Berita

Hima Ilkom UM Bandung Fokuskan Perjalanan Organisasi pada Akademik dan Isu Sosial

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kepengurusan Himpunan Mahasiswa (Hima) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung periode 2025–2026 resmi dilantik pada Selasa (05/08/2025).

Acara pelantikan yang mengusung tema "Bersuara untuk Bergerak, Berkomunikasi untuk Berdampak" ini digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan.

Pelantikan tersebut dihadiri oleh Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora Irianti Usman, Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi Euis Evi Puspitasari, serta Ketua Hima periode 2024–2025 Rafli Fathur Rahman.

Selain itu, hadir pula perwakilan himpunan mahasiswa universitas, unit kegiatan mahasiswa, dan 51 pengurus baru Hima Ilmu Komunikasi.

Dalam sambutannya, Euis Evi Puspitasari menekankan pentingnya porsi akademik dalam organisasi mahasiswa.

“Hima Ilkom itu tujuh puluh persen di bidang akademik dan tiga puluh persen non-akademik. Diharapkan program kerja yang dibuat bersinergi dengan hal-hal berbau akademik karena kita difokuskan untuk membangun akademik dan citra baik prodi Ilkom,” paparnya.

Ketua Hima terpilih, Raden Hadian Purwa Surasubita, menyampaikan visi menjadikan Hima Ilkom sebagai ruang pengembangan diri dan pusat kolaborasi.

Misi utama yang diusung meliputi penguatan program kerja akademik dan non-akademik, kolaborasi lintas pihak, serta peningkatan kesadaran terhadap isu sosial melalui riset dan kampanye edukatif.

Sebagai program unggulan, Raden memperkenalkan Komklinik sebagai sarana peningkatan kapasitas mahasiswa.

“Komklinik yaitu untuk memperbaiki pengetahuan atau upgrading mahasiswa-mahasiswi Ilmu Komunikasi,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan pesan semangat kepada jajaran pengurus, “Sesuai nama kabinet kita, Bahtera Samudra, kita akan bersama-sama berlayar di antara rintangan yang akan kita lalui. Kita akan mencari ilmu di samudra ini, sehingga saat kita sudah berlabuh di dermaga, kita sudah siap untuk bersaing di era globalisasi.”

Ketua Pelaksana Pelantikan Ilham Nurfadil menambahkan bahwa acara ini menjadi awal resmi masa pengabdian pengurus baru.

“Tema pelantikan kali ini erat kaitannya dengan Ilmu Komunikasi. Karena kita di prodi komunikasi, kita juga dekat dengan yang namanya komunikasi. Kita harus tahu makna dari komunikasi itu, yaitu persuasif atau memengaruhi,” ujarnya.

Ia berharap melalui komunikasi yang efektif, Hima Ilkom dapat memberikan dampak positif ke depan. 

“Jika berbicara tentang bersuara, dalam menggerakkan seseorang itu pasti ada suara, ada perintah, dan sebagainya. Maka, bersuara untuk bergerak dan berkomunikasi untuk berdampak,” tutupnya.***

Administrator

Kriya Tekstil UM Bandung, Tempat Wafa Merajut Masa Depan Kreatif

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Bagi Wafa Ulhaq Ramadania, ruang kelas di Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bukan sekadar tempat menimba ilmu secara teori.

Mahasiswi Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion (KTF) angkatan 2023 ini merasakan bahwa pendidikan sejatinya adalah ruang bebas untuk berekspresi dan mengeksplorasi kreativitas melalui karya. 

Di sinilah ia menemukan cara untuk menjahit mimpi-mimpinya menjadi kenyataan.

Sudah dua tahun menempuh studi di KTF UM Bandung, Wafa tidak hanya belajar teori, tetapi terlibat langsung dalam proses kreatif tekstil melalui pendekatan surface design dan structure design.

Lewat berbagai praktik tersebut, ia memahami bahwa setiap karya kriya bukan hanya soal keindahan visual, tapi juga mengandung nilai fungsional serta kekayaan budaya nusantara yang kuat.

“Setiap teknik yang kami pelajari bisa diaplikasikan dalam berbagai bidang, seperti fashion, interior, home decor, hingga produk tekstil lainnya,” ujar Wafa saat ditemui di kampus UM Bandung pada Kamis (7/8/2025).

Menurutnya, proses belajar ini membuka banyak kesempatan untuk bereksperimen dan menciptakan karya yang bukan hanya estetis, tapi juga bermakna dan punya nilai tersendiri.

Lebih dari sekadar akademik, lingkungan belajar di KTF UM Bandung juga sangat mendukung.

Suasana kolaboratif, keaktifan dosen, dan berbagai kegiatan seni seperti pameran dan workshop menjadi ruang yang mendorong mahasiswa untuk terus tumbuh, berkarya, dan membangun jejaring.

“Ini yang membuat pengalaman kuliah saya jadi sangat berkesan,” tambah Wafa.

Alasan utama Wafa memilih Program Studi KTF adalah karena prospek kariernya yang luas dan terus berkembang seiring industri kreatif.

Menurutnya, eksplorasi di bidang kriya membuka jalan ke berbagai profesi, mulai dari fashion designer, textile designer, craft designer, fashion consultant, hingga creative content dan pendidik.

“Sebagai mahasiswa prodi Kriya Tekstil dan Fashion, saya punya harapan besar untuk menjadi desainer kreatif yang mandiri dan bisa bersaing di industri modern,” ungkapnya penuh semangat.

Baginya, kuliah di KTF UM Bandung bukan hanya soal meraih gelar, melainkan membentuk karakter sebagai kreator yang memiliki identitas kuat dan menghargai nilai budaya.

Bagi Wafa, belajar di KTF UM Bandung merupakan perjalanan seru penuh diskusi, eksplorasi, dan kolaborasi dengan teman-teman yang sama-sama mencintai dunia desain.

“Kalau kamu punya passion di bidang desain, tekstil, dan ingin memperkaya budaya lewat karya kreatif modern, yuk mulai perjalananmu di program studi KTF UM Bandung,” ajaknya.

Wafa tidak sekadar mengincar selembar ijazah, tetapi dia sedang membentuk dirinya menjadi seorang kreatif.

Dia sedang menenun jati diri, mimpi, dan cinta terhadap budaya Indonesia yang dituangkan dalam karya nyata yang sangat menggugah.***

Administrator

Laksanakan KKN, Ribuan Mahasiswa UM Bandung Siap Bangun Masyarakat Berdaya

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Sebanyak 1.204 mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung resmi dilepas untuk mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada Rabu (6/8/2025). Upacara pelepasan berlangsung khidmat di Lapangan Parkir Utama Kampus UM Bandung.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman hadir langsung melepas peserta KKN, didampingi oleh Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto, Ketua BPH Dadang Kahmad, Ketua PWM Jabar Ahmad Dahlan, dan Kepala LPPM Ijang Faisal. Turut hadir pula para Wakil Rektor, Dekan, dan Ketua Program Studi.

Dalam sambutannya, Herman menyampaikan apresiasi dan semangat kepada para mahasiswa yang akan mengabdi ke masyarakat. Ia menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen edukasi dan perubahan sosial.

Herman juga menyatakan bahwa Pemprov Jawa Barat membuka ruang kolaborasi dengan UM Bandung sebagai mitra strategis pembangunan. Hal ini sejalan dengan visi “Jabar Istimewa” yang inklusif dan berkelanjutan.

Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menyebut KKN sebagai bagian dari komitmen kampus mencetak lulusan yang berkarakter dan peduli masyarakat. Ia menyebut KKN sebagai wadah integrasi akademik dan transformasi sosial.

Sementara itu, Kepala LPPM Ijang Faisal menjelaskan bahwa KKN tahun ini difokuskan di wilayah Bandung Raya, seperti Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, dan Sumedang. Wilayah tersebut dipilih sebagai ruang nyata pemberdayaan masyarakat yang kolaboratif.

Program KKN mencakup edukasi lingkungan, ekonomi kerakyatan, ketahanan pangan, dan layanan sosial. UM Bandung berharap KKN ini menjadi kontribusi nyata kampus dalam membangun masyarakat yang lebih mandiri dan berdaya.***

Administrator

UM Bandung Ajak UMKM Terapkan Etika Bisnis dan Dakwah Humanis

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Yudi Haryadi, menekankan pentingnya menjalankan bisnis secara etis dan bertanggung jawab berdasarkan nilai-nilai Islam.

Pesan tersebut ia sampaikan dalam kajian Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat yang digelar belum lama ini. Menurutnya, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang etika bisnis serta tanggung jawab sosial yang harus diemban pelaku usaha.

Dalam pemaparannya, Yudi menyoroti sejumlah praktik pelanggaran etika yang kerap terjadi di masyarakat, seperti manipulasi takaran di pom bensin mini, penipuan harga di pasar, hingga label halal yang tidak transparan.

Ia menegaskan bahwa semua tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip dasar Islam yang menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, dan integritas dalam berbisnis.

Yudi mengingatkan bahwa pelaku usaha harus menjunjung tinggi transparansi dan kepatuhan terhadap hukum, serta tidak mengabaikan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat dan lingkungan.

Menurutnya, bisnis yang berkelanjutan bukan hanya soal laba, melainkan tentang menciptakan keseimbangan antara keuntungan ekonomi, kemaslahatan sosial, dan kelestarian lingkungan.

Lebih lanjut, Yudi menegaskan bahwa dalam Islam, bisnis merupakan bagian dari ibadah. Oleh karena itu, orientasi utama seorang pengusaha seharusnya adalah mencari keridaan Allah, bukan semata-mata mengejar keuntungan materi.

Ia pun mengajak para pelaku usaha untuk menanamkan nilai-nilai spiritual dalam praktik bisnis mereka agar mendapatkan keberkahan.

Menghadapi tantangan era digital, Yudi juga menekankan pentingnya penguasaan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan penguatan pendidikan kewirausahaan yang berbasis nilai-nilai Islam.

Ia menambahkan bahwa pendekatan dakwah yang humanis perlu dikembangkan untuk membangun kesadaran etika bisnis di kalangan pelaku UMKM dan masyarakat secara umum.

Dalam penutupnya, Yudi menggarisbawahi pentingnya pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai bagian dari spiritualitas pengusaha muslim. CSR tidak boleh hanya menjadi kewajiban administratif, tetapi harus menyentuh pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Ia berharap pelaku usaha Muhammadiyah mampu menginternalisasi prinsip-prinsip etika bisnis Islam sehingga mampu memberi manfaat luas bagi umat dan menciptakan bisnis yang profesional, adil, serta berkelanjutan.***(FA)

Administrator

Bahasa Bukan Halangan, Sulfa Asal Thailand Nyaman Kuliah di UM Bandung

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Keinginan Sulfa Hayeeyusoh untuk menempuh pendidikan tinggi di Indonesia sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMA.

Ia mulai mencari informasi kampus yang memiliki jurusan Farmasi, dan pilihannya jatuh pada Kota Bandung karena selain dikenal sebagai kota pelajar, sang kakak pun sudah lebih dulu kuliah di sana.

Sulfa berasal dari Patani, Thailand Selatan, dan pilihannya berlabuh di Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung.

Ia mengaku nyaman kuliah di kampus ini karena suasananya hangat, teman-temannya ramah, dan dosen-dosennya sangat mendukung proses belajarnya.

”Saya mencari kampus di Bandung yang memiliki jurusan Farmasi dan akhirnya memilih UM Bandung karena fasilitasnya lengkap dan kualitasnya bagus,” ungkap Sulfa di UM Bandung pada Kamis (14/08/2025).

Selain itu, ia juga menyambut baik kabar bahwa Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) di UM Bandung sedang dalam proses perizinan untuk membuka penerimaan mahasiswa baru. Pasalnya ia berencana akan melanjutkan studi PSPPA.

Komitmen Sulfa terhadap pendidikannya begitu kuat. Ia memutuskan untuk belum pulang ke kampung halamannya sebelum menyelesaikan studi hingga ke jenjang profesi apoteker.

”Saya pulang ke Thailand nanti setelah lulus dari UM Bandung,” tuturnya.

Meskipun bukan penutur asli bahasa Indonesia, Sulfa tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam mengikuti perkuliahan. Menurutnya, bahasa Indonesia tidak jauh berbeda dengan bahasa Melayu yang digunakan sehari-hari di daerah asalnya di Thailand.

”Alhamdulillah saya kerasan kuliah di sini. Nanti pulangnya pas saya lulus dari UM Bandung dan meniti karier di Thailand,” katanya.

Selain kuliah, Sulfa juga aktif menikmati hari-harinya di Bandung. Ia sering mengisi waktu luang dengan jalan-jalan.

Termasuk mendaki gunung dan bergabung dalam berbagai kegiatan komunitas mahasiswa. Ia mencoba menyeimbangkan akademik dan kehidupan sosial.

Sulfa merupakan mahasiswa pertama dari Thailand yang kuliah di UM Bandung, sebuah pencapaian tersendiri yang menunjukkan bahwa kampus ini makin dikenal secara internasional.

Sejak berdiri pada 2016, UM Bandung terus berkembang menjadi kampus Muhammadiyah unggulan dengan 18 program studi di empat fakultas, termasuk program pascasarjana Manajemen yang menawarkan berbagai konsentrasi pilihan.***(FA)

Administrator

Sebanyak 1.204 Mahasiswa UM Bandung Siap Terjun Kembangkan Desa Lewat KKN

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menyelenggarakan Pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2025 pada 1.204 Mahasiswa pada Sabtu, 2 Agustus 2025, bertempat di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung.

Acara diawali dengan sambutan oleh Kepala LPPM UM Bandung Ijang Faisal yang menyampaikan pentingnya KKN sebagai implementasi tri dharma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada pemberdayaan dan pembangunan desa.

Kegiatan ini menghadirkan Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto sebagai keynote speaker sekaligus membuka acara. Dalam paparannya berjudul ”Kontribusi UM Bandung dalam Mendukung Desa yang Inovatif, Mandiri, Berkelanjutan, dan Berkemajuan (CEMARA)”, Rektor menekankan bahwa KKN menjadi ajang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu dan keterampilan yang diperoleh di kampus guna memberikan solusi nyata bagi masyarakat desa.

Selain keynote speech dari Rektor UM Bandung, acara ini juga menghadirkan narasumber dari berbagai bidang.

Di antaranya Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat R Vini Adiani Dewi yang menyoroti peran aktif mahasiswa dalam meningkatkan daya saing kesehatan di Jawa Barat, khususnya pencegahan stunting.

Lalu ada Sekretaris Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Barat Tatang Suryana yang menyampaikan strategi peningkatan daya saing UMKM dan koperasi.

Termasuk peran mahasiswa dalam mendorong pembenahan Koperasi Desa Merah Putih sebagai bagian dari penguatan ekonomi lokal.

Kemudian Kepala LPP AIK UM Bandung Dikdik Dahlan Lukman yang menegaskan penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) sebagai ciri khas Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) sehingga mahasiswa KKN dapat menjadi teladan dalam nilai-nilai keislaman yang berkemajuan.

Melalui pembekalan ini, LPPM UM Bandung berharap para mahasiswa peserta KKN memiliki pemahaman yang utuh tentang peran strategisnya sebagai agen perubahan.

Mereka diharapkan mampu mendorong desa-desa binaan menjadi lebih inovatif, mandiri, dan berkelanjutan melalui kontribusi nyata di bidang kesehatan, UMKM, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan nilai-nilai AIK.***

Administrator