Berita

Pendidikan Puasa Anak Usia Dini Perlu Pendekatan Menyenangkan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Muhammadiyah Bandung Rizka Saputri menyampaikan bahwa Ramadan merupakan bulan yang sarat makna sekaligus momentum tepat untuk mengenalkan pendidikan puasa kepada anak usia dini.

Menurutnya, melalui pendekatan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak, Ramadan dapat menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai-nilai keislaman sekaligus membentuk karakter sejak dini secara alami dan menyenangkan.

Rizka menjelaskan bahwa konsep puasa pada dasarnya masih bersifat abstrak bagi anak usia dini. Karena itu, pengenalan puasa tidak dapat dilakukan secara instan atau dengan pendekatan yang kaku dan menekan.

“Konsep puasa perlu dijelaskan dengan cara yang sederhana dan konkret, salah satunya melalui cerita agar anak mudah memahami maknanya,” ujarnya. Metode bercerita dinilai efektif karena dekat dengan dunia imajinasi anak.

Ia menuturkan, cerita tentang puasa dapat diawali dengan penjelasan perintah puasa dalam Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan tujuan dan cara menjalankannya. Anak perlu dikenalkan bahwa puasa bertujuan membentuk pribadi bertakwa melalui bahasa yang mudah dipahami.

Terkait strategi agar anak belajar puasa tanpa merasa tertekan, Rizka menekankan pentingnya memahami karakter anak yang masih berada pada tahap pra-operasional. Guru dan orang tua disarankan menghadirkan cerita-cerita menyenangkan tentang Ramadan, seperti sahur bersama keluarga atau kegiatan di masjid, bukan menonjolkan larangan semata.

Selain dilakukan secara bertahap melalui kesepakatan bersama anak, Rizka menegaskan pentingnya apresiasi terhadap proses belajar puasa. “Puasa melatih sabar, disiplin, jujur, empati, dan gemar berbagi, sehingga pujian dan dukungan menjadi bagian penting dalam pendidikan karakter anak,” pungkasnya.***(FA)

Administrator

Ramadhan Sebagai Momentum Menyempurnakan Integritas Diri

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kaprodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Bandung Iman Harjono menyampaikan bahwa filosofi akuntansi dapat dijadikan sarana audit diri yang mendalam, terutama pada bulan Ramadhan yang sarat dengan momentum evaluasi spiritual.

Menurutnya, nilai-nilai utama dalam profesi akuntan seperti integritas, transparansi, dan akuntabilitas memiliki irisan kuat dengan ajaran Islam. Ramadhan pun menjadi ruang yang tepat untuk memaknai nilai tersebut, tidak hanya dalam konteks profesi, tetapi juga kehidupan personal.

Iman menjelaskan bahwa akuntansi tidak sekadar berbicara tentang angka dan laporan keuangan. Lebih dari itu, akuntansi dapat menjadi metafora kehidupan, karena setiap manusia sejatinya memiliki “laporan amal” yang kelak akan diperiksa secara menyeluruh tanpa peluang revisi.

“Sebagaimana laporan keuangan harus jujur dan akurat, demikian pula hidup manusia akan diperiksa Allah dengan catatan yang sempurna, tanpa ada yang terlewat,” ujarnya saat mengisi Kajian Ramadhan di YouTube UM Bandung pada Jumat (20/02/2026).

Kesadaran akan pencatatan amal ini, lanjut Iman, semestinya menumbuhkan kehati-hatian dalam bersikap dan bertindak. Setiap ucapan dan perbuatan memiliki konsekuensi spiritual yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ia memosisikan Ramadhan sebagai audit internal spiritual sebelum datangnya hari hisab. Seperti halnya dalam dunia korporasi, audit internal dilakukan untuk memastikan kesiapan sebelum audit eksternal, demikian pula Ramadhan menjadi waktu refleksi dan pembenahan diri sebelum pertanggungjawaban akhir.

Menutup refleksinya, Iman menegaskan bahwa Ramadhan adalah kesempatan untuk memperbaiki “laporan hidup” dengan menambah aset amal dan mengurangi liabilitas dosa. Ia berharap bulan suci ini benar-benar melahirkan pribadi yang berintegritas, sehingga kelak kitab amal dibuka dengan senyum, bukan kegelisahan.***

Administrator

Puasa Bukan Tentang Menahan Lapar Tapi Bagaimana Menata Jiwa

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Rektor III UM Bandung Zamah Sari menegaskan bahwa Ramadhan merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk menguji sekaligus merefleksikan kegembiraan sejati dalam menjalankan ibadah puasa, bukan sekadar kegembiraan yang bersifat lahiriah. 

Hal tersebut ia sampaikan saat mengisi Kajian Ramadan di kanal YouTube Universitas Muhammadiyah Bandung, Kamis (19/02/2026).

Ia menjelaskan bahwa umat Islam di Indonesia memiliki beragam tradisi lokal dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi-tradisi tersebut tumbuh dari budaya, kebersamaan, dan nilai sosial yang mengakar kuat, sehingga menjadi ekspresi kegembiraan kolektif masyarakat.

Menurut Zamah, berbagai daerah mengekspresikan suka cita Ramadhan dengan cara yang khas, mulai dari pawai obor, makan bersama, mandi ritual, hingga kegiatan sosial. “Tradisi ini menandakan bahwa Ramadhan selalu hadir sebagai bulan yang dinanti dan disambut dengan sukacita,” ujarnya.

Ia mencontohkan tradisi Cucurak di tanah Sunda sebagai simbol kebersamaan dan saling memaafkan, Megibung di Bali yang menegaskan nilai kesetaraan, Marpangir di Sumatera Utara serta Balimau di Sumatera Barat sebagai ritual pembersihan diri, hingga Padusan di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai persiapan spiritual menjelang Ramadhan.

Meski demikian, Zamah mengingatkan bahwa kegembiraan Ramadhan tidak boleh hanya bertumpu pada hawa nafsu dan kesenangan jasmani. “Kalau kegembiraan itu hanya soal perut dan suasana ramai, maka makna puasa justru hilang, karena puasa mengajarkan kita menahan lapar dan haus,” tegasnya.

Ia juga menilai kegembiraan yang hanya didasarkan pada akal dan nalar memiliki keterbatasan. Akal memang mampu memahami manfaat puasa secara fisik, tetapi pada saat yang sama sering kali menegosiasikan ketentuan syariat sesuai dengan kepentingan pribadi.

Lebih lanjut, Zamah menekankan bahwa yang benar-benar diuji dalam ibadah puasa adalah hati nurani dan iman. “Yang dipanggil Allah dalam puasa itu bukan perut dan bukan akal, tetapi hati kita,” katanya. Karena itu, Ramadhan harus menjadi ruang introspeksi atas perjalanan hidup selama sebelas bulan sebelumnya.

Menurutnya, Ramadhan merupakan momentum tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Sekaligus peneguhan kalimah tauhid agar manusia tidak menuhankan selain Allah, baik harta, jabatan, keluarga, maupun hawa nafsu. Dalam dimensi sosial, zakat fitrah juga menjadi sarana membersihkan harta dan menumbuhkan kepedulian.

Zamah menyimpulkan bahwa kegembiraan sejati Ramadhan lahir dari hati yang bersih dan merdeka dalam iman. “Kegembiraan yang hakiki itu ketika hati kita mampu mengatakan tidak pada dosa dan kompromi,” pungkasnya, seraya menegaskan bahwa tradisi Ramadhan boleh dirayakan, namun kesungguhan hati tetap menjadi kunci utama kualitas ibadah puasa.***(FA)

Administrator

Memahami Salat Tarawih Secara Jernih Melalui Hadis Rasulullah

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Setiap datangnya bulan Ramadhan, masjid-masjid kembali dipenuhi cahaya ibadah. Lantunan Al-Qur’an terdengar di malam hari, saf-saf salat terisi rapat, dan satu amalan khas Ramadhan pun kembali dikerjakan, yaitu salat Tarawih. Meski rutin dilakukan setiap tahun, Tarawih kerap memunculkan pertanyaan seputar hukum, pelaksanaan, hingga jumlah rakaatnya.

Untuk memahami Tarawih secara jernih, rujukan utama tentu hadis-hadis Nabi Muhammad saw. Dari riwayat Aisyah, diketahui bahwa Rasulullah saw pernah melaksanakan salat malam Ramadhan di masjid dan diikuti para sahabat. 

Namun, beliau tidak terus-menerus mengimami karena khawatir salat tersebut akan dianggap wajib oleh umat. Dari peristiwa ini, para ulama menegaskan bahwa Tarawih adalah ibadah sunnah, dianjurkan tetapi tidak diwajibkan.

Makna kesunnahan ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah yang menjelaskan bahwa Nabi saw menganjurkan qiyam Ramadhan tanpa perintah yang bersifat mengikat. Siapa pun yang melaksanakannya dengan iman dan mengharap pahala dijanjikan ampunan dosa. Hal ini menunjukkan bahwa Tarawih merupakan ibadah yang sarat keutamaan, namun tetap memberi ruang kelapangan bagi umat.

Dalam praktiknya, Nabi saw juga tidak selalu melaksanakan Tarawih berjamaah setiap malam. Riwayat Abu Dzar menerangkan bahwa Rasulullah saw baru mengimami salat malam pada beberapa malam terakhir Ramadhan. Meski demikian, beliau menegaskan keutamaan mengikuti imam hingga selesai, yang pahalanya dicatat seperti qiyam satu malam penuh.

Terkait jumlah rakaat, Aisyah menuturkan bahwa Rasulullah saw tidak pernah menambah salat malamnya, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan, lebih dari sebelas rakaat termasuk witir. Riwayat ini menjadi dasar kuat bahwa praktik qiyam Ramadhan Nabi saw berjumlah sebelas rakaat.

Adapun waktu yang paling utama untuk tarawih adalah pada larut malam. Namun, salat tarawih juga boleh dikerjakan pada awal malam setelah Isya, terutama demi kemudahan jamaah dan untuk meraih keutamaan salat berjamaah. Dengan demikian, tarawih hadir sebagai ibadah sunnah yang penuh rahmat, memberi ruang keluasan sekaligus mendidik umat dalam keikhlasan dan kesungguhan beribadah.***

Sumber: muhammadiyah.or.id | Foto: istockphoto

 

Administrator

Makanan Halal Hadirkan Kesehatan Tubuh dan Ketenangan Hati

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen prodi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Bandung Mae Amelianawati menegaskan pentingnya pemahaman orang tua mengenai makanan halal dan sehat bagi tumbuh kembang anak. Hal tersebut disampaikannya saat mengisi kajian Gerakan Subuh Mengaji (GSM), Rabu (18/02/2026).

Mae menjelaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan pemenuhan kebutuhan jasmani. Salah satu wujudnya adalah memilih makanan yang halal dan baik sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan dan kualitas hidup keluarga.

Menurutnya, perintah mengonsumsi makanan halal dan thayyib bersumber dari Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Baqarah ayat 168, dan bersifat universal. “Ini bukan hanya kewajiban orang beriman, melainkan perintah bagi seluruh manusia demi keselamatan, kesehatan, dan keberkahan hidup,” ujarnya.

Mae menekankan bahwa makanan halal berperan strategis dalam pembentukan karakter anak. Pola makan halal sejak dini menjadi fondasi kuat bagi kesehatan fisik, akhlak, dan mental generasi yang kelak menjadi pemimpin bangsa.

Dari sisi kesehatan, ia mengingatkan bahwa masa anak-anak merupakan fase golden age yang sangat menentukan perkembangan fisik dan otak. Pada fase ini, anak membutuhkan asupan nutrisi lengkap seperti protein, kalsium, vitamin, mineral, lemak sehat, dan serat, bahkan sejak masa kehamilan ibu.

Lebih lanjut, Mae mengaitkan makanan halal dengan keberkahan dan kesehatan hati. Mengutip pandangan Imam Al-Ghazali, ia menyebut bahwa makanan yang dikonsumsi memengaruhi kondisi batin seseorang.

“Makanan halal menghadirkan ketenangan dan cahaya hati, sedangkan makanan haram berpotensi mengurangi keberkahan hidup,” tuturnya.

Menutup kajian, Mae mengingatkan titik kritis keharaman pada makanan olahan akibat bahan tambahan tertentu, sehingga orang tua perlu cermat membaca label halal.

Ia menegaskan bahwa memilih makanan halal dan sehat adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus investasi terbaik bagi masa depan anak, serta merekomendasikan buku Cerdas Memilih Makanan Halal dan Sehat untuk Sang Buah Hati sebagai panduan praktis bagi orang tua.***(FA)

Administrator

Puasa Sebagai Jalan Meraih Ketakwaan, Bukan Hanya Menahan Lapar dan Haus

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bandung Cecep Taufikurrohman mengajak warga Persyarikatan dan umat Islam menyambut Ramadan 1447 Hijriah dengan kesadaran iman, bukan sekadar rutinitas tahunan.

Menurutnya, Ramadan merupakan momentum pendidikan ruhani yang menuntut kesiapan diri dan keluarga agar ibadah dapat dijalani dengan kualitas yang lebih baik.

Buya Cecep, sapaan akrabnya, menekankan pentingnya memahami dasar kewajiban puasa sebagaimana tertuang dalam Surah Al-Baqarah ayat 183–184.

Ayat tersebut, kata dia, tidak cukup hanya dihafalkan, tetapi perlu dipahami dan diamalkan sebagai jalan untuk mencapai tujuan utama puasa, yakni meraih derajat ketakwaan.

Dalam kajiannya, ia juga mengulas hadis yang diriwayatkan oleh Salman Al-Farisi tentang keutamaan Ramadan.

Meski hadis tersebut dinilai daif oleh sebagian ulama, Buya Cecep menjelaskan bahwa kandungan maknanya sejalan dengan Al-Qur’an dan hadis sahih lainnya, sehingga dapat dijadikan motivasi untuk meningkatkan semangat dan kualitas ibadah.

Ia menyampaikan bahwa Ramadan adalah bulan yang agung, bulan kesabaran, dan bulan kedermawanan. Setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya.

Bahkan, satu kewajiban di bulan Ramadan nilainya setara dengan tujuh puluh kewajiban di luar Ramadan, sementara amal sunah dihargai seperti amal wajib. Hal itu ia sampaikan saat mengisi kajian GSM Aisyiyah Jawa Barat, Jumat (13/02/2026).

Buya Cecep juga menyoroti keutamaan memberi makanan berbuka puasa. Rasulullah SAW, kata dia, menjanjikan pahala yang sama bagi orang yang memberi buka puasa kepada orang lain, meskipun hanya dengan sebiji kurma atau seteguk air, selama dilakukan dengan niat ikhlas dan tidak mengabaikan kebutuhan keluarga.

Ia menjelaskan bahwa secara bahasa Ramadan berarti “panas”, yang tidak hanya bermakna fisik, tetapi juga spiritual.

Puasa melatih umat Islam menahan lapar dan haus, sekaligus mengendalikan hawa nafsu serta menjaga lisan dari dusta, ghibah, dan ucapan yang menyakiti orang lain. Dalam konteks ini, puasa menjadi latihan disiplin menyeluruh dalam kehidupan.

Menurutnya, puasa sejatinya adalah perisai yang melindungi seseorang dari keburukan dan api neraka. Namun, perisai tersebut dapat rusak apabila puasa hanya sah secara fikih tanpa dibarengi akhlak yang baik.

Oleh karena itu, Buya Cecep mengingatkan agar Ramadan dijalani dengan kesungguhan total, layaknya pendidikan intensif, sehingga mampu melahirkan “alumni Ramadan” yang lebih sabar, jujur, dermawan, dan istikamah dalam kebaikan setelah bulan suci berlalu.***(FA)

Administrator