Berita

Semangat Mahasiswa UM Bandung Jalani KKN di Negeri Ginseng

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Suasana penuh semangat terasa saat Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung secara resmi melepas para peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Muhammadiyah dan Aisyiyah (MAs) serta KKN Internasional pada Jumat, 25 Juli 2025. 

Di bawah kepemimpinan langsung Rektor UM Bandung, prosesi pelepasan itu menjadi momen simbolik atas komitmen kampus dalam memperluas pengabdian mahasiswa ke ranah global.

Tahun ini, sebanyak 12 mahasiswa terpilih mengikuti KKN Internasional yang tersebar di tiga negara: Malaysia, Korea Selatan, dan Arab Saudi. Di sisi lain, 10 mahasiswa lainnya menjalankan KKN MAs di Pekanbaru dan Kepulauan Riau. Ini menjadi langkah strategis kampus dalam mendorong mahasiswanya untuk berkarya dan berkontribusi di berbagai medan pengabdian.

Salah satu peserta KKN Internasional, Najiha Najwashihab Karsana, mengungkapkan antusiasmenya sebelum berangkat ke Malaysia. Ia menyiapkan diri untuk mengikuti serangkaian kegiatan, mulai dari konferensi aerosol, kunjungan ke sekolah-sekolah, hingga kerja sama dengan PCIM Malaysia.

“Banyak kegiatan nanti yang kita jalankan mulai dari konferensi tentang aerosol di Malaysia, lalu kunjungan ke sekolah-sekolah, dan nanti juga akan kerja sama dengan PCIM Malaysia,” tuturnya.

Najiha berharap pengalaman KKN di luar negeri mampu membentuk karakter dan memperluas kontribusi sosialnya.

“Saya berharap KKN ini dapat menjadikan diri saya pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain,” tambahnya penuh harap. Ia yakin, program ini akan menjadi batu loncatan penting bagi pengembangan dirinya di masa depan.

Faathira Nuur Qodrina, peserta lainnya yang akan bertolak ke Korea Selatan, juga tak kalah siap. Ia menyebutkan telah mempersiapkan program kerja dan proposal secara matang.

“Tentu kita sudah menyiapkan berbagai program kerja yang ada dan proposalnya juga,” ujarnya dengan percaya diri.

Lebih dari sekadar program akademik, Faathira memandang KKN ini sebagai peluang untuk menyerap nilai-nilai budaya positif dari negeri tujuan.

“Semoga budaya-budaya baik yang ada di Korea Selatan bisa diterapkan di negara kita sendiri untuk lebih sejahtera lagi,” tandasnya.

Keikutsertaan mahasiswa UM Bandung dalam KKN Internasional menjadi bukti nyata bahwa kampus ini serius mencetak lulusan berwawasan global dan peka terhadap isu sosial.

Lewat pengabdian di berbagai pelosok, baik dalam maupun luar negeri, UM Bandung terus mendorong mahasiswanya untuk menjadi agen perubahan masa depan.***(FK)

Administrator

Apoteker Harus Adaptif di Tengah Disrupsi Teknologi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Influencer sekaligus apoteker inspiratif Sinta Apriliana Sari menjelaskan bahwa peran apoteker pada abad ke-21 saat ini telah berevolusi secara signifikan. Tidak lagi seperti zaman dahulu yang hanya berkutat di meja resep.

”Saat ini apoteker menjadi bagian integral dalam sistem pelayanan kesehatan yang berfokus pada pasien,” ucap Sinta saat acara seminar nasional bertajuk "Pharmacy Practice in the 21st Century: Challenges, Innovations, and Future Outlook" yang pada Kamis (31/07/2025).

Pelaksanaan seminar ini dalam rangka memperingati dies natalis ke-8 Himpunan Mahasiswa Farmasi (Himprofar) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung.

Kompleksitas penggunaan obat, regulasi yang belum optimal, dan keterbatasan akses terhadap data pasien, kata Sinta, masih menjadi tantangan besar dalam praktik farmasi modern.

"Apoteker hari ini dituntut aktif dalam tim medis, memantau terapi, memberi edukasi, hingga terlibat dalam pengambilan keputusan klinis," jelas Sinta. 

Di samping itu, Sinta juga menjabarkan ada beberapa tantangan utama yang akan dihadapi apoteker saat ini.

Di antaranya risiko interaksi obat akibat polifarmasi, minimnya kolaborasi antarprofesi, birokrasi yang rumit, dan kesenjangan layanan farmasi di negara berkembang. 

"Tantangan ini diperparah dengan belum kuatnya wewenang apoteker secara klinis serta tekanan etika antara tuntutan bisnis dan keselamatan pasien," terangnya.

Oleh karena itu, menawarkan solusi berupa strategi peningkatan kompetensi, pemanfaatan teknologi adaptif seperti telepharmacy dan e-resep, pentingnya integrasi data pasien lintas profesi.

"Kita harus mendorong sistem kesehatan yang kolaboratif, digital, dan tetap berfokus pada kemanusiaan," tuturnya.

Inovasi kefarmasian

Tidak kalah menarik, Sinta juga menyoroti inovasi-inovasi yang sedang berkembang dalam praktik kefarmasian.

Misalnya saja seperti 3D printed medicine, penggunaan wearable devices, hingga pemanfaatan artificial intelligence untuk deteksi interaksi obat dan penyesuaian dosis.

Menurutnya, apoteker jangan hanya cukup dengan ilmu yang ada, tetapi perlu terus belajar dan beradaptasi agar tetap relevan di tengah disrupsi teknologi.

“Pada abad 21 ini, apoteker bukan hanya penjaga obat, tetapi penjaga kualitas hidup pasien. Kita adalah jembatan antara ilmu, teknologi, dan kemanusiaan,” pungkasnya.***(FK)

Administrator

Himprofar UM Bandung Rayakan Dies Natalis ke-8 dengan Semangat Inovasi Kefarmasian

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Himpunan Mahasiswa Program Studi Farmasi (Himprofar) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung kembali menggelar perayaan puncak Dies Natalis ke-8 pada Kamis (31/07/2025).

Bertempat di Auditorium Kiai Haji Ahmad Dahlan UM Bandung, kegiatan ini diisi dengan berbagai agenda menarik, mulai dari seminar nasional hingga pembagian hadiah kepada para pemenang lomba yang telah digelar sebelumnya.

Mengangkat tema “THRIMORA, Together We Thrive, Towards a Brighter Tomorrow,” acara tersebut menjadi momentum penting bagi Himprofar dalam meneguhkan peran dan kontribusinya di dunia kefarmasian.

Ketua Pelaksana, Ahlamah Syifaul Fatinah, mengatakan bahwa seminar nasional dalam rangkaian acara ini mencerminkan harapan besar Himprofar untuk turut berperan membangun masa depan Indonesia yang lebih baik.

“Kegiatan ini tentu menjadi motivasi bagi peserta untuk menginspirasi terkait tantangan dan peluang dalam dunia kefarmasian pada masa yang akan datang,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Himprofar UM Bandung, Rifki Budiansyah, menilai bahwa seminar ini merupakan respons terhadap dinamika global yang tengah dihadapi profesi farmasi saat ini.

Ia menyebut bahwa perubahan paradigma dalam pelayanan kesehatan menuntut mahasiswa untuk terus beradaptasi dan berinovasi.

“Pada abad ke-21 ini kita menyadari bahwa praktik kefarmasian dihadapkan dengan dinamika yang luar biasa,” kata Rifki.

Lebih lanjut, Rifki menegaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi platform strategis bagi mahasiswa dalam memperluas wawasan dan memperdalam pemahaman terkait perkembangan terbaru di bidang kefarmasian.

“Seminar yang ada pada hari ini pun menjadi platform bagi kita untuk mengeksplorasi inovasi terbaru dan merumuskan prospek masa depan yang cerah bagi keprofesian kita,” tambahnya.

Momentum Dies Natalis ke-8 ini juga dimaknai sebagai refleksi atas pencapaian Himprofar selama delapan tahun terakhir.

Rifki mengajak seluruh anggota Himprofar untuk menjadikan usia ke-8 ini sebagai titik evaluasi dan semangat untuk terus meningkatkan kualitas serta pelayanan organisasi, baik dalam lingkungan kampus maupun masyarakat.

Sementara itu, Ketua Program Studi Farmasi UM Bandung, Dwintha Lestari, turut menyampaikan apresiasinya atas kontribusi Himprofar. Ia mendorong organisasi ini untuk terus produktif dan siap menghadapi tantangan di dunia farmasi.

Dwintha menyoroti bahwa setiap semester terdapat sekitar enam ribu lulusan apoteker di Indonesia, sehingga persaingan di dunia kerja semakin ketat.

“Berarti sekitar dua belas ribu bertambah setiap tahunnya di Indonesia lulusan yang akan menjadi apoteker saling bersaing satu sama lain,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Dwintha menekankan bahwa mahasiswa Farmasi UM Bandung harus memiliki ciri khas atau keunikan yang membedakan mereka dari lulusan lainnya. Ia menegaskan pentingnya daya saing dalam menghadapi realitas dunia profesi.

“Jadi, kalau kita tidak bisa survive, kita tidak punya ciri khas sendiri, maka kita tidak akan bisa apa-apa ke depannya,” tandasnya.***

Administrator

Top! LPPM UM Bandung Catat Peningkatan Signifikan Proposal Hibah Riset Yang Lolos Pendanaan Kemdiktisaintek

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung mencatat peningkatan signifikan jumlah proposal hibah Riset Kemdiktisaintek yang berhasil lolos pendanaan tahun 2025.

Sebagai tindak lanjut capaian tersebut, LPPM UM Bandung saat ini tengah melaksanakan penandatanganan kontrak hibah Bantuan Operasional Perguruan Tinggi untuk program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini melibatkan 22 dosen pelaksana peneliti serta 19 mahasiswa di lingkungan sivitas akademika UM Bandung.

Pada tahun ini, sebanyak 22 proposal berhasil lolos pendanaan, terdiri atas 20 proposal penelitian dan 2 proposal pengabdian masyarakat, dengan total dana hibah yang diterima mencapai Rp. 965.874.627,- (sembilan ratus enam puluh lima juta delapan ratus tujuh puluh empat ribu enam ratus dua puluh tujuh rupiah).

Capaian ini menunjukkan peningkatan yang luar biasa dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu sebesar 100 persen (dua kali lipat). Bahkan, tahun ini UM Bandung berhasil meraih peringkat 20 besar se-Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV dari seluruh proposal yang masuk.

Kepala LPPM UM Bandung Dr H Ijang Faisal MSi didampingi Sekretaris LPPM Iis Dewi Fitriani SE MM mengatakan bahwa peningkatan ini adalah bukti bahwa UM Bandung semakin produktif dalam bidang riset dan pengabdian masyarakat.

“Kami akan terus mendorong para dosen dan mahasiswa untuk menghasilkan penelitian yang inovatif, aplikatif, dan berdampak luas bagi masyarakat,” ujarnya di UM Bandung pada Kamis (31/07/2025).

Lebih lanjut, Iis Dewi Fitriani, sebagai Sekretaris LPPM UM Bandung, menambahkan bahwa LPPM akan terus mengawal dan mengarahkan para dosen agar senantiasa meningkatkan kualitas riset di lingkungan sivitas akademika UM Bandung.

Dengan dukungan pendanaan hibah ini, LPPM UM Bandung berkomitmen memperkuat budaya riset dan pengabdian yang unggul, relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta mendukung visi UM Bandung memiliki komitmen sebagai kampus technopreneur, yang bertujuan melahirkan lulusan dengan kemampuan akademis, sikap mental wirausaha, dan kemampuan memanfaatkan teknologi, khususnya di bidang keislaman.***

Administrator

Jadi Ajang Edukasi Teknologi, Mahasiswa Informatika UM Bandung Gelar Komfesif 2025

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HMIF) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sukses menggelar Kompetisi dan Festival Informatika (Komfesif) 2025 pada Senin, 28 Juli 2025. Kegiatan tahunan ini berlangsung di Auditorium Kiai Haji Ahmad Dahlan, lantai tiga Gedung UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta No. 752.

Dengan mengusung tema “Smart Tech, Smart Mind: Menciptakan Masa Depan Melalui Teknologi,” Komfesif 2025 menghadirkan rangkaian kegiatan menarik. Di antaranya adalah webinar, seminar, serta pertandingan Mobile Legend yang terbuka untuk umum dan diikuti dengan antusias.

Ketua pelaksana, Fachri Fatrian Nugraha, menjelaskan bahwa Komfesif bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan wadah pengembangan wawasan dan minat di bidang teknologi. “Acara ini sangat cocok bagi peserta yang menyukai dunia teknologi, terutama game seperti Mobile Legend,” tuturnya.

Lebih jauh, kegiatan ini juga menjadi bentuk kontribusi nyata mahasiswa Teknik Informatika dalam mendukung tumbuhnya potensi generasi muda di bidang teknologi informasi. Fachri berharap, acara ini dapat menjadi sarana edukatif dan inspiratif bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum dalam memahami perkembangan teknologi.

Apresiasi datang dari Ketua Program Studi Teknik Informatika, Ririn Suharsih. Ia menilai bahwa kompetisi game ini tidak hanya seru, tetapi juga dapat melatih kemampuan kerja sama, menyusun strategi, dan sportivitas. “Kita perlu memandang sisi positif dari pertandingan ini karena bermanfaat dalam membentuk karakter,” ujarnya.

Ririn pun berharap, melalui ajang seperti ini, akan lahir bibit-bibit muda berbakat di bidang teknologi. “Semoga momen ini menjadi langkah awal yang baik bagi mahasiswa untuk berkembang sebagai individu yang bertalenta,” katanya.

Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, Arief Yunan, turut mengapresiasi penyelenggaraan Komfesif 2025. Ia menekankan pentingnya membangun jiwa entrepreneur yang islami di tengah era digital.

“Kita harus cerdas menyikapi dampak negatif dan terus mengasah keterampilan, terutama dalam bidang development. Semangat kerja keras adalah kunci agar dari yang zero bisa menjadi hero,” tegasnya.***(FK)

Administrator

Indonesia Harus Kembangkan Inovasi Farmasi Halal Berbasis Hayati Lokal

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Associate Professor International Institute for Halal Research & Training (INHART) Malaysia Nurrulhidayah binti Ahmad Fadzillah menekankan pentingnya inovasi dalam industri farmasi yang tidak hanya memperhatikan efektivitas, tetapi kehalalan dan keberlanjutan lingkungan.

”Lebih dari 25 persen populasi dunia adalah muslim dan ini menciptakan tuntutan tinggi terhadap produk farmasi halal. Namun, lebih dari 99 persen gelatin yang digunakan di dunia saat ini tidak bersertifikasi halal,” jelasnya dalam acara Public Lecture yang digelar oleh Prodi Farmasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung pada Kamis (24/07/2025).

Hal tersebut didasarkan atas tantangan besar yang dihadapi umat Islam global dalam mengakses produk farmasi halal.

”Ini tentu menjadi tantangan besar umat Islam di dunia karena adanya kebergantungan industri terhadap gelatin berbasis babi,” ucap Nurrulhidayah.

Sebagai alternatif, ia memperkenalkan potensi pektin yang diekstrak dari kulit buah naga sebagai bahan kapsul yang halal dan ramah lingkungan.

”Saya bersama tim meneliti bahwa pektin terbukti memiliki tekstur yang setara dengan gelatin komersial,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa pektin memiliki kandungan daya tahan terhadap kondisi lambung yang memungkinkan pelepasan obat secara terarah, terutama untuk terapi kolorektal dan IBS.

”Kami berhasil mengekstraksi pektin dengan tingkat keberhasilan hingga 40 persen. Kandungan kelembapannya rendah sehingga aman disimpan dan tidak mudah rusak,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa pektin nabati sangat efektif dalam menstabilkan senyawa seperti kurkumin dalam sistem pelepasan obat secara terkontrol.

Hal tersebut ia bandingkan dalam konteks pembentukan gel, ketahanan asam lambung, dan bioavailabilitas bahan aktif.

”Pektin bukan hanya halal dan alami, tetapi menawarkan keunggulan dalam efisiensi enkapsulasi dan keberlanjutan lingkungan. Ini adalah masa depan industri farmasi yang lebih etis,” ujarnya dengan tegas.

Melalui penelitian tersebut dirinya mendorong para mahasiswa dan akademisi untuk mengembangkan inovasi serupa di Indonesia.

”Mari kita manfaatkan kekayaan hayati yang melimpah terhadap produk farmasi halal yang belum sepenuhnya terpenuhi untuk kebutuhan lokal,” tandasnya.***(FK)

Administrator