, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung.

Bagi yang ingin menggali informasi lebih lanjut, khususnya terkait Beasiswa Prestasi Alumni, bisa langsung menghubungi admin Magister Manajemen di nomor 0811-1011-9196.

”Program beasiswa khusus alumni ini merupakan bentuk komitmen kami sebagai bagian dari Muhammadiyah dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa," ujar Kepala Bagian Promosi dan Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Muhammadiyah Bandung Abdul Rohim pada Jumat (10/06/2026).

"Selain itu, kami juga menyediakan berbagai skema beasiswa lain yang dapat diakses oleh seluruh calon mahasiswa dari berbagai daerah,” tandasnya.

Jadi, sudah siap naik level dan memperkuat kompetensi manajemenmu di Magister Manajemen UM Bandung? Ini saatnya melangkah lebih jauh!***(CH)

Administrator

Halal Center UM Bandung Gelar Uji Kompetensi, Perkuat Industri Halal Nasional

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Halal Center Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat industri halal nasional melalui penyelenggaraan Uji Kompetensi Penyelia Halal. Kegiatan ini dilaksanakan secara luring di Lantai 8 Kampus UM Bandung pada Rabu (08/04/2026).

Uji kompetensi tersebut diikuti oleh 16 peserta yang tidak hanya berasal dari internal UM Bandung, tetapi juga dari luar institusi. Hal ini mencerminkan semangat keterbukaan dan kolaborasi dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) di bidang halal.

Ketua Halal Center UM Bandung Dr Saepul Adnan SSi MSi menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas SDM halal. Upaya tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal yang mewajibkan sertifikasi halal di berbagai sektor, mulai dari makanan, minuman, hingga jasa.

Ia menekankan bahwa meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk halalan thayyiban menuntut kehadiran penyelia halal yang kompeten. Peran mereka tidak hanya memastikan kepatuhan terhadap standar halal, tetapi juga menjamin kualitas produk yang beredar di masyarakat.

Lebih lanjut, Halal Center UM Bandung berperan sebagai pusat pengembangan kompetensi halal yang berfokus pada penyelarasan kurikulum dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), khususnya SKKNI Nomor 21 Tahun 2022 untuk profesi penyelia halal. Melalui pelatihan dan uji kompetensi ini, diharapkan lahir tenaga profesional yang mampu menjalankan sistem sertifikasi, audit, dan manajemen produk halal secara komprehensif.

Selain itu, kegiatan ini juga mendukung operasional Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H) serta menyediakan layanan konsultasi dan bimbingan teknis bagi pelaku usaha, baik UMKM maupun industri besar. Dengan SDM yang tersertifikasi, Halal Center UM Bandung optimistis dapat menjadi mitra terpercaya dalam proses sertifikasi halal, baik melalui skema reguler maupun self-declare.

Bagi pelaku usaha, kehadiran tenaga ahli ini dinilai penting untuk menjaga konsistensi kepatuhan terhadap prinsip halal sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen. Sementara bagi institusi, layanan konsultasi dan pendampingan menjadi sumber pendapatan strategis yang mendukung keberlanjutan dan pengembangan lembaga.

Ke depan, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan SDM tersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), menghadirkan layanan konsultasi profesional, memperluas kemitraan strategis dengan berbagai sektor industri seperti makanan, kosmetik, dan farmasi, serta meningkatkan kemandirian lembaga melalui optimalisasi layanan jasa profesional.

Melalui langkah ini, Halal Center UM Bandung diharapkan semakin memperkuat perannya sebagai pusat unggulan dalam pengembangan ekosistem halal di Indonesia, sekaligus berkontribusi dalam mencetak SDM unggul yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.***(FK)

Administrator

Merawat Ukhuwah di Tengah Perbedaan, Halal Bihalal sebagai Jalan Kerukunan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Herry Suhardiyanto mengajak umat Islam untuk menjadikan momentum Halal Bihalal sebagai ruang refleksi spiritual dan sosial, bukan hanya seremonial tahunan tanpa makna. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam acara Halal Bihalal di ITB pada Senin (30/03/2026).

Dalam pemaparannya, Herry mengawali dengan mengingatkan makna puasa sebagaimana tertuang dalam Al-Baqarah ayat 183 bahwa tujuan utama Ramadhan adalah membentuk ketakwaan. Dia menggambarkan bahwa proses ketakwaan bukan sesuatu yang statis, melainkan terus berkembang seiring bertambahnya usia manusia.

Menurutnya, perjalanan hidup dan peningkatan ketakwaan dapat dianalogikan seperti dua spiral dalam ruang tiga dimensi. Sumbu waktu dan bulan hijriah berjalan beriringan, sementara derajat ketakwaan diharapkan meningkat lebih tajam setiap Ramadhan. “Harapannya, setiap Ramadhan menjadi momentum lonjakan kualitas ketakwaan kita,” ujarnya.

Lebih lanjut, Herry menegaskan bahwa Halal Bihalal tidak sekadar tradisi tahunan, tetapi merupakan proses rekonstruksi spiritual dan sosial. ”Momentum ini menjadi ruang untuk membersihkan hati, memperbaiki hubungan antarsesama, dan menyusun kembali nilai-nilai kehidupan di tengah tantangan dunia modern,” imbuhnya.

Dia menilai, di tengah disrupsi teknologi, kesibukan media sosial, dan fragmentasi sosial, manusia kerap kehilangan nilai-nilai dasar kemanusiaan dan spiritualitas. Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya empat nilai utama yang harus diperkuat, yakni keikhlasan, integritas, kebersamaan, dan kerukunan.

Dalam aspek keikhlasan, Herry menjelaskan bahwa mengagungkan Allah merupakan kebutuhan manusia sebagai bentuk manifestasi tauhid. Dia mengingatkan bahwa keikhlasan harus dijaga dalam setiap amal. Termasuk dengan menghindari sikap pamer atau mencari pengakuan atas perbuatan baik yang dilakukan.

Selain itu, dia juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara berpikir dan mengingat Allah. Menurutnya, ilmu pengetahuan harus dibarengi dengan kesadaran spiritual agar tidak melahirkan kesombongan.

Dia mengingatkan bahwa kesombongan dapat muncul pada siapa saja, baik pada mereka yang memiliki kecerdasan maupun kekayaan. Bahkan, menurutnya, sikap sombong pada seseorang yang tidak memiliki keduanya justru menjadi ironi yang lebih memprihatinkan.

Dalam konteks kehidupan akademik, Herry menekankan pentingnya integritas sebagai keselarasan antara nilai, ucapan, dan tindakan. Dia mengingatkan bahwa krisis terbesar saat ini bukanlah kurangnya kecerdasan, melainkan defisit integritas, seperti praktik manipulasi data dan plagiarisme yang harus dihindari.

Sementara itu, pada aspek kebersamaan, dia menegaskan bahwa kekuatan sebuah institusi tidak hanya terletak pada individu hebat, tetapi pada kolaborasi yang solid. Dia mengibaratkan organisasi sebagai bangunan yang kokoh, di mana setiap individu memiliki peran strategis sebagai bagian dari struktur yang saling menguatkan.

Terakhir, Herry menekankan pentingnya kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk. Dia menyebut bahwa perbedaan adalah keniscayaan, tetapi kerukunan merupakan pilihan yang harus diupayakan. Menurutnya, keadilan menjadi kunci utama dalam menjaga harmoni sosial.

Menutup pemaparannya, Herry mengajak seluruh peserta untuk menjadikan Halal Bihalal sebagai titik awal transformasi diri dan institusi. “Sejatinya keikhlasan, integritas, kebersamaan, dan kerukunan merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban yang kuat dan berkelanjutan,” pungkasnya.***(FA)

Administrator

Harmoni Umat Dibangun dari Sikap Saling Memahami

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung Ace Somantri menilai dinamika perbedaan dalam praktik keagamaan merupakan hal yang wajar dan tidak perlu disikapi secara berlebihan.

Menurutnya, perbedaan tersebut justru menjadi bagian dari proses ijtihad yang menunjukkan keberlangsungan pemikiran Islam dalam merespons perkembangan zaman.

“Perbedaan dalam praktik keagamaan adalah sesuatu yang wajar dan merupakan hasil dari proses ijtihad yang terus berkembang,” ujarnya.

Ace menjelaskan bahwa perbedaan pandangan dalam Islam bukanlah bentuk pertentangan, melainkan refleksi dari upaya intelektual dalam memahami ajaran agama secara kontekstual.

Ia menegaskan bahwa pendekatan adaptif terhadap perubahan sosial dan kemajuan ilmu pengetahuan menjadi penting tanpa harus meninggalkan prinsip dasar agama.

“Ini bukan soal benar atau salah semata, tetapi bagaimana umat mampu memahami ajaran secara kontekstual tanpa keluar dari nilai dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa Muhammadiyah memandang perbedaan sebagai keniscayaan dalam ranah cabang (furuiyah) yang seharusnya disikapi dengan sikap terbuka.

Oleh karena itu, nilai toleransi dan saling menghormati perlu terus diperkuat guna menjaga harmoni dalam kehidupan beragama.

“Perbedaan di wilayah furuiyah tidak seharusnya menjadi sumber konflik, tetapi harus dirawat dengan sikap saling menghargai,” tegas Ace.

Lebih lanjut, Ace menilai bahwa pendekatan keagamaan yang rasional dan berbasis ilmu pengetahuan menjadi salah satu faktor yang membuat Muhammadiyah tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Pendekatan tersebut dinilai mampu menghadirkan wajah Islam yang moderat, inklusif, dan berkemajuan.

“Pendekatan rasional dan ilmiah inilah yang membuat Muhammadiyah tetap diterima oleh berbagai kalangan,” ungkapnya.

Secara sosiologis, ia juga menyoroti meningkatnya minat generasi muda terhadap lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Fenomena ini terlihat dari banyaknya peserta didik yang berasal dari latar belakang non-Muhammadiyah.

“Ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah memiliki daya tarik yang kuat, bahkan bagi mereka yang bukan berasal dari lingkungan Muhammadiyah,” katanya.

Menurutnya, keterbukaan Muhammadiyah dalam membangun ruang dialog menjadi faktor penting dalam menarik perhatian generasi milenial dan generasi Z.

Ia menilai generasi muda saat ini cenderung lebih kritis dan objektif dalam menyikapi perbedaan.

“Generasi sekarang membutuhkan ruang dialog yang terbuka, bukan pendekatan yang kaku dan tertutup,” ujarnya.

Selain itu, kehadiran media sosial turut memperluas ruang interaksi dan pertukaran gagasan di kalangan generasi muda.

Ace melihat bahwa fenomena ini dapat menjadi peluang untuk memperkuat literasi keagamaan yang lebih rasional, selama diiringi dengan pendampingan yang tepat.

“Media sosial bisa menjadi sarana edukasi jika dimanfaatkan dengan baik dan diarahkan secara bijak,” tambahnya.

Menutup pandangannya, Ace menegaskan bahwa perbedaan dalam praktik keagamaan seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan.

Sebaliknya, perbedaan perlu dijadikan sebagai sarana untuk memperkuat sikap saling memahami dan menghargai.

“Perbedaan harus menjadi kekuatan untuk membangun harmoni, bukan justru memecah belah umat,” pungkasnya.***(FA)

Administrator