Berita

Kendalikan Keinginan Sebelum Terjebak dalam Jerat Utang

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Pesatnya perkembangan layanan keuangan digital, khususnya paylater, menghadirkan kemudahan dalam bertransaksi.

Namun, di balik kemudahan tersebut, masyarakat perlu meningkatkan kesadaran dan kehati-hatian agar tidak terjebak dalam masalah finansial yang dapat mengganggu ketenangan hidup.

Pesan tersebut disampaikan dosen Prodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Bandung Yudi Haryadi saat mengisi Kajian Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat, Rabu (10/06/2026).

Dalam kajiannya yang bertajuk “Dompet Tipis tapi Hati Tetap Tenang di Tengah Era Paylater”, Yudi mengungkapkan bahwa penggunaan layanan paylater di Indonesia terus mengalami peningkatan.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2026, jumlah rekening pengguna paylater mencapai 31,76 juta dengan total nilai transaksi sebesar Rp56,3 triliun.

Menurutnya, kemudahan transaksi yang ditawarkan berbagai platform digital sering kali membuat masyarakat terlena.

Tidak sedikit pengguna yang akhirnya terjebak dalam pola konsumsi berlebihan hingga menimbulkan beban utang, tekanan finansial, bahkan konflik dalam keluarga.

“Masalah utama kita sering kali bukan karena kurangnya rezeki dari Allah SWT, melainkan karena hilangnya kendali terhadap keinginan diri sendiri,” ujarnya.

Yudi menjelaskan bahwa daya tarik paylater terletak pada kemudahan, kecepatan, dan kepuasan instan yang ditawarkannya.

Namun, tanpa pengelolaan yang bijak, fasilitas tersebut dapat mendorong seseorang mengambil keputusan keuangan yang tidak sesuai dengan kemampuan ekonominya.

Ia menegaskan bahwa Islam tidak melarang utang secara mutlak. Namun, utang diperbolehkan apabila didasarkan pada kebutuhan yang jelas, bebas dari unsur riba, memiliki akad yang transparan, serta disertai kemampuan untuk melunasinya.

“Yang menghilangkan ketenangan bukanlah utang itu sendiri, melainkan ketergantungan terhadap utang untuk memenuhi gaya hidup dan adanya unsur riba yang menyertainya,” tegasnya.

Menurut Yudi, banyak persoalan keuangan berawal dari ketidakseimbangan antara keinginan dan kemampuan.

Ketika gaya hidup melampaui penghasilan, seseorang cenderung mencari jalan pintas melalui kredit atau layanan paylater untuk memenuhi keinginannya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk memaknai kembali arti ketenangan hidup.

Baginya, ketenangan tidak ditentukan oleh besarnya saldo rekening, tingginya limit kredit, ataupun banyaknya barang yang dimiliki, melainkan oleh kedekatan kepada Allah SWT, rasa syukur, dan kemampuan hidup sesuai kemampuan.

“Mengingat Allah, bersyukur atas nikmat yang dimiliki, dan hidup sesuai kemampuan merupakan fondasi ketenangan yang sesungguhnya,” katanya.

Lebih lanjut, Yudi mengingatkan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Kebutuhan berkaitan dengan hal-hal mendasar seperti pangan, pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal.

Sementara itu, keinginan sering kali dipengaruhi oleh gengsi, tren, maupun fenomena fear of missing out (FOMO).

Sebagai langkah menghadapi tekanan finansial di era digital, Yudi menawarkan tiga nilai yang perlu ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari, yakni qanaah (merasa cukup atas rezeki yang diberikan Allah), syukur atas nikmat yang dimiliki, dan sabar dalam menunda kesenangan demi tujuan yang lebih besar.

“Kalau hari ini kita belum mampu membeli sesuatu, bukan berarti kita gagal. Bisa jadi Allah SWT sedang mengajarkan kita untuk bersabar dan menunggu waktu yang tepat,” pungkas praktisi bisnis dan keuangan mikro Islam tersebut.***

---

Sumber foto: Istockphoto dan Gemini

Administrator

Food Festival UM Bandung Jadi Ajang Kreativitas Mahasiswa dan Inovasi Produk Pangan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Suasana lobi utama Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung tampak lebih ramai dan semarak dari biasanya pada Senin (15/06/2026).

Himpunan Mahasiswa Teknologi Pangan (Himtekpa) UM Bandung kembali menggelar Food Festival 2026 yang tahun ini mengusung tema “FEASTOPIA: World of Flavour, Berlayar Mencari Harta Karun Rasa.”

Menghadirkan konsep yang kreatif dan penuh warna, Food Festival 2026 menjadi ajang bagi mahasiswa untuk menunjukkan inovasi di bidang pangan sekaligus memperkenalkan potensi pangan lokal kepada masyarakat.

Berbagai kegiatan menarik turut memeriahkan festival ini, mulai dari seminar, workshop, bazar produk inovasi pangan, hingga kompetisi kreatif seperti lomba esai dan videografi yang diikuti siswa-siswi SMA.

Tak hanya menjadi sarana edukasi, Food Festival juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitas dan gagasan mereka melalui inovasi pangan.

Ketua Pelaksana Food Festival 2026 Muhammadi Fathir Lukman Nur Hakim mengatakan bahwa kegiatan tahunan ini menjadi wadah bagi mahasiswa, khususnya Program Studi Teknologi Pangan, untuk mengembangkan ide-ide kreatif menjadi produk yang memiliki nilai manfaat bagi masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa didorong untuk lebih inovatif dan produktif dalam menciptakan produk pangan. Harapannya, inovasi yang lahir tidak hanya menarik, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan di masa depan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Program Studi Teknologi Pangan UM Bandung Khairiah menjelaskan bahwa Food Festival bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari implementasi proyek pembelajaran mahasiswa dalam mata kuliah Pengembangan Produk Pangan.

Menurutnya, tema yang diangkat tahun ini berfokus pada pemanfaatan pangan lokal yang berpotensi dikembangkan menjadi emergency food atau pangan darurat.

“Kita memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat melimpah. Namun, yang tidak kalah penting adalah bagaimana mengelolanya dengan baik agar dapat menjadi solusi kebutuhan pangan di masa depan,” jelasnya.

Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UM Bandung Arief Yunan turut memberikan apresiasi atas berbagai inovasi yang ditampilkan mahasiswa.

Ia menilai Food Festival menjadi jembatan yang menghubungkan dunia akademik dengan dunia industri.

“Produk-produk yang dipamerkan hari ini memiliki peluang untuk terus dikembangkan menjadi usaha atau bisnis yang lebih besar di masa mendatang,” katanya.

Arief juga mengingatkan mahasiswa agar terbuka terhadap berbagai masukan dan evaluasi yang diberikan dosen maupun pengunjung.

“Setiap kritik dan saran adalah peluang untuk menyempurnakan produk. Dari situlah akan lahir inovasi yang lebih sehat, berkelanjutan, dan mampu bersaing di tingkat global,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto mengajak mahasiswa untuk memahami proses pangan secara menyeluruh, mulai dari tahap budidaya hingga menjadi produk yang siap dikonsumsi masyarakat.

Menurutnya, ilmu dan teknologi pangan memiliki peran yang sangat strategis dalam menjawab tantangan bangsa, terutama terkait ketahanan pangan, inovasi produk, dan pengembangan sumber daya manusia yang unggul.

Ia pun optimistis mahasiswa UM Bandung memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat melalui inovasi dan karya yang mereka hasilkan.

“Saudara sekalian memiliki potensi yang luar biasa. Saya berharap potensi tersebut dapat menjadi bekal untuk berkarya, berinovasi, dan memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat luas,” pungkasnya.***

Administrator

UM Bandung dan Sepuluh Tahun yang Tak Sekadar Angka

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Sepuluh tahun lalu, Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung memulai langkahnya dengan hanya lima puluh mahasiswa baru.

Minggu, 14 Juni 2026, kampus ini merayakan satu dekade perjalanannya—sebuah jarak yang ditempuh dengan pertumbuhan yang konsisten di hampir semua lini: kelembagaan, sumber daya manusia, program studi, hingga kualitas layanan pendidikan.

Kini UM Bandung menaungi dua puluh program studi di bawah lima fakultas, ditambah Magister Manajemen dan Profesi Apoteker. Sebuah lompatan jauh dari titik nol satu dekade lalu.

Dalam perayaan Milad ke-10 yang berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto melemparkan target ambisius: sepuluh ribu mahasiswa.

"Di usia sepuluh tahun ini, jumlah mahasiswa baru UM Bandung harus terus naik. Harapannya, jumlah mahasiswa kita ke depan dapat mencapai sepuluh ribu orang," ujarnya, disambut tepuk tangan hadirin.

Herry mengakui bahwa basis mahasiswa UM Bandung saat ini masih terkonsentrasi di Jawa Barat. Untuk menembus target itu, ia menegaskan perlunya penguatan di berbagai lini: kualitas layanan pendidikan, pengelolaan institusi, hingga strategi promosi yang lebih luas.

Selain ekspansi jumlah mahasiswa, kampus juga mengincar akreditasi unggul dan tengah memproses izin pembukaan prodi magister baru.

Di balik target ke depan, ada catatan yang sudah dibukukan. Apa sajakah itu?

Selama sepuluh tahun terakhir, UM Bandung berhasil membangun gedung sendiri, menambah fasilitas kampus, mengantongi akreditasi institusi "Baik Sekali", memperkuat sistem manajemen mutu, menambah jumlah dosen bergelar doktor, membuka program studi baru, serta mencatatkan sejumlah prestasi di tingkat nasional maupun internasional.

Bagi Herry, capaian-capaian ini bukan sekadar statistik administratif.

"Ketika UM Bandung diresmikan, para pendiri dan perintis universitas ini sesungguhnya tidak sedang membangun sebuah kampus semata. Mereka sedang menyiapkan fondasi bagi lahirnya generasi masa depan yang memiliki keunggulan ilmu pengetahuan, kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, dan karakter keislaman yang kuat," tegasnya.

Ketua Badan Pembina Harian UM Bandung Dadang Kahmad yang juga Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, memberi catatan apresiatif atas laju pertumbuhan kampus ini.

Menurutnya, UM Bandung telah mengambil peran nyata dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan berjiwa kewirausahaan.

"Momentum satu dekade ini tidak sekadar perayaan perjalanan waktu. Namun, juga menjadi saat yang tepat untuk melakukan refleksi, evaluasi, dan memperkuat tekad menuju masa depan UM Bandung yang lebih gemilang," katanya.

Dadang juga menyampaikan terima kasih kepada para pendiri, pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan alumni yang telah berkontribusi membesarkan kampus ini.

Ia berharap usia sepuluh tahun menjadi pijakan untuk melompat lebih tinggi melalui penguatan akademik, riset, kemitraan, dan kontribusi sosial—agar UM Bandung dapat tumbuh sebagai pusat keunggulan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai Islam berkemajuan.

Di luar pidato dan refleksi formal, perayaan Milad ke-10 juga diwarnai sisi yang lebih cair: Lomba Kreasi Nasi Goreng antar-program studi yang digelar sejak pagi.

Para dekan, kepala program studi, dan dosen dari berbagai fakultas turun langsung berkompetisi, mengolah bahan masakan menjadi sajian terbaik mereka.

Rektor bersama jajaran wakil rektor turun tangan menjadi juri. Di tengah suasana meriah itu, lomba ini menjelma jadi lebih dari sekadar kompetisi—ia menjadi perekat kebersamaan di lingkungan kampus, menutup satu dekade perjalanan UM Bandung dengan kehangatan kekeluargaan.***(FA/FK)

Administrator

Makna Haji Mabrur: Ketika Ibadah Melahirkan Akhlak dan Perubahan Diri

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Cecep Taufikurrohman mengajak umat Islam untuk memaknai ibadah haji tidak hanya sebagai perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi sebagai perjalanan spiritual yang membawa manusia semakin dekat kepada Allah SWT.

Pesan tersebut disampaikan Buya Cecep, sapaan akrabnya, dalam kajian Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat bertajuk “Ketika Pemilik Hati Suci Telah Kembali: Selamat Datang Tamu Allah!” yang digelar pada Ahad (14/06/2026).

Dalam pemaparannya, Buya Cecep menjelaskan bahwa haji merupakan puncak penyempurna rukun Islam yang memiliki keterkaitan erat dengan syahadat, salat, zakat, dan puasa.

Menurutnya, ibadah haji bukan semata persoalan kemampuan finansial atau kesempatan berangkat ke Makkah, melainkan buah dari proses panjang dalam membersihkan hati, memperbaiki kualitas ibadah, dan meluruskan niat hanya karena Allah SWT.

“Haji sejatinya adalah perjalanan hati menuju Allah. Seseorang bisa saja menyelesaikan seluruh rangkaian ritual haji, tetapi belum tentu berhasil membawa pulang perubahan dalam dirinya,” ujarnya.

Mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 27, Buya Cecep menegaskan bahwa haji merupakan panggilan sekaligus undangan langsung dari Allah kepada hamba-Nya.

Oleh karena itu, mereka yang mendapat kesempatan berhaji hendaknya mempersiapkan diri dengan harta yang halal, keikhlasan yang tulus, serta kesiapan spiritual yang matang.

Ia menjelaskan bahwa setiap rangkaian ibadah haji mengandung nilai-nilai pendidikan yang mendalam. Ihram mengajarkan kesederhanaan dan persamaan derajat manusia di hadapan Allah.

Tawaf menanamkan kesadaran bahwa hanya Allah yang menjadi pusat orientasi kehidupan. Sementara itu, sai menghadirkan teladan Siti Hajar tentang pentingnya ikhtiar, kesabaran, dan optimisme dalam menjemput pertolongan Allah SWT.

Menurutnya, wukuf di Arafah menjadi momentum refleksi yang sangat mendalam bagi seorang hamba untuk menyadari keterbatasan dirinya sekaligus berharap ampunan Allah.

Adapun lempar jumrah mengajarkan pentingnya melawan hawa nafsu, kesombongan, dan berbagai sifat buruk yang menjadi penghalang kedekatan manusia dengan Tuhannya.

Lebih lanjut, Buya Cecep mengingatkan bahwa keberhasilan ibadah haji tidak cukup diukur dari gelar yang disandang setelah pulang dari Tanah Suci.

Ia menyoroti fenomena masih adanya individu yang telah berhaji tetapi tetap terjerumus dalam perilaku koruptif, ketidakjujuran, maupun penyalahgunaan amanah.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ibadah yang hanya berhenti pada aspek ritual belum sepenuhnya menyentuh dimensi rohani dan pembentukan karakter.

Padahal, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap ibadah seharusnya melahirkan akhlak mulia serta perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa pendidikan agama perlu dipahami secara lebih komprehensif, tidak hanya berfokus pada aspek fikih dan tata cara pelaksanaan ibadah.

Namun, juga pada penghayatan nilai-nilai spiritual yang mampu membentuk kepribadian dan integritas seseorang.

Buya Cecep menambahkan, haji yang mabrur tercermin dari hati yang menjadi lebih bersih, lebih rendah hati, lebih peduli terhadap sesama, serta semakin istiqamah dalam menjalankan kebaikan.

“Mudah-mudahan ketika Allah memanggil kita menjadi tamu-Nya, kita pulang bukan hanya membawa gelar haji, tetapi membawa jiwa yang telah disucikan dan siap menebarkan manfaat bagi kehidupan. Pada akhirnya, yang benar-benar kembali dari perjalanan suci itu bukan hanya tubuh yang telah menunaikan ibadah, melainkan hati yang semakin dekat kepada Allah SWT,” pungkasnya.***(HMA)

____

Sumber foto: Istockphoto dan ChatGPT

Administrator

PSM UM Bandung Rayakan Harmoni dan Regenerasi Lewat Konser Resital Ke-6

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung kembali menghadirkan malam penuh harmoni melalui Konser Resital ke-6 dan Pengukuhan Anggota Angkatan ke-18 yang digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung pada Sabtu (13/06/2026).

Mengusung tema “Senandhika Harsakala: Perjalanan Metamorfosa Harmoni”, kegiatan ini menjadi ajang perayaan perjalanan organisasi sekaligus momen regenerasi anggota baru.

Suasana auditorium terasa hidup ketika para anggota PSM menampilkan kemampuan vokal terbaik mereka di hadapan para penonton.

Konser ini tidak hanya menyuguhkan pertunjukan musik yang memukau, tetapi menjadi penanda bergabungnya generasi baru yang siap melanjutkan kiprah dan prestasi PSM UM Bandung.

Ketua Panitia Afnan Yasfi Nugroho mengatakan bahwa tema yang diangkat menggambarkan proses tumbuh dan berkembang yang dialami para anggota selama berproses di PSM.

Ia berharap organisasi ini dapat menjadi wadah yang inspiratif bagi anggota baru untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi diri.

Konser ini melibatkan 30 calon anggota serta didukung oleh 42 panitia dan 15 relawan yang turut menyukseskan acara.

Ketua PSM UM Bandung Fadya Fitri Febrianti A mengaku bangga atas terselenggaranya konser tersebut.

Menurutnya, penampilan yang ditampilkan merupakan hasil dari latihan panjang, kerja keras, dan kekompakan seluruh anggota.

Ia berharap anggota yang baru dikukuhkan dapat menjadikan PSM sebagai rumah kedua yang hangat untuk bertumbuh bersama.

Sementara itu, Pembina PSM UM Bandung Agung Tirta Wibawa mengapresiasi konsistensi organisasi yang telah berkarya selama 16 tahun, bahkan jauh sebelum UM Bandung berdiri.

Menurutnya, perkembangan PSM menunjukkan kematangan organisasi yang kini mampu berlatih dan berkembang secara mandiri dengan dukungan penuh dari lingkungan kampus.

Apresiasi juga disampaikan Plt Kabag Kemahasiswaan dan Pengembangan Karier UM Bandung, Rikki Maulana Yusup.

Ia menegaskan bahwa kampus tidak hanya berfokus pada pengembangan akademik. Namun, memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan minat dan bakat melalui berbagai unit kegiatan mahasiswa, termasuk PSM.

Konser semakin berkesan dengan penampilan sejumlah lagu populer Indonesia, seperti Untukku karya Chrisye, Kita Usahakan Lagi dari Batas Senja, Laskar Pelangi milik Nidji, Manusia Kuat karya Tulus, dan Melompat Lebih Tinggi dari Sheila On 7.

Melalui rangkaian lagu tersebut, PSM UM Bandung berhasil menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menghibur.

Namun, menggambarkan perjalanan, pertumbuhan, dan semangat kebersamaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.***

Administrator

Daftar Mata Kuliah Prodi Administrasi Publik UM Bandung Semester 1-4

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Program Studi Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Bandung menawarkan kurikulum yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi di bidang administrasi pemerintahan serta kebijakan publik.

Selama menempuh pendidikan, mahasiswa tidak hanya mempelajari tata kelola pemerintahan dan manajemen sektor publik. Namun, mendapatkan pemahaman mengenai nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan yang menjadi ciri khas pendidikan di UM Bandung.

Kurikulum ini disusun secara bertahap agar mahasiswa mampu memahami teori, menguasai praktik administrasi publik, hingga melakukan penelitian ilmiah.

Berikut daftar mata kuliah Program Studi Administrasi Publik UM Bandung dari semester 1 hingga semester 8.

Semester 1

  1. Al-Islam dan Kemuhammadiyahan 1
  2. Pengantar Ilmu Administrasi
  3. Pendidikan Pancasila
  4. Bahasa Inggris
  5. Sistem Ekonomi Indonesia
  6. Sistem Sosial Budaya Dasar
  7. Sistem Politik Indonesia
  8. Teori Organisasi
  9. Pengantar Ilmu Hukum

Semester 2

  1. Al-Islam dan Kemuhammadiyahan 2
  2. Asas-Asas Manajemen
  3. Bahasa Indonesia
  4. Kewarganegaraan
  5. Pengantar Ilmu Hukum
  6. Sistem Ekonomi Indonesia
  7. Sistem Politik Indonesia
  8. Sistem Sosial Budaya Dasar
  9. Teori Organisasi

Semester 3

  1. Al-Islam dan Kemuhammadiyahan 3
  2. Hukum Administrasi Negara
  3. Sistem Administrasi Publik Indonesia
  4. Filsafat Administrasi
  5. Akuntansi Sektor Publik
  6. Literasi Digital
  7. Perilaku Organisasi
  8. Birokrasi dan Governansi Publik

Semester 4

  1. Administrasi Publik Kontemporer
  2. Perbandingan Administrasi Negara
  3. Kemitraan dalam Tata Kelola Pemerintahan
  4. Etika Administrasi Publik
  5. Statistik Penelitian
  6. Keuangan Negara
  7. Otonomi Daerah

Semester 5

  1. Metodologi Penelitian Sosial
  2. Manajemen Pelayanan Publik
  3. Pengantar Kebijakan Publik
  4. Budaya Organisasi
  5. Manajemen SDM Sektor Publik
  6. Teori Perencanaan
  7. Pembangunan Governansi Digital

Semester 6

  1. Anti Korupsi
  2. Kepemimpinan
  3. Formulasi Kebijakan
  4. Manajemen Kinerja
  5. Metodologi Penelitian Administrasi
  6. Komunikasi dan Advokasi
  7. Implementasi dan Evaluasi Kebijakan Publik

Semester 7

  1. Pengambilan Keputusan
  2. Analisis Kebijakan Publik
  3. Administrasi Pembangunan
  4. Ristek (Riset Praktik Administrasi Negara)
  5. Manajemen Strategik

Semester 8

  1. Seminar Usulan Penelitian
  2. Skripsi

Kurikulum Administrasi Publik UM Bandung dirancang untuk menghasilkan lulusan yang kompeten, profesional, dan berintegritas.

Melalui kombinasi pembelajaran teoritis, praktik administrasi, serta penguatan nilai-nilai keislaman, lulusan diharapkan mampu berkontribusi secara aktif di sektor pemerintahan, lembaga publik, organisasi nonprofit, maupun berbagai institusi yang bergerak dalam pelayanan masyarakat.

Buat kamu yang minat kuliah di prodi Administrasi Publik, ayo kuliah di UM Bandung saja.***

Sumber foto: hasil olah ChatGPT

Administrator