Bioenergi sebagai Pilar Pembangunan Energi Ramah Lingkungan
UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Arief Yunan menegaskan bahwa energi merupakan kebutuhan esensial bagi kehidupan manusia yang kedudukannya sejajar dengan pangan dan air. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat pada Selasa, 30 Desember 2025.
Menurut Arief, dalam perspektif Al-Qur’an, energi memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan hidup dan kesejahteraan umat manusia. Negara yang mampu mengelola tiga kebutuhan pokok, yakni pangan, energi, dan air, dinilai akan memiliki kualitas hidup masyarakat yang lebih baik.
Ia mencontohkan negara-negara penguasa energi fosil seperti Arab Saudi, Amerika Serikat, dan Rusia, serta Cina yang mampu maju melalui strategi diversifikasi dan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) secara masif meski tidak memiliki cadangan minyak besar.
Arief juga menyoroti kondisi Indonesia yang hingga kini masih bergantung pada energi fosil yang tidak terbarukan. Ia menyebut bauran energi terbarukan nasional baru mencapai sekitar 14 persen, masih jauh dari target 23 persen pada 2025, sementara produksi minyak nasional terus menurun sejak Indonesia menjadi negara pengimpor pada 2007.
Tantangan energi nasional, lanjutnya, akan semakin besar seiring target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen dan jumlah penduduk yang telah mencapai sekitar 280 juta jiwa. Kondisi tersebut menuntut adanya transisi energi yang serius, terarah, dan berkelanjutan guna menjamin ketahanan energi di masa depan.
Arief menjelaskan bahwa pemerintah telah memiliki landasan kebijakan yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025, serta target net zero emission pada 2060. Dalam konteks ini, bioenergi dipandang sebagai salah satu solusi strategis karena bersumber dari potensi hayati yang melimpah.
Indonesia, menurut Arief, memiliki peluang besar dalam pengembangan bioenergi melalui hilirisasi biodiesel, bioetanol, biomassa, dan biogas yang tidak hanya mengurangi ketergantungan impor minyak. Namun, menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekonomi daerah.
Oleh karena itu, Arief pun menegaskan peran persyarikatan Muhammadiyah dan perguruan tinggi dalam mengawal kebijakan energi yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berpihak pada kemaslahatan umat.***(FA)
