Berita

AIK Perkuat Kemandirian Paradigma Keilmuan Kampus Muhammadiyah

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Zamah Sari MAg menegaskan bahwa Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) merupakan fondasi utama dalam penyelenggaraan pendidikan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA).

Hal tersebut disampaikannya saat membuka Seminar dan Workshop Kurikulum Akademik bertema “Transformasi Kurikulum & Pembelajaran Nyata Al-Islam Kemuhammadiyahan: Rekonstruksi Epistemologis dari Teks ke Konteks” yang diselenggarakan oleh LPPAIK di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Selasa (10/02/2026).

Menurut Zamah, AIK tidak sekadar menjadi pelengkap kurikulum, tetapi merupakan alasan mendasar berdirinya perguruan tinggi Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa ratusan kampus Muhammadiyah berdiri dengan landasan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai identitas utama.

Ia menambahkan, implementasi AIK juga telah diterapkan di sejumlah kampus Muhammadiyah di luar negeri, yang menunjukkan bahwa nilai tersebut menjadi identitas global pendidikan Muhammadiyah.

Zamah menjelaskan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki dua fungsi utama, yakni sebagai pusat keunggulan sekaligus kekuatan penggerak inovasi. Dakwah dan tajdid, termasuk pengembangan inovasi keilmuan, menurutnya merupakan tanggung jawab yang melekat pada PTMA.

Karena itu, kampus Muhammadiyah, termasuk UM Bandung, tidak boleh sekadar mengikuti arus pengembangan pendidikan global. Perguruan tinggi Muhammadiyah harus membangun tradisi keilmuan yang berakar pada epistemologi Islam agar tetap memiliki kemandirian paradigma keilmuan.

Ia menilai AIK memiliki peran penting dalam menjaga arah pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di lingkungan PTMA agar tetap mencerminkan nilai-nilai Islam sekaligus relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Lebih lanjut, Zamah menegaskan bahwa internalisasi AIK tidak hanya menjadi tanggung jawab mahasiswa, tetapi harus dimulai dari pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan. Setiap mata kuliah, menurutnya, memiliki tanggung jawab mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam proses pembelajaran.

Melalui penguatan AIK sebagai ruh pendidikan tinggi Muhammadiyah, UM Bandung diharapkan mampu melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, memiliki integritas keislaman yang kuat, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.***(FA)

Administrator

LPPAIK UM Bandung Perkuat Rekonstruksi Kurikulum AIK dari Teks ke Konteks

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung melalui Lembaga Pengembangan dan Pengkajian Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) menggelar Seminar dan Workshop Kurikulum Akademik bertema “Transformasi Kurikulum & Pembelajaran Nyata Al-Islam Kemuhammadiyahan: Rekonstruksi Epistemologis dari Teks ke Konteks” pada Selasa (10/02/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan ini menghadirkan dua narasumber dari Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yakni Prof Dr Sutrisno MAg dan Prof Dr Suyadi MPdI.

Kepala LPPAIK UM Bandung Dr Dikdik Dahlan Lukman MHum menjelaskan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki karakter khas yang membedakannya dari kampus lain di Indonesia.

Karena itu, nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) harus menjadi ruh dalam setiap aktivitas pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan karyawan. 

“Rekonstruksi kurikulum menjadi langkah penting agar AIK semakin terintegrasi dalam seluruh mata kuliah,” ujarnya.

Ia menambahkan, integrasi tersebut diharapkan mampu mendukung visi UM Bandung sebagai islamic technopreneurial university, sekaligus melahirkan lulusan yang mandiri, terampil, melek teknologi, dan mampu bersaing di tingkat global tanpa meninggalkan fondasi keagamaan dan kebangsaan.

Pembaruan kurikulum juga dipandang penting mengingat kurikulum yang ada telah berjalan hampir satu dekade sehingga perlu ditinjau kembali agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Melalui seminar dan workshop ini, UM Bandung menargetkan implementasi AIK dapat memberikan dampak nyata bagi mahasiswa, terutama dalam penguatan kemampuan dasar keagamaan seperti baca tulis Al-Qur’an dan pembiasaan ibadah praktis.

Kampus juga berkomitmen merekonstruksi kurikulum sekaligus memperkuat penerapan nilai-nilai AIK dalam seluruh aspek kehidupan kampus agar pendidikan tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga membentuk karakter religius dan integritas mahasiswa secara berkelanjutan.

Narasumber pertama, Prof Sutrisno, menekankan bahwa internalisasi pendidikan holistik berkarakter menjadi fokus utama penguatan kurikulum AIK di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA).

Menurutnya, AIK harus diposisikan tidak hanya sebagai mata kuliah, tetapi sebagai nilai hidup yang menjiwai seluruh aktivitas akademik dan budaya kampus. 

Implementasi penguatan tersebut dilakukan melalui integrasi kurikulum, pembinaan karakter mahasiswa, serta keterlibatan seluruh sivitas akademika.

Ia juga menjelaskan bahwa penguatan kurikulum AIK dapat dikembangkan melalui pendekatan Outcome Based Education (OBE) dan Project Based Education (PBE) yang menekankan pembelajaran integratif, kontekstual, dan berorientasi pada pembentukan karakter.

Program mentoring AIK, Baitul Arqam, pembiasaan ibadah, serta pengembangan budaya kampus islami menjadi bagian dari strategi internalisasi nilai-nilai tersebut agar PTMA mampu melahirkan lulusan unggul sekaligus berkarakter Islam Berkemajuan.

Sementara itu, Prof Suyadi menegaskan bahwa transformasi kurikulum AIK di PTMA menuntut integrasi dan interkoneksi keilmuan sebagai sebuah keniscayaan.

Paradigma ini berkembang dari konsep islamisasi sains dan saintifikasi Islam menuju integrasi keilmuan yang menempatkan nilai-nilai Islam sebagai fondasi pengembangan ilmu pengetahuan modern. 

Implementasinya dilakukan melalui penyusunan pedoman integrasi keilmuan, pelatihan dosen, serta penyusunan peta jalan kurikulum yang memastikan setiap mata kuliah memuat dimensi integratif antara AIK dan disiplin ilmu masing-masing program studi.

Menurutnya, integrasi tersebut tidak berhenti pada kurikulum, tetapi juga diwujudkan dalam penelitian, publikasi ilmiah, penerbitan buku integratif, serta pengembangan program riset dan pengabdian masyarakat yang berdampak.

Mata kuliah seperti Islam, sains, dan teknologi menjadi contoh konkret integrasi AIK dengan keilmuan program studi sekaligus mendorong keterlibatan mahasiswa dalam riset dan program kampus berdampak, sehingga PTMA diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi keilmuan modern sekaligus berlandaskan nilai-nilai Islam yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.***

Administrator

PKM Psikologi UM Bandung Dorong Kemandirian Perempuan Nasyiatul Aisyiyah

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sukses menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) pada Sabtu (07/02/2026). Kegiatan tersebut dilaksanakan di lantai dua Gedung UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752.

PKM ini diikuti oleh anggota Pimpinan Cabang dan Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiyah (NA) se-Kota Bandung. Seluruh peserta terlihat antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang difokuskan pada peningkatan kesiapan perempuan dalam memasuki dunia kerja.

Ketua Pelaksana Kegiatan Tasya Augustiya menjelaskan bahwa kegiatan PKM ini merupakan realisasi dari dana hibah yang diperoleh dari Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui program RisetMu batch ke-9.

“Alhamdulillah, beberapa waktu lalu kami mendapatkan dana hibah dari Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui RisetMu batch ke-9,” ujar Tasya di sela-sela kegiatan.

Ia menambahkan, kegiatan yang dilaksanakan bekerja sama dengan Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kota Bandung tersebut bertujuan membekali perempuan NA agar lebih siap dalam melamar pekerjaan yang sesuai dengan minat dan potensi masing-masing.

Menurut Tasya, tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan di Indonesia masih relatif rendah. Oleh karena itu, melalui kegiatan ini pihaknya berupaya mendorong kader Nasyiatul Aisyiyah agar menjadi lebih mandiri dan percaya diri, terutama dalam proses mencari maupun melamar pekerjaan.

Dalam pelaksanaannya, para peserta mendapatkan berbagai materi penting, mulai dari pelatihan wawancara kerja, pengenalan potensi diri, hingga arahan pengembangan karier. Metode yang digunakan juga bersifat interaktif melalui diskusi, simulasi wawancara, serta pelatihan penulisan curriculum vitae (CV).

Melalui pelatihan tersebut, Tasya berharap perempuan di lingkungan Nasyiatul Aisyiyah dapat memiliki keyakinan diri yang kuat dalam meraih pekerjaan impian. Ia juga menekankan bahwa perempuan tidak harus terpaku pada pekerjaan formal di perusahaan semata.

Menurutnya, perempuan memiliki fleksibilitas yang luas dalam menentukan dan mengembangkan karier, baik di sektor formal maupun nonformal, sesuai dengan kemampuan serta pilihan hidup masing-masing.

Sementara itu, Ketua PDNA Kota Bandung Febriyani Nuril Akmaliyah menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan PKM tersebut. Ia menilai program ini sangat bermanfaat bagi perempuan Nasyiatul Aisyiyah di Kota Bandung, khususnya mereka yang berada pada usia produktif dan sedang mempersiapkan masa depan karier.

Febriyani berharap para peserta dapat memperoleh pekerjaan yang ideal dan sesuai dengan keterampilan di bidang masing-masing. “Mudah-mudahan pekerjaan yang dijalani ke depan tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga memberikan manfaat bagi orang banyak,” pungkasnya.***(FK)

Administrator

Tarhib Ramadhan 1447 Hijriah, UM Bandung Perkuat Spirit Akademik dan Spiritual

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung melalui Lembaga Pengembangan dan Pengkajian Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) bekerja sama dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat menggelar kegiatan Tarhib Ramadhan 1447 Hijriah di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Sabtu (7/2/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi UM Bandung dalam menyambut bulan suci Ramadhan, sekaligus memperkuat nilai keislaman, keilmuan, dan kemuhammadiyahan di lingkungan sivitas akademika.

Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menyampaikan apresiasi kepada Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agung Danarto yang berkenan hadir di tengah padatnya agenda Persyarikatan untuk memberikan ceramah dalam kegiatan tersebut. Ia berharap kehadiran Agung Danarto membawa keberkahan serta memperkuat semangat kebersamaan dalam menyambut Ramadhan.

Dalam sambutannya, Herry menegaskan bahwa Ramadhan tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai rutinitas ibadah tahunan. Menurutnya, bulan suci ini harus dimaknai sebagai momentum refleksi diri untuk meningkatkan kualitas ibadah, akhlak, serta integrasi nilai keilmuan, keislaman, dan kemuhammadiyahan dalam aktivitas akademik maupun nonakademik.

Sementara itu, Ketua PWM Jawa Barat Ahmad Dahlan memaparkan arah kebijakan dan program strategis Muhammadiyah tahun 2026. Ia mengajak seluruh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA), serta pondok pesantren di berbagai daerah untuk berperan aktif dalam percepatan pelaksanaan program Persyarikatan.

Selain itu, PWM Jawa Barat menargetkan seluruh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Barat telah memiliki Baitul Tanwil Muhammadiyah (BTM) sebagai indikator kemandirian dan penguatan ekonomi Persyarikatan. Pada 2027, PDM juga diharapkan memiliki dana abadi yang proses pengembangannya akan didampingi oleh Lazismu dan BTM.

Melalui kegiatan Tarhib Ramadhan 1447 Hijriah ini, UM Bandung berharap semangat menyambut bulan suci Ramadhan dapat semakin memperkuat spiritualitas sivitas akademika sekaligus mendorong kontribusi nyata perguruan tinggi Muhammadiyah dalam pembangunan umat dan masyarakat.***

Administrator

Sinergi Antar Amal Usaha Muhammadiyah Kunci Kemajuan Persyarikatan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agung Danarto menyampaikan tausiah dalam kegiatan Tarhib Ramadhan 1447 Hijriah yang digelar di Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Sabtu (07/02/2026).

Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak sivitas akademika UM Bandung serta warga Muhammadiyah untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dengan kesiapan spiritual yang lebih mendalam.

Agung menekankan bahwa Ramadhan perlu dimaknai secara istimewa sebagai momentum memperkuat nilai kejujuran, kesabaran, dan ukhuwah. Menurutnya, bulan suci tidak seharusnya dipandang sebagai rutinitas tahunan semata, melainkan sebagai kesempatan memperbaiki kualitas diri dan meningkatkan kedekatan dengan Allah SWT.

Ia juga menegaskan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah, termasuk UM Bandung, sebagai bagian dari gerakan dakwah Persyarikatan harus terus didorong menjadi kampus unggul. Keunggulan tersebut tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kontribusi nyata dalam memajukan umat dan masyarakat.

Untuk mewujudkan hal itu, Agung menilai diperlukan semangat kebersamaan dan kolaborasi yang kuat di antara seluruh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Ia mengingatkan agar tidak terjadi persaingan yang saling melemahkan, melainkan membangun budaya saling mendukung, mempromosikan, dan bekerja sama demi kemajuan bersama.

Menurutnya, kegiatan Tarhib Ramadhan memiliki peran penting sebagai sarana membangun kesadaran spiritual sekaligus menyiapkan diri menyambut bulan suci dengan penuh kegembiraan. Ramadhan, lanjutnya, harus diperlakukan sebagai anugerah yang patut disyukuri, bukan dianggap sebagai beban.

Agung menjelaskan bahwa ibadah puasa merupakan sarana pendidikan kejujuran yang sangat kuat, karena pelaksanaannya hanya diketahui oleh diri sendiri dan Allah SWT. Nilai kejujuran tersebut, katanya, menjadi fondasi penting dalam membangun integritas pribadi maupun kelembagaan.

Ia juga mengingatkan bahwa berbagai persoalan bangsa kerap berakar dari lemahnya integritas dan kejujuran. Oleh karena itu, nilai-nilai yang dilatih selama Ramadhan perlu terus dijaga dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia organisasi dan pekerjaan.

Selain kejujuran, Agung menyoroti pentingnya kesabaran dalam menjalankan amanah, terutama dalam dinamika organisasi yang sering diwarnai perbedaan pandangan dan tingkat komitmen. Sikap sabar, menurutnya, menjadi kunci agar tujuan bersama tetap dapat dicapai secara harmonis.

Lebih jauh, ia menyampaikan bahwa Muhammadiyah terus mendorong penguatan ekonomi umat melalui pengembangan berbagai unit usaha, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus memperluas manfaat bagi masyarakat.

Menutup tausiahnya, Agung menegaskan bahwa Ramadhan merupakan momentum terbaik untuk memperkuat spiritualitas, memperdalam pemahaman Al-Qur’an, serta meneguhkan kembali komitmen Muhammadiyah untuk berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah dalam membangun umat yang maju, berkeadaban, dan berintegritas.***

Administrator

Etika dan Akhlak Jadi Penopang Kebebasan Akademik Mahasiswa UM Bandung

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Herry Suhardiyanto menegaskan bahwa kebebasan akademik mahasiswa harus dijalankan secara bertanggung jawab dan berlandaskan etika serta moral. Kebebasan tersebut, menurutnya, tidak dapat dimaknai secara sembarangan tanpa batasan nilai.

Penegasan itu disampaikan Herry saat mengisi Expo dan Kuliah Umum yang digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung, Jumat (06/02/2026). Kegiatan tersebut diikuti antusias oleh lebih dari seribu mahasiswa dari berbagai program studi.

Dalam pemaparannya, Herry menjelaskan bahwa mahasiswa merupakan insan akademik yang memiliki peran strategis sebagai pencari ilmu, agen perubahan, sekaligus calon pemimpin masa depan. Oleh karena itu, setiap sikap dan perilaku mahasiswa akan menjadi cerminan kualitas pribadi sekaligus nama baik institusi.

“Mahasiswa bukan hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga membawa identitas kampus dan Muhammadiyah di mana pun berada,” ujar Herry. Ia menekankan pentingnya kesadaran mahasiswa terhadap peran tersebut dalam kehidupan akademik maupun sosial.

Rektor menegaskan bahwa etika merupakan fondasi utama dalam dunia akademik. Etika berfungsi sebagai pedoman agar kebebasan berpikir dan berekspresi tetap berada dalam koridor nilai-nilai kebaikan. “Kecerdasan intelektual tanpa etika akan kehilangan makna. Ilmu harus dibangun di atas akhlak,” tegasnya.

Menurut Herry, etika mahasiswa tercermin dalam perilaku sehari-hari, seperti kejujuran dalam ujian dan tugas, kedisiplinan mengikuti perkuliahan, serta kesantunan dalam berkomunikasi dengan dosen dan tenaga kependidikan. Hal-hal tersebut dinilainya sebagai bagian penting dari pembentukan karakter akademik.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kebebasan akademik bukanlah kebebasan tanpa batas. Mahasiswa memang memiliki hak untuk berdiskusi, bertanya, dan menyampaikan pendapat, namun semua itu harus tetap berada dalam koridor hukum, norma, dan nilai agama. “Kebebasan akademik tidak boleh disalahartikan sebagai kebebasan untuk bersikap tidak sopan atau melanggar aturan,” katanya.

Herry juga menyoroti fenomena penyalahgunaan media sosial yang kerap mengatasnamakan kebebasan akademik. Ia mengingatkan mahasiswa agar tetap menjaga etika di ruang digital, karena setiap unggahan tetap melekat pada identitas akademik yang bersangkutan.

Sebagai mahasiswa Muhammadiyah, Herry menegaskan adanya tanggung jawab moral yang lebih luas. Nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, seperti kejujuran, kedisiplinan, dan akhlakul karimah, harus menjadi landasan dalam bersikap. “Mahasiswa Muhammadiyah harus tampil sebagai teladan, tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara moral,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa UM Bandung telah memiliki kode etik mahasiswa yang mengatur perilaku akademik maupun nonakademik. Pelanggaran serius, seperti plagiarisme, kekerasan, dan pelecehan, akan ditindak tegas sebagai upaya menjaga marwah akademik kampus. “Aturan dibuat bukan untuk mengekang, tetapi untuk membentuk karakter,” jelasnya.

Menutup materinya, Rektor UM Bandung mengajak mahasiswa untuk menyeimbangkan kebebasan berpikir dengan tanggung jawab moral. Ia berharap mahasiswa UM Bandung mampu menjadi insan akademik yang kritis, santun, dan berintegritas. “Kebebasan akademik adalah hak, tetapi etika dan tanggung jawab adalah kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan,” pungkasnya.

Kegiatan ini untuk pertama kalinya digelar dalam format kuliah umum bertema “Etika Perilaku Mahasiswa: Antara Kebebasan Akademik dan Tanggung Jawab Moral”. Program tersebut menjadi upaya edukatif dan reflektif untuk menanamkan pemahaman komprehensif kepada mahasiswa tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kebebasan akademik dan tanggung jawab moral dalam kehidupan kampus.***

Administrator