Berita

Ekonomi Sirkular Berbasis Syariah Jadi Solusi Darurat Sampah dan Pemberdayaan Mustahik

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Prodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Molly Mustikasari menilai konsep ekonomi sirkular berbasis syariah dapat menjadi solusi strategis dalam mengatasi persoalan lingkungan sekaligus memberdayakan mustahik secara berkelanjutan.

Melalui pendekatan tersebut, sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi dan mampu membuka peluang usaha produktif.

Pandangan tersebut disampaikan Molly saat menjadi narasumber dalam kajian Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Barat pada Rabu (24/06/2026).

Pada kesempatan itu, ia membawakan materi bertajuk "Ekonomi Sirkular dalam Pemberdayaan Mustahik", yang mengulas sinergi antara pengelolaan sampah, ekonomi syariah, dan pemberdayaan masyarakat.

Menurut Molly, persoalan sampah saat ini telah berkembang menjadi darurat ekologis.

Meningkatnya pola konsumsi masyarakat yang didominasi penggunaan produk sekali pakai menyebabkan volume sampah terus bertambah setiap tahun. 

Kondisi tersebut, kata dia, menjadi ancaman serius bagi kualitas lingkungan apabila tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan yang baik.

"Data menunjukkan volume sampah nasional terus meningkat. Bahkan, masih ada jutaan ton sampah yang belum terkelola setiap tahunnya. Kondisi ini mengancam kualitas tanah, air, dan udara apabila tidak ditangani secara serius," ujarnya.

Ia mengungkapkan, komposisi sampah nasional masih didominasi sisa makanan sebesar 40,77 persen, sedangkan di Jawa Barat sampah rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dengan persentase mencapai 59,05 persen.

Oleh karena itu, ia menekankan bahwa perubahan harus dimulai dari tingkat rumah tangga melalui kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya.

Lebih lanjut, Molly menjelaskan bahwa ekonomi sirkular merupakan model ekonomi yang mengubah pola linear "ambil-gunakan-buang" menjadi sistem yang memanfaatkan kembali barang agar memiliki nilai ekonomi baru.

Menurutnya, barang yang dianggap tidak berguna masih dapat diperbaiki, digunakan kembali, atau didaur ulang sehingga memberikan manfaat yang lebih besar.

"Tempat sampah bukanlah akhir dari sebuah barang, melainkan awal dari siklus baru yang dapat menghasilkan manfaat ekonomi," katanya.

Dalam penerapannya, ekonomi sirkular dijalankan melalui prinsip 5R, yakni reduce, reuse, recycle, recover, dan regenerate.

Molly menegaskan, konsep tersebut selaras dengan nilai-nilai Islam yang melarang perilaku israf atau pemborosan, mengajarkan manusia sebagai khalifah fil ardh untuk menjaga bumi, serta mendukung terwujudnya maqasid syariah dalam menjaga kemaslahatan kehidupan.

"Ketika kita mengurangi pemborosan, mengelola sampah, dan menjaga lingkungan, sesungguhnya kita sedang menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi sekaligus mewujudkan kemaslahatan sebagaimana tujuan syariah," jelasnya.

Molly juga memaparkan bahwa sampah organik dapat diolah menjadi kompos, pupuk organik, biogas, maupun budi daya magot (Black Soldier Fly) yang bernilai ekonomi.

Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik, botol, dan kardus dapat didaur ulang menjadi berbagai produk kreatif yang memiliki nilai jual.

Menurutnya, potensi tersebut dapat menjadi instrumen pemberdayaan mustahik melalui pemanfaatan zakat secara produktif.

Ia menjelaskan, model pemberdayaan tersebut mengombinasikan zakat konsumtif untuk memenuhi kebutuhan hidup peserta selama masa pelatihan dengan zakat produktif sebagai modal penyediaan berbagai sarana usaha.

Program itu dilaksanakan melalui konsep learning while earning, sehingga peserta memperoleh keterampilan sekaligus penghasilan.

Selain kemampuan mengelola sampah, mereka juga dibekali pengetahuan tentang pemasaran, pencatatan keuangan, dan pengelolaan usaha agar mampu mandiri secara ekonomi.

Menurut Molly, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat edukasi, pendampingan, riset, dan pengembangan model bisnis berbasis ekonomi sirkular.

Oleh sebab itu, UM Bandung turut menginisiasi komunitas pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat sebagai upaya membangun ekosistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Ia berharap program tersebut tidak hanya mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Namun, membuka lapangan kerja produktif dan mendorong mustahik bertransformasi menjadi muzaki. 

"Tujuan akhirnya bukan sekadar mengelola sampah, tetapi mengubah paradigma masyarakat bahwa sampah adalah sumber berkah. Dari sesuatu yang dianggap tidak bernilai, lahir peluang usaha, lapangan pekerjaan, dan kemandirian ekonomi bagi mustahik," pungkasnya.

Administrator

Hadapi Tantangan Era Digital, FAI UM Bandung dan GSM Bangun Ekosistem Dakwah Berkualitas

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Fakultas Agama Islam (FAI) UM Bandung memperkuat komitmennya dalam pengembangan dakwah Islam berkemajuan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Barat dan Gerakan Subuh Mengaji (GSM) pada Rabu (24/06/2026).

Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam mengintegrasikan peran perguruan tinggi dengan gerakan dakwah masyarakat. Selain memperluas implementasi catur dharma perguruan tinggi, kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman, khususnya di era digital.

Melalui kesepakatan ini, dosen-dosen FAI UM Bandung akan berperan sebagai narasumber dalam berbagai program yang diselenggarakan GSM. Sementara itu, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UM Bandung juga akan menempatkan mahasiswa magang di GSM pada Oktober hingga Desember 2026 sebagai bentuk implementasi kerja sama yang lebih konkret.

Dekan FAI UM Bandung Afif Muhammad mengatakan, sinergi antara GSM dan FAI memiliki nilai strategis dalam mendukung pemetaan dakwah Islam Muhammadiyah berkemajuan.

Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya memperkuat ketersediaan narasumber yang kompeten. Namun, menjadi sarana implementasi catur dharma perguruan tinggi yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

“Kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan dakwah yang lebih terstruktur, berkualitas, dan berdampak luas. Kampus memiliki sumber daya akademik yang dapat disinergikan dengan gerakan dakwah masyarakat untuk menghasilkan manfaat yang lebih besar,” ujarnya.

Ketua PWA Jawa Barat Ia Kurniati menyambut positif kerja sama tersebut. Ia menilai kemitraan antara GSM dan FAI UM Bandung sebagai sebuah berkah yang akan semakin memperkuat gerakan dakwah yang selama ini dijalankan.

Ia menjelaskan, Gerakan Subuh Mengaji pada awalnya merupakan pengajian dengan jangkauan yang terbatas. Namun, seiring waktu, program tersebut terus berkembang dan mampu menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Menurutnya, perkembangan GSM tidak terlepas dari dukungan para narasumber yang kredibel dan berkualitas sehingga materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Program Studi KPI UM Bandung Rahmat Alamsyah mengungkapkan bahwa MoU ini lahir dari kebutuhan bersama untuk menyusun peta dakwah Muhammadiyah berkemajuan yang lebih terarah dan sesuai dengan tantangan zaman.

Ia menjelaskan, gagasan awal kerja sama bermula dari rencana penempatan mahasiswa KPI untuk menjalani program magang di GSM. Namun, melihat besarnya peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan, kerja sama tersebut kemudian ditingkatkan ke tingkat fakultas agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh program studi di lingkungan FAI UM Bandung.

“Ruang lingkup kerja sama mencakup berbagai aspek catur dharma perguruan tinggi, mulai dari pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga program-program lain yang relevan dengan pengembangan GSM, dunia akademik, dan dakwah Islam,” jelasnya.

Rahmat menambahkan, dakwah saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks karena telah memasuki ruang digital yang sangat dinamis. Karena itu, diperlukan strategi yang tepat agar program dakwah mampu diterima oleh masyarakat luas, baik melalui pemilihan platform, pengemasan konten, kualitas materi, maupun kompetensi narasumber yang terlibat.

Melalui kolaborasi ini, FAI UM Bandung, PWA Jawa Barat, dan Gerakan Subuh Mengaji berharap dapat memperkuat ekosistem dakwah digital yang adaptif, berkualitas, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat di tengah perkembangan teknologi informasi yang berlangsung begitu cepat.***

Administrator

Melalui Pentas Seni, TK Labschool UM Bandung Dorong Anak Tampil Percaya Diri

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- TK Labschool UM Bandung menggelar Pentas Seni dan Pelepasan Siswa Tahun Ajaran 2025–2026 bertema Give Every Child The Best Start di Lantai 2 Gedung Universitas Muhammadiyah Bandung, Rabu (24/06/2026).

Kegiatan berlangsung meriah dan penuh keceriaan dengan dihadiri para orang tua yang mendampingi putra-putri mereka. Acara ini menjadi momen istimewa bagi siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. 

Beragam penampilan seni, mulai dari tarian, hafalan doa, hingga kreasi lainnya, berhasil menciptakan suasana haru sekaligus membanggakan bagi guru dan orang tua.

Kepala TK Labschool UM Bandung Rizka Saputri menyampaikan rasa syukur atas selesainya proses pendidikan para siswa di tingkat taman kanak-kanak. Ia berharap seluruh siswa tetap semangat belajar dan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

“Alhamdulillah, tidak terasa sudah berada di penghujung tahun ajaran. Semoga ananda semua terus belajar dan melanjutkan pendidikan dengan penuh semangat,” ujarnya.

Menurut Rizka, TK Labschool UM Bandung berkomitmen memberikan layanan pendidikan terbaik melalui berbagai pendekatan pembelajaran, salah satunya metode berbasis cerita dan dongeng.

Metode ini dinilai efektif untuk merangsang daya pikir, imajinasi, kemampuan berbahasa, sekaligus membangun karakter positif anak sejak usia dini.

“Melalui cerita dan dongeng, anak-anak belajar memahami nilai-nilai kehidupan, mengembangkan kreativitas, serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis sesuai tahap perkembangannya,” jelasnya.

Ia menambahkan, pentas seni merupakan bagian penting dalam pendidikan anak usia dini karena dapat menumbuhkan rasa percaya diri, keberanian tampil di depan umum, kemampuan bekerja sama, dan kreativitas anak.

“Yang terpenting, anak-anak dapat menikmati prosesnya dengan gembira. Pentas seni ini menjadi ruang bagi mereka untuk tumbuh, belajar, dan menunjukkan potensi terbaik,” katanya.

Apresiasi juga disampaikan perwakilan orang tua siswa, Nudia Audina, yang mengucapkan terima kasih atas pelayanan pendidikan yang diberikan selama ini. Ia berharap TK Labschool UM Bandung terus berkembang menjadi lembaga pendidikan yang unggul, nyaman, dan ramah anak.

Sementara itu, salah seorang orang tua siswa lainnya, Andi Iskandar, mengaku bangga dan terharu menyaksikan penampilan anak-anak di atas panggung. 

Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan keberhasilan sekolah dalam membangun karakter, keberanian, dan kreativitas anak sejak usia dini.

“Bukan hanya lucu melihat mereka tampil di panggung, tetapi terlihat bagaimana anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berani, dan kreatif,” ungkapnya.

Melalui pentas seni dan pelepasan siswa ini, TK Labschool UM Bandung kembali menegaskan pentingnya pendidikan anak usia dini yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik.

Namun, pada pengembangan karakter, kreativitas, komunikasi, dan kepercayaan diri sebagai bekal menghadapi jenjang pendidikan berikutnya.***

Administrator

Delegasi UM Bandung Ikut Rumuskan Policy Brief Ketenagakerjaan Jawa Barat

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung yang tergabung dalam Hima Administrasi Publik turut berperan aktif dalam kegiatan Public Symposium yang digelar Student Consortium of Public Administration (SCPA).

Kegiatan ini mengangkat tema “Jabar Siap Kerja: Sinkronisasi Kebijakan Pemerintah dan Strategi Industri dalam Mengoptimalkan Potensi Tenaga Kerja di Jawa Barat” di Balai Kota Bandung dan berlangsung pada 20 Juni 2026.

Dalam forum tersebut, mahasiswa UM Bandung bersama delegasi dari Unpad, Universitas Al-Ghifari, Unpas, dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung tidak hanya hadir sebagai peserta. Namun, terlibat sebagai panitia serta bagian dari perumus gagasan dalam diskusi kebijakan ketenagakerjaan.

SCPA sendiri merupakan wadah kolaborasi mahasiswa Administrasi Publik lintas perguruan tinggi yang bertujuan memperkuat kerja sama akademik dalam merespons isu-isu strategis tata kelola publik. Melalui forum ini, mahasiswa didorong untuk berkontribusi dalam penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis kajian akademik.

Pada sesi utama, Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard memaparkan tantangan ketenagakerjaan Indonesia dan Jawa Barat, termasuk kebutuhan future jobs, serta pentingnya penguatan SDM melalui pendidikan vokasi, keterampilan digital, dan green skills.

Usai sesi tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan Forum Group Discussion (FGD) yang melibatkan delegasi mahasiswa, termasuk dari UM Bandung, untuk merumuskan strategi peningkatan kualitas tenaga kerja serta penguatan sinergi antara pemerintah, industri, dan dunia pendidikan.

Dalam FGD, mahasiswa UM Bandung bersama peserta lain aktif menyampaikan gagasan terkait penguatan ekosistem ketenagakerjaan, kesenjangan investasi dan serapan tenaga kerja, hingga strategi peningkatan kompetensi SDM di Jawa Barat.

Hasil diskusi kemudian dihimpun menjadi policy brief yang akan disampaikan kepada pemangku kebijakan sebagai bentuk kontribusi akademik mahasiswa UM Bandung dan kampus lainnya terhadap pembangunan daerah.

Melalui keterlibatan aktif tersebut, mahasiswa UM Bandung menunjukkan peran strategisnya dalam mendukung lahirnya kebijakan ketenagakerjaan yang adaptif, inklusif, dan responsif terhadap tantangan masa depan.***

Foto: Istimewa

Administrator

Al-Qur’an Jadi Rujukan Utama Pembelajaran Bahasa Arab, Ini Penjelasan Buya Cecep

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Penguasaan bahasa Arab tidak cukup hanya mengandalkan hafalan kosakata dan pemahaman tata bahasa. Dibutuhkan lingkungan yang mendukung agar peserta didik terbiasa mendengar, memahami, dan menggunakan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan Wakil Dekan FAI UM Bandung Cecep Taufikurrohman saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional bertajuk “Pembelajaran Bahasa Arab Berkemajuan di Pesantren Muhammadiyah” yang digelar oleh Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan FAI UM Bandung dan Uhamka pada Sabtu lalu.

Dalam forum tersebut, Buya Cecep—sapaan akrabnya—mengajak para pendidik dan pengelola pesantren untuk membangun bi’ah lughawiyah atau lingkungan berbahasa Arab yang hidup, aktif, dan berkelanjutan sebagai fondasi utama keberhasilan pembelajaran bahasa Arab.

Menurutnya, kemampuan berbicara dalam bahasa Arab tidak muncul secara instan. Keterampilan tersebut tumbuh melalui proses mendengar bahasa yang benar secara terus-menerus hingga akhirnya mampu dipahami dan digunakan dalam komunikasi sehari-hari.

“Berbicara yang baik berawal dari mendengar yang baik. Oleh karena itu, santri perlu dibiasakan mendengar bahasa Arab yang benar sebelum mereka mampu menggunakannya secara aktif,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Buya Cecep memperkenalkan metode istami’ wa takallam, yaitu pendekatan pembelajaran yang menekankan keterampilan menyimak (istima’) dan berbicara (kalam). Metode ini dilakukan melalui tahapan mendengar, memahami, menirukan, lalu berbicara.

Melalui pendekatan tersebut, santri tidak hanya mempelajari teori bahasa Arab, tetapi juga terbiasa menggunakannya dalam berbagai situasi komunikasi. Dengan demikian, proses belajar menjadi lebih alami dan aplikatif.

Dosen lulusan Universitas Al-Azhar Mesir itu juga menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan model bahasa Arab terbaik yang dapat dijadikan rujukan dalam pembelajaran. Oleh sebab itu, penguasaan makharijul huruf dan pelafalan yang benar harus menjadi perhatian utama sebelum peserta didik mempelajari keterampilan bahasa yang lebih kompleks.

“Jika pengucapan huruf dan kosakata sudah benar, maka proses menirukan dan berbicara akan berkembang lebih mudah,” jelasnya.

Untuk menciptakan lingkungan bahasa yang efektif, Buya Cecep menilai guru harus menjadi teladan dalam penggunaan bahasa Arab. Guru dapat memulai dengan menggunakan ungkapan dan kalimat sederhana dalam aktivitas sehari-hari, baik di dalam kelas maupun di lingkungan pesantren.

Selain peran guru, lingkungan belajar juga perlu diperkaya dengan berbagai unsur berbahasa Arab, seperti label nama benda, poster kosakata, ungkapan harian, hingga jadwal kegiatan yang ditulis dalam bahasa Arab. Upaya tersebut memungkinkan santri terus berinteraksi dengan bahasa Arab meskipun tidak sedang mengikuti pembelajaran formal.

Buya Cecep juga mendorong pemanfaatan berbagai media pembelajaran yang menarik dan interaktif. Audio, video, gambar, kartu kosakata (flash card), hingga kegiatan bermain peran (role play) dinilai mampu membantu santri memperkaya kosakata, meningkatkan kemampuan menyimak, sekaligus menumbuhkan keberanian berbicara.

Menurutnya, kesempatan praktik harus diberikan seluas-luasnya kepada santri. Kegiatan seperti percakapan berpasangan, tanya jawab, presentasi singkat, diskusi kelompok, hingga simulasi percakapan dapat menjadi sarana efektif untuk meningkatkan kemampuan komunikasi.

“Semakin sering santri menggunakan bahasa Arab, semakin cepat pula keterampilan berbicaranya berkembang,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan. Guru diharapkan memberikan apresiasi terhadap usaha santri, menghindari kritik yang berlebihan, serta membangun kepercayaan diri mereka untuk terus berlatih.

“Santri tidak boleh takut salah. Justru dari proses mencoba, berlatih, dan memperbaiki kesalahan itulah kemampuan bahasa akan tumbuh,” tuturnya.

Di era digital, Buya Cecep melihat teknologi sebagai peluang besar untuk memperkuat pembelajaran bahasa Arab. Berbagai platform seperti video edukatif, podcast, aplikasi percakapan, hingga rekaman suara dapat dimanfaatkan untuk melatih kemampuan menyimak dan berbicara secara lebih fleksibel.

Melalui penerapan metode istami’ wa takallam yang didukung lingkungan bahasa yang kondusif, ia berharap pesantren Muhammadiyah mampu melahirkan generasi yang tidak hanya memahami teori bahasa Arab, tetapi juga mampu menggunakannya secara aktif, percaya diri, dan komunikatif.

“Pembelajaran bahasa Arab yang berkemajuan harus menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan santri,” pungkasnya.***(FA)

Administrator

Dampak Buruk Gas Metan Mengintai TPA, Gerakan Pilah Sampah Mandiri Jadi Solusi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Persoalan sampah sejatinya tidak selesai begitu saja saat armada pengangkut membawanya dari depan rumah.

Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tumpukan sampah organik yang membusuk tanpa oksigen justru memicu masalah baru dengan menghasilkan gas metan, salah satu gas rumah kaca berbahaya penyebab pemanasan global.

"Masalah sampah tidak selesai di TPA. Justru di sanalah masalah besar dimulai," tegas Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup UM Bandung, Luthfia Hastiani Muharam, dalam webinar Hari Lingkungan Hidup Sedunia bertema “Tuntas Sampah dari Rumah” pada Sabtu (06/06/2026).

Dalam paparannya, Luthfia mengajak masyarakat untuk segera mengubah pola pengelolaan sampah dari sistem linear konvensional yang mengandalkan kumpul-angkut-buang, menjadi sistem sirkular yang memandang limbah sebagai sumber daya bernilai.

"Di Jawa Barat, sekitar 70 persen sampah rumah tangga adalah organik. Bayangkan potensinya jika semua itu diolah menjadi kompos, bukan dibuang ke TPA," ujar Luthfia.

Kunci dari efisiensi ini dimulai dari pemilahan langsung di dapur rumah tangga menjadi tiga kategori utama. Apa saja?

Yakni sampah organik yang bisa dikomposkan, sampah anorganik seperti botol plastik dan kardus yang bernilai ekonomi jika disetor ke bank sampah, serta sampah residu yang benar-benar tidak dapat diolah lagi.

Untuk memudahkan masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan dan takut akan bau menyengat, tim UM Bandung memperkenalkan inovasi bernama oktagonal komposter.

Keranjang bulat yang memanfaatkan pelapis kardus dan sabut kelapa ini terbukti ampuh mempercepat dekomposisi sampah menjadi kompos matang hanya dalam waktu dua hingga empat minggu.

Luthfia menjelaskan bahwa banyak orang tidak mau mengompos karena takut bau, namun dengan media yang tepat seperti komposter ini, kendala tersebut bisa diatasi dengan mudah.

Luthfia juga meluruskan persepsi keliru masyarakat mengenai kehadiran magot atau larva lalat black soldier fly yang kerap dianggap menjijikkan dalam proses pengomposan.

Menurutnya, kehadiran larva tersebut justru menjadi indikator keberhasilan penguraian alami yang sangat efisien.

"Magot bukan sesuatu yang harus ditakuti atau dihindari. Mereka adalah aktor alami yang justru membantu proses pengomposan berjalan lebih baik," tegasnya.

Guna mendukung efisiensi pengolahan tersebut, tim peneliti UM Bandung bahkan telah menciptakan mesin pencacah berkapasitas 20 kilogram yang mampu mengubah sampah organik menjadi bubur halus agar lebih cepat diurai oleh magot maupun mikroorganisme.

Pada akhir sesi, Luthfia menekankan bahwa solusi krisis lingkungan ini tidak melulu bertumpu pada teknologi canggih.

Namun, pada kekuatan kolaborasi komunitas melalui gerakan bank sampah komunal di tingkat RW, sekolah, hingga kampus.

"Perubahan terbesar dimulai dari hal paling sederhana, misal memilah sampah di dapur kita sendiri. Jika setiap rumah tangga melakukan itu, beban TPA bisa berkurang drastis, emisi gas metan turun, dan kualitas hidup kita semua membaik," pungkasnya.***(FK)

Administrator