Berita

Jejak Kreativitas Mahasiswa UM Bandung Menghias Pameran Batik Nasional di JICC

UMBANDUNG.AC.ID, Jakarta -- Kriyanian Prodi Kriya Tekstil dan Fashion Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Bandung ikuti Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara 2026 dari Rabu-Minggu (08-12/7/2026).

Acara yang berlangsung di Hall A Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, itu digelar oleh Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI). Adapun tema yang diambil pada acara tersebut yakni ”Rupa Makna Tambal Nusantara”.

Mahasiswa Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung Wafa Ulhaq Ramadania mengatakan, dalam pameran tersebut, Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung menghadirkan berbagai produk-produk batik terbaik dari para mahsiswa.

”Kami di sini menghadirkan berbagai produk-produk batik yang berasal dari hasil pembelajaran kami selama perkuliahan, seperti batik tulis, batik cap, hinggga penerapan tekstil pada interior,” ucap Wafa di sela-sela kegiatan.

Berbagai macam produk, dari motif batik hadir, mulai dari bantal, lampu, hingga berbagai aksesoris dalam booth tersebut.

”Semoga Kriyanian Prodi Kriya Tekstil dan Fashion Universitas Muhammadiyah Bandung terus berkembang dan sukses terus ke depannya,” terangnya.

Salah satu pengunjung booth yakni Melati sangat kagum dengan berbagai produk yang dihadirkan dalam pameran kali ini. Menurutnya, berbagai produk dan karya seni ini sebagai bentuk apresiasi kekayaan bangsa.

”Luar biasa sekali booth UMKM dari Universitas Muhammadiyah Bandung ini yang pastinya  karya-karya mahasiswa ini turut melestarikan batik Nusantara,” ucap Melati.

Batik Asli Indonesia

Pada pembukaan acara, Ketua Umum APPBI Komarudin Kudiya menegaskan bahwa acara tersebut menjadi gerakan kebudayaan yang berpihak pada pelestarian batik asli Indonesia.

”Puspa Nuswantara hadir sebagai ruang bersama untuk mempertemukan seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem batik,” kata Komarudin.

Salah satu dosen Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung ini menegaskan bahwa batik merupakan identitas bangsa yang mengandung nilai sejarah, filosofi, dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Oleh karena itu, lanjut Komarudin, keberadaan para perajin harus terus diperkuat agar mampu menghadapi tantangan industri modern, maraknya produk tiruan, serta perubahan tren pasar.

”Kami ingin masyarakat semakin mengenal, mencintai, dan menggunakan batik asli sebagai bagian dari kebanggaan nasional,” jelasnya.

Hadir pada pembukaan acara ini Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Reni Yanita, dan sejumlah tamu undangan lainnya.***

Administrator

Kampus Ambil Peran Membangun Generasi yang Cerdas Memilih Tontonan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Perkembangan platform digital membuat akses masyarakat terhadap film dan berbagai konten audiovisual semakin mudah. Di sisi lain, kondisi tersebut menuntut kemampuan literasi yang lebih baik agar masyarakat mampu memilih tontonan secara bijak.

Menjawab tantangan itu, Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bersama Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia menggelar program LSF Goes to Campus sebagai upaya memperkuat budaya sensor mandiri di kalangan mahasiswa.

Kegiatan bertajuk "Literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri: Memajukan Budaya Menonton Sesuai Usia" tersebut berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung pada Kamis (9/7/2026).

Program ini merupakan implementasi kerja sama LSF dengan sekitar 60 perguruan tinggi di Indonesia untuk memperluas literasi perfilman di lingkungan akademik.

Ketua Komisi III LSF RI Kuat Prihatin mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya memilih tontonan sesuai usia.

Menurutnya, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen literasi yang menyebarkan pemahaman tersebut kepada keluarga, teman, dan lingkungan sekitarnya.

"Kampus kami harapkan menjadi pusat edukasi literasi perfilman. Mahasiswa dapat menjadi penyambung pesan kepada masyarakat tentang pentingnya memilih tontonan yang tepat," ujarnya.

Ia menambahkan, tantangan literasi saat ini tidak hanya berasal dari film, tetapi juga dari derasnya arus konten di media sosial.

Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki kesadaran untuk menyaring informasi dan konten yang dikonsumsi secara lebih cerdas dan bertanggung jawab.

Sementara itu, Kaprodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UM Bandung Rahmat Alamsyah menilai kolaborasi dengan LSF selaras dengan penguatan kompetensi mahasiswa, khususnya di bidang sinematografi dan film dakwah.

Menurutnya, kegiatan ini melengkapi pembelajaran di kelas melalui pemahaman mengenai regulasi, etika, dan budaya sensor yang dibutuhkan saat memasuki industri kreatif.

Rahmat menjelaskan bahwa film merupakan perpaduan berbagai disiplin ilmu, mulai dari seni, teknologi, komunikasi, hingga sastra.

Oleh karena itu, film tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi memiliki peran sebagai sarana pendidikan, pembentukan karakter, dan penyampaian nilai-nilai kemanusiaan.

"Film tidak hanya menjadi hiburan. Selama mampu mengajak kepada nilai-nilai kebaikan, kepedulian, dan kemanusiaan, film juga dapat menjadi media dakwah," katanya.

Ia juga mengajak mahasiswa menyikapi perkembangan kecerdasan buatan (AI) secara bijak. Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat pendukung proses kreatif, tetapi orisinalitas, etika, dan tanggung jawab harus tetap menjadi fondasi utama dalam menghasilkan karya yang berkualitas.***(FA)

Administrator

Rektor UM Bandung Ajak Mahasiswa Jadi Kreator Sinema Berkarakter Bangsa

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Film bukan sekadar hiburan. Di balik setiap adegan dan cerita, tersimpan nilai budaya yang mampu membentuk cara pandang masyarakat. Karena itu, kemampuan memilih dan memaknai tontonan menjadi bagian penting dari literasi yang harus dimiliki setiap orang.

Pesan tersebut disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Herry Suhardiyanto saat membuka kegiatan LSF Goes to Campus bertajuk Literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri: Memajukan Budaya Menonton Sesuai Usia di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Bandung, Kamis (9/7/2026).

Menurut Herry, kualitas budaya suatu bangsa salah satunya dapat dilihat dari film-film yang dihasilkannya. Sinema tidak hanya merekam realitas, tetapi mampu membentuk tren, memengaruhi pola pikir, hingga menjadi wajah budaya suatu negara di mata dunia.

Ia mencontohkan dominasi industri film Hollywood yang telah lama menjadi rujukan global. Di kawasan Asia, Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok juga berhasil menghadirkan karya-karya yang diminati penonton internasional sekaligus memperkenalkan identitas budaya masing-masing melalui layar lebar.

Dalam konteks tersebut, Herry menilai budaya sensor mandiri menjadi semakin relevan. Masyarakat, terutama generasi muda, perlu memiliki kemampuan menyaring pesan yang terkandung dalam film dan memilih tontonan yang sesuai dengan usia serta nilai-nilai yang ingin dibangun.

Mahasiswa, lanjutnya, memiliki peran strategis untuk menyebarluaskan pemahaman tersebut kepada masyarakat. Namun, ia berharap peran mahasiswa tidak berhenti sebagai penonton yang kritis, tetapi berkembang menjadi kreator yang mampu menghasilkan film berkualitas dengan mengangkat nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

"Jangan puas hanya menjadi konsumen film. Kalau bisa, kita harus mampu menciptakan film-film yang baik sebagai hasil penerjemahan nilai-nilai budaya bangsa yang tinggi," ujarnya.

Herry juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat kuat untuk diangkat menjadi karya sinema. Nilai moderasi, semangat Bhinneka Tunggal Ika, keramahan masyarakat, hingga keberagaman budaya merupakan modal besar untuk melahirkan film-film yang tidak hanya menghibur, tetapi mampu memperkuat persatuan bangsa.

Sebagai contoh, ia menyebut sejumlah film nasional yang dinilai berhasil menghadirkan pesan inspiratif, seperti "Laskar Pelangi", "Sang Pencerah", hingga film klasik "Bandung Lautan Api." Menurutnya, karya-karya tersebut menunjukkan bahwa film Indonesia mampu menghadirkan hiburan sekaligus menyampaikan nilai perjuangan, pendidikan, dan kebangsaan yang relevan lintas generasi.

Kegiatan LSF Goes to Campus turut menghadirkan Ketua Subkomisi Pemantauan Lembaga Sensor Film (LSF) Erlan Basri. Acara tersebut diikuti dosen dan mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UM Bandung serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Diskusi berlangsung interaktif dengan mengangkat pentingnya membangun budaya menonton yang cerdas melalui penerapan sensor mandiri sebagai bagian dari penguatan literasi media di era digital.***(FA)

Administrator

QAF UM Bandung Hadirkan Ruang Pembinaan yang Relevan bagi Mahasiswa Gen Z

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Himpunan Mahasiswa Quranic Action Forum (QAF) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung terus memperkuat perannya sebagai wadah pembinaan mahasiswa melalui audiensi bersama Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) UM Bandung.

Pertemuan yang berlangsung pada Kamis (09/07/2026) tersebut menjadi langkah awal untuk membangun sinergi dalam mengembangkan dakwah kampus yang lebih adaptif, kreatif, dan relevan dengan kehidupan mahasiswa.

Audiensi diterima langsung oleh Ketua LPPAIK Dikdik Lukman, Sekretaris LPPAIK Rovii Husnaini,  Kaprodi Hukum Keluarga Islam sekaligus Pembina QAF Yudi Daryadi, serta Divisi Perkaderan LPPAIK yang juga Instruktur Nasional Supala.

Menjawab Kebutuhan Mahasiswa

Ketua Umum QAF Anggi Ahmad Taupiq menjelaskan bahwa lahirnya QAF berangkat dari kebutuhan mahasiswa akan ruang pembinaan yang lebih dekat dengan karakter generasi muda.

Menurutnya, di tengah derasnya arus globalisasi dan berbagai tantangan sosial, mahasiswa membutuhkan komunitas yang mampu menjadi tempat belajar, bertumbuh, sekaligus saling menguatkan.

"QAF didirikan bukan sekadar sebagai organisasi baru, melainkan sebuah solusi konkret untuk menyediakan wadah pembinaan, syiar kreatif, serta gerakan memakmurkan masjid kampus yang relevan dengan jiwa muda Gen Z," ujarnya.

Anggi menambahkan, QAF membawa visi menjadi pelopor dakwah kampus yang menghidupkan nilai-nilai Al-Qur'an dan Sunnah melalui pendekatan yang inklusif, inspiratif, dan membangun semangat Rahmatan lil 'Alamin.

LPPAIK Beri Dukungan Penuh

Menanggapi pemaparan program kerja QAF, Dr. Supala menyampaikan apresiasi sekaligus dukungan penuh terhadap keberadaan organisasi tersebut. Ia menilai QAF memiliki peran strategis dalam memperkuat kaderisasi dan pembinaan karakter mahasiswa di lingkungan kampus.

"Kami sangat menyambut baik kehadiran Quranic Action Forum. Ini menjadi angin segar bagi dakwah kampus. LPPAIK siap memberikan bimbingan, pendampingan, dan bersinergi agar gerakan ini berkembang secara berkelanjutan," ujarnya.

Menurutnya, kolaborasi yang kuat diperlukan untuk membangun ekosistem kampus yang religius, sehat, dan berkemajuan, sehingga mampu melahirkan mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan spiritualitas yang kokoh.

Lima Pilar Gerakan

Sebagai arah gerakan, QAF telah menyiapkan lima divisi strategis yang menjadi fondasi berbagai program kerja organisasi.

Divisi Pengembangan Sumber Daya Insani (PSDI) berfokus pada kaderisasi melalui program Akselerasi Kaderisasi (AKAS) dan Quranic Halaqah Rutin (Q-HAR).

Divisi Riset dan Kajian (RISKA) dikembangkan sebagai pusat kajian keislaman yang menghasilkan modul pembelajaran dan artikel ilmiah.

Divisi Dakwah Potensial menghadirkan syiar Islam melalui pendekatan kreatif, seperti literasi, seni, dan forum diskusi Millennial Sharia Forum.

Sementara itu, Divisi Media dan Kreatif (MEDKRAF) bertugas mengembangkan konten dakwah digital yang menarik, edukatif, dan relevan bagi generasi muda.

Adapun Divisi Sosial dan Pemberdayaan menjalankan berbagai aksi nyata, seperti Gerakan Memakmurkan Masjid Kampus (GMMK), Pemberantasan Buta Huruf Al-Qur'an (PBHA), hingga kegiatan sosial dan filantropi.

Melalui kolaborasi yang terjalin bersama LPPAIK, QAF berharap dapat menghadirkan gerakan dakwah kampus yang tidak hanya memperkuat nilai-nilai keislaman, tetapi juga memberi kontribusi nyata dalam membentuk mahasiswa UM Bandung yang berilmu, berkarakter, dan siap memberikan manfaat bagi masyarakat.***(FA)

Administrator

Akreditasi Unggul dan Prospek Luas, Bioteknologi UM Bandung Layak Masuk Daftar Pilihanmu

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Memilih jurusan kuliah memang tidak mudah. Banyak calon mahasiswa bingung menentukan pilihan karena ingin kuliah di tempat yang bukan hanya memberikan ilmu, tetapi mampu membuka peluang karier di masa depan.

Bagi Ketua Himpunan Mahasiswa (Hima) Bioteknologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Nadzira Nurul Fadhilah, memilih jurusan bukan soal ikut tren. Yang terpenting adalah menemukan lingkungan belajar yang bisa mengembangkan potensi dan memberikan banyak pengalaman.

Menurut Nadzira, hal itu ia rasakan selama kuliah di Prodi Bioteknologi UM Bandung. Perkuliahan tidak hanya berisi teori, tetapi dipadukan dengan praktikum di laboratorium sehingga mahasiswa bisa langsung memahami penerapan ilmu bioteknologi dalam kehidupan nyata.

"Di sini kami bukan cuma belajar dari buku. Hampir setiap materi didukung dengan praktikum, jadi konsep yang dipelajari langsung dipraktikkan. Selain itu, dosen juga memastikan mahasiswa benar-benar paham, bukan sekadar mengejar nilai," ujarnya di Kampus UM Bandung pada Kamis (09/07/2026).

Ia juga menilai suasana belajar di Bioteknologi UM Bandung terasa nyaman dan suportif. Dosen aktif mendampingi mahasiswa, baik saat perkuliahan maupun ketika mengikuti berbagai kegiatan di luar kelas.

Mahasiswa didorong mengikuti penelitian, Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW), kompetisi, hingga pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, pengalaman tersebut membuat mahasiswa lebih percaya diri dan siap menghadapi dunia kerja.

"Dosen selalu memberikan ruang untuk berkembang. Mau ikut PKM, penelitian, P2MW, atau lomba karya ilmiah, kami selalu didukung. Jadi, selama kuliah, kami benar-benar didorong untuk berani mencoba dan mengembangkan kemampuan," katanya.

Tak hanya mengasah kemampuan akademik, perkuliahan membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang disiplin, mampu bekerja sama, berpikir kritis, dan terbiasa mencari solusi atas berbagai persoalan.

Nadzira menjelaskan, lulusan Bioteknologi memiliki prospek kerja yang luas. Selama kuliah, mahasiswa mempelajari mikrobiologi, genetika, biologi molekuler, kultur jaringan, teknologi pangan, pertanian, kesehatan, hingga lingkungan.

Bekal tersebut membuka peluang berkarier di industri farmasi, pangan, kesehatan, perusahaan bioteknologi, laboratorium, maupun lembaga penelitian.

Hal yang paling ia sukai adalah budaya riset yang sudah dibangun sejak mahasiswa masih kuliah. Mahasiswa diberi kesempatan mengikuti penelitian, magang, dan berbagai proyek inovasi sehingga terbiasa menghasilkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

"Kami diajak untuk tidak hanya menjadi mahasiswa yang pintar secara akademik, tetapi mampu menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Itu yang membuat kuliah di Bioteknologi terasa seru sekaligus menantang," ungkap mahasiswa angkatan 2023 tersebut.

Di akhir perbincangan, Nadzira mengajak calon mahasiswa yang menyukai biologi, kimia, kesehatan, lingkungan, pertanian, maupun teknologi untuk tidak ragu memilih Bioteknologi.

"Kalau kamu suka sains dan ingin ilmunya benar-benar bisa diterapkan untuk membantu banyak orang, Bioteknologi adalah pilihan yang tepat. Apalagi Prodi Bioteknologi UM Bandung sudah terakreditasi Unggul, jadi kualitas pembelajaran, fasilitas, dan pengembangan mahasiswanya sudah terbukti. Jangan takut memilih Bioteknologi, karena peluang kariernya luas dan masa depannya sangat menjanjikan," tutupnya.***(FA)

Administrator

UM Bandung Perkuat Tata Kelola Riset Digital untuk Tingkatkan Daya Saing Dosen

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung terus memperkuat budaya riset dan pengabdian kepada masyarakat melalui peluncuran Sistem LPPM dan pengumuman penerima Hibah Internal 2026.

Inisiatif ini menjadi bagian dari transformasi tata kelola penelitian yang tidak hanya berorientasi pada digitalisasi administrasi. Namun, peningkatan kualitas riset, produktivitas dosen, dan dampak nyata bagi masyarakat.

Program yang digagas Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM Bandung tersebut dirancang untuk membangun sistem penelitian yang lebih efektif, transparan, akuntabel, terintegrasi, dan berbasis digital.

Melalui sistem baru ini, seluruh proses penelitian, mulai dari pengajuan proposal hingga pelaporan hasil, dapat dikelola secara lebih terstruktur dan mudah dipantau.

Kepala LPPM UM Bandung, Ijang Faisal, menegaskan bahwa peluncuran sistem tersebut merupakan bagian dari perubahan cara kerja dalam mengelola penelitian, bukan sekadar menghadirkan aplikasi baru.

"Hari ini kita tidak sekadar meluncurkan sebuah sistem informasi. Kita sedang memulai langkah baru untuk membangun tata kelola penelitian di Universitas Muhammadiyah Bandung yang lebih baik, efektif, transparan, akuntabel, dan terintegrasi," ujarnya.

Menurut Ijang, pengelolaan hibah penelitian selama ini melibatkan tahapan yang panjang, mulai dari pengajuan proposal, seleksi, pelaksanaan, monitoring, evaluasi, hingga pelaporan dan luaran penelitian.

Oleh karena itu, digitalisasi diharapkan mampu menyederhanakan proses sekaligus meningkatkan kualitas tata kelola.

"Digitalisasi bukan sekadar memindahkan dokumen dari meja ke layar komputer. Digitalisasi harus mampu mengubah cara kerja menjadi lebih sederhana, tertib, terukur, mudah dipantau, dan dapat dipertanggungjawabkan," katanya.

Lebih dari itu, Sistem LPPM UM Bandung dirancang mengikuti mekanisme pengajuan hibah BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Dengan demikian, sistem ini tidak hanya digunakan untuk mengelola hibah internal, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi dosen agar lebih siap bersaing memperoleh hibah penelitian tingkat nasional.

Oleh karena itu, peluncuran sistem tidak berhenti pada seremoni. Para dosen langsung melakukan simulasi pengajuan proposal menggunakan laptop dan proposal penelitian masing-masing untuk menguji sekaligus memberikan masukan terhadap sistem yang baru dikembangkan.

"Bapak dan Ibu dosen bukan sekadar peserta simulasi, tetapi pengguna pertama yang ikut menguji dan menyempurnakan sistem ini. Sistem yang baik bukanlah sistem yang hanya terlihat canggih, tetapi benar-benar mudah digunakan dan membantu pekerjaan penggunanya," tutur Ijang.

Pada kesempatan yang sama, LPPM juga mengumumkan penerima Hibah Internal 2026 yang telah lolos seleksi administrasi dan penilaian substansi oleh tim reviewer.

Menurut Ijang, hibah tersebut harus dipandang sebagai investasi akademik untuk meningkatkan kapasitas dosen, memperkuat rekam jejak penelitian, membangun kolaborasi, serta menghasilkan karya yang memberi manfaat luas.

"Kita ingin penelitian di UM Bandung terus bergerak dari sekadar terlaksana menjadi berkualitas, dari sekadar menghasilkan laporan menjadi menghasilkan luaran, dan dari sekadar memenuhi kewajiban akademik menjadi memberikan dampak nyata," tegasnya.

Ia berharap penelitian yang didanai mampu menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi, inovasi, hak kekayaan intelektual, bahan ajar, rekomendasi kebijakan, hingga solusi konkret bagi berbagai persoalan masyarakat.

Sementara itu, bagi dosen yang belum memperoleh pendanaan, hasil evaluasi reviewer diharapkan menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas proposal pada periode berikutnya.

Sementara itu, Wakil Rektor I UM Bandung, Ayi Yunus Rusyana, menegaskan bahwa dosen tidak cukup hanya menjalankan tugas mengajar. Namun, harus aktif membangun karier akademik melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. 

Menurutnya, sistem penelitian yang tertata akan membantu setiap tahapan riset berjalan lebih baik sekaligus mendukung peningkatan jabatan fungsional dosen dan reputasi akademik universitas.

Ayi berharap hibah internal menjadi batu loncatan bagi dosen UM Bandung untuk semakin percaya diri mengikuti kompetisi hibah nasional, khususnya Hibah BIMA Kemendiktisaintek.

Ia juga mendorong agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai laporan atau artikel jurnal. Namun, dipublikasikan melalui berbagai media agar dapat diakses masyarakat dan memberi manfaat yang lebih luas.

"Kita ingin lahir penelitian-penelitian yang tidak hanya berkualitas secara akademik, tetapi juga menjadi rujukan, diperbincangkan secara luas, memperkuat jejaring kolaborasi, dan meningkatkan daya saing UM Bandung di tingkat nasional," ujarnya.

Melalui peluncuran Sistem LPPM dan Hibah Internal 2026, UM Bandung menegaskan komitmennya membangun ekosistem riset yang unggul, digital, kolaboratif, dan berdampak.

Transformasi ini diharapkan mampu melahirkan lebih banyak penelitian berkualitas sekaligus mempersiapkan dosen agar semakin kompetitif di tingkat nasional maupun internasional.***

Administrator