Berita

Praktik Lapangan Elemen Esensial Pembentukan Identitas Profesional Mahasiswa

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Puluhan mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi peminatan Jurnalistik Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung mengikuti kuliah umum di Aula Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat pada Jumat (02/01/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan pemahaman mahasiswa terhadap sistem dan regulasi penyiaran di Indonesia

Dosen UM Bandung Roni Tabroni menjelaskan bahwa terdapat dua regulator pers di Indonesia, yakni Dewan Pers yang dibentuk berdasarkan amanat Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang berlandaskan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 dan berfokus pada pengaturan serta pengawasan konten di lembaga penyiaran.

Ia menegaskan bahwa seluruh lembaga penyiaran radio dan televisi berada dalam pengawasan regulasi yang diatur melalui Undang-Undang Penyiaran serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Dalam konteks ini, KPID memiliki kewenangan khusus dalam mengawasi isi siaran di daerah.

”Pengawasan isi siaran tidak hanya menjadi tanggung jawab KPID, tetapi membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. Jawa Barat sebagai barometer penyiaran nasional karena menjadi provinsi dengan jumlah lembaga penyiaran terbanyak di Indonesia,” ujar Roni saat memberikan sambutan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya dibekali pemahaman teoritis, tetapi dilibatkan secara teknis dalam proses pengawasan isi siaran. Program tersebut direncanakan berlangsung selama empat minggu dan berpeluang dikonversi sebagai tugas magang, dengan tujuan utama memberikan pengalaman praktis di bidang jurnalistik.

Komponen strategis

Sementara itu, secara terpisah pada Senin (05/01/2026), Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UM Bandung Euis Evi Puspitasari menegaskan bahwa praktik lapangan atau magang memiliki peran penting, baik secara empiris maupun teoretis, dalam pendidikan tinggi. Menurutnya, praktik lapangan merupakan komponen strategis dalam membentuk kompetensi dan kesiapan kerja mahasiswa.

Ia menjelaskan bahwa praktik lapangan tidak sekadar menjadi pelengkap kurikulum, tetapi berfungsi sebagai sarana utama pembentukan identitas profesional mahasiswa. ”Oleh karena itu, praktik lapangan menjadi elemen esensial dalam menghasilkan lulusan yang relevan, adaptif, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja yang dinamis,” ujar Euis.

Lebih lanjut, Euis menyampaikan bahwa prodi Ilmu Komunikasi UM Bandung berkomitmen mencetak lulusan yang cakap sebagai pengelola konten strategis, perencana media sosial, dan wirausaha di bidang komunikasi digital. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pengembangan kurikulum yang responsif terhadap kebutuhan industri, didukung kegiatan praktikum, magang, dan proyek kolaboratif dengan dunia usaha dan media.

Kunjungan dan kuliah umum ini turut dihadiri Wakil Ketua KPID Jawa Barat Almadina Rakhmaniar, Koordinator Bidang Kelembagaan Lukman Munawar Fauzi, Koordinator Bidang Isi Siaran Dede Kania, Komisioner Bidang Isi Siaran Jalu P Priambodo, dan Komisioner Bidang PKSP Dadan Hendaya.***(FA)

Administrator

Muhammadiyah Bertahan karena Konsisten Hadirkan Manfaat untuk Umat

UMBANDUNG.AC.ID, Garut -- Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus Ketua BPH UM Bandung Dadang Kahmad menegaskan bahwa peringatan milad pada hakikatnya merupakan momentum untuk bersyukur sekaligus menumbuhkan optimisme dalam menatap masa depan.

Hal tersebut disampaikannya dalam ceramah Milad ke-113 Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut pada Minggu, 28 Desember 2025.

Menurut Dadang Kahmad, sikap syukur menjadi kunci utama lahirnya keberkahan dan kemajuan. Ia mengutip pesan Al-Qur’an yang menegaskan bahwa siapa pun yang bersyukur akan ditambah nikmatnya oleh Allah SWT.

Oarena itu, warga Muhammadiyah diajak untuk terus memelihara optimisme, tidak larut dalam keluhan, serta menampilkan wajah-wajah syukur yang memancarkan ketenangan dan harapan.

Ketua PP Muhammadiyah tersebut juga mengajak jamaah untuk mensyukuri kondisi geografis dan sejarah Kabupaten Garut yang dikenal sebagai daerah yang indah dan subur sejak masa lampau.

Ia menuturkan bahwa Garut bahkan pernah menarik perhatian dunia internasional, salah satunya dengan kunjungan aktor film Eropa Charlie Chaplin yang tercatat dua kali datang ke Garut pada era 1930-an.

Fakta tersebut, menurutnya, menjadi penanda bahwa Garut sejak dahulu merupakan wilayah yang gemah ripah loh jinawi dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah.

“Milad ke-113 Muhammadiyah juga merupakan tonggak penting untuk mensyukuri keberlanjutan gerakan persyarikatan yang kini telah memasuki abad kedua. Oleh karena itu, warga Muhammadiyah harus menatap masa depan dengan penuh optimisme, termasuk menyiapkan perjalanan panjang menuju Milad ke-213 sebagai putaran abad kedua Muhammadiyah,” ujar Dadang Kahmad.

Ia juga menyoroti posisi historis Garut sebagai salah satu daerah awal perkembangan Muhammadiyah di Jawa Barat. Bahkan, Muhammadiyah di Garut disebut telah berusia lebih dari satu abad sehingga menjadikannya bagian penting dari sejarah dakwah dan tajdid Muhammadiyah di tanah Pasundan.

Konsisten Hadirkan Manfaat

Lebih lanjut, Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad menjelaskan alasan Muhammadiyah mampu bertahan dan terus berkembang hingga memasuki abad kedua.

Selain memiliki aset amal usaha yang besar dan menempati posisi keempat dunia di antara organisasi keagamaan internasional, Muhammadiyah dinilai konsisten menghadirkan manfaat nyata bagi umat.

Hal itu terlihat dari pengelolaan ratusan perguruan tinggi hingga aksi-aksi kemanusiaan, seperti penanganan pandemi Covid-19 dan bantuan kebencanaan di berbagai wilayah, termasuk Sumatera.

Menurutnya, kunci keberlanjutan Muhammadiyah terletak pada prinsip kebermanfaatan, layaknya matahari yang terus memberi cahaya tanpa henti.

Dalam pengelolaan ranting dan cabang, ia menekankan tiga kewajiban utama yang harus dijalankan, yakni pelaksanaan rapat pimpinan secara rutin, pengajian pembinaan yang berkelanjutan, serta penyelenggaraan kursus atau pelatihan keterampilan bagi anggota.

Menutup ceramahnya, Dadang Kahmad menegaskan bahwa kekuatan Muhammadiyah juga bersumber dari karakter warganya, seperti sikap bersyukur, sabar dalam menghadapi tantangan, jujur dalam mengemban amanah, istikamah dalam perjuangan, serta dermawan melalui zakat, infak, dan sedekah.

“Muhammadiyah akan terus berdakwah amar makruf nahi mungkar sepanjang hayat, selama kehidupan ini masih dihadapkan pada berbagai bentuk kemungkaran dan ketidakadilan,” tandasnya.***

Administrator

Bioenergi sebagai Pilar Pembangunan Energi Ramah Lingkungan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Arief Yunan menegaskan bahwa energi merupakan kebutuhan esensial bagi kehidupan manusia yang kedudukannya sejajar dengan pangan dan air. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat pada Selasa, 30 Desember 2025.

Menurut Arief, dalam perspektif Al-Qur’an, energi memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan hidup dan kesejahteraan umat manusia. Negara yang mampu mengelola tiga kebutuhan pokok, yakni pangan, energi, dan air, dinilai akan memiliki kualitas hidup masyarakat yang lebih baik.

Ia mencontohkan negara-negara penguasa energi fosil seperti Arab Saudi, Amerika Serikat, dan Rusia, serta Cina yang mampu maju melalui strategi diversifikasi dan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) secara masif meski tidak memiliki cadangan minyak besar.

Arief juga menyoroti kondisi Indonesia yang hingga kini masih bergantung pada energi fosil yang tidak terbarukan. Ia menyebut bauran energi terbarukan nasional baru mencapai sekitar 14 persen, masih jauh dari target 23 persen pada 2025, sementara produksi minyak nasional terus menurun sejak Indonesia menjadi negara pengimpor pada 2007.

Tantangan energi nasional, lanjutnya, akan semakin besar seiring target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen dan jumlah penduduk yang telah mencapai sekitar 280 juta jiwa. Kondisi tersebut menuntut adanya transisi energi yang serius, terarah, dan berkelanjutan guna menjamin ketahanan energi di masa depan.

Arief menjelaskan bahwa pemerintah telah memiliki landasan kebijakan yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025, serta target net zero emission pada 2060. Dalam konteks ini, bioenergi dipandang sebagai salah satu solusi strategis karena bersumber dari potensi hayati yang melimpah.

Indonesia, menurut Arief, memiliki peluang besar dalam pengembangan bioenergi melalui hilirisasi biodiesel, bioetanol, biomassa, dan biogas yang tidak hanya mengurangi ketergantungan impor minyak. Namun, menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekonomi daerah.

Oleh karena itu, Arief pun menegaskan peran persyarikatan Muhammadiyah dan perguruan tinggi dalam mengawal kebijakan energi yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berpihak pada kemaslahatan umat.***(FA)

Administrator

Belajar Regulasi dan Pengawasan Siaran, Mahasiswa KPI UM Bandung PPL di KPID Jabar

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Mahasiswa prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung berhasil menyelesaikan program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat. Kegiatan magang yang berlangsung selama enam pekan tersebut menjadi bagian strategis dalam upaya penguatan kompetensi mahasiswa di bidang penyiaran.

Salah satu mahasiswa peserta PPL, Siti Nur Sholihah, menyampaikan rasa syukur atas kesempatan memperoleh pengalaman belajar secara langsung di lembaga pengawas penyiaran. Ia menilai program magang ini tidak hanya menambah wawasan akademik, tetapi juga memperkaya pengalaman praktik serta memperluas jejaring profesional.

Selama menjalani PPL, Siti ditempatkan pada Bidang Pemantauan Isi Siaran (PIS) KPID Jawa Barat. Pada bidang tersebut, ia menjalankan tugas pemantauan potensi pelanggaran siaran radio dan televisi dengan mengacu pada Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS).

Pelaksanaan tugas ini menuntut mahasiswa memiliki ketelitian, sikap kritis, serta pemahaman yang komprehensif terhadap regulasi penyiaran. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa semakin memahami mekanisme pengawasan konten siaran yang dijalankan KPID.

Siti menuturkan bahwa keikutsertaannya dalam program PPL merupakan rekomendasi dari Program Studi KPI UM Bandung sekaligus menjawab kebutuhan KPID Jawa Barat yang membuka kesempatan magang bagi mahasiswa. Dari proses tersebut, ia memperoleh pemahaman mengenai berbagai bentuk pelanggaran siaran serta pentingnya konsumsi tayangan yang berkualitas di tengah masyarakat.

Menurutnya, program magang memiliki peran strategis dalam meningkatkan keterampilan mahasiswa. Pembelajaran konseptual yang diperoleh di bangku kuliah dapat diperkaya melalui praktik langsung sehingga kemampuan dan keahlian mahasiswa terasah secara optimal.

Dosen Pembimbing Lapangan Prodi KPI Sopaat Rahmat Selamet turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada KPID Jawa Barat atas kesediaannya menerima serta membimbing mahasiswa UM Bandung. Ia berharap kolaborasi yang telah terjalin dapat terus berlanjut, baik melalui pelaksanaan PPL selanjutnya maupun keterlibatan KPID sebagai dosen tamu di lingkungan kampus.

Program PPL tersebut ditutup secara khidmat oleh Wakil Ketua KPID Jawa Barat Almadina Rakhmaniar bersama Koordinator Bidang Kelembagaan Lukman Munawar Fawzi. Penutupan ini menandai berakhirnya seluruh rangkaian magang sekaligus menegaskan komitmen kolaborasi berkelanjutan antara dunia akademik dan lembaga penyiaran.***

Administrator

Diskusi di DPRD, Mahasiswa UM Bandung Bahas Tata Kelola Pemerintahan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Program Studi bersama Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik (Humanistik) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung melaksanakan kunjungan akademik ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung pada Selasa, 17 Desember 2025.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap peran strategis pemerintah dalam menyiapkan generasi muda yang berdaya saing, berkarakter, serta memiliki kepedulian sosial di tengah dinamika pembangunan perkotaan.

Diskusi yang digelar menghadirkan Ketua Komisi IV DPRD Kota Bandung, Iman Lestariyono, bersama Aswan Asep Wawan sebagai narasumber. Kegiatan tersebut diikuti oleh mahasiswa Administrasi Publik UM Bandung dari angkatan 2022 hingga 2025.

Dalam pemaparannya, Iman menegaskan bahwa generasi muda, khususnya mahasiswa, merupakan aset penting dalam pembangunan daerah. Ia menekankan perlunya sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem yang mendorong lahirnya generasi muda yang kritis, inovatif, dan berorientasi pada kepentingan sosial.

Iman juga mendorong mahasiswa agar tidak hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi turut berperan aktif dalam proses perumusan kebijakan publik. Menurutnya, perubahan tidak akan terwujud tanpa adanya keterlibatan dan gerakan nyata dari generasi muda.

Sementara itu, Aswan Asep Wawan menyoroti pentingnya kebijakan publik yang tidak semata berorientasi pada capaian indikator pembangunan, tetapi juga pada pembentukan nilai-nilai sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.

Ia menegaskan bahwa partisipasi aktif generasi muda dalam pembangunan dan pengawasan kebijakan merupakan kunci terwujudnya tata kelola pemerintahan yang responsif dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, Komisi IV DPRD Kota Bandung berharap ruang dialog antara pemangku kebijakan dan masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa, dapat semakin diperkuat sekaligus melahirkan gagasan serta rekomendasi konstruktif yang berpihak pada kepentingan generasi muda.

Sementara itu, Program Studi Administrasi Publik dan Humanistik UM Bandung menilai kunjungan ini sebagai langkah awal dalam membangun kolaborasi berkelanjutan guna mewujudkan Kota Bandung yang lebih inklusif, cerdas, dan berjiwa sosial.***

Administrator

UM Bandung Serukan Kolaborasi Semua Pihak Hadapi Krisis Ekonomi dan Bencana Alam

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Herry Suhardiyanto, menegaskan bahwa kompleksitas persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini tidak dapat diselesaikan secara parsial atau sepihak.

Persoalan besar mulai dari ketimpangan ekonomi hingga bencana alam seperti banjir bandang di Pulau Sumatera menuntut adanya keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat.

Menurutnya, sinergi semua pihak menjadi syarat mutlak untuk mencari solusi menyeluruh atas berbagai tantangan nasional yang kian rumit.

Pernyataan tersebut disampaikan Herry saat memberikan sambutan dalam Seminar Percepatan Hilirisasi dan Energi Nasional yang diinisiasi oleh Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional (Satgas PHKE) pada Selasa (23/12/2025).

Dalam forum strategis tersebut, Rektor menawarkan tiga langkah solutif yang ia yakini sebagai kunci utama dalam mengurai benang kusut persoalan bangsa yang tengah berkembang saat ini.

Langkah pertama yang ditawarkan adalah rethinking atau upaya meninjau kembali segala tindakan dan kebijakan yang telah dilakukan selama ini.

Melalui proses berpikir ulang secara mendalam, relasi antara berbagai persoalan dapat ditemukan dengan lebih jernih dan objektif. 

Herry menekankan bahwa evaluasi ini sangat penting agar setiap kebijakan yang diambil di masa depan tetap selaras dengan tujuan bernegara dan amanat konstitusi yang menjadi landasan utama kehidupan berbangsa.

Selain evaluasi, Rektor menekankan pentingnya perspective accuracy atau akurasi perspektif yang didukung oleh pemahaman mendalam terhadap suatu masalah.

Ia mengingatkan bahwa setiap elemen bangsa harus mampu memahami peta persoalan secara detail melalui pendekatan sains dan teknologi. 

Dengan basis data yang akurat, pemetaan substansial terhadap setiap permasalahan dapat dilakukan sehingga solusi yang dihasilkan menjadi lebih tepat sasaran dan efektif.

Faktor ketiga yang tidak kalah krusial dalam pandangan Herry adalah akselerasi atau percepatan. Ia menegaskan bahwa percepatan merupakan kata kunci yang harus didukung oleh seluruh elemen bangsa tanpa adanya keterlambatan maupun deviasi dalam pelaksanaannya.

Baginya, segala bentuk penundaan dalam merespons masalah hanya akan menghambat pencapaian tujuan nasional yang telah direncanakan secara matang.

Herry meyakini bahwa integrasi antara proses rethinking, kolaborasi mendalam, dan pemahaman akurat yang diikuti dengan akselerasi akan membawa Indonesia menemukan jalan keluar yang efektif.

Langkah-langkah strategis ini diharapkan mampu mewujudkan kemakmuran bangsa dengan tetap menjaga keseimbangan pada tiga aspek utama secara bersama-sama, yakni dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup.

Lebih lanjut, Rektor mengaitkan kerangka solusi tersebut dengan optimalisasi potensi sektor unggulan di Jawa Barat, khususnya pada bidang pertanian, kelautan, dan perikanan.

Sektor-sektor ini dinilai memiliki kekuatan ekonomi yang besar namun membutuhkan dukungan energi yang sangat luar biasa. 

Melalui pengelolaan energi yang efisien, hilirisasi di berbagai sektor tersebut diyakini akan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi penguatan ekonomi daerah maupun nasional.

Sebagai penutup, Herry menekankan pentingnya memegang teguh prinsip people, planet, dan profit dalam setiap upaya pembangunan demi mencapai ketahanan nasional.

Transformasi di sektor energi yang kini menjadi kebutuhan dasar masyarakat harus dikawal dengan baik agar memberikan manfaat luas. 

Melalui pendekatan komprehensif ini, UM Bandung berkomitmen untuk terus berkontribusi menjadi bagian penting dalam menghadirkan solusi nyata bagi kemajuan dan martabat bangsa Indonesia.***(FA)

Administrator