Berita

UM Bandung Tanamkan Nilai Keikhlasan dan Kebersamaan Melalui Kurban

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dalam rangka memperingati Iduladha 1446 Hijriah, Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menyelenggarakan kegiatan penyembelihan hewan kurban.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (06/06/2025) di halaman belakang kampus UM Bandung dengan mengurbankan satu ekor sapi dan dua ekor domba.

Hewan kurban tersebut merupakan titipan dari berbagai pihak, yakni Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat, dosen, dan para donatur.

Menariknya, Polda Jawa Barat telah secara konsisten selama empat tahun berturut-turut menitipkan hewan kurban di UM Bandung.

Penyelenggaraan kegiatan kurban ini melibatkan LPPAIK, Kantor Layanan Lazismu UM Bandung, mahasiswa, dan sivitas akademika kampus.

Semangat gotong royong dan kebersamaan tampak dalam pelaksanaan kegiatan ini, mulai dari proses penyembelihan hingga pendistribusian daging.

Daging hasil penyembelihan kemudian dibagikan kepada mahasiswa, tenaga kependidikan, dan warga yang tinggal di sekitar kampus UM Bandung.

Distribusi ini dilakukan dengan tertib dan menyasar mereka yang membutuhkan, sebagai bentuk kepedulian sosial kampus terhadap lingkungan sekitarnya.

Sekretaris LPPAIK Rovi Husnaini menyampaikan bahwa penyelenggaraan penyembelihan hewan kurban bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mempererat persatuan, menumbuhkan semangat kebersamaan, dan menanamkan nilai kepedulian sosial.

Rovi menambahkan bahwa ibadah kurban bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi mengandung makna mendalam.

Kurban menjadi media untuk berbagi kepada sesama sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS yang mengajarkan nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap orang lain.

Suasana kekeluargaan dan kebersamaan sangat terasa selama kegiatan berlangsung. Terlihat para karyawan, mahasiswa, dan relawan saling bekerja sama dalam proses pemotongan, pengemasan, hingga pembagian daging kurban, mencerminkan nilai gotong royong yang kuat.

Rovi berharap kegiatan kurban di UM Bandung dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang.

Ia menegaskan bahwa melalui kegiatan seperti ini, sivitas kampus dapat semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memperkuat rasa kasih sayang dan solidaritas antar sesama.***(Ozan)

Administrator

Masyarakat Kampung Cibanteng Apresiasi Berkah Kurban PAI UM Bandung

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dalam semangat Iduladha 1446 Hijriah, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bersama Pimpinan Komisariat IMM PAI kembali melaksanakan program tahunan Berkah Kurban PAI.

Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Kamis–Jumat (5–6 Juni 2025), di Kampung Cibanteng, Desa Mandalamekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.

Dengan tema "Satukan Persepsi, Teguhkan Hati", kegiatan ini menjadi wujud nyata kepedulian sosial sivitas akademika PAI.

Selama lima tahun berturut-turut sejak 2021, program ini terus hadir sebagai pengabdian unggulan yang menyentuh masyarakat pelosok yang jarang atau bahkan belum pernah merasakan langsung ibadah kurban.

Dekan Fakultas Agama Islam UM Bandung, Afif Muhammad, mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai amal jariah dan sarana membentuk karakter mahasiswa.

Ia menekankan pentingnya menjaga nama baik almamater melalui aksi-aksi sosial yang tulus. 

Senada, Kaprodi PAI Iim Ibrohim menyebut kegiatan ini mampu menumbuhkan kepekaan sosial dan religius mahasiswa secara nyata.

Dipimpin Ketua Pelaksana DTM Maulana Rifky Annas, sebanyak 39 mahasiswa panitia dan 50 relawan warga bergotong royong menyukseskan kegiatan.

Mereka juga menyelenggarakan kajian interaktif dan lomba mewarnai di MDTA Nurul Hayat yang diikuti 55 anak, sebagai bagian dari edukasi spiritual jelang kurban.

Puncak kegiatan digelar pada Jumat (6 Juni 2025) dengan pelaksanaan salat Iduladha dan penyembelihan dua ekor sapi serta enam ekor kambing.

Hewan kurban berasal dari kontribusi mahasiswa, dosen, dan sponsor, dengan proses penyembelihan sesuai syariat. Suasana haru dan khidmat menyelimuti rangkaian ibadah tersebut.

Sebanyak 450 paket daging dibagikan kepada warga RW 1, RW 4, dan beberapa RT lainnya di Kampung Cibanteng.

Momen ini menjadi bersejarah karena untuk pertama kalinya dalam belasan tahun, warga kembali menikmati kurban sapi secara langsung—disambut dengan antusiasme dan rasa syukur yang mendalam.

Annas mengucapkan terima kasih kepada para donatur dan sponsor seperti belajarriset.id dan Lazismu UM Bandung.

Menurutnya, kegiatan ini membuktikan bahwa sinergi antara kampus dan masyarakat mampu menciptakan perubahan sosial yang penuh keberkahan.

Seorang warga, Nurhayati, menyampaikan harapan agar berkah kurban seperti ini terus hadir di tahun-tahun mendatang.***(Riska)

Administrator

Himtekpa UM Bandung Rayakan Dies Natalis dengan Semangat Ketahanan Pangan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan (Himtekpa) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sukses menggelar perayaan Dies Natalis ke-4 tahun 2025 pada Sabtu (31/05/2025).

Kegiatan ini berlangsung meriah di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga gedung UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, dan mengusung tema “Langkah Kecil di Tanah Basah, Gema Besar untuk Pangan Nusantara.”

Acara tersebut menjadi ajang refleksi sekaligus ekspresi bagi mahasiswa lintas angkatan untuk mempererat kebersamaan dan menggugah kepedulian terhadap isu pangan lokal.

Selain memperingati hari lahir Himtekpa, kegiatan ini juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga ketahanan pangan nasional melalui pelestarian dan inovasi pangan daerah.

Ketua Pelaksana Acara Dzakiya Raina Kamila menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang perayaan.

Namun, menjadi momen penting dalam memperkuat identitas dan nilai-nilai dalam himpunan.

"Dies Natalis ini bukan sekadar selebrasi, tetapi juga untuk menyelaraskan kebudayaan himpunan. Dengan ini diharapkan cerita dalam perjalanan Himpunan Teknologi Pangan akan selalu turun-temurun," ujarnya.

Kegiatan dimulai dengan sambutan dari berbagai pihak, termasuk Ketua Himtekpa, perwakilan BEM, dan pembina Himtekpa.

Momentum pemotongan tumpeng pun dilakukan sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan Himtekpaselama ini.

Rangkaian acara semakin semarak dengan berbagai penampilan seni.Misalnya drama kolaborasi antar angkatan, puisi berantai, hingga pertunjukan bakat dari mahasiswa.

Peserta juga diajak bernostalgia dan mengapresiasi budaya lokal melalui penggunaan kostum bertema pedesaan.

Sebagai penutup, seluruh peserta, dosen, dan panitia menikmati kebersamaan dalam momen makan bersama.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Himtekpa UM Bandung membuktikan bahwa mahasiswa teknologi pangan tidak hanya bergerak di ruang akademik.

Namun, mampu menyalurkan kepedulian dan semangat kolaboratif demi mewujudkan visi besar bagi masa depan pangan Nusantara.***(FK)

Administrator

Prodi dan Hima Akuntansi UM Bandung Kembali Sukses Gelar Olimpiade

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Himpunan Mahasiswa (Hima) Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung kembali sukses menggelar Olimpiade Akuntansi (OPSI) 2025 pada Selasa (03/06/2025).

Kegiatan tahunan ini berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga gedung UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, dengan mengusung tema "Integrity and Innovation: The Pillars of Professional Accountants in a Globalized Economy."

Tahun ini, OPSI diikuti oleh sebelas peserta lomba number one accounting, lima peserta infographic accounting, tujuh tim cerdas cermat, dan empat tim lomba debat.

Ketua Pelaksana OPSI 2025 Anisah Nur Fadhilah menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja rutin Hima Akuntansi.

"Setiap tahun kami selalu mengadakan olimpiade ini secara rutin. Tahun ini peserta berjumlah 49 orang dari berbagai sekolah di Indonesia,” ujarnya.

Anisah juga menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak sekadar lomba, tetapi menjadi sarana belajar bagi peserta termasuk bagi panitia.

"Kami mewadahi mahasiswa untuk belajar berorganisasi dan berdampak langsung kepada siswa-siswi melalui ajang seperti ini,” tambahnya.

Ketua Program Studi Akuntansi UM Bandung Iman Harjono turut menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya OPSI 2025.

Ia menilai kegiatan ini bisa menumbuhkan semangat kompetitif dan memperkenalkan program di Akuntansi kepada generasi muda.

"Pesan saya, teruslah bersemangat untuk berkompetisi. Bukan soal menang atau kalah, tetapi integritas harus dijaga. Jadilah akuntan yang berintegritas agar masa depan kalian gemilang,” ucap Iman.

Ia juga menyoroti bahwa program studi Akuntansi UM Bandung memiliki berbagai fasilitas penunjang, seperti tax center, kegiatan brevet pajak, dan program CPA yang hanya dimiliki oleh tiga kampus di Jawa Barat, termasuk UM Bandung.

"Harapan ini tentu semoga Universitas Muhammadiyah Bandung, lebih khususnya di program studi Akuntansi, bisa menunjang pendidikan di Indonesia, akuntan lebih maju dan lebih berintegritas," terangnya.

Usai pengumuman pemenang, salah satu peserta yang berhasil meraih juara satu dalam lomba debat, Muhammad Daffa Perdana dari SMKN 3 Bandung, mengaku sangat puas dengan pelaksanaan acara olimpiade ini.

Menurut dia, meskipun mendapat tantangan dan persaingan ketat, tetapi acara berjalan dengan sportif.

"Lombanya seru banget, tantangannya juga luar biasa. Lawan-lawannya keren dan penuh data. Pokoknya OPSI keren banget, tahun depan wajib ikut lagi,” ujarnya.

Selain itu, dia juga memuji panitia penyelenggara yang menurutnya sangat informatif dan responsif kepada para peserta.

"Panitianya keren banget, nge-chat di grup langsung dibalas. Salut buat panitianya," tambah Daffa.***(FK)

Administrator

Bedah Buku Haji Fachrodin, IMM Soshum Bersama Saintek UM Bandung Gali Semangat Literasi dan Jurnalisme Islam

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Roni Tabroni mengatakan bahwa Haji Fachrodin adalah sosok luar biasa yang layak mendapat perhatian lebih dalam sejarah literasi dan pers Islam di Indonesia.

Pernyataan ini disampaikan saat acara bedah buku "Haji Fachrodin: Lokomotif Literasi dan Pers Islam" yang digelar oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Sosial dan Humaniora (Soshum) bersama Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) Universitas Muhammadiyah Bandung, Selasa (03/06/2025), di lantai dua kampus UM Bandung.

Menurut Roni, buku tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap minimnya kajian mengenai Haji Fachrodin. Padahal, kata dia, sosok ini memiliki kontribusi besar dalam perkembangan jurnalisme Islam yang mencerahkan masyarakat.

“Fachrodin sangat menginspirasi, tetapi jarang ditulis dan didiskusikan. Hidupnya didedikasikan untuk perjuangan jurnalistik,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa jurnalisme Islam yang diperjuangkan Haji Fachrodin bukan hanya berbicara soal agama, tetapi juga menyentuh isu-isu sosial, kebangsaan, hingga lingkungan.

Oleh karena itu, ia berharap pemikiran Fachrodin dapat terus dibahas dan menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya kader IMM.

Ketua pelaksana, Ariel Raditya, mengatakan acara ini merupakan inisiatif komunitas literasi IMM sebagai upaya memperkuat budaya membaca dan berpikir kritis di kalangan mahasiswa.

“Literasi bukan cuma membaca buku, tapi juga membaca situasi. Kami ingin mahasiswa berani berpikir kritis di tengah budaya instan,” jelasnya.

Meskipun sempat mengalami kendala komunikasi dan keterbatasan panitia, acara tetap berjalan lancar.

Ariel berharap pesan utama dari seminar ini, yakni pentingnya membaca (iqro’) dan berpikir kritis, dapat dipahami dan diamalkan oleh peserta.

Salah satu peserta mengungkapkan bahwa seminar ini membuka pandangannya tentang makna berpikir kritis yang sebenarnya.

Ia menegaskan bahwa berpikir kritis bukan hanya membantah, melainkan memahami, mengkaji, dan merekonstruksi gagasan secara faktual. 

IMM berharap semangat literasi dan jurnalisme yang dicontohkan Haji Fachrodin dapat terus tumbuh di kalangan mahasiswa dan mendorong lahirnya gagasan-gagasan mencerahkan di masa depan.***(Abdul/Himaya/Bewara)

Administrator

Mewujudkan Pendidikan Bermakna Lewat Keteladanan dan Kepedulian Guru

Oleh: Hilmi Shuhaibur Romyi*

PENDIDIKAN adalah usaha sadar dalam mencapai tujuan. Itu berarti pendidikan sebagai alat untuk menyadarkan masyarakat dalam upaya mencapai tujuan setiap kelompok individu.

Masyarakat atau individu tentunya memiliki tujuan yang ingin dicapai. Pendidikan sebagai langkah awal dalam mencapai hal tersebut. Namun, pendidikan bisa didapatkan dari mana saja seperti mengikuti kajian dan lain-lain.

Pada abad ke-21, pendidikan tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan intelektual. Namun, menjadi ruang untuk membentuk karakter, menumbuhkan kreativitas, mendorong kolaborasi, dan meningkatkan kemampuan komunikasi siswa.

Oleh karena itu, tugas pendidik pada era modern saat ini lebih sulit karena tidak hanya menilai dari kognitif, tetapi ranah afektif dan psikomotorik dalam penilaian peserta didik.

Tentu ini menjadi atensi besar untuk instansi pendidikan di Indonesia, terutama bagi guru-guru yang bertanggung jawab atas masa depan muridnya.

Memahami siswa

Pertama, setiap murid memiliki kemampuan yang sesuai dengan kapasitas mereka. Artinya, guru tidak dapat memaksa siswa. Namun, guru harus memahami seberapa jauh murid paham dengan materi-materi yang telah disampaikan.

Dengan cara mengevaluasi melalui tes tulis ataupun lisan untuk melihat secara objektif, apakah siswa tersebut sudah betul-betul memahami atau tidak dengan materi tersebut. Kalau tidak, guru perlu memberikan alternatif pembelajaran bagi siswanya supaya paham dengan apa yang telah disampaikan.

Kemudian tidak semua siswa dapat paham dengan mata pelajaran di kelas. Namun, siswa bisa saja hanya menekuni atau mendalami satu pelajaran. Hal ini menjadi tugas guru untuk senantiasa mengembangkan pemahaman siswa pada mata pelajaran tersebut.

Siswa SMP Muhammadiyah 9 Arcamanik pernah mengikuti wawancara atau observasi yang dilaksanakan  oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bandung.

Ketika siswa tersebut ditanya mata pelajaran apa yang ditekuni, siswa tersebut menjawab bahasa Indonesia. Siswa tersebut senantiasa dibimbing oleh gurunya dengan memberikan tugas khusus dengan membuat cerpen.

Hal ini menjadi contoh bahwa ketika ada satu murid yang potensinya tertuju pada satu mata pelajaran, guru membantu dalam mengembangkan apa yang disukai oleh siswanya. Maka kecerdasan dapat dikembangkan dan dapat dilihat dari seberapa jauh siswa tersebut paham dari mata pelajaran tersebut.

Pembentukan karakter

Kedua, pembentukan karakter sebuah kewajiban setiap lembaga pendidikan atau pendidik. Bahkan pendidikan memiliki peranan penting dalam mengkonstruksi karakter siswa dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Hal ini sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan untuk mengembangkan manusia yang beriman dan bertakwa, memiliki akhlak mulia serta memiliki keterampilan.

Mengapa pembentukan karakter sangat penting? Karena seiring perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, memberikan dampak yang besar dalam kehidupan. Salah satunya dalam penggunaan handphone memiliki dampak positif dan negatif.

Dampak negatif dalam penggunaan handphone dapat mempengaruhi motivasi dan semangat belajar. Tidak sampai situ saja, bahkan dapat mengakibatkan siswa-siswa memiliki mental yang lemah karena terpengaruh oleh tontonan yang tidak senonoh.

Dalam salah satu unggahan akun TikTok Alganova_Indonesia, seorang narasumber mengatakan bahwa gadget tidak membawa kematangan bagi emosional anak. Bahkan terjadinya missing (kehilangan peran orang tua) sehingga emosinya tidak terlatih dengan baik, hal ini mengakibatkan emosi anak atau siswa naik turun.

Maka peran orang tua dan guru dalam pembentukan karakter sangat penting. Untuk membentuk karakter siswa, tentu seorang guru memberikan contoh yang baik terhadap siswanya. Kemudian buat lingkungan kelas dan sekolah menjadi lingkungan yang baik dan memberikan dampak positif bagi siswa dan mengingatkan dengan cara lemah lembut jika mereka berbuat salah.

Memecahkan masalah

Ketiga, proses pembelajaran tidak hanya mentransfer ilmu. Namun, siswa perlu diajarkan bagaimana caranya untuk memecahkan permasalahan. Tentunya instansi pendidikan berperan penting untuk memberikan model atau sistem pembelajaran dalam membangun kreativitas atau keterampilan dalam memecahkan masalah.

Hal ini menjadi penting bagi lembaga pendidikan bahwa siswa juga membutuhkan yang namanya problem solving. Pasalnya pendidikan tidak hanya mengajarkan tentang ilmu pengetahuan dan karakter, tetapi dalam pemecahan masalah pun menjadi bekal untuk masa depan siswa.

Kemudian dalam implementasinya  guru berperan penting dalam pelaksanaan sistem yang sudah dibuat oleh sekolah. Guru juga berperan penting dalam menerapkan model pembelajaran yang relevan dengan kehidupan siswanya.

Inilah yang menjadi atensi bagi lembaga-lembaga pendidikan yang menjadikan kecerdasan sebagai pokok utama dalam pembelajaran. Padahal, kalau kita ingin melihat lebih jauh, setiap siswa memiliki potensinya masing-masing.

*Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam UM Bandung

Administrator