Berita

Roni Tobroni: Media Muhammadiyah Harus Menjadi Penggerak Kepedulian dan Kemanusiaan

UMBANDUNG.AC.ID, Tasikmalaya -- Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah memperkenalkan Jurnalisme Filantropi sebagai paradigma baru dunia jurnalistik melalui Akademi Jurnalistik Muhammadiyah yang digelar di Pondok Pesantren At Tajdid, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu-Minggu (27–28/6/2026).

Melalui konsep ini, media didorong tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi. Namun, menjadi penggerak kepedulian dan bagian dari solusi atas berbagai persoalan sosial di masyarakat.

Dewan Pakar MPI PP Muhammadiyah sekaligus Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat Wahyu Srigutomo mengatakan tantangan jurnalisme di era digital tidak lagi sekadar menghasilkan berita yang viral atau banyak dibaca.

Di tengah derasnya arus informasi, menurutnya, media harus mampu menghadirkan karya jurnalistik yang memberi manfaat dan menginspirasi aksi nyata.

"Jurnalisme hari ini tidak cukup hanya mengejar viralitas. Yang lebih penting adalah bagaimana karya jurnalistik memiliki nilai ibadah, menghadirkan kemaslahatan, dan mampu menggerakkan masyarakat untuk berbuat kebaikan," ujarnya.

Wahyu menegaskan, kekuatan sebuah karya jurnalistik diukur dari dampaknya bagi masyarakat, bukan semata-mata jumlah pembaca.

Satu tulisan dapat menggerakkan ribuan donatur, satu video mampu menginspirasi banyak relawan, bahkan satu informasi yang akurat bisa menyelamatkan banyak nyawa.

"Setiap unggahan, setiap narasi, dan setiap keputusan editorial memiliki konsekuensi moral sekaligus bernilai ibadah," katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah Roni Tobroni menjelaskan bahwa Jurnalisme Filantropi merupakan gagasan baru yang dikembangkan Muhammadiyah dengan menghidupkan kembali spirit KH Ahmad Dahlan yang sejak awal menjadikan media sebagai sarana dakwah, pencerahan, dan pemberdayaan masyarakat.

Menurut dosen Prodi Ilmu Komunikasi UM Bandung ini, di tengah perubahan ekosistem digital yang menyebabkan ratusan perusahaan media berhenti beroperasi dalam dua tahun terakhir, diperlukan paradigma baru agar media tetap relevan dan memberi dampak bagi publik.

Oleh karena itu, Muhammadiyah mendorong media tidak berhenti pada aktivitas pemberitaan, tetapi berkolaborasi dengan Lazismu dan berbagai lembaga kemanusiaan agar informasi yang dipublikasikan mampu melahirkan aksi sosial.

"Persoalan masyarakat tidak bisa diselesaikan oleh satu sektor saja. Media harus mampu berkolaborasi dengan gerakan filantropi sehingga berita tidak berhenti menjadi informasi, tetapi juga melahirkan aksi nyata," tegasnya.

Melalui Akademi Jurnalistik Muhammadiyah, MPI PP Muhammadiyah berharap Jurnalisme Filantropi menjadi identitas baru media Muhammadiyah sekaligus melahirkan karya-karya jurnalistik yang informatif, mencerahkan, berdampak, serta memperkuat gerakan kemanusiaan di Indonesia.***

Administrator

Job Fair UM Bandung 2026 Perkuat Keterhubungan Pendidikan dan Industri

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menggelar Job Fair 2026 di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Lantai 3 Kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Bandung, Sabtu (27/06/2026).

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-10 UM Bandung ini menghadirkan puluhan perusahaan dari berbagai sektor industri untuk membuka peluang kerja bagi mahasiswa, alumni, dan masyarakat umum.

Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto mengatakan, job fair tidak hanya menjadi ajang rekrutmen tenaga kerja, tetapi juga menjadi wadah memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dan dunia industri.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat mengenal lebih dekat kebutuhan dunia kerja sekaligus memahami kompetensi yang dibutuhkan oleh industri.

"Job fair ini menjadi momentum yang sangat baik agar para mahasiswa semakin dekat dengan dunia industri. Di sisi lain, masyarakat juga memperoleh akses yang lebih luas terhadap informasi lowongan pekerjaan yang tersedia," ujarnya.

Menurut Herry, penyelenggaraan job fair juga menjadi indikator sejauh mana proses pembelajaran di perguruan tinggi mampu menjawab kebutuhan dunia kerja.

Oleh karena itu, UM Bandung terus berkomitmen menyiapkan lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan sesuai bidangnya.

Namun, memiliki kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, dan siap bersaing di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat.

"Lulusan perguruan tinggi harus mampu menjadi bagian dari solusi di berbagai sektor. Oleh karena itu, kompetensi yang kuat dan fondasi akademik yang kokoh menjadi bekal penting untuk menghadapi persaingan dunia kerja," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Barat I Gusti Agung Kim Fajar Wiyati Oka mengapresiasi penyelenggaraan Job Fair UM Bandung sebagai bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung upaya pemerintah menekan angka pengangguran.

Menurutnya, dengan jumlah angkatan kerja di Jawa Barat yang mencapai sekitar 30 juta orang, persoalan ketenagakerjaan memerlukan kolaborasi semua pihak, termasuk perguruan tinggi dan dunia industri.

Ia menilai penguatan pendidikan vokasi, sertifikasi, dan program link and match menjadi langkah penting untuk memperkecil kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri.

"Kami berharap komunikasi antara UM Bandung dengan berbagai perusahaan semakin intens sehingga semakin banyak peluang kerja yang dapat diakses para lulusan. Semoga UM Bandung terus berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat," pungkasnya.

Administrator

Ekonomi Sirkular Berbasis Syariah Jadi Solusi Darurat Sampah dan Pemberdayaan Mustahik

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Prodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Molly Mustikasari menilai konsep ekonomi sirkular berbasis syariah dapat menjadi solusi strategis dalam mengatasi persoalan lingkungan sekaligus memberdayakan mustahik secara berkelanjutan.

Melalui pendekatan tersebut, sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi dan mampu membuka peluang usaha produktif.

Pandangan tersebut disampaikan Molly saat menjadi narasumber dalam kajian Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Barat pada Rabu (24/06/2026).

Pada kesempatan itu, ia membawakan materi bertajuk "Ekonomi Sirkular dalam Pemberdayaan Mustahik", yang mengulas sinergi antara pengelolaan sampah, ekonomi syariah, dan pemberdayaan masyarakat.

Menurut Molly, persoalan sampah saat ini telah berkembang menjadi darurat ekologis.

Meningkatnya pola konsumsi masyarakat yang didominasi penggunaan produk sekali pakai menyebabkan volume sampah terus bertambah setiap tahun. 

Kondisi tersebut, kata dia, menjadi ancaman serius bagi kualitas lingkungan apabila tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan yang baik.

"Data menunjukkan volume sampah nasional terus meningkat. Bahkan, masih ada jutaan ton sampah yang belum terkelola setiap tahunnya. Kondisi ini mengancam kualitas tanah, air, dan udara apabila tidak ditangani secara serius," ujarnya.

Ia mengungkapkan, komposisi sampah nasional masih didominasi sisa makanan sebesar 40,77 persen, sedangkan di Jawa Barat sampah rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dengan persentase mencapai 59,05 persen.

Oleh karena itu, ia menekankan bahwa perubahan harus dimulai dari tingkat rumah tangga melalui kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya.

Lebih lanjut, Molly menjelaskan bahwa ekonomi sirkular merupakan model ekonomi yang mengubah pola linear "ambil-gunakan-buang" menjadi sistem yang memanfaatkan kembali barang agar memiliki nilai ekonomi baru.

Menurutnya, barang yang dianggap tidak berguna masih dapat diperbaiki, digunakan kembali, atau didaur ulang sehingga memberikan manfaat yang lebih besar.

"Tempat sampah bukanlah akhir dari sebuah barang, melainkan awal dari siklus baru yang dapat menghasilkan manfaat ekonomi," katanya.

Dalam penerapannya, ekonomi sirkular dijalankan melalui prinsip 5R, yakni reduce, reuse, recycle, recover, dan regenerate.

Molly menegaskan, konsep tersebut selaras dengan nilai-nilai Islam yang melarang perilaku israf atau pemborosan, mengajarkan manusia sebagai khalifah fil ardh untuk menjaga bumi, serta mendukung terwujudnya maqasid syariah dalam menjaga kemaslahatan kehidupan.

"Ketika kita mengurangi pemborosan, mengelola sampah, dan menjaga lingkungan, sesungguhnya kita sedang menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi sekaligus mewujudkan kemaslahatan sebagaimana tujuan syariah," jelasnya.

Molly juga memaparkan bahwa sampah organik dapat diolah menjadi kompos, pupuk organik, biogas, maupun budi daya magot (Black Soldier Fly) yang bernilai ekonomi.

Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik, botol, dan kardus dapat didaur ulang menjadi berbagai produk kreatif yang memiliki nilai jual.

Menurutnya, potensi tersebut dapat menjadi instrumen pemberdayaan mustahik melalui pemanfaatan zakat secara produktif.

Ia menjelaskan, model pemberdayaan tersebut mengombinasikan zakat konsumtif untuk memenuhi kebutuhan hidup peserta selama masa pelatihan dengan zakat produktif sebagai modal penyediaan berbagai sarana usaha.

Program itu dilaksanakan melalui konsep learning while earning, sehingga peserta memperoleh keterampilan sekaligus penghasilan.

Selain kemampuan mengelola sampah, mereka juga dibekali pengetahuan tentang pemasaran, pencatatan keuangan, dan pengelolaan usaha agar mampu mandiri secara ekonomi.

Menurut Molly, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat edukasi, pendampingan, riset, dan pengembangan model bisnis berbasis ekonomi sirkular.

Oleh sebab itu, UM Bandung turut menginisiasi komunitas pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat sebagai upaya membangun ekosistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Ia berharap program tersebut tidak hanya mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Namun, membuka lapangan kerja produktif dan mendorong mustahik bertransformasi menjadi muzaki. 

"Tujuan akhirnya bukan sekadar mengelola sampah, tetapi mengubah paradigma masyarakat bahwa sampah adalah sumber berkah. Dari sesuatu yang dianggap tidak bernilai, lahir peluang usaha, lapangan pekerjaan, dan kemandirian ekonomi bagi mustahik," pungkasnya.

Administrator

KLH Gandeng UM Bandung Bangun Kampus Hijau untuk Hadapi Krisis Lingkungan Global

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung mempertegas komitmennya dalam mendukung pelestarian lingkungan dengan menjadi tuan rumah Sosialisasi Implementasi Kampus Hijau yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) pada Kamis (25/06/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Kiai Haji Ahmad Dahlan UM Bandung itu diikuti sekitar 300 mahasiswa dan dosen sebagai bagian dari upaya membangun budaya kampus yang peduli lingkungan dan berkelanjutan.

Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular KLH/BPLH Agus Rusly mengatakan dunia saat ini tengah menghadapi triple planetary crisis.

Yakni perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati yang mengancam keberlangsungan hidup manusia. 

Indonesia, menurutnya, termasuk negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, mulai dari meningkatnya risiko banjir, kekeringan, krisis air bersih dan pangan, hingga kerusakan ekosistem darat maupun laut.

Di sisi lain, persoalan sampah juga menjadi tantangan serius karena berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan, dan perekonomian.

Karena itu, pemerintah terus mendorong transformasi pengelolaan sampah melalui penerapan ekonomi sirkular.

Yakni sistem yang menitikberatkan pada pengurangan penggunaan sumber daya, penggunaan kembali, daur ulang, dan pemulihan material agar sampah memiliki nilai ekonomi sekaligus menekan dampak lingkungan. 

Menurut Agus, transformasi tersebut harus didukung perubahan perilaku masyarakat melalui gaya hidup minim sampah, pemilahan sampah sejak dari sumbernya, penguatan tanggung jawab produsen, hingga pembangunan fasilitas pengolahan sampah yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

"Upaya ini diwujudkan melalui perubahan perilaku masyarakat, penerapan gaya hidup minim sampah, pemilahan sampah dari sumber, penguatan tanggung jawab produsen, dan pembangunan fasilitas pengolahan sampah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir," ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah menargetkan seluruh sampah di Indonesia dapat dikelola secara optimal sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan sekaligus mendukung pencapaian target Net Zero Emission.

Sementara itu, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menilai gerakan Kampus Hijau merupakan langkah strategis yang harus dimulai dari lingkungan perguruan tinggi.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat Bandung pernah merasakan dampak krisis sampah akibat keterbatasan kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA). 

Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran penting bahwa pengelolaan sampah tidak bisa lagi ditunda.

Herry mengajak seluruh mahasiswa, baik yang berasal dari Bandung maupun luar daerah, untuk membangun kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya.

Menurutnya, pemahaman terhadap karakteristik sampah akan membuat proses daur ulang menjadi lebih mudah, efisien, dan bernilai ekonomi. 

Sampah organik yang masih segar, misalnya, dapat diolah menjadi pupuk maupun media budi daya maggot sebagai bagian dari pengembangan ekonomi sirkular di lingkungan kampus.

"Jika kita mampu memilahnya dengan baik, sampah segar ini bisa diolah kembali menjadi pupuk atau media pengembangan maggot yang mendukung terciptanya aktivitas ekonomi sirkular," jelas Herry.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah M Azrul Tanjung menegaskan bahwa krisis lingkungan telah menjadi perhatian nasional.

Bahkan, Presiden Prabowo telah menginstruksikan kementerian terkait untuk mempercepat langkah-langkah penanganan. 

Oleh karena itu, Azrul berharap perguruan tinggi mampu menjadi episentrum lahirnya riset, inovasi, dan teknologi sederhana yang dapat diterapkan masyarakat dalam mengurangi timbulan sampah, khususnya limbah plastik.

Ia mengingatkan, limbah plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai sehingga masyarakat perlu mulai membiasakan penggunaan produk guna ulang, seperti membawa tumbler sendiri. 

Menurutnya, menjaga kebersihan lingkungan dan membiasakan memilah sampah juga merupakan implementasi nyata dari nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

"Sudah mau memilih dan memilah sampah itu adalah aplikasi nyata dari keimanan kita. Oleh karena itu, mari kita mulai edukasi ini dari rumah dan jadikan kampus UM Bandung sebagai pelopor utama gerakan peduli lingkungan," pungkasnya.***

Administrator

Hadapi Tantangan Era Digital, FAI UM Bandung dan GSM Bangun Ekosistem Dakwah Berkualitas

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Fakultas Agama Islam (FAI) UM Bandung memperkuat komitmennya dalam pengembangan dakwah Islam berkemajuan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Barat dan Gerakan Subuh Mengaji (GSM) pada Rabu (24/06/2026).

Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam mengintegrasikan peran perguruan tinggi dengan gerakan dakwah masyarakat. Selain memperluas implementasi catur dharma perguruan tinggi, kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman, khususnya di era digital.

Melalui kesepakatan ini, dosen-dosen FAI UM Bandung akan berperan sebagai narasumber dalam berbagai program yang diselenggarakan GSM. Sementara itu, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UM Bandung juga akan menempatkan mahasiswa magang di GSM pada Oktober hingga Desember 2026 sebagai bentuk implementasi kerja sama yang lebih konkret.

Dekan FAI UM Bandung Afif Muhammad mengatakan, sinergi antara GSM dan FAI memiliki nilai strategis dalam mendukung pemetaan dakwah Islam Muhammadiyah berkemajuan.

Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya memperkuat ketersediaan narasumber yang kompeten. Namun, menjadi sarana implementasi catur dharma perguruan tinggi yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

“Kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan dakwah yang lebih terstruktur, berkualitas, dan berdampak luas. Kampus memiliki sumber daya akademik yang dapat disinergikan dengan gerakan dakwah masyarakat untuk menghasilkan manfaat yang lebih besar,” ujarnya.

Ketua PWA Jawa Barat Ia Kurniati menyambut positif kerja sama tersebut. Ia menilai kemitraan antara GSM dan FAI UM Bandung sebagai sebuah berkah yang akan semakin memperkuat gerakan dakwah yang selama ini dijalankan.

Ia menjelaskan, Gerakan Subuh Mengaji pada awalnya merupakan pengajian dengan jangkauan yang terbatas. Namun, seiring waktu, program tersebut terus berkembang dan mampu menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Menurutnya, perkembangan GSM tidak terlepas dari dukungan para narasumber yang kredibel dan berkualitas sehingga materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Program Studi KPI UM Bandung Rahmat Alamsyah mengungkapkan bahwa MoU ini lahir dari kebutuhan bersama untuk menyusun peta dakwah Muhammadiyah berkemajuan yang lebih terarah dan sesuai dengan tantangan zaman.

Ia menjelaskan, gagasan awal kerja sama bermula dari rencana penempatan mahasiswa KPI untuk menjalani program magang di GSM. Namun, melihat besarnya peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan, kerja sama tersebut kemudian ditingkatkan ke tingkat fakultas agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh program studi di lingkungan FAI UM Bandung.

“Ruang lingkup kerja sama mencakup berbagai aspek catur dharma perguruan tinggi, mulai dari pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga program-program lain yang relevan dengan pengembangan GSM, dunia akademik, dan dakwah Islam,” jelasnya.

Rahmat menambahkan, dakwah saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks karena telah memasuki ruang digital yang sangat dinamis. Karena itu, diperlukan strategi yang tepat agar program dakwah mampu diterima oleh masyarakat luas, baik melalui pemilihan platform, pengemasan konten, kualitas materi, maupun kompetensi narasumber yang terlibat.

Melalui kolaborasi ini, FAI UM Bandung, PWA Jawa Barat, dan Gerakan Subuh Mengaji berharap dapat memperkuat ekosistem dakwah digital yang adaptif, berkualitas, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat di tengah perkembangan teknologi informasi yang berlangsung begitu cepat.***

Administrator

Melalui Pentas Seni, TK Labschool UM Bandung Dorong Anak Tampil Percaya Diri

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- TK Labschool UM Bandung menggelar Pentas Seni dan Pelepasan Siswa Tahun Ajaran 2025–2026 bertema Give Every Child The Best Start di Lantai 2 Gedung Universitas Muhammadiyah Bandung, Rabu (24/06/2026).

Kegiatan berlangsung meriah dan penuh keceriaan dengan dihadiri para orang tua yang mendampingi putra-putri mereka. Acara ini menjadi momen istimewa bagi siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. 

Beragam penampilan seni, mulai dari tarian, hafalan doa, hingga kreasi lainnya, berhasil menciptakan suasana haru sekaligus membanggakan bagi guru dan orang tua.

Kepala TK Labschool UM Bandung Rizka Saputri menyampaikan rasa syukur atas selesainya proses pendidikan para siswa di tingkat taman kanak-kanak. Ia berharap seluruh siswa tetap semangat belajar dan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

“Alhamdulillah, tidak terasa sudah berada di penghujung tahun ajaran. Semoga ananda semua terus belajar dan melanjutkan pendidikan dengan penuh semangat,” ujarnya.

Menurut Rizka, TK Labschool UM Bandung berkomitmen memberikan layanan pendidikan terbaik melalui berbagai pendekatan pembelajaran, salah satunya metode berbasis cerita dan dongeng.

Metode ini dinilai efektif untuk merangsang daya pikir, imajinasi, kemampuan berbahasa, sekaligus membangun karakter positif anak sejak usia dini.

“Melalui cerita dan dongeng, anak-anak belajar memahami nilai-nilai kehidupan, mengembangkan kreativitas, serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis sesuai tahap perkembangannya,” jelasnya.

Ia menambahkan, pentas seni merupakan bagian penting dalam pendidikan anak usia dini karena dapat menumbuhkan rasa percaya diri, keberanian tampil di depan umum, kemampuan bekerja sama, dan kreativitas anak.

“Yang terpenting, anak-anak dapat menikmati prosesnya dengan gembira. Pentas seni ini menjadi ruang bagi mereka untuk tumbuh, belajar, dan menunjukkan potensi terbaik,” katanya.

Apresiasi juga disampaikan perwakilan orang tua siswa, Nudia Audina, yang mengucapkan terima kasih atas pelayanan pendidikan yang diberikan selama ini. Ia berharap TK Labschool UM Bandung terus berkembang menjadi lembaga pendidikan yang unggul, nyaman, dan ramah anak.

Sementara itu, salah seorang orang tua siswa lainnya, Andi Iskandar, mengaku bangga dan terharu menyaksikan penampilan anak-anak di atas panggung. 

Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan keberhasilan sekolah dalam membangun karakter, keberanian, dan kreativitas anak sejak usia dini.

“Bukan hanya lucu melihat mereka tampil di panggung, tetapi terlihat bagaimana anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berani, dan kreatif,” ungkapnya.

Melalui pentas seni dan pelepasan siswa ini, TK Labschool UM Bandung kembali menegaskan pentingnya pendidikan anak usia dini yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik.

Namun, pada pengembangan karakter, kreativitas, komunikasi, dan kepercayaan diri sebagai bekal menghadapi jenjang pendidikan berikutnya.***

Administrator