Berita

Suntik Vitamin Tidak Membatalkan Puasa Jika Dilakukan atas Dasar Medis

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Adam Aulia Rahman mengajak masyarakat untuk memahami secara bijak penggunaan vitamin injeksi sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan, khususnya selama bulan Ramadhan.

Menurut Adam, vitamin injeksi merupakan metode pemberian vitamin yang dilakukan dengan cara disuntikkan langsung ke dalam pembuluh darah. Cara ini membuat vitamin dapat terserap lebih cepat oleh tubuh karena tidak melalui proses pencernaan di lambung sebagaimana vitamin yang dikonsumsi secara oral.

Ia menjelaskan bahwa keunggulan utama vitamin injeksi terletak pada kecepatan distribusi dan respons tubuh dalam menerima manfaat vitamin tersebut. Meski demikian, penggunaan vitamin injeksi tidak seharusnya dilakukan hanya karena mengikuti tren, melainkan harus berdasarkan kebutuhan medis yang jelas.

“Keunggulan utama vitamin injeksi adalah kecepatan distribusi dan respons tubuh yang lebih singkat dalam menerima manfaatnya. Namun, penggunaannya bukan sekadar mengikuti tren, melainkan harus didasari oleh kebutuhan medis,” ujarnya dalam Program Kajian Ramadhan di kanal YouTube UM Bandung, Kamis (12/03/2026).

Adam menambahkan bahwa vitamin injeksi umumnya direkomendasikan bagi individu dengan kondisi tertentu. Misalnya, mereka yang mengalami defisiensi vitamin secara signifikan atau pasien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi melalui konsumsi makanan atau obat secara oral.

Terkait penggunaannya saat berpuasa, ia menjelaskan bahwa secara medis maupun agama tindakan tersebut diperbolehkan apabila terdapat uzur atau alasan mendesak. Ia menegaskan bahwa suntikan vitamin tidak membatalkan puasa selama dilakukan atas indikasi medis dan tidak dimaksudkan untuk memberikan efek kenyang yang menghilangkan rasa lapar.

Lebih lanjut, Adam menekankan bahwa niat menjadi faktor penting dalam menentukan status hukum penggunaan vitamin injeksi selama Ramadhan. Jika tujuannya untuk menjaga kesehatan agar ibadah dapat dijalankan dengan baik, maka hal tersebut dinilai aman dan diperbolehkan secara syariat.

Ia pun mengingatkan agar penggunaan vitamin injeksi yang bersifat estetis atau tanpa alasan medis yang kuat sebaiknya dihindari selama waktu berpuasa. Menurutnya, masyarakat perlu bijak dalam menjaga kesehatan, sehingga ibadah Ramadhan dapat dijalankan secara optimal dan tetap berkualitas.***(FK/FA)

Administrator

Prinsip Tawazun Jadi Kunci Generasi Z Raih Sukses Tanpa Kehilangan Ketenangan Jiwa

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi dan persaingan dunia kerja di era digital, generasi muda dituntut untuk tidak hanya cerdas dan profesional, tetapi mampu menjaga keseimbangan hidup.

Bagi generasi Z, keberhasilan sejati bukan sekadar soal pencapaian karier, melainkan juga tentang ketenangan batin dan keberkahan hidup.

Hal tersebut disampaikan oleh dosen Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Wandy Zulkarnaen SE MM dalam program Kajian Ramadhan yang disiarkan melalui kanal YouTube UM Bandung pada Rabu (11/03/2026).

Dalam kajian tersebut, dia mengajak generasi muda untuk membangun mental yang kuat, etos kerja yang baik, serta arah karier yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Menurutnya, ketenangan hati menjadi fondasi utama kesehatan mental bagi seorang muslim dalam menghadapi berbagai tekanan kehidupan modern.

Tantangan seperti budaya kerja yang kompetitif, kelelahan mental atau burnout, hingga kecemasan terhadap masa depan sering kali menghampiri generasi muda di era saat ini.

“Ketenangan hati merupakan kunci agar generasi Z mampu bertahan di tengah tekanan hidup yang semakin kompetitif,” ujar Wandy.

Ia menjelaskan bahwa ketenangan tersebut dapat dibangun melalui kedekatan spiritual dengan Allah SWT.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memperbanyak zikir, yang diyakini mampu menenangkan jiwa sekaligus memperkuat ketahanan mental.

Selain itu, Wandy juga mengingatkan pentingnya melakukan digital detox berbasis keimanan.

Menurutnya, generasi muda perlu sesekali menjauh dari arus informasi di media sosial agar tidak terjebak dalam kebiasaan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.

“Digital detox penting dilakukan agar kita tidak terus-menerus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial,” tuturnya.

Lebih lanjut, Wandy menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, bekerja bukan sekadar aktivitas ekonomi untuk mencari nafkah.

Bekerja juga merupakan bentuk ibadah dan sarana mengekspresikan potensi diri secara positif.

“Bekerja keras dengan niat menafkahi keluarga dan mengharap rida Allah akan bernilai pahala setiap saatnya,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa profesionalisme dalam menjalankan pekerjaan juga termasuk bagian dari ibadah yang mulia.

Ketika seseorang memperbaiki niat dalam bekerja, setiap tugas dan tanggung jawab yang dijalankan dapat menjadi investasi amal yang bernilai untuk kehidupan akhirat.

“Jika kita memperbaiki niat bekerja, maka setiap proyek dan tugas kantor yang kita selesaikan akan menjadi investasi amal untuk akhirat,” jelas Wandy.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti pentingnya menerapkan prinsip tawazun atau keseimbangan dalam kehidupan.

Menurutnya, generasi Z tidak boleh terjebak hanya mengejar target duniawi, tetapi juga harus menjaga nilai spiritual dan keberkahan hidup.

“Generasi Z tidak boleh hanya terjebak pada target duniawi semata, tetapi harus tetap menjaga keberkahan hidup,” ungkapnya.

Wandy menjelaskan bahwa prinsip tawazun dapat diterapkan melalui langkah-langkah sederhana namun konsisten.

Contohnya seperti memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan bermanfaat, terus meningkatkan keterampilan diri, dan menjaga konsistensi dalam beribadah.

Dengan menerapkan keseimbangan tersebut, dia meyakini bahwa kesuksesan materi yang diraih tidak akan mengorbankan kesehatan mental maupun spiritual seseorang.

“Ketika prinsip tawazun diterapkan dengan baik, kesuksesan materi tidak akan mengorbankan kesehatan jiwa dan raga,” terangnya.

Di akhir kajian, Wandy mengajak generasi muda untuk menanamkan sikap tawakal dalam setiap perjalanan hidup.

Setelah berusaha secara maksimal, hasil akhirnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.

“Dengan niat yang benar, kesuksesan duniawi akan berjalan selaras dengan kebahagiaan ukhrawi,” pungkasnya.***(FA/FK)

Administrator

Profesionalisme Kerja dalam Islam Berlandaskan Amanah dan Kompetensi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Program Studi Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Suparjiman MM menegaskan bahwa manajemen sumber daya manusia (SDM) dalam perspektif Islam merupakan pendekatan yang komprehensif yang memadukan produktivitas kerja dengan pembentukan karakter yang kuat.

Dalam ajaran Islam, manusia diposisikan sebagai khalifah di bumi yang memiliki tanggung jawab besar dalam mengelola berbagai aspek kehidupan, termasuk organisasi dan dunia kerja.

Menurutnya, pengelolaan SDM tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai syariat yang menekankan amanah, integritas, dan profesionalisme.

Nilai-nilai tersebut menjadi landasan penting agar setiap individu mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya secara benar serta memberikan kontribusi positif bagi organisasi.

Hal tersebut disampaikan Suparjiman dalam kultum Ramadhan yang disiarkan melalui kanal YouTube UM Bandung pada Rabu (11/03/2026).

Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan bahwa profesionalisme dalam bekerja memiliki dasar teologis yang kuat dalam Al-Qur’an, khususnya Surah An-Nisa ayat 58.

Ia menerangkan bahwa ayat tersebut menegaskan pentingnya menunaikan amanah dengan menyerahkan pekerjaan kepada orang yang memiliki keahlian dan kompetensi di bidangnya.

“Ayat tersebut menekankan kewajiban menyerahkan amanah atau pekerjaan kepada ahlinya. Menyerahkan pekerjaan kepada orang yang tidak profesional atau tidak kompeten hanya akan mengakibatkan kehancuran bagi organisasi,” ujarnya.

Karena itu, Suparjiman menegaskan bahwa profesionalisme bukan sekadar pilihan dalam dunia kerja, melainkan kewajiban yang harus ditegakkan dalam pengelolaan SDM berbasis nilai-nilai Islam.

Ia menambahkan bahwa SDM yang profesional harus memiliki sejumlah karakteristik penting agar mampu menjalankan tugas secara optimal.

Salah satu unsur utama yang harus dimiliki adalah kompetensi yang tinggi, yaitu kemampuan dan keahlian yang sesuai dengan bidang pekerjaan sehingga setiap tugas dapat diselesaikan secara tepat dan berkualitas.

Selain itu, profesionalisme juga perlu didukung oleh dedikasi serta motivasi kerja yang kuat, di mana semangat bekerja tidak hanya didorong oleh kepentingan materi, tetapi juga oleh niat untuk memberikan manfaat bagi kemakmuran umat dan meraih rida Allah SWT.

Sebagai penutup, Suparjiman menegaskan bahwa pengelolaan SDM dalam Islam tidak boleh hanya berorientasi pada hasil kerja semata, tetapi pada pembentukan karakter dan akhlak pegawai. 

Dengan mengintegrasikan kompetensi teknis dan kekuatan moral, profesionalisme diharapkan mampu menghadirkan keberhasilan yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat serta mendapatkan rida Allah SWT.***(FA/FK)

Administrator

Dosen UM Bandung Tekankan Merawat Lingkungan sebagai Amanah Manusia di Bumi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Arina Shabrina menegaskan bahwa menjaga dan merawat lingkungan hidup merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam. Hal tersebut ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam program Gerakan Subuh Mengaji Aisyiyah Jawa Barat pada Selasa (10/03/2026).

Menurut Arina, berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini, termasuk bencana ekologis, tidak dapat dilepaskan dari perilaku manusia yang kurang ramah terhadap alam. Ia menilai banyak persoalan lingkungan muncul karena manusia lalai menjalankan tanggung jawabnya sebagai penjaga bumi.

“Banyak persoalan lingkungan muncul karena manusia tidak menjalankan tanggung jawabnya sebagai penjaga bumi. Kerusakan lingkungan yang kita saksikan saat ini sangat berkaitan dengan perilaku manusia. Ketika manusia tidak menjalankan amanahnya dengan baik, maka keseimbangan alam pun akan terganggu,” ujar Arina.

Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam, manusia diberikan amanah sebagai khalifah di bumi. Amanah tersebut tidak hanya bermakna sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai penjaga yang bertugas merawat dan memelihara bumi beserta seluruh makhluk yang hidup di dalamnya.

“Sebagai khalifah, manusia tidak boleh memandang alam sebagai objek yang dapat dieksploitasi sesuka hati. Kita justru memiliki tanggung jawab untuk menjaga hak-hak makhluk lain, baik hewan, tumbuhan, maupun sumber daya alam,” jelasnya.

Arina menambahkan bahwa Al-Qur’an telah memberikan landasan teologis yang kuat mengenai tanggung jawab manusia terhadap alam. Dalam ajaran Islam terdapat prinsip keseimbangan atau mizan yang menjadi dasar penting dalam menjaga keberlanjutan kehidupan.

“Islam mengajarkan prinsip mizan atau keseimbangan. Artinya, manusia harus menjaga harmoni antara kebutuhan hidup dan kelestarian alam agar kehidupan dapat berlangsung secara berkelanjutan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Arina juga menyinggung teladan Rasulullah SAW dalam menjaga lingkungan. Ia menyebutkan bahwa Rasulullah mencontohkan perilaku hemat air saat berwudu serta menghindari pemborosan makanan.

“Rasulullah SAW memberikan contoh yang sangat jelas. Bahkan ketika berwudu beliau tetap menghemat air. Ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya persoalan sosial, tetapi juga bagian dari nilai keimanan dan ibadah seorang muslim,” pungkasnya.

Sementara itu, Universitas Muhammadiyah Bandung saat ini telah membuka pendaftaran mahasiswa baru untuk berbagai jenjang pendidikan, mulai dari program strata satu (S1), strata dua (S2), hingga program profesi apoteker.

Kampus yang telah meraih akreditasi “Baik Sekali” dari BAN-PT ini berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Kota Bandung. UM Bandung memiliki lima fakultas dengan total dua puluh program studi yang dapat menjadi pilihan bagi calon mahasiswa untuk mengembangkan potensi akademik dan profesionalnya.***(FA)

Administrator

Dosen Prodi Farmasi UM Bandung Ingatkan Bahaya Kosmetik Ilegal

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Ardian Baitariza mengingatkan masyarakat Indonesia, khususnya kaum perempuan, agar lebih selektif dalam memilih produk kecantikan selama bulan suci Ramadhan. Ia menekankan bahwa keinginan untuk tampil cantik tidak boleh ditempuh melalui cara-cara yang berpotensi membahayakan kesehatan.

Ardian menjelaskan bahwa prinsip halalan thayiban tidak hanya berlaku dalam memilih makanan, tetapi penting diterapkan dalam penggunaan produk kosmetik. Menurutnya, setiap produk kecantikan yang digunakan harus terjamin kehalalan dan keamanannya bagi tubuh.

“Produk kosmetik yang kita gunakan harus memenuhi kriteria halal dan thayib. Artinya, tidak membahayakan kesehatan serta memenuhi standar keamanan yang legal. Jangan tergiur efek glowing instan yang justru berisiko merusak kulit dan organ tubuh lainnya,” jelasnya dalam program Kajian Ramadhan yang disiarkan melalui kanal YouTube UM Bandung pada Senin (09/03/2026).

Ardian kemudian memaparkan tiga kandungan berbahaya yang kerap disalahgunakan dalam kosmetik ilegal. Pertama adalah merkuri, yakni logam berat yang dilarang keras penggunaannya dalam kosmetik karena dapat merusak ginjal dan otak.

Zat kedua adalah hidrokuinon yang berisiko tinggi jika digunakan tanpa pengawasan medis. Ia menjelaskan bahwa penggunaan hidrokuinon secara sembarangan dapat memicu okronosis, yaitu kondisi kulit yang justru berubah menjadi menghitam atau kebiruan.

Terakhir, Ardian menyoroti penyalahgunaan steroid sebagai bahan pemutih instan. Padahal, steroid pada dasarnya merupakan obat untuk mengatasi peradangan dan tidak diperuntukkan sebagai bahan kosmetik yang digunakan secara bebas.

“Steroid yang disalahgunakan dapat membuat kulit menipis, memicu pecahnya pembuluh darah, hingga menimbulkan stretch mark di wajah,” imbuhnya. Kondisi tersebut tentu sangat merugikan, terutama ketika tujuan awal penggunaan kosmetik adalah untuk memperindah penampilan.

Ardian juga mengaitkan sikap bijak dalam memilih kosmetik dengan prinsip dasar dalam ajaran Islam. Ia mengutip hadis Rasulullah SAW, “la darar wa la dirar”, yang berarti tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Menurutnya, penggunaan kosmetik berbahaya tidak hanya menimbulkan kerugian fisik di dunia, tetapi juga menjadi bentuk pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT di akhirat kelak. Tubuh yang sehat, kata dia, merupakan sarana penting bagi seorang muslim untuk dapat beribadah secara optimal, terutama pada bulan suci Ramadhan.

Karena itu, Ardian mengajak masyarakat untuk kembali menyadari bahwa merawat kulit merupakan bagian dari menjaga fitrah yang telah Allah anugerahkan kepada manusia. Namun, upaya merawat diri tidak boleh dilakukan dengan cara yang justru merusak kesehatan.

“Pada bulan suci Ramadhan ini, selain mensucikan jiwa, mari kita jaga fitrah kulit dan organ tubuh kita dengan produk yang aman. Gunakanlah kosmetik yang halal dan thayib demi kesehatan serta keberkahan jangka panjang, karena kelak tubuh kita akan menjadi saksi atas apa yang kita perlakukan kepadanya,” pungkas Ardian.***(FA/FK)

Administrator

Akademisi UM Bandung Sarankan Menu MBG Prioritaskan Real Food dan Tinggi Protein

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ketua Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Khairiah SP MT memberikan perhatian serius terhadap implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak-anak sekolah yang saat ini tengah dijalankan pemerintah. 

Menurutnya, program tersebut tidak boleh hanya dipandang sebagai upaya mengatasi rasa lapar, melainkan harus dirancang secara komprehensif dengan memperhatikan standar keamanan pangan, kehalalan, serta kecukupan gizi yang optimal.

Khairiah menilai salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan program MBG adalah menjaga kualitas bahan pangan dari hulu hingga hilir. Ia menekankan bahwa setiap tahapan, mulai dari pemilihan bahan baku hingga distribusi makanan kepada anak-anak, harus berada dalam pengawasan yang baik agar kualitas pangan tetap terjaga.

“Tantangan besar pemerintah saat ini dalam menjalankan MBG adalah memastikan kualitas bahan pangan tetap terjaga dari hulu hingga hilir,” ujar Khairiah dalam program Kultum Ramadhan yang disiarkan melalui kanal YouTube UM Bandung pada Senin (09/03/2026).

Ia menjelaskan bahwa keamanan pangan harus dimulai dari pemilihan bahan baku yang segar dan minim penggunaan pestisida. Selain itu, proses distribusi juga perlu dilakukan secara hati-hati agar makanan tetap aman hingga sampai ke tangan para siswa.

“Kita harus memastikan bahan baku yang digunakan benar-benar segar agar nilai gizi dan cita rasanya tetap terjaga,” tambahnya.

Khairiah juga menyoroti pentingnya aspek penyimpanan makanan serta kebersihan wadah distribusi dalam pelaksanaan program MBG. Menurutnya, faktor-faktor tersebut menjadi kunci untuk mencegah terjadinya kontaminasi yang dapat membahayakan kesehatan anak-anak.

“Aspek penyimpanan dan kebersihan wadah distribusi harus diperhatikan secara serius agar makanan tetap aman dikonsumsi tanpa risiko kontaminasi,” jelasnya.

Dalam hal komposisi menu, Khairiah merekomendasikan agar program MBG lebih memprioritaskan penggunaan real food atau makanan alami yang minim proses pengolahan. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kandungan protein dalam menu makanan guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

Di sisi lain, ia mengingatkan agar pemerintah menghindari penggunaan Ultra-Processed Food (UPF) atau makanan yang melalui proses pengolahan panjang dan berlebihan karena berpotensi mengurangi nilai gizi yang dibutuhkan tubuh.

Selain memperhatikan kandungan gizi, Khairiah menyarankan agar penyusunan menu MBG juga mempertimbangkan preferensi makanan anak-anak di rumah. Langkah ini dinilai penting agar makanan yang disediakan benar-benar diminati dan tidak terbuang sia-sia.

“Manajemen suplai dan distribusi harus diatur dengan sangat baik. Kita tidak ingin terjadi pemborosan makanan hanya karena menu yang disajikan tidak sesuai dengan selera anak-anak, padahal tujuan utama program ini adalah pemerataan akses gizi,” ujarnya.

Khairiah berharap program MBG dapat terus dikembangkan menjadi program yang efektif dan terpercaya. Baginya, penyediaan makanan yang halal, aman, dan bergizi bagi anak-anak merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

“Harapan kami sebagai praktisi teknologi pangan, program MBG ini dapat memenuhi standar kualitas yang tinggi. Mari kita jaga amanah ini dengan memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Makanan yang mereka konsumsi hari ini akan menentukan kualitas kesehatan dan intelektualitas mereka di masa depan,” pungkas Khairiah.***(FA/FK)

Administrator