Berita

Kaprodi PAI UM Bandung Ungkap 5 Indikator Pendidikan Islam Berkualitas

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 dimaknai sebagai momentum refleksi untuk memperkuat sinergi antara nilai-nilai keislaman dan arah pendidikan nasional.

Hal tersebut disampaikan Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Bandung Iim Ibrohim dalam kajian di Masjid Mujahidin pada Senin (04/05/2026).

Dalam paparannya, Iim menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada capaian akademik. Menurutnya, pendidikan harus mampu membentuk generasi yang utuh.

“Pendidikan harus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tema Hardiknas 2026 yang diusung Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yakni “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu”.

Menurutnya, tema tersebut menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

“Mutu pendidikan adalah kesesuaian layanan dengan standar dan harapan masyarakat, yang pada akhirnya melahirkan lulusan yang berdaya saing,” jelasnya.

Lebih lanjut, Iim menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam, mutu pendidikan memiliki landasan kuat yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis.

Ia menyebutkan terdapat lima indikator utama yang menjadi pijakan dalam membangun pendidikan Islam yang berkualitas.

Indikator pertama adalah penguatan akidah sebagaimana tercantum dalam QS. Luqman ayat 13.

“Generasi unggul adalah generasi yang memiliki tauhid yang kokoh dan terbebas dari kesyirikan,” tuturnya.

Indikator kedua adalah pembentukan akhlakul karimah. “Pendidikan harus melahirkan manusia berakhlak mulia sebagaimana nilai dalam QS. Al-Qalam,” tambahnya.

Selanjutnya, indikator ketiga adalah penguatan budaya literasi yang berakar dari perintah “iqra” dalam QS. Al-Alaq. Indikator keempat adalah penguasaan keterampilan aplikatif.

“Ilmu tidak boleh berhenti pada teori, tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi kehidupan, sebagaimana isyarat dalam QS. Al-Anfal ayat 60,” ujarnya.

Adapun indikator kelima adalah terbentuknya pribadi yang aman dan membawa manfaat bagi lingkungan.

Iim mengutip hadis riwayat Tirmidzi yang menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat dan tidak merugikan orang lain.

Untuk mewujudkan kelima indikator tersebut, Iim menekankan pentingnya konsep “Partisipasi Semesta”.

Ia menilai pendidikan tidak dapat berjalan optimal tanpa kolaborasi semua pihak. “Orang tua, guru, dan masyarakat harus terlibat aktif dalam proses pendidikan,” tegasnya.

Ia pun mengajak orang tua untuk berperan aktif dalam menumbuhkan budaya literasi anak melalui kebiasaan sederhana.

“Luangkan setidaknya 15 menit setiap hari untuk membacakan buku kepada anak. Kebiasaan ini akan menumbuhkan minat baca sejak dini,” imbaunya.

Di sisi lain, Iim juga menyoroti pentingnya dukungan pemerintah dan dunia usaha dalam membangun ekosistem pendidikan yang komprehensif. 

“Peran industri sangat diperlukan, baik dalam mendukung proses pendidikan maupun dalam menyerap lulusan agar siap menghadapi dunia kerja,” katanya.

Menutup pemaparannya, Iim menegaskan bahwa kolaborasi dan sinergi menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan nasional.

“Upaya ini sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan sumber daya manusia unggul untuk masa depan Indonesia,” pungkasnya.***

Administrator

Himaksi UM Bandung Sukses Gelar OPSI 2026, Asah Kompetensi Akuntansi Generasi Muda

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Himpunan Mahasiswa Akuntansi (Himaksi) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung kembali menyelenggarakan Olimpiade Akuntansi (OPSI) 2026 pada Rabu (06/05/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama satu hari ini menjadi ajang kompetisi akademik dengan mempertandingkan tiga cabang lomba, yakni debat, cerdas cermat, dan esai, yang diikuti peserta dari berbagai sekolah.

Ketua Panitia OPSI 2026 Shyntia Putri Syafira menyampaikan apresiasi atas kehadiran para peserta dan pendamping. Ia mengucapkan selamat datang sekaligus terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tahunan tersebut.

Menurut Shyntia, OPSI merupakan kompetisi tingkat nasional yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan akademik sekaligus meningkatkan daya saing generasi muda.

Selain itu, kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi pelajar untuk mengasah kompetensi di bidang akuntansi, terutama dalam menghadapi tantangan era ekonomi digital.

“Pada tahun ini, OPSI diikuti oleh peserta dari berbagai sekolah dengan cabang lomba cerdas cermat, debat, dan esai. Kegiatan ini telah melalui berbagai tahapan, mulai dari perencanaan, publikasi, pendaftaran peserta, hingga technical meeting yang dilaksanakan secara daring pada 1 Mei 2026,” ujar Shyntia.

Ia berharap OPSI 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi para peserta.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menambah wawasan serta menjadi langkah awal bagi peserta untuk terus berkembang dan berprestasi di bidang akuntansi,” tambahnya.

Ketua Himaksi UM Bandung Muhammad Ziyan Ali Syahbana turut mengapresiasi tingginya antusiasme peserta. Ia menilai OPSI sebagai salah satu kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung lahirnya generasi muda yang unggul dan kompeten di bidang akuntansi.

Sementara itu, Kaprodi Akuntansi UM Bandung, Iman Harjono, menegaskan bahwa OPSI bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan momentum strategis untuk meningkatkan kompetensi sekaligus memperluas jejaring di tingkat nasional.

“Tema kegiatan ini, ‘Akuntan Muda Berdaya Saing Global di Era Ekonomi Digital’, sangat relevan dengan dinamika perekonomian saat ini. Kami berharap kegiatan ini mampu melahirkan calon akuntan yang memiliki keterampilan mumpuni,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti luasnya peran profesi akuntan yang tidak terbatas pada pekerjaan administratif semata. Akuntan, kata dia, memiliki peluang untuk menjadi entrepreneur, pemimpin perusahaan, hingga pengambil keputusan strategis di berbagai sektor.

“Melalui OPSI ini, peserta tidak hanya berkompetisi, tetapi juga belajar mengasah kemampuan analisis dan pemecahan masalah. Kami berharap lahir generasi akuntan muda yang unggul, berdaya saing global, serta menjunjung tinggi kejujuran dan integritas,” tegasnya yang disambut tepuk tangan peserta.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UM Bandung, Ia Kurnia, mengapresiasi konsistensi mahasiswa dalam menyelenggarakan kegiatan ini.

Ia menilai OPSI sebagai ajang positif yang mampu mendorong terciptanya kompetisi sehat sekaligus meningkatkan kreativitas peserta.

Ia berharap kegiatan ini dapat melahirkan juara sejati serta memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan fakultas.

“Kami berkomitmen menghadirkan layanan pendidikan berkualitas, termasuk melalui rencana pembukaan program studi baru seperti S1 Bisnis Digital dan S2 Akuntansi,” pungkasnya.***(FA)

Administrator

Dosen PIAUD UM Bandung Kembangkan Soundbook Interaktif Kakawihan Sunda

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Tim peneliti Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung mendiseminasikan hasil hibah penelitian RisetMu 2025–2026 di TKIT Al-Fatwa, Jalan PLN Cigereleng Nomor 21, Kecamatan Regol, Kota Bandung, Senin (04/05/2026).

Kegiatan ini disambut hangat oleh Kepala TKIT Al-Fatwa, Wiwi Widianti, yang mengapresiasi inovasi media pembelajaran yang dinilai relevan dan aplikatif bagi anak usia dini.

Penelitian bertajuk “Pengembangan Interactive Soundbook Kakawihan Barudak Sunda sebagai Media Pembelajaran Anak Usia Dini” ini diketuai oleh Lilis Lismarina bersama tiga mahasiswa, yakni Syifa Lailya Wigaswanda, Nabila Julianti R, dan Dinda Hanifah.

Produk yang dikembangkan berupa interactive soundbook, yakni buku anak inovatif yang dilengkapi fitur suara serta elemen interaktif seperti tarik-ulur, dorong, pop-up, dan geser.

Media ini dirancang untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan budaya Sunda melalui lima lagu kakawihan barudak, yaitu Jaleuleu Ja, Kacang Panjang, Eundeuk-Eundeukan, Sur Sér, dan Endog-endogan.

Setiap lagu disajikan dengan ilustrasi gerakan kaulinan barudak yang menarik dan edukatif.

Antusiasme siswa terlihat tinggi saat soundbook diperkenalkan. Anak-anak tampak tertarik dan aktif mencoba berbagai fitur interaktif yang tersedia.

“Mereka sangat antusias, bahkan tidak bosan mendengarkan lagu meski diputar berulang kali,” ujar Nabila, anggota tim peneliti.

Apresiasi juga datang dari guru kelas, Eni, yang menilai media tersebut mendukung kebutuhan pembelajaran.

Ia menyebut soundbook ini dapat menjadi referensi tambahan dalam mengajarkan kakawihan barudak kepada siswa.

Sementara itu, Lilis Lismarina menjelaskan bahwa riset ini merupakan bentuk implementasi etnopedagogi di lingkungan PAUD.

“Penelitian ini bertujuan mengintegrasikan nilai budaya lokal dalam pembelajaran, sekaligus melestarikan kakawihan barudak Sunda,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan berbasis budaya membuat proses belajar menjadi lebih relevan, menarik, dan bermakna bagi anak usia dini.

Melalui diseminasi ini, ia berharap interactive soundbook tidak hanya menjadi media pembelajaran yang menyenangkan.

Namun, menjadi sarana pewarisan budaya Sunda kepada generasi penerus sejak dini.***

Administrator

PKM Internasional UM Bandung Hadirkan Solusi Pemberdayaan Perempuan dan UMKM

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menggelar international community services program (PKM Internasional) dalam rangkaian INCODE 3rd, Kamis (30/04/2026).

Kegiatan ini merupakan kolaborasi lintas negara bersama Symbiosis School of Economics Symbiosis International University (India), The Asia International University (Uzbekistan), dan Universiti Sains Islam Malaysia.

Program yang berlangsung dalam suasana ceria tersebut digelar di Sekolah Perempuan Jawa Barat serta di PT Pondok Tekstil Kreasindo, Kota Bandung. Kegiatan ini menjadi wujud nyata pengabdian masyarakat berbasis kolaborasi global, khususnya dalam memperkuat pemberdayaan perempuan dan pengembangan UMKM.

Ketua Pusat Studi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) UM Bandung Suparjiman menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat pembinaan UMKM melalui kerja sama internasional. “Melalui kegiatan ini, kita berkolaborasi memperkuat pembinaan UMKM di setiap negara, tidak terkecuali di Indonesia,” ujarnya.

Di Sekolah Perempuan Jawa Barat, para akademisi dari tiga negara memberikan sharing session kepada pelaku UMKM. Kegiatan ini tidak berhenti pada sesi berbagi, tetapi akan dilanjutkan dengan pendampingan intensif bagi para pelaku UMKM binaan UM Bandung.

Sementara itu, mahasiswa dari ketiga universitas turut melakukan kunjungan industri ke PT Pondok Tekstil Kreasindo. Mereka melihat langsung proses produksi berbagai produk seperti karpet, sajadah, dan kerudung. Menariknya, UMKM tersebut telah menembus pasar internasional dengan ekspor ke sejumlah negara di Timur Tengah.

Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jawa Barat Eva Fandora mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai kolaborasi ini menjadi langkah konkret dalam meningkatkan pemberdayaan perempuan di Jawa Barat.

“Kegiatan pemberdayaan seperti ini akan menjadikan perempuan di Jawa Barat lebih mandiri, serta membuka peluang peningkatan pendapatan ekonomi,” ungkap Eva. Ia menambahkan, perempuan diharapkan dapat menjadi tulang punggung keluarga, terutama dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Di sisi lain, Asisten Profesor Symbiosis School of Economics Symbiosis International University, Sugandh Arora, mengaku antusias dengan kolaborasi tersebut. Ia menilai kegiatan lintas negara ini memberikan dampak positif, khususnya bagi mahasiswa yang terlibat.

“Saya sangat menikmati kegiatan ini. Para mahasiswa juga mendapatkan pengalaman luar biasa selama berkegiatan akademik di Kota Kembang,” tuturnya.***(FK)

Administrator

INCODE 2026 Jadi Ajang Strategis Bahas Tantangan Ekonomi Digital

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung melalui Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) menjadi tuan rumah The 3rd International Conference on Digital Economics (INCODE) yang digelar pada Selasa (28/04/2026).

Konferensi ini mengangkat tema “Fostering Sustainable Economic Growth and Innovation through Research and Community Engagement”.

Dekan FEB UM Bandung Ia Kurnia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kolaborasi antara UM Bandung, UM Sidoarjo, dan Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (AFEB) PTMA.

Rangkaian acara juga mencakup berbagai kompetisi akademik dan non-akademik yang mendapat antusiasme tinggi dari peserta. 

Menurutnya, hal tersebut mencerminkan meningkatnya minat terhadap riset ekonomi digital dan keberlanjutan, sekaligus menjadi ruang pengembangan kapasitas dan daya saing mahasiswa.

Ia berharap kegiatan ini mampu memberi dampak jangka panjang serta memperkuat jejaring global antarperguruan tinggi.

Sekretaris AFEB PTMA, Meika Kurnia Puji, menilai tema konferensi relevan dengan dinamika global yang berubah sangat cepat.

Ia menyoroti peran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang telah mentransformasi dunia kerja, sehingga lulusan perguruan tinggi kini tidak hanya bersaing dengan sesama manusia, tetapi juga dengan teknologi otomasi.

Oleh karena itu, ia mendorong perguruan tinggi untuk tidak sekadar mengejar keunggulan akademik, tetapi menjadi katalisator transformasi sosial.

Dalam sesi internasional, Bahromjon Khalilov Bahodirovich dari The Asia International University, Uzbekistan, memaparkan inovasi layanan perbankan berbasis integrasi teknologi biometrik dan AI.

Ia menegaskan bahwa biometrik menjadi fondasi penting dalam meningkatkan keamanan sekaligus personalisasi layanan digital.

Selain itu, pemanfaatan voice assistant dinilai mampu mempermudah transaksi kompleks, mengurangi kesalahan manusia, dan mempercepat layanan mandiri.

Sementara itu, Hisham Bin Sabri dari Malaysia menekankan pentingnya integrasi ekonomi syariah dalam kerangka keberlanjutan global (Environmental, Social, and Governance/ESG).

Ia menjelaskan bahwa konsep maqasid al-shari’ah sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam menjaga kesejahteraan manusia dan keseimbangan lingkungan. 

Digitalisasi instrumen keuangan sosial Islam seperti zakat dan wakaf, lanjutnya, berpotensi memperluas dampak ekonomi inklusif serta mendukung pencapaian SDGs.

Rangkaian INCODE 2026 telah berlangsung sejak 25 April 2026 melalui berbagai agenda daring dan luring, termasuk kegiatan lapangan di kawasan Antapani dan Suci, Kota Bandung.***(FK)

Administrator

Rektor UM Bandung Tekankan Ekonomi Digital Harus Inklusif dan Berkelanjutan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Herry Suhardiyanto menegaskan pentingnya membangun ekonomi digital yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi keberlanjutan dan inklusivitas.

Hal itu disampaikannya dalam International Conference on Digital Economics 2026 (INCODE) ke-3 yang digelar di UM Bandung pada 25–28 April 2026.

Lebih jauh, Herry menyoroti bahwa ekonomi digital tidak semata dibangun melalui teknologi, tetapi melalui keterhubungan antara riset, masyarakat, dan dunia usaha.

Dia menyebut, inovasi akan lebih berdampak ketika hasil penelitian tidak berhenti di jurnal, tetapi diterapkan langsung di komunitas, pasar, dan sektor UMKM.

Menurutnya, ekosistem yang menghubungkan perguruan tinggi, industri, dan masyarakat terbukti mampu mempercepat adopsi teknologi digital.

Oleh karena itu, peran kampus menjadi krusial dalam menjembatani inovasi agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Herry juga menekankan bahwa digitalisasi membawa peluang besar, seperti menekan biaya transaksi, membuka akses pasar, serta memperluas kesempatan ekonomi.

Namun, dia mengingatkan bahwa tanpa nilai dan tata kelola yang baik, teknologi justru berpotensi memperlebar kesenjangan sosial.

“Ketika platform digital dirancang untuk efisiensi dan inklusi, serta didukung tata kelola data yang baik, maka pertumbuhan ekonomi akan lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menyoroti pentingnya sistem pembiayaan digital yang terintegrasi. Menurutnya, ekosistem ekonomi digital membutuhkan dukungan dari berbagai instrumen, seperti fintech, investasi berdampak, instrumen syariah, hingga skema pembiayaan berbasis komunitas.

Dalam konteks regional, Herry menilai Jawa Barat memiliki potensi besar sebagai pusat ekonomi digital nasional.

Dengan jumlah penduduk yang besar dan didominasi generasi muda, wilayah ini dinilai memiliki kekuatan dalam mendorong inovasi, mulai dari technopreneur di Bandung hingga UMKM kreatif di berbagai daerah.

Dia juga menegaskan bahwa perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi pusat solusi bagi persoalan nyata di masyarakat.

Kampus, kata dia, tidak lagi sekadar ruang belajar, tetapi laboratorium hidup yang mampu melahirkan inovasi berbasis kebutuhan daerah.

“Sejatinya riset akademik harus menghasilkan kebijakan berbasis data yang dapat langsung diterapkan, bukan hanya menjadi laporan yang tersimpan,” tegasnya.

Herry mengajak kepada seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah.

Menurutnya, sinergi tersebut menjadi kunci dalam menciptakan inovasi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi masyarakat.***(FA)

Administrator