Berita

Tips Praktis Agar Ketagihan Membaca Buku

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Agar semakin gemar membaca buku maupun e-book, yang dibutuhkan bukan sekadar niat. Namun, strategi yang membuat membaca menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Berikut beberapa tips praktis yang bisa diterapkan:

Mulai dari Buku yang Disukai

Jangan memaksakan membaca buku yang terlalu berat. Pilih tema yang sesuai minat, seperti agama, motivasi, sejarah Islam, bisnis, teknologi, atau novel inspiratif.

Tetapkan Target Kecil

Mulailah dengan target sederhana, misalnya 10 halaman per hari atau 15 menit membaca setiap hari. Target kecil lebih mudah dijalankan secara konsisten.

Manfaatkan Waktu Luang

Gunakan waktu menunggu, perjalanan, atau sebelum tidur untuk membaca e-book di ponsel atau tablet.

Selalu Bawa Bahan Bacaan

Simpan satu buku atau beberapa e-book di gawai sehingga kapan pun ada waktu kosong, Anda bisa langsung membaca.

Buat Jadwal Membaca Rutin

Misalnya, setelah subuh 15 menit. Sebelum tidur 20 menit. Membaca pada waktu yang sama setiap hari membantu membentuk kebiasaan.

Kurangi Distraksi

Saat membaca: Matikan notifikasi media sosial. Jauhkan aplikasi yang mengganggu fokus. Gunakan mode fokus pada smartphone.

Catat Poin Penting

Tuliskan kutipan, ide, atau pelajaran yang diperoleh. Cara ini membuat membaca lebih aktif dan mudah diingat.

Bergabung dengan Komunitas Literasi

Diskusi buku bersama teman atau komunitas akan meningkatkan motivasi untuk terus membaca.

Gunakan Metode "Sedikit Tapi Konsisten"

Membaca 10 halaman setiap hari lebih baik daripada 100 halaman sekaligus lalu berhenti berminggu-minggu.

Jadikan Membaca sebagai Ibadah

Bagi seorang muslim, membaca merupakan bagian dari tradisi keilmuan Islam. Wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah SAW adalah perintah "Iqra" (Bacalah). Dengan niat mencari ilmu yang bermanfaat, aktivitas membaca bernilai ibadah dan menjadi jalan menuju kemuliaan.

Kombinasikan Buku Cetak dan E-book

Saat di rumah gunakan buku cetak agar lebih fokus. Saat bepergian manfaatkan e-book agar tetap bisa membaca di mana saja.

Terapkan Ilmu yang Dibaca

Pengetahuan yang langsung dipraktikkan akan terasa lebih bermakna. Ketika merasakan manfaatnya, semangat membaca biasanya akan meningkat dengan sendirinya.

Kunci utamanya adalah konsistensi, bukan kecepatan. Membaca 15 menit setiap hari selama setahun akan menghasilkan pengetahuan yang jauh lebih besar daripada membaca berjam-jam tetapi hanya sesekali.

---

Sumber: Diolah dari ChatGPT

Foto: Istockphoto dan Gemini

Administrator

Tahun Baru Hijriah Momentum Melahirkan Generasi Mahmudi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Tahun Baru Hijriah tidak seharusnya dimaknai hanya sebagai pergantian kalender Islam. Momentum hijrah perlu dijadikan sarana introspeksi dan perubahan diri menuju kehidupan yang lebih baik, baik secara spiritual, intelektual, maupun sosial.

Hal tersebut disampaikan Kaprodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Iim Ibrohim saat menjadi narasumber dalam Program Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat pada Senin (15/06/2026).

Menurutnya, hijrah yang dicontohkan Rasulullah SAW bukan sekadar perpindahan dari Makkah ke Madinah, melainkan proses transformasi diri untuk meraih ridha Allah SWT. Oleh karena itu, semangat hijrah harus diwujudkan melalui upaya membangun generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman.

“Hijrah adalah proses perubahan menuju kualitas diri yang lebih baik. Di dalamnya terdapat perjuangan, pengorbanan, kesabaran, dan komitmen untuk tetap berada di jalan Allah,” ujarnya.

Dalam kajian tersebut, Iim menegaskan bahwa ilmu merupakan fondasi utama peradaban Islam sekaligus warisan para nabi yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Oleh sebab itu, perjuangan di jalan Allah juga diwujudkan melalui kesungguhan dalam menuntut ilmu dan membina generasi penerus yang berkualitas.

Ia mengingatkan bahwa generasi muda saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari menurunnya semangat belajar hingga kecenderungan lebih mementingkan penampilan dibandingkan pengembangan kualitas diri. Karena itu, generasi muda perlu diarahkan untuk memperkuat ilmu, akhlak, dan spiritualitas.

Selain itu, perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), harus dimanfaatkan secara bijak sebagai sarana pembelajaran, bukan untuk melakukan kecurangan yang dapat merusak integritas dan karakter.

Sebagai solusi, Iim memperkenalkan konsep Generasi Mahmudi, yakni generasi yang berkarakter Qurani, amanah, rendah hati, santun, sabar, dan hidup sederhana. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kekuatan akhlak dan kedekatan kepada Allah SWT.

“Generasi yang kita harapkan bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan kokoh secara moral,” tegasnya.

Ia pun mengajak umat Islam menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum memperbaiki diri dan memperkuat pembinaan generasi. Menurutnya, masa depan umat dan bangsa sangat ditentukan oleh hadirnya generasi yang berilmu, jujur, amanah, dan istikamah dalam menjalankan nilai-nilai Islam.

“Hijrah harus melahirkan perubahan nyata. Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi berakhlak mulia dan siap melanjutkan perjuangan umat. Itulah Generasi Mahmudi yang menjadi harapan masa depan peradaban Islam,” pungkasnya.***

---

Sumber foto: Ilustrasi Istockphoto dan Gemini.

Administrator

Takziah Virtual Tetap Bernilai Sunah, Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Perkembangan teknologi digital telah menghadirkan berbagai bentuk interaksi baru dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam pelaksanaan takziah.

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ali Yusuf menegaskan bahwa takziah virtual pada hakikatnya memiliki makna yang sama dengan takziah yang dilakukan secara langsung.

Dalam pemaparannya, Ali menjelaskan bahwa esensi takziah bukan terletak pada medianya, melainkan pada tujuan utamanya, yaitu memberikan penghiburan, penguatan, dan dukungan kepada keluarga yang sedang ditimpa musibah.

Menurutnya, secara bahasa takziah mengandung makna tasbir, tasliyah, dan tasbit al-qalb.

Tasbir berarti mendorong seseorang agar bersabar, tasliyah berarti menghibur agar tidak larut dalam kesedihan, sedangkan tasbit al-qalb berarti meneguhkan hati orang yang sedang berduka.

“Ketika seseorang meninggal dunia, keluarga yang ditinggalkan tentu berada dalam suasana kesedihan. Oleh karena itu, orang-orang di sekitarnya dianjurkan untuk menghibur, menguatkan, dan meneguhkan hati mereka,” jelasnya, seperti dikutip dari laman muhammadiyah.or.id, Kamis (18/06/2026).

Ali juga mengutip penjelasan Imam Nawawi yang mendefinisikan takziah sebagai upaya memotivasi orang yang tertimpa musibah agar lebih sabar, membantu meringankan kesedihan, serta mengurangi tekanan batin yang dirasakannya.

Takziah virtual

Ia menilai perkembangan takziah virtual mulai meluas sejak masa pandemi Covid-19.

Pada saat itu, berbagai pembatasan sosial membuat masyarakat tidak dapat berinteraksi secara langsung sehingga banyak aktivitas berpindah ke ruang digital.

Mulai dari kegiatan belajar, pengajian, pertemuan, hingga penyampaian belasungkawa dilakukan melalui berbagai platform daring.

Dalam konteks tersebut, takziah virtual menjadi salah satu alternatif yang memungkinkan seseorang tetap dapat menyampaikan simpati dan doa meskipun terhalang jarak.

Menurut Ali Yusuf, meskipun terdapat perbedaan pengalaman psikologis antara takziah langsung dan virtual, keduanya memiliki tujuan yang sama.

“Kalau secara langsung seseorang bisa merangkul, berjabat tangan, dan menyapa secara fisik. Sementara itu, secara virtual hal itu tidak dapat dilakukan. Namun, hakikatnya tetap sama, yakni menyampaikan belasungkawa dan memberikan dukungan psikologis kepada keluarga yang berduka,” ujarnya.

Dalam kajiannya, Ali menegaskan bahwa mayoritas ulama berpendapat hukum takziah adalah sunah.

Dasar pandangan tersebut di antaranya berasal dari hadis yang menceritakan perhatian Rasulullah Saw kepada seorang sahabat yang kehilangan anaknya.

Ketika mengetahui anak sahabat tersebut meninggal dunia, Rasulullah Saw mendatanginya untuk memberikan penghiburan dan penguatan.

Sikap Nabi itu menjadi landasan bahwa memberikan dukungan kepada orang yang tertimpa musibah merupakan amalan yang dianjurkan.

Oleh karena itu, baik takziah secara langsung maupun melalui media virtual tetap termasuk bentuk pelaksanaan sunnah selama tujuan utamanya adalah memberikan penghiburan dan mendoakan keluarga yang ditinggalkan.

Ali mengingatkan bahwa seluruh aktivitas yang berkaitan dengan pengurusan jenazah harus dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Kewajiban memandikan, mengafani, menyalatkan, dan menguburkan jenazah merupakan bentuk ibadah yang tidak semestinya dijadikan sarana memperoleh keuntungan materi.

Ia menyoroti sejumlah praktik di masyarakat yang terkadang memberikan imbalan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pengurusan jenazah maupun kegiatan takziah.

Menurutnya, semangat utama dalam takziah adalah membantu sesama dan menghibur keluarga yang berduka, bukan mencari keuntungan atau pemberian tertentu.

“Kalau bertakziah, maka bertakziahlah dengan ikhlas. Jangan sampai motivasinya bergeser karena berharap imbalan atau keuntungan tertentu,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Ali Yusuf juga menjelaskan bahwa seorang muslim diperbolehkan bertakziah kepada non-muslim. 

Ia mengaitkan hal itu dengan peristiwa wafatnya Abu Thalib, paman Rasulullah SAW sekaligus ayah dari Ali bin Abi Thalib.

Menurutnya, Nabi tetap memerintahkan Ali untuk mengurus jenazah ayahnya.

Dari peristiwa tersebut para ulama menjadikannya sebagai salah satu dasar kebolehan menyampaikan belasungkawa dan memberikan dukungan kemanusiaan kepada keluarga non-muslim yang sedang berduka.

Ali menepis anggapan bahwa takziah hanya boleh dilakukan dalam waktu tiga hari setelah kematian seseorang. 

Menurutnya, tidak terdapat batasan mutlak yang melarang seseorang bertakziah setelah tiga hari.

Jika seseorang baru memiliki kesempatan untuk menyampaikan belasungkawa setelah beberapa hari atau bahkan lebih lama karena faktor jarak dan kesibukan, hal itu tetap diperbolehkan.

“Kalau baru sempat menelepon, mengirim pesan, atau datang langsung setelah lebih dari tiga hari, tidak masalah. Takziah tidak dibatasi hanya tiga hari,” ujarnya.

Meski demikian, ia menjelaskan bahwa masa berkabung bagi keluarga pada umumnya adalah tiga hari.

Adapun bagi seorang istri yang ditinggal wafat suaminya berlaku masa idah selama empat bulan sepuluh hari sebagaimana ketentuan syariat.

Lebih lanjut, Ali menekankan bahwa tidak ada format baku dalam bertakziah. 

Hal yang terpenting adalah adanya unsur penghiburan, doa, serta ajakan untuk bersabar dan berharap pahala dari Allah SWT.

Dalam praktik takziah virtual, hal tersebut dapat diwujudkan melalui penyampaian belasungkawa, tausiah singkat, ataupun doa bersama yang dilakukan secara daring.

Ia juga menyoroti fenomena penyampaian testimoni mengenai kebaikan almarhum dalam acara takziah.

Menurutnya, memberikan kesaksian yang jujur tentang kebaikan seseorang yang telah wafat merupakan hal yang dibenarkan dalam ajaran Islam.

Ali mengutip hadis tentang jenazah yang dipuji oleh masyarakat karena kebaikannya, lalu Rasulullah SAW bersabda, “Wajabat” (telah ditetapkan).

Hadis tersebut menunjukkan pentingnya kesaksian yang tulus dari orang-orang yang mengenal almarhum semasa hidupnya.

Namun, demikian, ia mengingatkan agar kesaksian tersebut disampaikan secara jujur dan tidak dipaksakan.

Sebagai penutup, Ali menegaskan bahwa salah satu bentuk takziah yang paling dianjurkan adalah membantu meringankan beban keluarga yang ditinggalkan.

Bentuk bantuan itu dapat berupa menyediakan makanan, membantu kebutuhan keluarga, menyantuni anak yatim, atau memberikan dukungan material sesuai kemampuan.

Ia mengutip peristiwa wafatnya Ja’far bin Abi Thalib ketika Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk menyiapkan makanan bagi keluarganya karena mereka sedang disibukkan oleh musibah yang menimpa.

“Yang dianjurkan adalah membantu keluarga yang berduka, bukan malah membebani mereka. Semangat takziah adalah menghadirkan empati, meringankan beban, dan menguatkan hati mereka yang sedang kehilangan,” pungkasnya.***

---

Sumber foto: Ilustrasi Istockphoto dan Gemini

Administrator

Makna Haji Mabrur: Ketika Ibadah Melahirkan Akhlak dan Perubahan Diri

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Cecep Taufikurrohman mengajak umat Islam untuk memaknai ibadah haji tidak hanya sebagai perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi sebagai perjalanan spiritual yang membawa manusia semakin dekat kepada Allah SWT.

Pesan tersebut disampaikan Buya Cecep, sapaan akrabnya, dalam kajian Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat bertajuk “Ketika Pemilik Hati Suci Telah Kembali: Selamat Datang Tamu Allah!” yang digelar pada Ahad (14/06/2026).

Dalam pemaparannya, Buya Cecep menjelaskan bahwa haji merupakan puncak penyempurna rukun Islam yang memiliki keterkaitan erat dengan syahadat, salat, zakat, dan puasa.

Menurutnya, ibadah haji bukan semata persoalan kemampuan finansial atau kesempatan berangkat ke Makkah, melainkan buah dari proses panjang dalam membersihkan hati, memperbaiki kualitas ibadah, dan meluruskan niat hanya karena Allah SWT.

“Haji sejatinya adalah perjalanan hati menuju Allah. Seseorang bisa saja menyelesaikan seluruh rangkaian ritual haji, tetapi belum tentu berhasil membawa pulang perubahan dalam dirinya,” ujarnya.

Mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 27, Buya Cecep menegaskan bahwa haji merupakan panggilan sekaligus undangan langsung dari Allah kepada hamba-Nya.

Oleh karena itu, mereka yang mendapat kesempatan berhaji hendaknya mempersiapkan diri dengan harta yang halal, keikhlasan yang tulus, serta kesiapan spiritual yang matang.

Ia menjelaskan bahwa setiap rangkaian ibadah haji mengandung nilai-nilai pendidikan yang mendalam. Ihram mengajarkan kesederhanaan dan persamaan derajat manusia di hadapan Allah.

Tawaf menanamkan kesadaran bahwa hanya Allah yang menjadi pusat orientasi kehidupan. Sementara itu, sai menghadirkan teladan Siti Hajar tentang pentingnya ikhtiar, kesabaran, dan optimisme dalam menjemput pertolongan Allah SWT.

Menurutnya, wukuf di Arafah menjadi momentum refleksi yang sangat mendalam bagi seorang hamba untuk menyadari keterbatasan dirinya sekaligus berharap ampunan Allah.

Adapun lempar jumrah mengajarkan pentingnya melawan hawa nafsu, kesombongan, dan berbagai sifat buruk yang menjadi penghalang kedekatan manusia dengan Tuhannya.

Lebih lanjut, Buya Cecep mengingatkan bahwa keberhasilan ibadah haji tidak cukup diukur dari gelar yang disandang setelah pulang dari Tanah Suci.

Ia menyoroti fenomena masih adanya individu yang telah berhaji tetapi tetap terjerumus dalam perilaku koruptif, ketidakjujuran, maupun penyalahgunaan amanah.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ibadah yang hanya berhenti pada aspek ritual belum sepenuhnya menyentuh dimensi rohani dan pembentukan karakter.

Padahal, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap ibadah seharusnya melahirkan akhlak mulia serta perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa pendidikan agama perlu dipahami secara lebih komprehensif, tidak hanya berfokus pada aspek fikih dan tata cara pelaksanaan ibadah.

Namun, juga pada penghayatan nilai-nilai spiritual yang mampu membentuk kepribadian dan integritas seseorang.

Buya Cecep menambahkan, haji yang mabrur tercermin dari hati yang menjadi lebih bersih, lebih rendah hati, lebih peduli terhadap sesama, serta semakin istiqamah dalam menjalankan kebaikan.

“Mudah-mudahan ketika Allah memanggil kita menjadi tamu-Nya, kita pulang bukan hanya membawa gelar haji, tetapi membawa jiwa yang telah disucikan dan siap menebarkan manfaat bagi kehidupan. Pada akhirnya, yang benar-benar kembali dari perjalanan suci itu bukan hanya tubuh yang telah menunaikan ibadah, melainkan hati yang semakin dekat kepada Allah SWT,” pungkasnya.***(HMA)

____

Sumber foto: Istockphoto dan ChatGPT

Administrator

Food Festival UM Bandung Jadi Ajang Kreativitas Mahasiswa dan Inovasi Produk Pangan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Suasana lobi utama Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung tampak lebih ramai dan semarak dari biasanya pada Senin (15/06/2026).

Himpunan Mahasiswa Teknologi Pangan (Himtekpa) UM Bandung kembali menggelar Food Festival 2026 yang tahun ini mengusung tema “FEASTOPIA: World of Flavour, Berlayar Mencari Harta Karun Rasa.”

Menghadirkan konsep yang kreatif dan penuh warna, Food Festival 2026 menjadi ajang bagi mahasiswa untuk menunjukkan inovasi di bidang pangan sekaligus memperkenalkan potensi pangan lokal kepada masyarakat.

Berbagai kegiatan menarik turut memeriahkan festival ini, mulai dari seminar, workshop, bazar produk inovasi pangan, hingga kompetisi kreatif seperti lomba esai dan videografi yang diikuti siswa-siswi SMA.

Tak hanya menjadi sarana edukasi, Food Festival juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitas dan gagasan mereka melalui inovasi pangan.

Ketua Pelaksana Food Festival 2026 Muhammadi Fathir Lukman Nur Hakim mengatakan bahwa kegiatan tahunan ini menjadi wadah bagi mahasiswa, khususnya Program Studi Teknologi Pangan, untuk mengembangkan ide-ide kreatif menjadi produk yang memiliki nilai manfaat bagi masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa didorong untuk lebih inovatif dan produktif dalam menciptakan produk pangan. Harapannya, inovasi yang lahir tidak hanya menarik, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan di masa depan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Program Studi Teknologi Pangan UM Bandung Khairiah menjelaskan bahwa Food Festival bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari implementasi proyek pembelajaran mahasiswa dalam mata kuliah Pengembangan Produk Pangan.

Menurutnya, tema yang diangkat tahun ini berfokus pada pemanfaatan pangan lokal yang berpotensi dikembangkan menjadi emergency food atau pangan darurat.

“Kita memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat melimpah. Namun, yang tidak kalah penting adalah bagaimana mengelolanya dengan baik agar dapat menjadi solusi kebutuhan pangan di masa depan,” jelasnya.

Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UM Bandung Arief Yunan turut memberikan apresiasi atas berbagai inovasi yang ditampilkan mahasiswa.

Ia menilai Food Festival menjadi jembatan yang menghubungkan dunia akademik dengan dunia industri.

“Produk-produk yang dipamerkan hari ini memiliki peluang untuk terus dikembangkan menjadi usaha atau bisnis yang lebih besar di masa mendatang,” katanya.

Arief juga mengingatkan mahasiswa agar terbuka terhadap berbagai masukan dan evaluasi yang diberikan dosen maupun pengunjung.

“Setiap kritik dan saran adalah peluang untuk menyempurnakan produk. Dari situlah akan lahir inovasi yang lebih sehat, berkelanjutan, dan mampu bersaing di tingkat global,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto mengajak mahasiswa untuk memahami proses pangan secara menyeluruh, mulai dari tahap budidaya hingga menjadi produk yang siap dikonsumsi masyarakat.

Menurutnya, ilmu dan teknologi pangan memiliki peran yang sangat strategis dalam menjawab tantangan bangsa, terutama terkait ketahanan pangan, inovasi produk, dan pengembangan sumber daya manusia yang unggul.

Ia pun optimistis mahasiswa UM Bandung memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat melalui inovasi dan karya yang mereka hasilkan.

“Saudara sekalian memiliki potensi yang luar biasa. Saya berharap potensi tersebut dapat menjadi bekal untuk berkarya, berinovasi, dan memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat luas,” pungkasnya.***

Administrator

UM Bandung dan Sepuluh Tahun yang Tak Sekadar Angka

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Sepuluh tahun lalu, Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung memulai langkahnya dengan hanya lima puluh mahasiswa baru.

Minggu, 14 Juni 2026, kampus ini merayakan satu dekade perjalanannya—sebuah jarak yang ditempuh dengan pertumbuhan yang konsisten di hampir semua lini: kelembagaan, sumber daya manusia, program studi, hingga kualitas layanan pendidikan.

Kini UM Bandung menaungi dua puluh program studi di bawah lima fakultas, ditambah Magister Manajemen dan Profesi Apoteker. Sebuah lompatan jauh dari titik nol satu dekade lalu.

Dalam perayaan Milad ke-10 yang berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto melemparkan target ambisius: sepuluh ribu mahasiswa.

"Di usia sepuluh tahun ini, jumlah mahasiswa baru UM Bandung harus terus naik. Harapannya, jumlah mahasiswa kita ke depan dapat mencapai sepuluh ribu orang," ujarnya, disambut tepuk tangan hadirin.

Herry mengakui bahwa basis mahasiswa UM Bandung saat ini masih terkonsentrasi di Jawa Barat. Untuk menembus target itu, ia menegaskan perlunya penguatan di berbagai lini: kualitas layanan pendidikan, pengelolaan institusi, hingga strategi promosi yang lebih luas.

Selain ekspansi jumlah mahasiswa, kampus juga mengincar akreditasi unggul dan tengah memproses izin pembukaan prodi magister baru.

Di balik target ke depan, ada catatan yang sudah dibukukan. Apa sajakah itu?

Selama sepuluh tahun terakhir, UM Bandung berhasil membangun gedung sendiri, menambah fasilitas kampus, mengantongi akreditasi institusi "Baik Sekali", memperkuat sistem manajemen mutu, menambah jumlah dosen bergelar doktor, membuka program studi baru, serta mencatatkan sejumlah prestasi di tingkat nasional maupun internasional.

Bagi Herry, capaian-capaian ini bukan sekadar statistik administratif.

"Ketika UM Bandung diresmikan, para pendiri dan perintis universitas ini sesungguhnya tidak sedang membangun sebuah kampus semata. Mereka sedang menyiapkan fondasi bagi lahirnya generasi masa depan yang memiliki keunggulan ilmu pengetahuan, kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, dan karakter keislaman yang kuat," tegasnya.

Ketua Badan Pembina Harian UM Bandung Dadang Kahmad yang juga Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, memberi catatan apresiatif atas laju pertumbuhan kampus ini.

Menurutnya, UM Bandung telah mengambil peran nyata dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan berjiwa kewirausahaan.

"Momentum satu dekade ini tidak sekadar perayaan perjalanan waktu. Namun, juga menjadi saat yang tepat untuk melakukan refleksi, evaluasi, dan memperkuat tekad menuju masa depan UM Bandung yang lebih gemilang," katanya.

Dadang juga menyampaikan terima kasih kepada para pendiri, pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan alumni yang telah berkontribusi membesarkan kampus ini.

Ia berharap usia sepuluh tahun menjadi pijakan untuk melompat lebih tinggi melalui penguatan akademik, riset, kemitraan, dan kontribusi sosial—agar UM Bandung dapat tumbuh sebagai pusat keunggulan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai Islam berkemajuan.

Di luar pidato dan refleksi formal, perayaan Milad ke-10 juga diwarnai sisi yang lebih cair: Lomba Kreasi Nasi Goreng antar-program studi yang digelar sejak pagi.

Para dekan, kepala program studi, dan dosen dari berbagai fakultas turun langsung berkompetisi, mengolah bahan masakan menjadi sajian terbaik mereka.

Rektor bersama jajaran wakil rektor turun tangan menjadi juri. Di tengah suasana meriah itu, lomba ini menjelma jadi lebih dari sekadar kompetisi—ia menjadi perekat kebersamaan di lingkungan kampus, menutup satu dekade perjalanan UM Bandung dengan kehangatan kekeluargaan.***(FA/FK)

Administrator