Berita

Puasa Mampu Melahirkan Kemakmuran Spiritual

Oleh: Dadang Kahmad*

UMBANDUNG.AC.ID -- Puasa Ramadhan memberikan banyak manfaat spiritual yang mendalam bagi setiap muslim yang menjalankannya dengan penuh keimanan dan ketakwaan. Karena puasa adalah salah satu ibadah yang paling murni dan pribadi.

Dengan menahan diri dari makan, minum, dan perilaku buruk selama Ramadhan, seorang muslim dapat meningkatkan ketakwaannya kepada Allah SWT. Ini tercermin dalam kesungguhan mereka dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Puasa mengajarkan pengendalian diri dan disiplin. Dengan menahan hawa nafsu, seorang muslim belajar untuk lebih mengontrol diri, memperbaiki akhlak, dan meninggalkan kebiasaan buruk.

Begitu pula puasa mampu mendorong umat muslim untuk lebih banyak beribadah, seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, dan berdoa. Dengan melakukan ini, mereka merasakan kedekatan yang lebih besar dengan Allah SwT.

Waktu yang penuh ampunan. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala dari Allah, dosa-dosanya yang lalu akan diampuni. Ini memberikan kesempatan bagi setiap Muslim untuk memulai kembali dengan lembaran yang bersih.

Puasa Ramadhan juga bisa memupuk rasa kebersamaan dan solidaritas di antara umat muslim. Dengan berbagi makanan berbuka puasa, memberikan sedekah, dan saling mendoakan, umat muslim merasakan ikatan persaudaraan yang lebih kuat dan peduli terhadap sesama. Puasa juga membawa ketenangan dan kedamaian batin.

Dengan fokus pada ibadah dan menjauhi hal-hal yang dapat merusak puasa, seorang muslim merasakan ketenangan jiwa dan pikiran. Ini membantu mereka menghadapi kehidupan sehari-hari dengan lebih baik.

Puasa mengajarkan untuk lebih bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah. Dengan merasakan lapar dan dahaga, seorang muslim lebih menghargai makanan dan minuman yang mereka miliki, serta merasa rendah hati dan lebih peduli terhadap mereka yang kurang beruntung.

Mampu mengendalikan hawa nafsu dan dorongan-dorongan negatif. Ini membawa rasa disiplin dan ketenangan dalam kehidupan sehari-hari dan mampu membersihkan hati dari sifat-sifat tercela seperti iri, dengki, dan sombong. Dengan hati yang bersih, seseorang dapat merasakan kebahagiaan dan kepuasan batin yang lebih dalam.

Mengalami rasa damai dan tenang dalam menghadapi segala situasi kehidupan. Ini diperoleh melalui sikap tawakal dan berserah diri kepada Allah SwT.

Mendapatkan pengampunan dari Allah SWT atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Ini membawa rasa lega dan memulai hidup baru dengan lembaran yang bersih.

Menghargai nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah SwT. Dengan rasa syukur, seseorang dapat merasakan kebahagiaan yang sejati.

Dengan kata sederhana bahwa kemakmuran spiritual adalah bagian penting dari kesejahteraan secara keseluruhan. Dengan meraih kemakmuran spiritual, seseorang tidak hanya mendapatkan kedamaian batin, tetapi mampu menghadapi kehidupan dengan lebih bijak dan penuh makna. 

Kemakmuran spiritual adalah keadaan kesejahteraan batin yang diperoleh melalui pengembangan dan penghayatan nilai-nilai spiritual serta praktik keagamaan. Ini melibatkan pencapaian kedamaian, kepuasan batin, dan kebahagiaan sejati melalui hubungan yang erat dengan Tuhan dan perbuatan baik.

Manfaat berpuasa yang paling besar adalah diperolehnya kemakmuran spiritual yang menjadi sumber kebahagiaan lahir batin.

*Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Ketua BPH UM Bandung

Sumber: Suara Muhammadiyah edisi 06/110 16-31 Maret 2026 

Administrator

Enam Medali Dibawa Pulang, Tapak Suci UM Bandung Ukir Prestasi Membanggakan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kejuaraan yang berlangsung di GOR Gymnasium UPI, lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia Kota Bandung diikuti ratusan pesilat dari beragam jenjang, mulai tingkat sekolah dasar hingga kategori umum. Atmosfer kompetisi pun berlangsung ketat dan penuh sportivitas.

Seperti edisi sebelumnya, BLAC ke-7 mempertandingkan beragam nomor, antara lain kategori tanding, solo kreatif, tunggal senjata, hingga tunggal tangan kosong.

Ragam kategori tersebut menuntut kesiapan teknik, mental, dan stamina para atlet.

Dari total enam penghargaan yang diraih, PC TSPM UM Bandung mengoleksi 1 medali emas, 2 medali perak, dan 3 medali perunggu.

Raihan ini menegaskan konsistensi prestasi Tapak Suci UM Bandung dalam kompetisi tingkat regional.

Medali emas disumbangkan oleh Andrian Pratama pada kategori tanding.

Mahasiswa Program Studi Farmasi ini mengaku bersyukur atas capaian tersebut dan menilai regulasi pertandingan tahun ini tidak jauh berbeda dari sebelumnya.

“Teknis pertandingannya memang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Cuma beda peraturan saja dari tahun lalu,” ujar Andrian pada Jumat (27/02/2026).

Ia menuturkan, persiapan menuju kejuaraan dilakukan selama kurang lebih tiga bulan melalui latihan intensif bersama tim.

Meski sempat ragu untuk ikut bertanding, dukungan rekan-rekan membuatnya mantap turun gelanggang.

“Awalnya memang ada keraguan untuk ikut pertandingan tersebut. Cuma karena diajak teman akhirnya saya mengikuti pertandingan,” tuturnya.

Bagi Andrian, keberhasilan ini menjadi pemantik semangat untuk menatap target yang lebih tinggi.

“Harapan saya semoga bisa menjadi yang lebih baik dan bisa menjadi atlet nasional ke depannya,” tegasnya.

Sementara itu, prestasi juga diraih Azka Azaliyah Zahrani, mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UM Bandung, yang meraih medali perak pada kategori seni tunggal.

Dalam nomor ini, peserta diberi waktu lebih dari satu menit untuk menampilkan rangkaian jurus di hadapan dewan juri.

“Ada beberapa penilaian dari juri, mulai dari keindahan gerakan, ketepatan, tenaga yang dikeluarkan, hingga ketepatan waktu,” jelas Azka.

Meski sempat menemui kendala, ia mampu menguasai penampilan hingga menyelesaikan rangkaian jurus sesuai durasi.

“Alhamdulillah dengan perjuangan dan kerja keras saya bisa menempuh waktu yang sesuai,” ungkapnya.

Azka berharap dapat terus menekuni dunia pencak silat seiring perjalanan akademiknya.

“Semoga ke depannya bisa di titik mengharumkan nama Indonesia suatu saat nanti melalui pertandingan semacam ini,” pungkasnya.

Selain Andrian dan Azka berikut beberapa nama peraih medali oleh anggota PC TSPM UM Bandung dalam kejuaraan BLAC ke-7 berikut ini ***(FK)

  • Andrian Pratama     (Mahasiswa Prodi Farmasi)                  Medali Emas Kategori Tanding
  • Ivan Adinata             (Mahasiswa Prodi PAI)                          Medali Perak Kategori Tanding
  • Azka Azaliyah Zahrani (Mahasiswa Prodi KPI)                    Medali Perak Kategori Seni Tunggal
  • Zulfahmi Fauzan      (Mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah) Medali Perunggu Kategori Tanding
  • Rizal Hafidin             (Mahasiswa Prodi Manajemen)           Medali Perunggu Kategori Tanding
  • Dio Fenando              (Mahasiswa Prodi Agribisnis)              Medali Perunggu Kategori Tanding

Administrator

Kurikulum Adaptif, Prodi KPI UM Bandung Selaras dengan Kebutuhan Industri Media

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung terus memperkuat identitas keilmuannya dengan menonjolkan sinematografi dakwah berbasis film pendek sebagai keunggulan utama.

Fokus ini menjadi ciri pembeda Prodi KPI UM Bandung dibandingkan program sejenis di perguruan tinggi lain, sekaligus menjawab kebutuhan industri media kreatif dan dakwah digital yang terus berkembang.

Ketua Program Studi KPI UM Bandung Rahmat Alamsyah menjelaskan bahwa pilihan pada produksi film pendek didasarkan pada kemampuannya mengintegrasikan seluruh kompetensi inti mahasiswa KPI. Dalam satu karya film, mahasiswa tidak hanya belajar teori komunikasi dan dakwah, tetapi juga dituntut menguasai berbagai keterampilan teknis dan artistik secara menyeluruh.

“Keunggulan utama KPI UM Bandung adalah sinematografi dakwah dalam bentuk film pendek. Dalam produksi film itu ada semua unsur kompetensi, mulai dari teknik editing audio dan visual, alur cerita, framing, hingga pengelolaan latar,” ujar Rahmat Alamsyah di kampus UM Bandung, Kamis (26/02/2026).

Menurutnya, pendekatan pembelajaran tersebut dirancang berbasis praktik nyata dan terukur, sehingga mahasiswa terbiasa menghadapi standar kerja profesional sejak di bangku kuliah. Model ini mendorong mahasiswa untuk tidak hanya kreatif, tetapi juga disiplin dalam proses produksi karya audio visual.

Hasilnya, mahasiswa KPI UM Bandung mampu menunjukkan capaian yang membanggakan melalui partisipasi dalam berbagai lomba film pendek. Sejumlah prestasi berhasil diraih, termasuk juara pertama di beberapa kompetisi, yang menjadi bukti efektivitas pembelajaran berbasis proyek yang diterapkan.

Dari sisi kurikulum, Prodi KPI UM Bandung secara konsisten melakukan peninjauan dan penyesuaian agar tetap relevan dengan kebutuhan industri serta perkembangan teknologi media. Review kurikulum dilakukan secara berkala, dengan melibatkan dosen-dosen yang kompeten dan materi ajar yang mengikuti tren komunikasi, penyiaran, dan dakwah kontemporer.

Selain penguatan praktik dan kurikulum, Prodi KPI UM Bandung juga menyiapkan capaian pembelajaran lulusan yang adaptif melalui empat profil utama, yakni jurnalis, penyiar, akademisi dakwah, dan daipreneur.

Dengan profil tersebut, lulusan KPI memiliki peluang karier yang luas di berbagai sektor media, baik cetak, penyiaran, maupun digital, serta siap bersaing sebagai insan profesional yang kreatif dan berdaya saing tinggi.***(HMA)

Administrator

Puasa Sebagai Proses Upgrade Iman dan Akhlak

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fajar Rachmadani berpesan agar puasa Ramadan jangan sampai berlalu begitu saja tanpa makna. Fajar mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga dari subuh hingga magrib.

Lebih dari itu, puasa Ramadhan adalah proses pembentukan karakter dan spiritual seorang muslim agar naik level menjadi pribadi yang bertakwa. Menjadi pribadi yang lebih baik daripada bulan-bulan sebelum Ramadhan.

“Apakah ada puasa yang sia-sia?” Menurutnya, jawaban atas pertanyaan tersebut sudah lama disampaikan Rasulullah SAW melalui berbagai hadis. Salah satunya tentang orang yang bertemu Ramadan, tetapi justru gagal meraih ampunan Allah.

Fajar kemudian mengisahkan sebuah riwayat ketika Nabi Muhammad saw. tiba-tiba mengucapkan “amin” sebanyak tiga kali. Saat para sahabat bertanya, Nabi menjelaskan bahwa Malaikat Jibril mendoakan keburukan bagi tiga golongan manusia, dan salah satunya adalah mereka yang melewati Ramadan tanpa mendapatkan ampunan dosa.

“Dipertemukannya kita dengan Ramadan itu bukan hal biasa. Itu privilege dari Allah,” ujar Fajar. Ia mengingatkan bahwa tidak semua orang diberi kesempatan yang sama. Ada yang tahun lalu masih beribadah bersama, namun kini telah wafat atau tidak lagi mampu menjalankan puasa karena sakit.

Menurutnya, seseorang akan benar-benar merugi jika menyia-nyiakan Ramadan dengan aktivitas yang tidak bernilai ibadah. Padahal, pintu pahala terbuka lebar dan peluang memperbaiki diri hadir sangat dekat selama bulan suci ini.

Fajar juga mengutip hadis populer Rasulullah SAW tentang orang yang berpuasa yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Ia menjelaskan, puasa bisa kehilangan makna ketika tidak diikuti perubahan sikap dan perilaku. “Seperti mahasiswa yang rajin kuliah, tapi tidak ikut ujian akhir. Capek iya, hasilnya nol,” katanya, disambut senyum jamaah.

Puasa, lanjut Fajar, bukan formalitas tahunan. Tujuannya membentuk dimensi moral, spiritual, dan sosial. Ia menyinggung Surah Al-Baqarah ayat 183 yang menyapa “orang-orang yang beriman”, bukan mereka yang sudah sempurna imannya. Artinya, puasa adalah sarana upgrade diri—dari sekadar beriman menuju bertakwa.

Ia pun memaparkan indikator puasa yang tidak sia-sia. Pertama, mampu menjaga lisan dan perilaku, termasuk di media sosial. “Bully, gibah, komentar negatif—itu semua bisa merusak nilai puasa, meski cuma lewat tulisan,” tegasnya.

Kedua, tumbuhnya keikhlasan. Menurut Fajar, puasa adalah ibadah paling sunyi karena tidak bisa dipamerkan. Puasa melatih seseorang berbuat baik tanpa butuh validasi manusia. “Puasa ngajarin kita cukup cari penilaian Allah,” ujarnya.

Menutup ceramah, Fajar mengingatkan bahwa kualitas puasa seharusnya melahirkan perubahan nyata setelah Ramadan. Bukan hanya rajin ibadah selama sebulan, tapi juga lebih jujur, lebih sabar, lebih peduli, dan lebih baik sebagai manusia.

Ia pun menepis anggapan bahwa seseorang harus menjadi saleh dulu baru beribadah. “Jangan tunggu jadi baik dulu baru ibadah. Justru ibadah itulah yang bikin kita jadi lebih baik,” katanya.

Selama Allah masih memberi napas dan kesempatan bertemu Ramadan, Fajar menegaskan, pintu perbaikan diri selalu terbuka. Ramadan pun menjadi momentum terbaik untuk memulai perubahan hidup.***

Sumber foto: Istockphoto

Administrator

Pajak Bukan Sekadar Kewajiban, tetapi Cermin Tanggung Jawab Warga Negara

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah Bandung melalui Tax Center menggelar webinar bertajuk Pelatihan Pelaporan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Melalui Coretax pada Senin (23/02/2026). Kegiatan yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom ini diikuti ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, serta perwakilan perusahaan di Kota Bandung.

Webinar tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan literasi perpajakan di tengah masyarakat, seiring dengan meningkatnya tuntutan kepatuhan pajak sebagai salah satu pilar pembiayaan pembangunan nasional. Pembina Tax Center UM Bandung, Yuniati, menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki nilai strategis dalam mendorong pemahaman pajak yang lebih komprehensif.

Menurut Yuniati, pajak tidak dapat dipandang semata sebagai kewajiban administratif, melainkan instrumen ekonomi yang berperan penting dalam menopang pembangunan negara. “Pajak bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi kontribusi nyata kita sebagai warga negara dalam pembangunan bangsa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, melalui pelatihan ini peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman konseptual mengenai pelaporan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi, tetapi juga dibekali keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan wajib pajak. Kompetensi tersebut diharapkan mampu membantu masyarakat dalam melaksanakan kewajiban perpajakan secara benar dan sesuai ketentuan.

Sejalan dengan itu, Ketua Program Studi Akuntansi UM Bandung, Iman Harjono, menilai kegiatan ini sebagai bentuk partisipasi aktif dunia akademik dalam mendukung sistem perpajakan nasional. Ia menekankan bahwa ketepatan dan kepatuhan pelaporan SPT Tahunan merupakan indikator integritas sekaligus profesionalisme, khususnya bagi insan akuntansi.

“Transformasi digital perpajakan melalui sistem Coretax menuntut sumber daya manusia yang adaptif, cermat, dan kompeten,” kata Iman. Menurutnya, penguasaan sistem ini menjadi penting tidak hanya untuk kepatuhan pajak, tetapi juga sebagai bekal mahasiswa dalam menghadapi kebutuhan dunia kerja di sektor keuangan dan perpajakan.

Dari sisi kelembagaan, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UM Bandung, Ia Kurnia, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya webinar tersebut. Ia menilai pelatihan ini sangat relevan, mengingat batas waktu pelaporan SPT Tahunan Orang Pribadi hingga 31 Maret serta penerapan Coretax sebagai sistem utama dalam administrasi perpajakan.

Ia berharap peserta dapat langsung mengimplementasikan materi yang diperoleh, khususnya dalam pemanfaatan Coretax. “Sistem Coretax dikembangkan untuk menjadikan penyusunan SPT Tahunan Orang Pribadi lebih modern, efisien, efektif, dan cepat,” pungkasnya.***(FA)

Foto: Istockphoto

Administrator

Kriya Tekstil UM Bandung Cetak Textile Creator Berkarakter

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung terus mengukuhkan perannya sebagai ruang pendidikan kreatif yang memadukan budaya, inovasi, dan keberlanjutan. Program studi ini dirancang untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki visi keilmuan, kepekaan budaya, serta karakter profesional yang kuat.

Kepala Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung Saftiyaningsih Ken Atik menegaskan bahwa keunggulan utama prodi terletak pada pendekatan keilmuan yang menempatkan tekstil sebagai medium utama dalam proses penciptaan karya. Menurutnya, pembelajaran tidak berhenti pada aspek visual atau gaya semata, melainkan menempatkan tekstil sebagai sarana berpikir, bereksplorasi, dan berinovasi.

“Tekstil kami posisikan sebagai medium sentral dalam berkarya. Mahasiswa diajak memahami tekstil secara utuh, bukan sekadar sebagai produk akhir, tetapi sebagai proses kreatif yang sarat makna,” ujar Ken Atik saat ditemui di Kampus UM Bandung pada Selasa (24/02/2026).

Ia menjelaskan, pembelajaran di Prodi Kriya Tekstil dan Fashion difokuskan pada tiga ranah utama, yakni structure design, surface design, serta integrasi dan implementasi tekstil. Ketiga ranah ini menjadi fondasi pengembangan kompetensi mahasiswa sejak tahap konseptual hingga aplikasi karya.

Pada ranah structure design, mahasiswa dibekali pemahaman mendalam mengenai struktur material tekstil. Mereka tidak hanya merancang bentuk, tetapi juga mempelajari bagaimana struktur tekstil dibangun melalui berbagai teknik seperti tenun, anyam, rajut, crochet, hingga manipulasi material tekstil secara kreatif dan eksperimental.

Sementara itu, pada ranah surface design, mahasiswa diarahkan untuk menggali kekayaan budaya lokal sebagai sumber inspirasi utama. Ken Atik menekankan bahwa wastra Nusantara menjadi fondasi penting dalam proses kreatif agar karya yang dihasilkan tetap berakar pada identitas budaya. “Budaya lokal kami jadikan basis inovasi, sehingga karya yang lahir memiliki nilai artistik sekaligus jati diri,” tuturnya.

Lebih jauh, integrasi dan implementasi tekstil menjadi ciri khas yang membedakan lulusan Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung. Lulusan diproyeksikan tidak hanya sebagai perancang busana, tetapi sebagai textile creator dan innovator yang mampu menghadirkan solusi desain lintas bidang, mulai dari produk kreatif hingga kebutuhan industri.

Dari sisi kurikulum, pembelajaran dirancang berbasis Project-Based Learning. Proses belajar berlangsung melalui studio praktik, eksplorasi teknik dan material, serta proyek desain yang berangkat dari persoalan nyata. Mahasiswa dilatih merespons isu keberlanjutan, pengelolaan limbah tekstil, hingga pengembangan teknik tradisional agar relevan dengan kebutuhan produk modern.

Integrasi teknologi juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Mahasiswa diperkenalkan pada desain tekstil digital, desain fashion berbasis teknologi, hingga konsep hybrid craft yang menjembatani warisan kriya dengan inovasi masa depan. Pendekatan ini dilakukan agar mahasiswa adaptif terhadap dinamika industri kreatif yang terus berkembang.

Selain itu, Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung secara aktif membangun koneksi dengan dunia industri melalui program magang, kerja profesi, dan kolaborasi dengan UMKM. Upaya ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pengalaman nyata agar siap memasuki dunia kerja dan pasar kreatif.

Dengan pendekatan tersebut, Ken Atik optimistis lulusan Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung memiliki prospek karier yang luas. “Lulusan kami diproyeksikan menjadi kriyawan tekstil profesional, perancang fashion, wirausahawan kreatif, hingga peneliti pemula yang berkarakter, beretika, dan berorientasi pada keberlanjutan,” pungkasnya. ***(HMA)

Administrator