Berita

Bukan Sekadar Praktik, Mini Teaching Factory UM Bandung Siap Cetak Produk Pangan Unggulan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung resmi menggelar soft launching Mini Teaching Factory Food Industry pada Jumat (19/06/2026).

Bertempat di area rubanah belakang gedung UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, peresmian fasilitas ini dihadiri langsung oleh Rektor, Wakil Rektor II, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, Ketua Program Studi Teknologi Pangan, serta jajaran tamu undangan lainnya.

Ketua Prodi Teknologi Pangan UM Bandung Khairiah menjelaskan bahwa fasilitas baru ini dirancang sebagai laboratorium produksi komprehensif bagi mahasiswa ataupun dosen.

"Tempat ini menjadi salah satu laboratorium produksi teknologi pengembangan produk-produk pangan," ujar Khairiah.

Tidak hanya berfungsi sebagai ruang praktik, Mini Teaching Factory ini juga menjadi etalase bagi hasil riset akademik. Pihak program studi akan mengurasi secara ketat karya-karya inovasi yang lahir dari ruang perkuliahan untuk kemudian diproyeksikan sebagai produk komersial.

"Hasil produk dari para mahasiswa ini kita kumpulkan dan kurasi, mana yang nantinya layak menjadi produk unggulan kita," tambahnya.

Apresiasi tinggi datang dari Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UM Bandung Arief Yunan. Dirinya mengaku sangat bangga atas realisasi laboratorium ini dan mendorong agar fasilitas tersebut dioptimalkan sebagai jembatan antara teori di kelas dengan realitas industri.

"Saya berharap ke depannya melalui laboratorium ini dapat memajukan UM Bandung dengan produk-produk unggulan yang dihasilkannya," kata Arief.

Senada dengan hal tersebut, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menegaskan bahwa keberadaan Mini Teaching Factory merupakan wahana krusial bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu mereka ke dalam kehidupan sehari-hari. Dia berharap, langkah ini dapat diadopsi oleh seluruh program studi yang ada di lingkungan kampus.

"Ini menjadi langkah penting agar semua prodi di UM Bandung dapat memiliki teaching company ataupun teaching industry. Dengan begitu, mahasiswa bisa langsung menerapkan ilmunya sekaligus meningkatkan relevansi lulusan dengan kebutuhan zaman," ungkap Rektor.

Lebih jauh, Herry memaparkan bahwa laboratorium ini memegang peran strategis dalam memetakan tema riset yang terintegrasi di Prodi Teknologi Pangan. Berawal dari bangku pendidikan, program ini diharapkan bermuara pada nilai ekonomi yang kompetitif.

"Kegiatan pendidikan kita nantinya memang akan menyatu dengan penelitian, menghasilkan inovasi, lalu dikomersialisasikan. Dari proses komersialisasi itu, hasilnya akan kembali memperkaya kualitas pendidikan kita menjadi tema-tema riset yang utuh," papar Herry.

Menutup arahannya, Rektor menekankan pentingnya pengawalan mutu di Mini Teaching Factory agar mampu melahirkan produk inovatif yang diakui masyarakat luas.

"Kita perlu mengawal perkembangan fasilitas ini secara konsisten agar inovasi yang dihasilkan semakin maju, sekaligus mampu mendongkrak reputasi positif kampus di tingkat nasional maupun internasional," pungkasnya.***(FK)

Administrator

Tonggak Baru UM Bandung, Program Magister Pendidikan Agama Islam Resmi Hadir

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dengan penuh rasa syukur, Universitas Muhammadiyah Bandung mengucapkan selamat atas terbitnya Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 685 Tahun 2026 tentang Izin Penyelenggaraan Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (S2) pada Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bandung.

Terbitnya izin penyelenggaraan ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan pengembangan institusi. Sekaligus wujud komitmen UM Bandung untuk terus menghadirkan pendidikan tinggi yang unggul, berkemajuan, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan ilmu pengetahuan di bidang pendidikan dan keislaman.

Kehadiran Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (S2) diharapkan dapat menjadi ruang akademik yang produktif dalam melahirkan pendidik, akademisi, peneliti, dan pemimpin yang berintegritas, berwawasan luas, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Pencapaian ini merupakan hasil dari kerja keras, kolaborasi, dan dukungan berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam proses pengembangan UM Bandung. Untuk itu, kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari ikhtiar ini.

Semoga amanah yang diberikan menjadi penyemangat bagi UM Bandung untuk terus bertumbuh, berinovasi, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.***

Administrator

Kiai Saad Ibrahim: Bahasa Arab Bekal Penting Memahami Al-Qur’an dan Kitab Turats

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung dan Uhamka menggelar Seminar Nasional bertajuk “Pembelajaran Bahasa Arab Berkemajuan di Pesantren Muhammadiyah” di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung pada Sabtu (20/06/2026).

Kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai daerah, mulai dari Lampung hingga Jawa Timur. Peserta terdiri atas pengelola dan pendidik pesantren, mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah, serta perwakilan lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Ketua LP2 PP Muhammadiyah Dr H Maskuri MEd menegaskan bahwa penguatan bahasa Arab menjadi kebutuhan penting bagi pesantren Muhammadiyah. 

Menurutnya, kemampuan bahasa Arab tidak hanya membantu santri memahami kitab-kitab turats, tetapi juga membuka peluang melanjutkan studi ke berbagai perguruan tinggi ternama di luar negeri.

“Peluang studi ke Mesir, Maroko, hingga Libya semakin terbuka bagi lulusan pesantren yang memiliki kemampuan bahasa Arab yang baik,” ujarnya.

Maskuri menyebut Muhammadiyah saat ini memiliki sekitar 448 pesantren di seluruh Indonesia. Ia berharap kualitas pembelajaran bahasa Arab terus meningkat, seiring bertambahnya kesempatan beasiswa luar negeri yang diberikan kepada kader Muhammadiyah, termasuk melalui kerja sama dengan Universitas Al-Azhar Mesir.

Sementara itu, Rektor UM Bandung Prof Dr Ir Herry Suhardiyanto MSc IPU menilai bahasa Arab memiliki peran strategis, baik dalam bidang keagamaan maupun hubungan internasional.

Ia mengingatkan bahwa bahasa Arab merupakan salah satu bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Dengan menguasai bahasa Arab, kita dapat mengakses sumber-sumber keilmuan Islam sekaligus memperluas peluang kerja sama di bidang ekonomi, diplomasi, dan hubungan internasional,” katanya.

Herry juga mendorong agar pembelajaran bahasa Arab di lingkungan Muhammadiyah dilakukan secara lebih menyenangkan dan adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).

Seminar nasional tersebut dibuka oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr KH Saad Ibrahim MA.

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa bahasa Arab memiliki kedudukan istimewa sebagai bahasa Al-Qur’an dan memiliki kekayaan kosakata yang sangat luas.

Menurut Kiai Saad, penguasaan ilmu bahasa Arab, termasuk nahwu dan sharaf, merupakan bekal penting untuk memahami Al-Qur’an dan kitab-kitab klasik Islam secara mendalam.

Oleh karena itu, ia mengapresiasi upaya LP2 PP Muhammadiyah dalam memperkuat pembelajaran bahasa Arab di pesantren.

Ia berharap seminar ini melahirkan inovasi dan metode pembelajaran yang lebih efektif sehingga santri Muhammadiyah mampu memahami kitab turats dengan lebih cepat dan mendalam.

Melalui seminar ini, Muhammadiyah berkomitmen terus memperkuat pembelajaran bahasa Arab sebagai bagian dari upaya mencetak kader yang unggul dalam keislaman sekaligus memiliki daya saing global.***

Administrator

Audiens Berpindah ke Platform Digital, KPI Dorong Transformasi Lembaga Penyiaran

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat periode 2023–2026, Amin Shabana, menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah secara signifikan cara masyarakat mengakses dan mengonsumsi informasi.

Kondisi tersebut menuntut lembaga penyiaran untuk bertransformasi agar tetap relevan di tengah pesatnya pertumbuhan platform digital.

Hal itu disampaikan Amin saat menjadi narasumber dalam Kuliah Umum Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bertajuk “Masa Depan Lembaga Penyiaran di Era Digital” di Auditorium KH Ahmad Dahlan pada Jumat (19/06/2026).

Menurut Amin, Indonesia saat ini memiliki sekitar 235,26 juta pengguna internet, 180 juta identitas pengguna media sosial, dan 151 juta pengguna YouTube. Data tersebut menunjukkan bahwa audiens media tidak hilang, melainkan berpindah ke platform yang lebih personal, cepat, dan berbasis algoritma.

“Lembaga penyiaran saat ini berada di persimpangan. Situasinya mirip dengan media cetak ketika menghadapi gelombang internet. Banyak media yang tidak mampu beradaptasi sehingga kehilangan pembaca. Kini tantangan yang sama dihadapi industri penyiaran,” ujarnya.

Ia menjelaskan, internet dan media sosial telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam mengakses informasi. Generasi muda, khususnya Gen Z, menghabiskan banyak waktu di telepon pintar, sementara algoritma digital terus menyajikan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna.

“Algoritma tidak bisa berbohong. Apa yang sering ditonton, itulah yang dianggap sebagai minat pengguna. Karena itu, lembaga penyiaran harus memahami perubahan perilaku audiens agar tidak ditinggalkan,” katanya.

Selain perubahan pola konsumsi media, Amin juga menyoroti maraknya infodemi, hoaks, dan krisis kepercayaan publik. Menurutnya, derasnya arus informasi di ruang digital membuat masyarakat semakin sulit membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan.

Dalam situasi tersebut, lembaga penyiaran memiliki peran penting sebagai sumber informasi yang kredibel karena bekerja dengan standar editorial, proses verifikasi, dan tanggung jawab hukum yang jelas.

“Setiap informasi harus diverifikasi. Sumber boleh berasal dari berbagai platform digital, tetapi informasi resmi tetap harus merujuk pada kanal yang kredibel agar kepercayaannya terjaga,” tegasnya.

Amin juga menilai regulasi penyiaran perlu diperbarui. Menurutnya, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran sudah tidak sepenuhnya mampu menjawab perkembangan ekosistem media yang kini didominasi platform digital, layanan streaming, media sosial, dan user generated content.

Sementara itu, Ketua Prodi KPI UM Bandung Rahmat Alamsyah berharap kuliah umum tersebut dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai perkembangan dunia penyiaran dan komunikasi digital.

Ia menilai salah satu isu penting yang perlu dipahami adalah konvergensi media, yaitu peralihan media konvensional ke platform digital yang melahirkan ledakan informasi sekaligus tantangan berupa banjir konten dan hoaks.

Rahmat mengaitkan fenomena tersebut dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya verifikasi informasi sebagaimana termaktub dalam QS Al-Hujurat ayat 6.

Menurutnya, umat Islam diajarkan untuk bersikap hati-hati dalam menerima informasi, menghindari dampak buruk berita yang tidak benar, dan mencegah penyesalan akibat menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

“Di era digital, kemampuan memilah informasi menjadi sangat penting. Semoga lembaga penyiaran dapat terus menjadi benteng informasi yang kredibel bagi masyarakat,” pungkasnya.***

Administrator

Berani Berkarya Sejak Muda! Pelantikan HIPMI PT UM Bandung Jadi Titik Awal Perubahan Ekonomi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi (HIPMI PT) Universitas Muhammadiyah Bandung telah melaksanakan pelantikan pengurus periode 2026–2027 pada Kamis (04/06/2026) lalu.

Kegiatan ini menjadi momentum awal bagi kepengurusan baru untuk memperkuat gerakan kewirausahaan mahasiswa serta mendorong lahirnya generasi muda yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing.

Pelantikan HIPMI PT Universitas Muhammadiyah Bandung dirangkaikan dengan talkshow inspiratif yang menghadirkan Helmy Yahya sebagai pembicara utama.

Kehadiran tokoh yang dikenal sebagai pengusaha, kreator, dan praktisi industri kreatif tersebut diharapkan dapat memberikan motivasi sekaligus wawasan kepada mahasiswa mengenai pentingnya kepemimpinan, inovasi, dan keberanian dalam membangun usaha sejak usia muda.

Ketua Umum HIPMI PT Universitas Muhammadiyah Bandung terpilih Abu Darda Sungkar menyampaikan, kegiatan ini tidak hanya agenda organisasi.

Namun, menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami peran strategis kewirausahaan dalam menjawab tantangan ekonomi masa depan.

“Pelantikan ini menjadi langkah awal bagi HIPMI PT UM Bandung untuk menghadirkan program-program pengembangan mahasiswa," ujarnya.

"Kehadiran Helmy Yahya kami harapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda kampus agar berani berkarya, berinovasi, dan membangun usaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Semangat yang kami bawa sederhana, mahasiswa bergerak, ekonomi berdampak,” ujarnya.

Sejalan dengan visi “Techno Entrepreneur University”, UM Bandung terus mendorong tumbuhnya budaya kewirausahaan di lingkungan kampus.

Melalui HIPMI PT, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan kapasitas diri, membangun jejaring, dan memperoleh pengalaman praktis dalam dunia usaha.

Turut hadir dalam pelantikan ini para mahasiswa, pelaku usaha muda, organisasi kemahasiswaan, dan berbagai pemangku kepentingan menyaksikan rangkaian kegiatan pelantikan HIPMI PT UM Bandung yang diharapkan menjadi titik awal penguatan ekosistem kewirausahaan mahasiswa di kampus.***(Bewara Pers)

Administrator

Kendalikan Keinginan Sebelum Terjebak dalam Jerat Utang

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Pesatnya perkembangan layanan keuangan digital, khususnya paylater, menghadirkan kemudahan dalam bertransaksi.

Namun, di balik kemudahan tersebut, masyarakat perlu meningkatkan kesadaran dan kehati-hatian agar tidak terjebak dalam masalah finansial yang dapat mengganggu ketenangan hidup.

Pesan tersebut disampaikan dosen Prodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Bandung Yudi Haryadi saat mengisi Kajian Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat, Rabu (10/06/2026).

Dalam kajiannya yang bertajuk “Dompet Tipis tapi Hati Tetap Tenang di Tengah Era Paylater”, Yudi mengungkapkan bahwa penggunaan layanan paylater di Indonesia terus mengalami peningkatan.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2026, jumlah rekening pengguna paylater mencapai 31,76 juta dengan total nilai transaksi sebesar Rp56,3 triliun.

Menurutnya, kemudahan transaksi yang ditawarkan berbagai platform digital sering kali membuat masyarakat terlena.

Tidak sedikit pengguna yang akhirnya terjebak dalam pola konsumsi berlebihan hingga menimbulkan beban utang, tekanan finansial, bahkan konflik dalam keluarga.

“Masalah utama kita sering kali bukan karena kurangnya rezeki dari Allah SWT, melainkan karena hilangnya kendali terhadap keinginan diri sendiri,” ujarnya.

Yudi menjelaskan bahwa daya tarik paylater terletak pada kemudahan, kecepatan, dan kepuasan instan yang ditawarkannya.

Namun, tanpa pengelolaan yang bijak, fasilitas tersebut dapat mendorong seseorang mengambil keputusan keuangan yang tidak sesuai dengan kemampuan ekonominya.

Ia menegaskan bahwa Islam tidak melarang utang secara mutlak. Namun, utang diperbolehkan apabila didasarkan pada kebutuhan yang jelas, bebas dari unsur riba, memiliki akad yang transparan, serta disertai kemampuan untuk melunasinya.

“Yang menghilangkan ketenangan bukanlah utang itu sendiri, melainkan ketergantungan terhadap utang untuk memenuhi gaya hidup dan adanya unsur riba yang menyertainya,” tegasnya.

Menurut Yudi, banyak persoalan keuangan berawal dari ketidakseimbangan antara keinginan dan kemampuan.

Ketika gaya hidup melampaui penghasilan, seseorang cenderung mencari jalan pintas melalui kredit atau layanan paylater untuk memenuhi keinginannya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk memaknai kembali arti ketenangan hidup.

Baginya, ketenangan tidak ditentukan oleh besarnya saldo rekening, tingginya limit kredit, ataupun banyaknya barang yang dimiliki, melainkan oleh kedekatan kepada Allah SWT, rasa syukur, dan kemampuan hidup sesuai kemampuan.

“Mengingat Allah, bersyukur atas nikmat yang dimiliki, dan hidup sesuai kemampuan merupakan fondasi ketenangan yang sesungguhnya,” katanya.

Lebih lanjut, Yudi mengingatkan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Kebutuhan berkaitan dengan hal-hal mendasar seperti pangan, pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal.

Sementara itu, keinginan sering kali dipengaruhi oleh gengsi, tren, maupun fenomena fear of missing out (FOMO).

Sebagai langkah menghadapi tekanan finansial di era digital, Yudi menawarkan tiga nilai yang perlu ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari, yakni qanaah (merasa cukup atas rezeki yang diberikan Allah), syukur atas nikmat yang dimiliki, dan sabar dalam menunda kesenangan demi tujuan yang lebih besar.

“Kalau hari ini kita belum mampu membeli sesuatu, bukan berarti kita gagal. Bisa jadi Allah SWT sedang mengajarkan kita untuk bersabar dan menunggu waktu yang tepat,” pungkas praktisi bisnis dan keuangan mikro Islam tersebut.***

---

Sumber foto: Istockphoto dan Gemini

Administrator