Berita

Jaga Lisan dan Perilaku, Kunci Puasa Berkualitas Menurut Dosen UM Bandung

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Program Studi Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Rikki Maulana Yusup menegaskan bahwa etika merupakan fondasi nilai yang sangat penting dalam kehidupan manusia, khususnya bagi umat Islam yang tengah menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Dia menjelaskan bahwa keberhasilan puasa tidak semata diukur dari kemampuan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga dari sejauh mana seseorang mampu menjaga perilaku dari hal-hal tercela, seperti berkata kasar, menggunjing, dan berbohong. Dalam hal ini, dia mengingatkan bahwa ajaran dalam hadis menekankan pentingnya meninggalkan perkataan dusta agar puasa memiliki nilai di sisi Allah.

Menurutnya, Ramadan seharusnya dimaknai sebagai momentum pembinaan diri yang intensif, layaknya proses pembentukan karakter untuk melatih disiplin moral dan kesopanan. Dia menekankan bahwa puasa yang berkualitas harus diiringi dengan upaya menjaga etika dan moral dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, dia menguraikan bahwa etika memiliki cakupan yang luas, yakni etika umum yang berlaku bagi seluruh manusia serta etika khusus yang berkaitan dengan profesi tertentu. Dalam konteks ini, setiap individu, baik dosen, mahasiswa, maupun Aparatur Sipil Negara (ASN), memiliki tanggung jawab untuk mematuhi kode etik sesuai dengan perannya masing-masing.

Dia juga menekankan bahwa etika merupakan pedoman universal yang mengarahkan seseorang untuk bertindak secara benar, baik, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, penerapan etika tidak hanya penting dalam ranah personal, tetapi juga dalam kehidupan profesional dan sosial.

Selain itu, kebiasaan menjaga tutur kata yang santun selama Ramadan dinilai memiliki potensi untuk membentuk karakter yang lebih baik secara berkelanjutan. Kebiasaan tersebut diharapkan tidak hanya berlangsung selama bulan suci, tetapi juga menjadi bagian dari perilaku sehari-hari setelah Ramadan berakhir.

Dia menilai bahwa perbaikan etika individu akan berdampak luas terhadap kualitas hubungan sosial, baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. Dengan demikian, penguatan nilai-nilai moral selama Ramadan dapat berkontribusi pada terciptanya kehidupan sosial yang lebih harmonis.

Menutup pemaparannya, dia mengajak masyarakat untuk memanfaatkan sisa waktu di bulan Ramadan sebagai sarana introspeksi diri. Dia berharap setiap individu mampu meningkatkan kualitas spiritual dan sosialnya, serta menjadikan etika sebagai landasan utama dalam setiap tindakan agar membawa manfaat bagi sesama.***(FK)

Administrator

Amal Sedikit Tapi Konsisten Lebih Dicintai Allah

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Wakil Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Cecep Taufikurrohman menegaskan bahwa perpisahan dengan bulan suci Ramadhan bukan sekadar pergantian waktu, melainkan menjadi ujian keimanan bagi setiap muslim yang telah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.

Buya Cecep—sapaan akrabnya—mengajak umat Islam untuk menyambut bulan Syawal dengan penuh rasa syukur, tanpa menghilangkan keharuan saat berpisah dengan Ramadhan.

“Berpisah dengan bulan suci Ramadhan itu tidak mudah. Ada kebahagiaan, tetapi juga ada kesedihan yang mendalam,” ujarnya seperti dikutip dari program Gerakan Subuh Mengaji (GSM) pada Jumat (27/03/2026).

Menurutnya, perpaduan antara rasa bahagia dan sedih tersebut merupakan tanda hidupnya hati seorang mukmin.

Kebahagiaan muncul karena Allah SWT memberikan kekuatan untuk beribadah, sementara kesedihan hadir karena belum tentu seseorang dapat kembali bertemu dengan Ramadhan di tahun berikutnya.

Dia menekankan bahwa seorang mukmin tidak hanya berorientasi pada banyaknya amal yang dilakukan, tetapi lebih penting memastikan apakah amal tersebut diterima oleh Allah SWT.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS Al-Ma’idah ayat 27 yang menegaskan bahwa Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.

Dalam pemaparannya, Buya Cecep juga mengajak umat Islam untuk meneladani generasi terbaik umat Islam yang senantiasa menjaga kualitas amal. Mereka tidak hanya bersungguh-sungguh dalam beribadah.

Namun, terus memohon agar amalnya diterima oleh Allah SWT, sebagaimana nasihat Ali bin Abi Thalib yang menekankan pentingnya diterimanya amal dibanding sekadar pelaksanaannya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa rasa khawatir terhadap amal yang tidak diterima merupakan bentuk kerendahan hati di hadapan Allah SWT.

Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Mu’minun ayat 60 tentang orang-orang yang beramal dengan hati penuh rasa takut karena menyadari akan kembali kepada Tuhan.

Namun demikian, dia mengingatkan bahwa rasa takut tidak boleh berubah menjadi pesimisme. Islam mengajarkan keseimbangan antara rasa takut dan harapan.

“Khaufan wa thama’an, takut tetapi tetap optimis, itu yang harus kita jaga,” jelasnya.

Dalam suasana menyambut Syawal, Buya Cecep menuturkan bahwa kegembiraan Idul Fitri merupakan bagian dari ajaran Islam.

Umat Islam dianjurkan mengekspresikan rasa syukur melalui kebahagiaan, mempererat silaturahmi, dan menampilkan sikap terbaik dalam kehidupan sehari-hari.

Dia juga mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit.

Oleh karena itu, indikator keberhasilan Ramadhan tidak hanya diukur dari ibadah selama sebulan, tetapi dari keberlanjutan amal setelahnya.

Menurutnya, jika seseorang tetap istiqamah dalam kebaikan setelah Ramadhan, hal itu menjadi tanda bahwa ibadahnya diterima.

Sebaliknya, jika kembali pada kebiasaan buruk, maka hal tersebut perlu menjadi bahan evaluasi diri.

Pada akhir penyampaiannya, Buya Cecep mengajak umat Islam untuk senantiasa berdoa agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan di masa mendatang.

“Allahumma la taj’alhu akhiral ‘ahdi min shiyamina iyyahu…” (Ya Allah, jangan jadikan Ramadhan ini sebagai Ramadhan terakhir bagi kami).

Dia menegaskan bahwa Syawal sejatinya bukanlah akhir dari ibadah, melainkan awal untuk menjaga konsistensi dalam kebaikan.

“Menjemput Syawal dengan penuh kesyukuran dan kegembiraan menjadi tanda bahwa nilai-nilai Ramadhan benar-benar hidup dalam diri setiap muslim,” tandasnya.***(HMA)

Administrator

Transisi Bioenergi Sebagai Strategi Krusial dalam Mengatasi Krisis Energi Global

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Arief Yunan, menegaskan bahwa transisi menuju bioenergi dan energi terbarukan menjadi langkah krusial dalam menghadapi krisis energi dan kerusakan lingkungan global.

Ia menjelaskan, ketergantungan dunia terhadap bahan bakar fosil yang mencapai 60 persen telah mempercepat perubahan iklim. Karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dikutip dari kanal YouTube UM Bandung, Kamis (26/03/2026), Arief mengaitkan upaya pelestarian lingkungan dengan nilai spiritual dalam Surah Al-Baqarah ayat 164 tentang anugerah alam semesta.

Menurutnya, pemanfaatan energi harus dilakukan secara bijak sebagai bentuk rasa syukur. “Al-Qur'an telah mengingatkan bahwa fenomena alam adalah anugerah yang harus dimanfaatkan dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Dalam aspek teknologi, Arief menyebut bioenergi dari bahan organik seperti tanaman dan limbah biomassa sebagai alternatif yang potensial. Pemanfaatannya dinilai mampu menekan emisi gas rumah kaca sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.

Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah dalam pengembangan energi terbarukan, namun menekankan pentingnya partisipasi masyarakat. “Bioenergi bukan sekadar pilihan teknis, tetapi solusi nyata untuk masa depan yang berkelanjutan,” jelasnya.

Selain itu, Arief mengingatkan pentingnya budaya hemat energi dalam kehidupan sehari-hari. Ia pun mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan demi mewujudkan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.***(FK)

Administrator

Kisah Hangat Lebaran, Mahasiswa Non-Muslim UM Bandung Disambut Layaknya Keluarga

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Jarak ribuan kilometer antara Kabupaten Sarmi, Papua, dan Kota Bandung tak menghalangi Gracella Weyasu merasakan makna “pulang” pada Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Di tengah sepinya suasana kos saat libur lebaran, mahasiswa perantau non-muslim itu justru menemukan kehangatan keluarga di tempat yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Rumah itu adalah kediaman sahabatnya, Nurul Hasyanah, mahasiswa Prodi PIAUD UM Bandung. Tanpa memandang perbedaan agama maupun suku, Nurul dan keluarganya membuka pintu lebar-lebar, menjadikan Grace—sapaan akrab Gracella—sebagai bagian dari keluarga di momen istimewa tersebut.

Bagi Grace, menjadi perantau berarti harus akrab dengan kesunyian. Terlebih ketika harga tiket pulang kampung melambung tinggi, sementara teman-temannya memilih kembali ke daerah masing-masing. Di saat itulah, ajakan hangat dari Nurul menjadi secercah cahaya yang mengusir rasa sepi.

“Kamu jangan sendirian di kos, ikut teteh saja ke rumah. Ibu sudah tanya terus kapan Grace datang ke rumah,” kenang Grace menirukan ajakan Nurul yang mengundangnya ke Baleendah, Kabupaten Bandung.

Sesampainya di sana, Grace disambut dengan penuh kehangatan. Ia bahkan dibuatkan baju lebaran seragam layaknya anggota keluarga lainnya. Tak hanya menjadi tamu, Grace juga turut ambil bagian dalam persiapan menjelang hari raya, mulai dari membersihkan rumah hingga membuat kue bersama.

“Ada rasa bangga tersendiri saat aku ikut memegang kanebo dan membersihkan kaca rumah. Aku merasa ikut berkontribusi dalam menyambut tamu-tamu yang akan datang,” ungkap mahasiswa Prodi Akuntansi UM Bandung tersebut.

Selama tinggal bersama, Grace juga menunjukkan antusiasme tinggi untuk memahami makna Ramadhan dan tradisi Idul Fitri. Ia bahkan ikut berbuka puasa bersama keluarga Nurul. Puncak kebersamaan terjadi saat pagi Idul Fitri, ketika Grace turut ke masjid mengenakan busana seragam keluarga dan menyaksikan salat Id dari saf paling belakang dengan penuh haru.

“Momen bersalaman dan bermaaf-maafan itu menjadi puncak dari segalanya. Pelukan hangat yang kuterima memberitahuku bahwa rumah bukanlah soal tempat lahir, melainkan di mana kita disayangi,” tuturnya.

Kisah ini menjadi cerminan nyata bahwa toleransi dan kasih sayang mampu melampaui sekat perbedaan, sekaligus menegaskan nilai-nilai keberagaman yang dijunjung tinggi dalam Islam, khususnya di lingkungan sivitas UM Bandung.***(FK)

Administrator

Ribuan Jamaah Padati UM Bandung, Salat Idul Fitri 1447 H Berlangsung Khidmat

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ribuan warga Muhammadiyah bersama masyarakat sekitar memadati halaman parkir Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung pada Jumat, 20 Maret 2026, untuk melaksanakan salat Idul Fitri 1447 Hijriah.

Sejak pagi hari, jamaah mulai berdatangan dan memenuhi area kampus yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752. Kapasitas halaman yang luas tidak mampu menampung seluruh jamaah, sehingga sebagian di antaranya menggelar sajadah hingga ke ruas jalan kampus dan area parkir belakang.

Pelaksanaan salat Id berlangsung dengan khidmat. Suasana religius terasa kuat dengan gema takbir yang berkumandang, menyatukan ribuan jamaah dalam suasana penuh kekhusyukan setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadhan.

Bertindak sebagai khatib, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, Zaini Abdul Malik, menyampaikan pesan tentang pentingnya mensyukuri nikmat Allah SWT karena telah diberikan kesempatan untuk menunaikan ibadah Ramadhan hingga Idul Fitri.

“Semoga kita bisa kembali suci seperti bayi yang baru lahir. Semoga juga ibadah saum Ramadhan dan salat-salat malam kita diterima Allah SWT. Kita berdoa kepada Allah SWT semoga dosa-dosa kita diampuni,” ujarnya.

Dalam khutbahnya, Zaini menjelaskan bahwa ibadah puasa tidak hanya bermakna menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas hubungan sosial antar sesama.

Ia mengajak jamaah untuk mempererat silaturahmi, baik dengan keluarga maupun kerabat, sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, kurangnya interaksi sosial akibat rutinitas yang monoton dapat berdampak pada kesehatan mental. Oleh karena itu, menjaga hubungan sosial dinilai penting untuk menciptakan keseimbangan batin.

“Gangguan mental itu sangat berbahaya. Oleh karena itu, saum itu ibadah fisik yang sangat bagus untuk kesehatan mental kita. Ditandai dengan kuatnya kita dalam menahan godaan dan selalu istigfar kalau ada hal-hal yang berakibat dosa. Karena sesungguhnya jihad yang paling besar itu adalah melawan hawa nafsu diri sendiri,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa Ramadhan merupakan sarana pembinaan diri yang tidak hanya membentuk kesalehan spiritual, tetapi juga melahirkan pribadi yang tangguh dan sabar dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Setelah pelaksanaan salat Id dan khutbah, jamaah membubarkan diri dengan tertib. Sejumlah jamaah terlihat mengabadikan momen kebersamaan dengan berfoto dan merekam video di area kampus, menandai perayaan Idul Fitri yang berlangsung penuh makna.***(FA/FK)

Administrator

Akademisi UM Bandung Beberkan Pemicu Terjadinya Kejahatan Besar

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Naera Zhafira Azkiati Zamzami menyoroti kasus Epstein Files sebagai representasi kejahatan besar yang tidak lazim terjadi secara tiba-tiba. 

Dia menilai, kasus tersebut berkaitan erat dengan penyimpangan moral serta menurunnya empati dalam diri pelaku.

Dalam program Kajian Ramadhan di kanal YouTube UM Bandung, Selasa (17/03/2026), Naera menjelaskan bahwa fenomena tersebut dapat dipahami melalui konsep authority bias.

Menurutnya, individu yang memiliki relasi kuasa, jabatan, atau kekayaan cenderung berada pada posisi yang membuat tindakannya sulit dicurigai, bahkan kerap dianggap wajar oleh lingkungan sekitarnya.

Dia menegaskan bahwa dalam perspektif Islam dan psikologi, kejahatan besar merupakan proses yang berkembang secara bertahap.

Penyimpangan tersebut tumbuh dari akumulasi kerusakan moral, hilangnya empati, serta munculnya keyakinan bahwa diri kebal terhadap hukum.

“Hal tersebut berawal dari kerusakan hati yang tidak lagi dipenuhi nilai ketakwaan,” ujarnya.

Dalam pandangan Islam, lanjut Naera, kekuasaan sejatinya adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, bukan sebagai hak istimewa untuk mengeksploitasi orang lain.

Dia menambahkan, tanpa kontrol moral yang kuat, kekuasaan berpotensi menurunkan sensitivitas empati seseorang.

Kondisi ini dapat mendorong individu memandang orang lain sekadar sebagai alat, yang pada akhirnya menjadi awal dari kerusakan psikologis dan sosial.

Lebih lanjut, Naera mengungkapkan bahwa dalam kasus Epstein, pelaku diduga menggunakan strategi manipulasi psikologis dan grooming sebagai bentuk eksploitasi halus.

Modus ini dilakukan dengan membangun kepercayaan secara bertahap melalui pemberian bantuan, hadiah, atau perhatian berlebih sehingga korban merasa memiliki keterikatan emosional dan utang budi.

Sebagai upaya pencegahan, ia mendorong masyarakat untuk meningkatkan kesadaran psikologis serta keberanian dalam menyuarakan ketidakadilan.

Menurutnya, kalangan akademisi memiliki peran penting dalam menumbuhkan kesadaran kritis sekaligus melindungi kelompok rentan dari potensi penyalahgunaan kekuasaan.

Selain itu, pendidikan tinggi juga dituntut untuk membangun kepekaan mahasiswa terhadap ketimpangan relasi kuasa guna menciptakan lingkungan akademik yang aman dan beretika.

Naera berharap setiap individu mampu memadukan profesionalitas dengan nilai-nilai spiritual, sehingga setiap tindakan yang dilakukan membawa kemaslahatan, bukan kerusakan bagi sesama.***(FA/FK)

Administrator