Berita

Buka Rakorwil BEM-PTMA, Rektor UM Bandung Serukan Kebangkitan Generasi Muda

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung Herry Suhardiyanto mengajak mahasiswa Indonesia untuk mulai mempersiapkan diri sebagai calon pemimpin bangsa sejak duduk di bangku kuliah.

Baginya, kepemimpinan tidak lahir secara instan, tetapi ditempa melalui proses panjang di ruang kelas ataupun dalam dinamika organisasi kemahasiswaan.

Pesan itu dia sampaikan saat membuka Rapat Kerja Wilayah Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah Zona III di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung pada Kamis (12/02/2026).

Di hadapan ratusan aktivis mahasiswa, dia menegaskan bahwa kampus harus menjadi ruang pembentukan karakter, intelektualitas, dan kepedulian sosial.

Herry juga mengapresiasi pelaksanaan Rakorwil di Bandung, kota yang sarat nilai sejarah perjuangan bangsa. Dia mengingatkan bahwa Bandung tidak sekadar lokasi pertemuan.

Namun, ruang historis yang pernah menjadi saksi pergulatan gagasan dan pergerakan kebangsaan, termasuk jejak pendidikan sang proklamator, Soekarno.

Menurutnya, Bung Karno memiliki catatan penting bersama Kota Bandung.

Dia mengutip puisi terkenal sang proklamator, “Hanya ke Bandunglah aku kembali kepada cintaku yang sesungguhnya,” sebagai refleksi kecintaan terhadap tanah air.

“Makna cintaku yang sesungguhnya itu adalah tanah air. Mahasiswa harus mencintai bangsa dan negara ini. Banyak persoalan yang harus kita respons bersama,” ujarnya.

Rektor juga menyoroti pentingnya tema transformasi sosial dan kebangsaan yang diangkat dalam Rakorwil. Dia menyebut kesenjangan sosial sebagai persoalan nyata yang belum terselesaikan.

“Betapa aset ekonomi bangsa ini masih dikuasai segelintir orang dan kelompok. Ini pekerjaan rumah kita bersama,” katanya.

Lebih jauh, dia menegaskan, mahasiswa harus menjadi pembelajar sejati yang tidak hanya mengandalkan pembelajaran formal.

“Tidak cukup hanya belajar di kelas. Mahasiswa harus belajar di mana saja agar mampu membaca persoalan dan menawarkan solusi nyata bagi bangsa Indonesia,” tegasnya.

Dalam sambutannya, Herry juga mengingatkan tantangan nilai sosial dan keagamaan di tengah arus liberalisme global.

Dia meminta mahasiswa memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap berbagai isu kebangsaan yang berkembang.

“Mahasiswa tidak boleh abai. Ini menyangkut masa depan moral dan jati diri bangsa,” ucapnya.

Dia juga turut menyoroti persoalan media sosial yang kerap disalahgunakan, termasuk maraknya perundungan dan ujaran kebencian.

“Kita gagal mengelola media sosial dengan bijak. Tanpa kontrol, orang bisa menghina dan menghujat tanpa rasa takut. Bullying ini sangat memprihatinkan dan harus menjadi perhatian serius,” katanya.

Lebih jauh, dia mengkritisi lemahnya penegakan hukum, praktik politik uang, hingga korupsi yang terus berulang.

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan perlunya transformasi sosial yang sungguh-sungguh.

“Hukum tidak boleh dipermak demi kepentingan kelompok tertentu. Politik juga harus bersih dari kepentingan sesaat,” tegasnya.

Mengakhiri sambutannya, Herry mengajak mahasiswa kembali pada semangat Pembukaan UUD 1945 dan nilai-nilai Pancasila sebagai perekat bangsa. “Tolong jagalah apa yang sudah diperjuangkan para pendiri bangsa.

Salah satu tujuan bernegara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Itu amanat konstitusi yang harus kita jaga bersama,” pungkasnya.***(FA)

Administrator

Cari Kampus yang Tepat? Ini Pesan Penting untuk Calon Mahasiswa

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Suasana Auditorium KH Ahmad Dahlan tampak lebih semarak pada Rabu (11/02/2026). Ratusan siswa SMK Al-Hasra Depok datang dengan wajah penuh semangat, siap menyerap pengalaman baru tentang dunia perkuliahan.

Kehadiran mereka bukan sekadar agenda kunjungan rutin. Hari itu menjadi momentum penting untuk mengenal lebih dekat kehidupan kampus, khususnya di Universitas Muhammadiyah Bandung, sekaligus membuka cakrawala tentang masa depan pendidikan tinggi.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian silaturahmi edukatif sekolah menengah ke UM Bandung. Sejak berdiri pada 2016, kampus ini semakin menguatkan eksistensinya sebagai salah satu pilihan studi lanjut bagi masyarakat Jawa Barat.

Atmosfer hangat terasa ketika Wakil Rektor III UM Bandung Zamah Sari menyampaikan sambutan. Ia tak hanya memperkenalkan profil kampus, tetapi juga menanamkan pentingnya merencanakan pilihan perguruan tinggi secara matang.

Dalam pesannya, ia menekankan agar calon mahasiswa cermat dalam menentukan kampus. Faktor kepemimpinan, reputasi rektor, serta kiprah akademik menjadi pertimbangan penting karena akan berdampak pada kualitas pendidikan yang diterima mahasiswa.

Selain itu, aspek lokasi juga menjadi sorotan. Akses transportasi yang mudah, lingkungan yang nyaman, dan suasana belajar yang kondusif dinilai turut menentukan keberhasilan studi. UM Bandung, ujarnya, berada di kawasan strategis dan mudah dijangkau dari berbagai arah.

Ia juga menyebut Bandung sebagai kota yang ideal untuk menempuh pendidikan. Bersama Yogyakarta, Bandung dikenal sebagai Kota Pendidikan dengan iklim akademik dinamis dan lingkungan yang mendukung pengembangan potensi mahasiswa.

Berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, UM Bandung kini memiliki lima fakultas, yakni FST, FEB, FSH, FAI, dan Farmasi. Tahun sebelumnya, kampus ini menambah program Magister Manajemen serta Profesi Apoteker yang menarik minat pendaftar dari berbagai daerah, termasuk luar pulau.

Tak hanya mendapatkan motivasi dari pimpinan kampus, para siswa juga memperoleh penjelasan lengkap dari tim Penerimaan Mahasiswa Baru. Informasi tentang prosedur pendaftaran, keunggulan program studi, peluang beasiswa, prestasi mahasiswa, hingga program pertukaran pelajar ke luar negeri dipaparkan secara menyeluruh.

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir semangat baru di kalangan siswa untuk berani bermimpi besar. Apa pun pilihan kampus mereka nantinya, tekad untuk melanjutkan pendidikan tinggi harus terus dijaga—dan UM Bandung hadir sebagai salah satu alternatif terbaik untuk menapaki masa depan gemilang.***

Administrator

Kearifan Lokal Jadi Jembatan Dakwah dan Penguat Silaturahmi Umat

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kepala LPPAIK UM Bandung Dikdik Dahlan Lukman mengungkapkan bahwa secara etimologis nama “Sunda” bermakna bersih atau terang. Makna tersebut, menurutnya, sejalan dengan karakter masyarakat Sunda yang dikenal someah atau ramah serta religius.

Ia menjelaskan, identitas kultural tersebut berpadu selaras dengan ajaran Islam dan melahirkan tradisi-tradisi yang kaya nilai spiritual. Hal itu disampaikannya dalam Program Gerakan Subuh Mengaji yang tayang pada Selasa (10/02/2026).

Dalam pemaparannya, Dikdik menyebut masyarakat Sunda selalu menyambut datangnya Ramadan dengan suka cita. Kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat, katanya, tidak bertentangan dengan syariat, melainkan menjadi sarana untuk menguatkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sosial.

Ia menerangkan, dalam kalender Sunda bulan Syakban dikenal sebagai Rewah yang berakar dari kata arwah. Pada bulan ini, terdapat sejumlah tradisi sebagai persiapan menyambut Ramadan, salah satunya nyekar atau nadran, yakni ziarah ke makam keluarga sekaligus membersihkan area pemakaman secara gotong royong sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Tradisi bersih-bersih rumah dan tempat ibadah juga menjadi kebiasaan yang mengakar. Masjid dan musala dibersihkan bersama, karpet serta mukena dicuci secara massal, mencerminkan semangat kolektif menyongsong bulan suci.

Selain itu, terdapat tradisi munggahan yang berasal dari kata unggah atau naik. Tradisi ini dimaknai sebagai upaya meningkatkan kesiapan mental dan mempererat kebersamaan melalui makan bersama keluarga besar sebelum memasuki Ramadan. Ada pula munjungan atau nyorog, yakni berbagi makanan kepada orang tua dan tetangga sebagai wujud penghormatan dan sedekah.

Masyarakat Sunda juga mengenal kuramas, mandi besar yang melambangkan pembersihan diri secara lahiriah sebelum menjalani ibadah puasa. Rangkaian tradisi tersebut mengandung pesan agar umat Islam memasuki Ramadan dengan hati dan jiwa yang bersih.

Memasuki bulan puasa, sejumlah kebiasaan tetap dijalankan, seperti ngabuburit yang diisi dengan kegiatan positif sambil menunggu waktu berbuka. Di pesantren dan masjid, tradisi ngaji pasaran digelar dengan mengkaji kitab kuning tertentu secara intensif dari awal hingga akhir Ramadan untuk memperdalam pemahaman agama.

Pada sepuluh hari terakhir, masyarakat melaksanakan lilikuran dengan menghidupkan malam-malam ganjil demi meraih keutamaan lailatul qadar. Tabuhan dulag atau bedug pun masih digunakan sebagai penanda waktu sahur, tarawih, dan menjelang Idul Fitri, menjadi bagian dari syiar Islam yang menyatu dengan budaya lokal.

Di akhir kajiannya, Dikdik menyampaikan sejumlah pepatah Sunda sebagai nasihat menjaga kualitas puasa. “Letah leuwih seukeut batan peso” mengingatkan pentingnya menjaga lisan dari gibah dan fitnah. “Panon nu lalawora, hate nu cilaka” mengajarkan agar menjaga pandangan. Sementara “Hadé ku niat, goréng ku pamér” menegaskan pentingnya keikhlasan dan menjauhi riya.

Ia menutup dengan penegasan bahwa budaya Sunda tidak mengubah ajaran Islam, melainkan menjadi instrumen dakwah yang memperindah pelaksanaan ibadah sekaligus mempererat silaturahmi, termasuk melalui tradisi munggahan dan munjungan yang sarat nilai edukatif bagi generasi muda.***

Administrator

Benchmarking dan Company Visit, Langkah Nyata Penguatan Prodi Manajemen UM Bandung

UMBANDUNG.AC.ID, Semarang -- Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menggelar kunjungan studi banding dan benchmarking ke Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Semarang (FEB UNIMUS), Rabu (14/01/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari langkah strategis untuk memperkuat sinergi antarperguruan tinggi Muhammadiyah dalam meningkatkan mutu tata kelola program studi dan kualitas pendidikan tinggi.

Suasana pertemuan berlangsung hangat dan penuh semangat kolaborasi. Momentum tersebut dimanfaatkan sebagai ajang berbagi pengalaman serta praktik baik dalam pengelolaan akademik. Kedua institusi berdiskusi mengenai sistem pembelajaran, pengembangan kurikulum, hingga strategi meningkatkan daya saing lulusan di tengah dinamika pendidikan tinggi yang terus berkembang.

Ketua Program Studi Manajemen UM Bandung, Indra Sasangka, menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan FEB UNIMUS. Ia menilai benchmarking sebagai langkah penting untuk saling belajar dan bertukar gagasan dalam mendorong peningkatan kualitas institusi secara berkelanjutan.

“Kolaborasi antarperguruan tinggi Muhammadiyah menjadi kekuatan penting dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi di masa depan. Kunjungan ini sekaligus menegaskan komitmen kami untuk memperluas jejaring kerja sama akademik,” ujar Indra.

Ia menjelaskan, studi banding merupakan agenda rutin Prodi Manajemen UM Bandung guna menggali praktik pengelolaan program studi di kampus lain. Rangkaian kegiatan meliputi pengenalan atmosfer akademik, peninjauan sistem pembelajaran, diskusi interaktif, kuliah umum, hingga pengamatan budaya perkuliahan.

Pemilihan FEB UNIMUS sebagai mitra benchmarking didasarkan pada kredibilitas serta kualitas program studi yang dimiliki. Pertimbangan tersebut mencakup rekam jejak program studi, mutu lulusan, kelengkapan sarana dan prasarana, serta jejaring yang mendukung kesiapan alumni memasuki dunia kerja.

Indra menambahkan, manfaat kegiatan ini sangat luas. Selain membuka peluang adaptasi model pembelajaran yang relevan, kegiatan ini juga mendukung penguatan fasilitas akademik serta memperkaya wawasan dosen terkait disiplin ilmu dan praktik pembelajaran di perguruan tinggi lain, khususnya kampus-kampus Muhammadiyah.

Sebagai bentuk komitmen dalam mempererat sinergi kelembagaan, kegiatan ditutup dengan penandatanganan nota kerja sama antara kedua institusi. Kesepakatan tersebut diharapkan menjadi landasan kolaborasi berkelanjutan di berbagai bidang pengembangan akademik.

Selain studi banding, rombongan juga melaksanakan company visit ke PT Pabrik Gula Madukismo, Bantul, Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran langsung mengenai praktik manajemen operasional di dunia industri sekaligus memperkuat keterkaitan antara teori di bangku kuliah dan implementasi di lapangan.

Rangkaian kegiatan ini diikuti oleh Ketua Program Studi, Sekretaris Program Studi, Gugus Penjaminan Mutu, dosen, mahasiswa, serta pengurus Himpunan Mahasiswa Manajemen, dengan harapan mampu menghadirkan inovasi dan penguatan kolaborasi bagi pengembangan Prodi Manajemen UM Bandung ke depan.***

Administrator

Mengenal Diri Sebagai Fondasi Kesehatan Mental Mahasiswa

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Prodi Manajemen Universitas Muhammadiyah Bandung Megha Sakova mengatakan bahwa kesadaran untuk mengenal diri sendiri merupakan fondasi penting dalam membangun kepribadian yang sehat dan seimbang.

Hal tersebut disampaikannya dalam Seminar Literasi Diri bertajuk “Mengenal Diri: Hal yang Sering Kita Lupakan” yang digelar Duta Literasi Manajemen UM Bandung pada Selasa (10/02/2026).

Menurut Megha, mengenal diri bukan sekadar mengetahui sifat atau kebiasaan yang tampak di permukaan, melainkan memahami secara sadar apa yang dirasakan, dipikirkan, dibutuhkan, dan batas-batas diri.

“Mengenal diri itu bukan berdasarkan tuntutan orang lain, melainkan dari kesadaran diri sendiri,” ujarnya.

Dia menjelaskan, banyak individu yang tanpa sadar menjalani hidup berdasarkan ekspektasi sosial karena belum benar-benar memahami dirinya.

Kondisi tersebut membuat seseorang mudah terjebak dalam tekanan dan penilaian dari luar.

“Kalau seseorang belum kenal dirinya, maka hidupnya akan terus dikendalikan oleh standar dan harapan orang lain,” kata Megha.

Lebih lanjut, Megha memaparkan konsep self-awareness sebagai kemampuan untuk menyadari apa yang sedang terjadi di dalam diri.

Kesadaran tersebut mencakup pemahaman terhadap emosi, pola pikir, alasan bereaksi terhadap suatu situasi, dan dampak perilaku terhadap orang lain.

“Self-awareness bukan cuma tahu diri, tetapi sadar mengapa kita bersikap seperti itu,” jelasnya.

Dia menambahkan, banyak orang mengira sudah mengenal dirinya, padahal baru sebatas mengetahui sifat luar.

Menurutnya, self-awareness menuntut seseorang masuk ke level refleksi yang lebih dalam. “Bukan hanya ‘apa saya seperti ini’, tapi ‘mengapa saya menjadi seperti ini’,” tegasnya.

Dalam pemaparannya, Megha juga menjelaskan bahwa setiap manusia sejak lahir membawa watak dasar yang tidak netral.

Watak tersebut dipengaruhi oleh faktor biologis, pengalaman awal kehidupan, serta lingkungan keluarga dan sosial.

“Watak dasar itu bukan salah atau benar, tetapi fakta tentang diri yang perlu dipahami,” ujarnya.

Watak dasar manusia, lanjut Megha, dapat diklasifikasikan menjadi tiga kecenderungan utama, yaitu introvert, ekstrovert, dan ambivert.

Ketiganya berkaitan dengan cara seseorang mendapatkan dan mengelola energi, bukan soal kecerdasan atau keberanian.

Introvert memperoleh energi dari waktu sendiri, sedangkan ekstrovert dari interaksi sosial.

Dia menilai pemahaman terhadap watak dasar sangat penting agar seseorang tidak memaksakan diri pada peran yang tidak sesuai.

“Tanpa self-awareness, orang bisa kelelahan secara mental karena terus memaksakan diri menjadi sesuatu yang bukan dirinya,” kata Megha.

Selain itu, Megha juga membahas empat tipe kepribadian, yakni sanguinis, koleris, plegmatis, dan melankolis. Masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahan yang berbeda.

Menurut Megha, persoalan sering muncul bukan karena tipe kepribadian tertentu, melainkan karena ketidaksadaran dalam mengelolanya.

Sebagai penutup, Megha menegaskan bahwa kepribadian manusia terbentuk dari perpaduan watak dasar, pengalaman hidup, dan kesadaran diri. Dengan self-awareness, watak dapat diolah menjadi kekuatan personal.

“Orang yang paling siap menghadapi dunia bukan yang paling sempurna, tetapi yang paling sadar akan dirinya sendiri,” pungkasnya.***(FA)

Administrator

Rakernas Puspresma PTMA Bahas Strategi Peningkatan Prestasi Mahasiswa Nasional

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menjadi tuan rumah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pusat Prestasi Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (Puspresma PTMA) yang berlangsung pada Kamis–Minggu (05–08/02/2026).

Kegiatan yang digelar di Ruang Rapat Lantai 1 Gedung UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, itu dihadiri oleh Rektor UM Bandung, Ketua Forum Silaturahmi Bidang Kemahasiswaan (Fosma) PTMA, serta perwakilan perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah dari berbagai daerah di Indonesia.

Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta Rakernas. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi serta meningkatkan capaian prestasi mahasiswa di lingkungan PTMA.

Menurutnya, Rakernas Puspresma PTMA merupakan langkah strategis dalam meningkatkan reputasi dan daya saing kampus, khususnya bagi UM Bandung yang berada dalam lingkungan persaingan ketat antarperguruan tinggi swasta unggulan.

Herry menegaskan bahwa Fosma PTMA memiliki peran strategis dalam mendorong lahirnya berbagai prestasi mahasiswa di setiap kampus. Selain berkontribusi pada capaian prestasi, forum tersebut juga menjadi penggerak peningkatan mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan.

“Budaya mutu dan budaya berprestasi harus terus dibangun di setiap kampus PTMA. Melalui berbagai capaian prestasi, reputasi institusi akan meningkat sekaligus memperkuat kualitas pendidikan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Puspresma PTMA Fatimah Sari Siregar menyampaikan terima kasih kepada UM Bandung atas kesediaannya menjadi tuan rumah Rakernas. Ia menjelaskan bahwa Puspresma berkomitmen memberikan pendampingan kompetisi mahasiswa melalui dukungan para pakar di bidang PKM, Pimnas, PPK Ormawa, P2MW, hingga Simbelmawa.

“Kami memiliki tim pakar yang siap membantu kampus-kampus PTMA, termasuk UM Bandung, dalam pendampingan pelaksanaan berbagai program dan kompetisi mahasiswa,” ungkapnya.

Fatimah berharap Rakernas kali ini dapat menghasilkan program-program baru yang bermanfaat bagi 164 PTMA di seluruh Indonesia, sekaligus memperkuat sistem pendampingan prestasi mahasiswa di bawah koordinasi Puspresma PTMA.

Ketua Fosma PTMA Ihwan Susila menambahkan, Rakernas diharapkan mampu merumuskan program-program berorientasi internasional sebagai bagian dari kontribusi Muhammadiyah pada abad kedua. Menurutnya, Muhammadiyah tidak hanya berperan dalam memajukan Indonesia, tetapi juga diharapkan memberi kontribusi nyata bagi kemajuan dunia.

“Kami berharap gagasan dan program yang dihasilkan dari Rakernas ini dapat terus dikembangkan dan menjadi langkah nyata menuju internasionalisasi program kemahasiswaan PTMA,” tandasnya.***(FK/FA)

Administrator