Berita

Prodi PAI UM Bandung Dorong Pendidikan Islam Adaptif di Era Global

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Pendidikan Islam di negara dengan populasi muslim minoritas menghadapi tantangan yang semakin kompleks di tengah masyarakat yang multikultural dan sistem kenegaraan yang sekuler. 

Kondisi tersebut menjadi perhatian para akademisi untuk merumuskan model pendidikan Islam yang tetap relevan, inklusif, dan mampu menjawab perkembangan zaman.

Merespons isu tersebut, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menggelar seminar internasional bertajuk "Mapping the Future: Memetakan Masa Depan Pendidikan Islam dalam Kerangka Multikultural dan Sekuler di Negeri Minoritas Muslim (Thailand dan Tiongkok)".

Seminar yang berlangsung secara hybrid di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung, Selasa (07/07/2026), menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus upaya merumuskan arah pengembangan pendidikan Islam di tingkat global.

Ketua Prodi PAI UM Bandung Iim Irohim mengatakan, pengalaman pendidikan Islam di Thailand dan Tiongkok memberikan banyak pelajaran mengenai kemampuan lembaga pendidikan Islam untuk bertahan dan berkembang di tengah berbagai keterbatasan.

Menurutnya, kedua negara tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Islam dapat tetap eksis dengan terus beradaptasi terhadap perubahan sosial, budaya, ataupun kebijakan negara tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai keislaman.

Senada dengan itu, Dekan FAI UM Bandung Afif Muhammad menilai kurikulum pendidikan Islam harus mampu hadir dan berkontribusi di ruang publik yang semakin beragam.

Oleh karena itu, pendidikan Islam perlu membangun pendekatan yang terbuka, moderat, dan mampu berdialog dengan masyarakat multikultural.

Sementara itu, Wakil Rektor I UM Bandung Ayi Yunus Rusyana menyampaikan dukungan penuh universitas terhadap pengembangan kajian-kajian internasional yang membahas isu strategis umat Islam di berbagai belahan dunia.

Ia juga mendorong Prodi PAI UM Bandung agar tidak berhenti pada penyelenggaraan seminar internasional, tetapi mampu menginisiasi konferensi internasional dengan menghadirkan akademisi dan pakar dari berbagai negara.

Pada sesi utama, seminar menghadirkan Muhammad Aziz, Penasihat sekaligus Ketua PCIM Tiongkok periode 2019–2022, yang mengangkat tema "Pendidikan Islam dan Dinamika Kehidupan Muslim di Tiongkok: Tantangan, Peluang, dan Masa Depan".

Ia menjelaskan bagaimana lembaga pendidikan Islam di Tiongkok beradaptasi dengan regulasi negara yang ketat. Sekaligus memanfaatkan kemajuan teknologi digital sebagai sarana memperluas dakwah dan literasi Islam.

Perspektif lain disampaikan Preecha Roengsamut, Vice Director Sangkhom Islam Wittaya School, Thailand, melalui materi "Transformasi Pendidikan Islam di Thailand dalam Masyarakat Multikultural".

Ia memaparkan bahwa sekolah-sekolah Islam di Thailand Selatan berhasil mengintegrasikan kurikulum nasional dengan nilai-nilai Islam dan budaya lokal sehingga mampu mencetak generasi muslim yang kompetitif sekaligus inklusif di tengah masyarakat mayoritas Buddha.

Sebagai pembicara penutup, dosen PAI UM Bandung Supala mengulas konsep Islam Berkemajuan dalam konteks masyarakat muslim minoritas. Menurutnya, pendidikan Islam tidak boleh bersifat eksklusif.

Namun, harus menjadi ruang dialog yang menghadirkan nilai-nilai rahmatan lil 'alamin serta memberikan solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan universal.

Seminar yang diikuti 425 peserta dari kalangan dosen, peneliti, praktisi pendidikan, dan mahasiswa tersebut berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mengenai strategi pengembangan pendidikan Islam di negara minoritas muslim.

Melalui forum ini, Prodi PAI FAI UM Bandung berharap lahir rekomendasi akademik yang dapat menjadi referensi bagi pengembangan kurikulum pendidikan Islam di Indonesia. Sekaligus memperkuat posisi UM Bandung sebagai pusat kajian pendidikan Islam yang adaptif terhadap dinamika global.***(FA)

Administrator

Kuliah di Bioteknologi UM Bandung, Mahasiswa Tak Hanya Belajar, Tapi Menciptakan Inovasi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Menjadi mahasiswa Bioteknologi tidak hanya belajar teori di ruang kelas atau praktikum di laboratorium. Di Prodi Bioteknologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, mahasiswa juga didorong untuk mengembangkan ide, melakukan riset, hingga membangun inovasi yang menjawab berbagai persoalan di masyarakat.

Komitmen tersebut tercermin melalui Biotechnology of Champions, sebuah kompetisi akademik yang dirancang sebagai ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, menyusun gagasan ilmiah, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kompetisi riset dan kewirausahaan tingkat nasional.

Melalui kegiatan bertema Unlocking Potential Through Competition and Research Innovation itu, mahasiswa tidak hanya berkompetisi, tetapi juga berlatih mengembangkan solusi berbasis ilmu bioteknologi terhadap berbagai isu aktual, seperti pengembangan pangan fungsional, teknologi ramah lingkungan, inovasi kesehatan, hingga pengembangan obat.

Ketua Pelaksana Biotechnology of Champions Mela Komalasari mengatakan, kompetisi tersebut merupakan program unggulan Bidang Riset dan Pengembangan Himpunan Mahasiswa Bioteknologi (Himabit) yang menjadi bagian dari upaya membangun budaya riset sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah.

"Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat meningkatkan pola pikir kritis mahasiswa, mengasah kemampuan memecahkan masalah, dan menumbuhkan minat yang kuat terhadap dunia riset di bidang bioteknologi," ujarnya.

Menurut Mela, pengalaman belajar di Bioteknologi tidak berhenti pada penguasaan materi perkuliahan. Mahasiswa juga dibiasakan mengembangkan ide menjadi proposal ilmiah, menyusun solusi berbasis riset, hingga mengenal proses kompetisi yang banyak diikuti mahasiswa di tingkat nasional.

Karena itu, Biotechnology of Champions menghadirkan simulasi penyusunan proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). Simulasi tersebut memberi pengalaman awal bagi mahasiswa sebelum mengikuti kompetisi yang sesungguhnya.

Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar menyusun karya ilmiah. Namun, melatih kemampuan bekerja dalam tim, berpikir sistematis, serta menawarkan solusi yang aplikatif dan berdampak bagi masyarakat.

"Kami berharap pengalaman dari kegiatan ini mampu meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam ajang PKM dan P2MW, sehingga ide-ide inovatif yang lahir di kampus dapat berkembang menjadi solusi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat," kata Mela.

Sementara itu, Ketua Prodi Bioteknologi UM Bandung Wulan Pertiwi menilai budaya kompetisi menjadi salah satu cara efektif membangun ekosistem akademik yang sehat sekaligus memperkuat kualitas lulusan.

Menurutnya, mahasiswa membutuhkan ruang untuk menguji kemampuan, memperluas wawasan, serta membiasakan diri menghadapi tantangan riset dan inovasi sejak dini.

"Kegiatan seperti ini sangat penting untuk mengasah kompetensi, wawasan, dan semangat kompetitif mahasiswa di bidang bioteknologi, sekaligus menjadi wadah untuk menumbuhkan jiwa juara yang kelak bermanfaat bagi bangsa dan negara," ujarnya.

Ia menambahkan, pembelajaran di Prodi Bioteknologi UM Bandung dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami konsep-konsep bioteknologi. Namun, mampu menerapkannya dalam bentuk riset, inovasi, maupun pengembangan produk yang memiliki manfaat nyata.

Melalui berbagai kegiatan akademik, riset, organisasi kemahasiswaan, hingga kompetisi, mahasiswa didorong membangun portofolio sejak kuliah. Dengan bekal tersebut, lulusan diharapkan siap melanjutkan studi, berkarier di industri, menjadi peneliti, ataupun mengembangkan usaha berbasis inovasi bioteknologi.

Bagi calon mahasiswa yang ingin belajar di lingkungan yang mendorong lahirnya inovasi, budaya riset, dan pengalaman akademik yang aplikatif, Prodi Bioteknologi UM Bandung menghadirkan ruang untuk bertumbuh sekaligus mengembangkan potensi menjadi solusi bagi masyarakat.***(FK/HMA)

Administrator

Tak Sekadar Kuliah, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UM Bandung Bangun Portofolio Lewat Kompetisi Nasional

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kuliah di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bukan hanya soal belajar teori komunikasi di ruang kelas. Mahasiswanya juga didorong untuk menghasilkan karya, mengikuti kompetisi, dan menguji kemampuan di tingkat nasional.

Hal itu kembali dibuktikan dalam ajang SILAT APIK PTMA ke-5 Tahun 2026 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta, pada 24–26 Juni 2026. Mahasiswa Ilmu Komunikasi UM Bandung sukses membawa pulang deretan prestasi dari berbagai kategori kompetisi.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa kreativitas mahasiswa berkembang di banyak bidang. Bukan hanya produksi media, tetapi juga fotografi, film, public relations, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), hingga esports.

Prestasi tertinggi diraih tim mahasiswa angkatan 2023 yang berhasil menyabet Juara 1 Public Service Announcement (PSA) melalui karya bertema pelayanan publik. Tim tersebut terdiri atas Amesha Habibah, Kahla Almalikah, Mutia Agita Ardianti, M Fawaz Hawari, Wulan Cahya Indika Azahra, dan Zahra Annisha Rizky.

Tak kalah membanggakan, tim mahasiswa angkatan 2022 yang beranggotakan Nada Salsabila, Nadzri Adhlani, Nasywa Salsa Aulia, dan Yoga Muhammad Gumelar berhasil meraih Juara 3 Practicum Work Product Competition kategori Podcast.

Prestasi juga datang dari berbagai kategori lainnya. Kaisan Nailus (2023) sukses menjadi Juara 1 Fotografi kategori Lifestyle, sementara Muhammad Dzulfikar (2024) meraih Juara 1 AI Generated Poster Competition sekaligus membawa pulang penghargaan Best Innovation berkat kreativitasnya memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI).

Di bidang perfilman, Ikhsan Fadillah (2023) meraih Juara 2 Short Semi Documentary. Putri Aulia (2023) berhasil memperoleh Juara 2 Community-Based Public Relations Campaign kategori Problem Solving, sedangkan Rahman Hakim (2023) meraih Juara 3 AI Generated Video Competition.

Menariknya lagi, prestasi mahasiswa Ilmu Komunikasi UM Bandung tidak hanya hadir di bidang akademik dan industri kreatif. Maulana Putra (2023) juga berhasil meraih Juara 3 Mobile Legends Competition, menambah daftar capaian mahasiswa dalam ajang tersebut.

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UM Bandung Agung Tirta Wibawa mengatakan, prestasi yang diraih mahasiswa menunjukkan bahwa dunia komunikasi saat ini menuntut kemampuan yang semakin beragam. Oleh karena itu, mahasiswa tidak hanya dibekali teori, tetapi juga didorong aktif berkarya, berkolaborasi, dan mengikuti perkembangan teknologi.

"Keberhasilan para mahasiswa ini mencerminkan luasnya kompetensi yang dikembangkan Prodi Ilmu Komunikasi UM Bandung. Mulai dari produksi media digital, fotografi, perfilman, hubungan masyarakat, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan, hingga industri kreatif dan esports," ujarnya.

Menurut Agung, proses pembelajaran di Prodi Ilmu Komunikasi dirancang agar mahasiswa memiliki pengalaman nyata sebelum lulus. Mereka didorong mengikuti kompetisi, mengerjakan proyek kreatif, membangun portofolio, hingga mengembangkan kemampuan yang relevan dengan kebutuhan industri komunikasi digital.

Ia berharap prestasi tersebut dapat menjadi penyemangat bagi mahasiswa lain untuk terus mengasah kemampuan dan berani mencoba berbagai tantangan.

"Keberhasilan ini sekaligus mempertegas komitmen Prodi Ilmu Komunikasi UM Bandung dalam mencetak lulusan yang profesional, adaptif, kreatif, dan siap bersaing," tegasnya.

Deretan prestasi ini menjadi gambaran bahwa kuliah di Ilmu Komunikasi UM Bandung bukan sekadar mengejar nilai di kelas. Mahasiswa diberi ruang untuk bereksplorasi, membangun portofolio, memanfaatkan teknologi terkini, hingga membuktikan kemampuannya di panggung nasional.

Bagi calon mahasiswa yang ingin belajar sambil berkarya dan siap menghadapi dunia industri kreatif, pengalaman seperti inilah yang terus dibangun di Prodi Ilmu Komunikasi UM Bandung.***(FA)

Administrator

Pangan Lokal Tak Sekadar Tradisi, Tapi Solusi Kesehatan dan Ketahanan Pangan Bangsa

UMBANDUNG.COM, Bandung -- Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang melimpah dan berpotensi besar menjadi fondasi bagi kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat kedaulatan pangan nasional.

Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal karena pola konsumsi masyarakat semakin bergeser ke arah pangan ultraolahan (ultra-processed food) dan produk impor.

Hal itu disampaikan Dosen Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sekaligus Ketua Halal Center UM Bandung Dr Saepul Adnan MSi saat menjadi narasumber dalam Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat pada Rabu lalu.

Menurut Saepul, Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi di dunia. Kekayaan tersebut tidak hanya tercermin dari keanekaragaman flora dan fauna.

Namun, beragam komoditas pangan lokal yang tersebar di berbagai daerah dengan karakteristik dan keunggulan masing-masing.

Ironisnya, di tengah kekayaan hayati tersebut, masyarakat justru semakin meninggalkan pangan tradisional dan lebih memilih makanan yang telah melalui proses industri panjang.

Padahal, semakin tinggi tingkat pengolahan suatu makanan, semakin besar pula risiko hilangnya kandungan gizi alami serta meningkatnya penggunaan bahan tambahan pangan.

"Semakin jauh makanan dari bentuk aslinya, maka semakin besar pula risiko yang perlu kita waspadai. Sudah saatnya kita kembali mengenal, mencintai, dan memanfaatkan pangan lokal sebagai bagian dari gaya hidup sehat," ujarnya.

Saepul menjelaskan bahwa pangan lokal tidak semata-mata berfungsi sebagai sumber energi atau karbohidrat.

Lebih dari itu, pangan lokal merupakan bagian dari identitas budaya bangsa, hasil kearifan masyarakat yang diwariskan lintas generasi, sekaligus anugerah Allah SWT yang harus dijaga, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Ia menyoroti fenomena yang cukup paradoks. Ketika masyarakat Indonesia mulai meninggalkan pangan tradisional, berbagai negara justru mengembangkan artisan food.

Yakni produk pangan yang diolah secara alami dengan mengutamakan kualitas bahan baku, nilai gizi, dan keberlanjutan.

Oleh karena itu, Saepul mendorong masyarakat untuk mulai menerapkan diversifikasi pangan.

Menurutnya, ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai sumber pangan utama perlu dikurangi dengan memanfaatkan berbagai komoditas lokal yang tidak kalah bernilai gizi.

Indonesia memiliki banyak sumber pangan alternatif, seperti hanjeli, sorgum, ganyong, gadung, porang, umbi garut, hingga gembili yang berpotensi mendukung pola konsumsi yang lebih sehat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

"Kebergantungan terhadap satu jenis pangan bukan hanya meningkatkan kerentanan terhadap krisis pangan, tetapi mengurangi keberagaman asupan gizi masyarakat. Diversifikasi pangan menjadi langkah penting untuk menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan," jelasnya.

Saepul mencontohkan Jawa Barat sebagai salah satu daerah yang memiliki kekayaan pangan lokal sangat melimpah.

Kondisi geografis yang beragam, mulai dari wilayah pesisir, pegunungan, lembah, hingga dataran rendah, memungkinkan tumbuhnya berbagai komoditas yang memiliki potensi ekonomi maupun kesehatan.

Selain kaya nutrisi, sejumlah pangan lokal juga memiliki sifat fungsional yang bermanfaat bagi tubuh.

Gadung, misalnya, mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antioksidan, antidiabetes, dan antiinflamasi apabila diolah dengan benar.

Ganyong memiliki kandungan serat dan amilosa yang tinggi sehingga baik untuk membantu mengendalikan kadar gula darah.

Sementara itu, umbi garut dapat diolah menjadi beras analog dengan indeks glikemik rendah yang berpotensi menjadi alternatif pangan bagi penderita diabetes.

Adapun gembili mengandung prebiotik alami, seperti inulin dan glukomanan, yang bermanfaat menjaga kesehatan saluran pencernaan.

Meski demikian, Saepul menilai tantangan terbesar dalam pengembangan pangan lokal bukan terletak pada ketersediaan bahan baku, melainkan pada aspek hilirisasi.

Pengembangan teknologi pengolahan, penguatan rantai pasok, peningkatan investasi, dan perluasan akses pasar menjadi faktor penting agar pangan lokal mampu bersaing dengan produk modern.

Ia menegaskan bahwa industrialisasi pangan lokal tidak selalu identik dengan pembangunan pabrik berskala besar.

Pengembangannya dapat dimulai dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), komunitas masyarakat, hingga kolaborasi antardaerah yang tetap menjaga karakter dan nilai budaya lokal.

"Yang terpenting adalah bagaimana pangan lokal memiliki nilai tambah, berkualitas, aman dikonsumsi, mampu bersaing di pasar, tetapi tetap mempertahankan identitas dan keunikannya," katanya.

Sebagai bentuk komitmen terhadap pengembangan pangan lokal, UM Bandung telah menghadirkan Teaching Factory sebagai laboratorium inovasi yang mengembangkan berbagai produk berbasis komoditas lokal.

Beragam hasil penelitian, mulai dari roti berbahan hanjeli, produk berbasis sorgum, hingga inovasi aneka umbi lokal terus dikembangkan agar mampu menjawab kebutuhan industri sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Menurut Saepul, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai penghasil riset, teknologi, dan inovasi, sedangkan masyarakat menjadi mitra utama dalam proses produksi, pengembangan usaha, hingga hilirisasi hasil penelitian.

Kolaborasi antara kampus, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, lanjutnya, menjadi kunci agar inovasi pangan lokal tidak berhenti di laboratorium.

Namun, mampu memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pada kesempatan itu, Saepul juga mengajak masyarakat untuk kembali menggali potensi pangan khas daerah masing-masing.

Pengetahuan lokal dan pengalaman masyarakat dinilai menjadi sumber informasi yang sangat berharga bagi pengembangan riset pangan di masa depan.

"Kita tidak bisa membangun generasi unggul hanya melalui pendidikan. Generasi yang sehat lahir dari pangan yang bergizi, beragam, dan berasal dari kekayaan negeri sendiri," imbuhnya.

Oleh karena itu, mencintai pangan lokal sejatinya merupakan bagian dari ikhtiar membangun masa depan bangsa sekaligus mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia," pungkasnya.***(FA)

Administrator

Himakom UM Bandung Hadirkan Festival Komunikasi yang Lebih Inovatif

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sukses menggelar Communication Festival (Comfest) sebagai ajang kolaborasi, kreativitas, dan silaturahmi mahasiswa Ilmu Komunikasi se-Bandung Raya.

Acara ini berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, pada Kamis (02/07/2026).

Mengusung tema "Bersatu Bersama Komunikasi", Comfest menjadi transformasi dari kegiatan Ilkom Mencari Bakat (IMB). Tidak hanya menghadirkan kompetisi, festival ini memadukan unsur seni, kerohanian, dan pengembangan kapasitas mahasiswa.

Sejumlah kampus turut berpartisipasi dalam kegiatan ini, di antaranya Tel-U, Unisal, UPI, UBK, Unla, UIN, dan UKRI. Sasaran kegiatan ini adalah seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi di wilayah Bandung Raya agar dapat saling mengenal, berjejaring, dan berkolaborasi.

Ketua Pelaksana Comfest Rakha Mustafa mengatakan perubahan konsep tersebut bertujuan memperluas ruang kolaborasi antarmahasiswa Ilmu Komunikasi agar dapat saling mengenal, membangun jejaring, dan bertukar pengalaman.

"Kami berharap Comfest tidak berhenti sampai di sini, tetapi dapat diselenggarakan secara bergilir di berbagai kampus sehingga menjadi agenda kolaboratif mahasiswa Ilmu Komunikasi se-Bandung Raya," ujarnya.

Festival ini dimeriahkan dengan berbagai kompetisi dan pertunjukan seni, termasuk turnamen Mobile Legends yang diikuti mahasiswa lintas kampus.

Salah seorang mahasiswa UKRI yang berhasil meraih prestasi mengaku bangga atas pencapaiannya. "Prestasi akan datang jika sesuatu ditekuni dengan serius dan sungguh-sungguh," katanya.

Antusiasme peserta juga terlihat saat menyaksikan berbagai penampilan seni. Salah seorang pengunjung mengaku tertarik datang untuk menyaksikan penampilan Tricrikal dan grup band yang tampil.

"Penampilan Tricrikal menjadi bagian yang paling menarik bagi saya," ungkapnya seraya berharap Comfest dapat terus berkembang dengan melibatkan lebih banyak perguruan tinggi.

Dukungan terhadap Comfest juga datang dari Wakil Presiden BEM UM Bandung Fajar Abidin yang menilai festival tersebut menjadi contoh kegiatan kemahasiswaan yang mampu memperkuat kolaborasi sekaligus menginspirasi organisasi mahasiswa lainnya.

Sementara itu, Kaprodi Ilmu Komunikasi UM Bandung Agung Tirta Wibawa berharap Comfest dapat berkembang dari tingkat Bandung Raya menjadi agenda berskala nasional.

Menurutnya, festival ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kreativitas, kompetensi, dan prestasi di bidang komunikasi serta digital.

"Comfest menjadi ajang silaturahmi sekaligus menunjukkan kreativitas mahasiswa dalam menghadirkan kegiatan yang bermanfaat," tuturnya.

Senada dengan itu, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM Bandung Ijang Faisal menegaskan bahwa mahasiswa perlu belajar tidak hanya di ruang kelas.

Namun, bisa juga melalui pengalaman berorganisasi dan kegiatan kolaboratif yang mampu mengasah kepemimpinan, komunikasi, dan kemampuan bekerja sama.***(Bewara)

Administrator

Marketing Masa Kini Bukan Sekadar Promosi, tetapi Penggerak Pertumbuhan Bisnis

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Perkembangan teknologi, digitalisasi, dan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah kebutuhan dunia kerja. Oleh karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan prestasi akademik, tetapi harus membangun kompetensi yang relevan dengan tuntutan industri sejak di bangku kuliah.

Pesan tersebut disampaikan Indra Setya Pratama dalam materi "Navigasi Karier Marketing di FMCG Manufaktur" pada kegiatan Literasi Karier yang diselenggarakan Duta Literasi Manajemen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung pada Kamis (02/07/2026).

Indra mengatakan, peran marketing kini telah bergeser dari sekadar mempromosikan produk menjadi penggerak utama pertumbuhan bisnis, inovasi, hingga ekspansi perusahaan.

"Marketing tidak lagi hanya berfokus pada promosi produk, tetapi menjadi motor penggerak pertumbuhan perusahaan yang menghasilkan dampak nyata," ujarnya.

Menurutnya, industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG) menghadapi perubahan besar akibat digitalisasi pasar, perubahan perilaku konsumen, dan persaingan yang semakin ketat.

Kondisi tersebut menuntut perusahaan memiliki talenta yang mampu berpikir strategis, menguasai data, serta cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Ia menambahkan, marketer masa kini juga harus mampu menghubungkan kebutuhan konsumen dengan pengembangan produk dan proses produksi melalui kolaborasi bersama tim sales, supply chain, hingga research and development (R&D).

Dalam paparannya, Indra memperkenalkan tiga jalur karier utama di bidang marketing FMCG. Pertama, Brand-Centric Career yang berfokus pada pengembangan merek. 

Kedua, Digital & Data Career yang menitikberatkan pada analisis data dan pemanfaatan AI. Ketiga, Commercial & Growth Career yang berorientasi pada strategi bisnis dan pengembangan pasar.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kompetensi masa depan. Misal seperti kemampuan berpikir strategis, literasi digital dan data, memahami perilaku konsumen, kemampuan berkolaborasi lintas fungsi, adaptif terhadap perubahan, serta menerapkan praktik pemasaran yang etis dan berkelanjutan.

"Membangun karier tidak dimulai setelah wisuda, tetapi sejak masih menjadi mahasiswa. Setiap pengalaman organisasi, proyek, magang, hingga pengembangan keterampilan merupakan investasi untuk menjadi profesional yang siap bersaing," tegasnya.

Indra mendorong mahasiswa aktif mengikuti proyek nyata, menguasai berbagai perangkat digital, dan mengambil sertifikasi profesional untuk meningkatkan daya saing.

Menurutnya, marketing FMCG bukan sekadar profesi menjual produk, melainkan jalur menuju kepemimpinan bisnis yang mampu menghadirkan inovasi dan membawa perusahaan tumbuh secara berkelanjutan.

Dengan bekal kompetensi yang tepat, generasi muda Indonesia memiliki peluang besar untuk bersaing di tingkat regional maupun global.***

Administrator