Berita

Akademisi UM Bandung Beberkan Pemicu Terjadinya Kejahatan Besar

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Naera Zhafira Azkiati Zamzami menyoroti kasus Epstein Files sebagai representasi kejahatan besar yang tidak lazim terjadi secara tiba-tiba. 

Dia menilai, kasus tersebut berkaitan erat dengan penyimpangan moral serta menurunnya empati dalam diri pelaku.

Dalam program Kajian Ramadhan di kanal YouTube UM Bandung, Selasa (17/03/2026), Naera menjelaskan bahwa fenomena tersebut dapat dipahami melalui konsep authority bias.

Menurutnya, individu yang memiliki relasi kuasa, jabatan, atau kekayaan cenderung berada pada posisi yang membuat tindakannya sulit dicurigai, bahkan kerap dianggap wajar oleh lingkungan sekitarnya.

Dia menegaskan bahwa dalam perspektif Islam dan psikologi, kejahatan besar merupakan proses yang berkembang secara bertahap.

Penyimpangan tersebut tumbuh dari akumulasi kerusakan moral, hilangnya empati, serta munculnya keyakinan bahwa diri kebal terhadap hukum.

“Hal tersebut berawal dari kerusakan hati yang tidak lagi dipenuhi nilai ketakwaan,” ujarnya.

Dalam pandangan Islam, lanjut Naera, kekuasaan sejatinya adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, bukan sebagai hak istimewa untuk mengeksploitasi orang lain.

Dia menambahkan, tanpa kontrol moral yang kuat, kekuasaan berpotensi menurunkan sensitivitas empati seseorang.

Kondisi ini dapat mendorong individu memandang orang lain sekadar sebagai alat, yang pada akhirnya menjadi awal dari kerusakan psikologis dan sosial.

Lebih lanjut, Naera mengungkapkan bahwa dalam kasus Epstein, pelaku diduga menggunakan strategi manipulasi psikologis dan grooming sebagai bentuk eksploitasi halus.

Modus ini dilakukan dengan membangun kepercayaan secara bertahap melalui pemberian bantuan, hadiah, atau perhatian berlebih sehingga korban merasa memiliki keterikatan emosional dan utang budi.

Sebagai upaya pencegahan, ia mendorong masyarakat untuk meningkatkan kesadaran psikologis serta keberanian dalam menyuarakan ketidakadilan.

Menurutnya, kalangan akademisi memiliki peran penting dalam menumbuhkan kesadaran kritis sekaligus melindungi kelompok rentan dari potensi penyalahgunaan kekuasaan.

Selain itu, pendidikan tinggi juga dituntut untuk membangun kepekaan mahasiswa terhadap ketimpangan relasi kuasa guna menciptakan lingkungan akademik yang aman dan beretika.

Naera berharap setiap individu mampu memadukan profesionalitas dengan nilai-nilai spiritual, sehingga setiap tindakan yang dilakukan membawa kemaslahatan, bukan kerusakan bagi sesama.***(FA/FK)

Administrator

UM Bandung Akan Gelar Salat Idul Fitri 1447 Hijriah pada Jumat 20 Maret 2026

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung akan menyelenggarakan salat Idul Fitri 1447 Hijriah pada Jumat, 20 Maret 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari agenda ibadah tahunan yang terbuka bagi masyarakat luas.

Pelaksanaan salat Idul Fitri ini merujuk pada Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2 Tahun 2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah.

Kepala Lembaga Pengembangan dan Pengkajian Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) UM Bandung Dikdik Dahlan Lukman mengajak kaum muslimin, khususnya masyarakat yang berdomisili di kawasan Bandung Timur, untuk melaksanakan salat Idul Fitri di lingkungan kampus UM Bandung.

“Untuk itu, kepada kaum muslimin, khususnya yang berdomisili di kawasan Bandung Timur, kami menghimbau untuk berbondong-bondong melaksanakan salat Idul Fitri yang tempatnya tepat di lapangan parkir kampus UM Bandung,” ujarnya di kampus UM Bandung, Sabtu (14/03/2026).

Ia menjelaskan bahwa salat Idul Fitri akan dimulai pada pukul 06.15 WIB. Adapun yang akan bertindak sebagai imam sekaligus khatib adalah Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat Dr Zaini Abdul Malik SAg MA.

Dikdik juga mengimbau jamaah agar datang lebih awal untuk memudahkan pengaturan parkir kendaraan, baik di dalam maupun di sekitar area kampus UM Bandung yang beralamat di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Kota Bandung.

“Oleh karena itu, jamaah salat id diimbau untuk datang lebih pagi ke UM Bandung agar bisa memarkirkan kendaraannya di dalam dan area kampus,” katanya.

Selain menyediakan lokasi salat, UM Bandung juga membuka layanan penitipan zakat fitrah bagi jamaah yang belum menunaikan kewajibannya. Layanan tersebut akan difasilitasi melalui Lazismu Kantor Layanan UM Bandung sebelum pelaksanaan salat Idul Fitri dimulai.

“Bagi jamaah salat id yang kebetulan belum membayarkan zakat fitrah, Lazismu Kantor Layanan UM Bandung, insyaallah standby dan bisa melayani akad penitipan zakat fitrah sebelum pelaksanaan salat id berlangsung,” tutur Dikdik.

Ia juga mengingatkan jamaah untuk membawa perlengkapan salat dari rumah masing-masing. Selain itu, jamaah diharapkan sudah dalam keadaan berwudu sebelum tiba di lokasi agar dapat langsung duduk dan mempersiapkan diri mengikuti salat Idul Fitri dengan lebih tenang dan khusyuk.

Menurutnya, penyelenggaraan salat Idul Fitri di UM Bandung setiap tahun selalu mendapat sambutan luas dari masyarakat. Jamaah yang hadir tidak hanya berasal dari kalangan warga dan simpatisan Muhammadiyah di Bandung Timur, tetapi juga dari berbagai lapisan masyarakat sehingga area kampus kerap dipadati peserta salat Id.

Di akhir keterangannya, Dikdik mengajak seluruh umat Islam untuk menjaga ketertiban serta saling menghormati apabila terdapat perbedaan pandangan dalam penentuan Hari Raya Idul Fitri.

“Mari kita laksanakan salat Idul Fitri 1447 Hijriah dengan tertib dan khusyuk. Adapun nanti misalnya ada perbedaan penentuan lebaran, mari kita saling menghargai dan menghormati sebagai sesama umat Islam,” tandasnya.***(FA)

Administrator

Seniman Muslim Harus Menghadirkan Keindahan yang Bermakna

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen prodi Kriya Tekstil dan Fashion Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Nanang Rizali menegaskan bahwa keberhasilan sebuah karya kriya sangat ditentukan oleh landasan niat serta nilai-nilai spiritual yang menyertai proses perancangannya.

Menurutnya, istilah kriya tidak sekadar merujuk pada aktivitas membuat kerajinan tangan. Lebih dari itu, kriya memiliki makna yang mendalam sebagai pekerjaan tangan yang spesifik dan harus memuat nilai keindahan, kebaikan, kebenaran, serta memberikan manfaat bagi penggunanya.

“Istilah kriya punya makna yang mendalam sebagai pekerjaan tangan yang spesifik dan harus mengandung nilai keindahan, kebaikan, kebenaran, dan manfaat bagi pengguna,” ujar Nanang dalam Kajian Ramadan di kanal YouTube UM Bandung pada Senin (16/03/2026).

Nanang menjelaskan bahwa tahap awal dalam proses berkarya harus diawali dengan niat yang berlandaskan kalimat syahadah sebagai fondasi spiritual paling mendasar.

Dalam pandangannya, niat dalam seni Islami tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fungsional semata, tetapi juga mengandung dimensi ibadah dan pemenuhan kebutuhan rohani.

“Niat dalam seni Islami tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fungsional semata. Namun, harus mengandung nilai ibadah dan pemenuhan kebutuhan rohani,” jelasnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya tahap qiraah, yakni proses membaca, meneliti, dan mengkaji secara mendalam melalui studi empirik maupun kajian kepustakaan sebagai landasan teori dalam perancangan karya.

“Proses membaca dan mengkaji ini merupakan bentuk ijtihad kreatif agar karya yang dihasilkan memiliki landasan ilmu yang kuat dan referensi yang jelas,” imbuhnya.

Dalam perjalanan menghasilkan wujud visual karya, lanjut Nanang, terdapat pula proses tazkiah, yaitu tahap pencerahan rohani yang bertujuan menyatukan tenaga, pikiran, dan perasaan seorang kreator.

Penyatuan antara aspek lahiriah dan batiniah ini dinilai sangat penting agar karya yang dihasilkan mampu memberikan kenyamanan sekaligus pencerahan bagi para penikmatnya.

“Penyatuan aspek lahiriah dan batiniah dalam proses kreatif ini sangat krusial agar karya yang tercipta dapat memberikan kenyamanan dan pencerahan bagi yang menikmatinya,” tuturnya.

Mengenai profil lulusan seni kriya, Nanang menekankan pentingnya prinsip “3D”, yaitu adib (taat beribadah), alim (berilmu), dan arif (bijaksana).

Menurutnya, ketiga nilai tersebut harus melekat pada setiap seniman Muslim agar tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kebijaksanaan dalam berkarya dan berperan di tengah masyarakat.

“Lulusan seni kriya diharapkan tidak hanya memiliki keterampilan teknis yang mumpuni, tetapi memiliki kebijaksanaan dan kearifan dalam bertindak serta berkarya di tengah masyarakat,” tegasnya.

Ia pun mengingatkan bahwa setiap karya seni seharusnya mencerminkan nilai-nilai luhur. Hal ini karena Allah SWT mencintai keindahan dalam setiap ciptaan-Nya.

Oleh sebab itu, aktivitas berkarya perlu dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menghadirkan karya budaya yang membawa kemaslahatan dan keindahan bagi sesama.

“Mari kita jadikan aktivitas berkarya ini sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan menghasilkan karya budaya yang membawa kemaslahatan dan keindahan bagi sesama,” pungkasnya.***

Administrator

Pelantikan Pengurus KPM UM Bandung, Bangun Kepemimpinan Profesional dan Berintegritas

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung melalui Bagian Kemahasiswaan dan Pengembangan Karier resmi melantik kepengurusan UKM Korps Protokoler Mahasiswa (KPM) pada Sabtu (14/03/2026).

Pelantikan tersebut menjadi momentum penting bagi keberlanjutan organisasi dalam memperkuat peran protokoler mahasiswa di lingkungan kampus.

Kegiatan yang digelar di Auditorium Kiai Haji Ahmad Dahlan itu mengusung tema “Meneguhkan Kepemimpinan Profesional Berintegritas dan Berlandaskan Nilai Islam untuk Menuju KPM yang Inklusif dan Terpercaya.”

Tema tersebut mencerminkan komitmen organisasi untuk membangun kepemimpinan yang tidak hanya profesional, tetapi berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Dalam pelantikan tersebut, Tania Kirana resmi menjabat sebagai Ketua KPM UM Bandung periode 2026–2027.

Dia menyampaikan bahwa kepemimpinan yang kini diembannya merupakan kelanjutan dari fondasi kuat yang telah dibangun oleh kepengurusan sebelumnya.

"Kesuksesan yang akan dicapai oleh KPM UM Bandung tidak hanya cukup dari kepemimpinan. Namun, dari keluarga KPM UM Bandung itu sendiri," ucap Tania.

Pada masa kepemimpinannya, Tania mengusung konsep Kabinet Arthadhira sebagai arah gerak organisasi.

Nama kabinet tersebut dipilih untuk merepresentasikan nilai dan semangat yang ingin dihadirkan dalam kepengurusan baru.

Dia menjelaskan bahwa kata artha bermakna nilai dan kebermanfaatan, sedangkan dhira menggambarkan keteguhan serta keberanian dalam melangkah menghadapi tantangan organisasi.

"Kabinet ini menjadi semangat bagi kami untuk menumbuhkan kepemimpinan yang bernilai, berani, dan bertanggung jawab untuk membawa organisasi ini ke arah yang lebih baik," jelasnya.

Sementara itu, Ketua KPM periode sebelumnya, Shalbi Naila Makarim, turut memberikan ucapan selamat kepada kepengurusan baru yang telah dilantik.

Dia secara simbolis menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan sekaligus harapan bagi masa depan organisasi.

"Sukseskan visi dan misi yang sudah dijalankan agar KPM lepas landas menjadi organisasi yang maju," pesan Shalbi.

Dia juga berharap agar KPM UM Bandung dapat menjadi ruang bagi para anggota untuk terus berkembang dan berproses dalam organisasi.

"Jadikan KPM sebagai wadah amal ibadah kalian untuk menjadi pribadi yang dapat mengabdi, selalu berbagi, dan menginspirasi," terangnya.

Menanggapi hal tersebut, Pembina KPM Euis Evi Puspitasari menegaskan bahwa UKM ini memiliki peran yang sangat penting sebagai garda terdepan dalam berbagai kegiatan kampus sejak berdiri hingga sekarang.

"Selama delapan tahun, KPM sudah melenggang di UM Bandung untuk menjalankan fungsinya sebagai garda terdepan kampus," ungkap Euis.

Dia menambahkan bahwa pengalaman berorganisasi di tingkat UKM akan menjadi portofolio berharga bagi mahasiswa ketika memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan studi.***(FK)

Administrator

Utang Itu Solusi Terakhir dalam Kondisi Mendesak

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Fajrin Nurul Haq mengajak masyarakat untuk melihat utang dari sudut pandang yang lebih bijak.

Menurutnya, utang sering dianggap sebagai beban berat, padahal dalam ajaran Islam ia juga bisa menjadi bentuk tolong-menolong bagi orang yang sedang mengalami kesulitan.

Hal itu disampaikan Fajrin dalam program Kajian Ramadhan di kanal YouTube UM Bandung pada Sabtu (14/03/2026).

Ia menjelaskan, dalam syariat Islam, utang bukan semata urusan finansial, tetapi juga bagian dari taawun atau sikap saling membantu antarsesama muslim.

Fajrin menuturkan bahwa Al-Qur’an memandang utang-piutang sebagai salah satu jalan keluar saat seseorang menghadapi kondisi ekonomi yang sulit.

Karena itu, utang sejatinya dapat menjadi solusi, selama digunakan untuk kebutuhan yang benar-benar mendesak dan bukan sekadar memenuhi keinginan sesaat.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa utang tetap merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Dalam Islam, kewajiban melunasi utang tidak bisa dianggap ringan karena menyangkut tanggung jawab seseorang, baik di dunia maupun di akhirat.

Karena itu, Fajrin mengajak masyarakat untuk lebih hati-hati sebelum memutuskan berutang.

Ia menilai penting bagi setiap orang untuk membedakan mana kebutuhan darurat dan mana kebutuhan konsumtif agar utang tidak berubah menjadi sumber masalah baru.

Ia juga menekankan pentingnya menanamkan sikap qanaah atau merasa cukup dengan apa yang dimiliki, disertai kebiasaan menabung.

Menurutnya, dua hal ini bisa menjadi benteng agar seseorang tidak mudah berutang hanya demi gaya hidup, seperti mengganti gawai atau membeli kendaraan yang sebenarnya belum diperlukan.

Selain itu, Fajrin mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap praktik riba dalam pinjaman modern.

Ia menegaskan bahwa pinjaman berbunga maupun pinjaman online yang tidak sesuai prinsip syariah perlu dijauhi karena dapat membawa dampak buruk, bukan hanya secara ekonomi tetapi juga secara spiritual.

Melalui momentum Ramadhan, Fajrin mengajak umat Islam untuk menjaga amanah, kejujuran, dan keterbukaan dalam urusan utang-piutang.

Ia berharap bulan suci ini menjadi kesempatan untuk menghadirkan kemudahan bagi sesama melalui pinjaman yang halal, sehingga hubungan antarmanusia tetap terjaga dan ibadah pun semakin bernilai di hadapan Allah SWT.***(FA/FK)

Administrator

Era AI Buka Peluang Dakwah Lebih Luas Bagi Generasi Muslim Digital

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Agung Tirta Wibawa menegaskan bahwa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Perkembangan teknologi tersebut, menurutnya, tidak dapat dihindari sehingga masyarakat perlu memanfaatkannya secara bijak.

Agung menyampaikan bahwa teknologi AI dapat dimanfaatkan sebagai mitra kerja yang efektif, khususnya bagi para dai dalam memperluas jangkauan dakwah Islam di ruang digital. Hal tersebut ia sampaikan dalam kajian Ramadhan yang disiarkan melalui kanal YouTube UM Bandung pada Jumat (13/03/2026).

Menurutnya, pemanfaatan AI membuka peluang besar untuk meningkatkan produktivitas pembuatan konten Islami. Momentum Ramadhan, lanjutnya, menjadi waktu yang sangat tepat untuk menghadirkan berbagai konten dakwah yang lebih kreatif, informatif, dan mudah diakses oleh masyarakat luas.

“Teknologi AI tidak bisa kita hindari ataupun kita lawan. Sebaliknya, kita perlu memanfaatkannya sebagai alat bantu dalam berbagai aktivitas, termasuk dalam kegiatan dakwah,” ujar Agung.

Ia menegaskan bahwa AI sejatinya hanyalah sebuah alat, bukan unsur utama dalam proses dakwah. Peran manusia tetap menjadi faktor utama dalam menyampaikan pesan-pesan keislaman, sementara teknologi hanya berfungsi sebagai sarana pendukung untuk meningkatkan efektivitas kerja.

Dengan bantuan AI, proses penyusunan materi dakwah hingga pembuatan ilustrasi visual dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efisien. Teknologi ini bahkan mampu membantu menghasilkan berbagai elemen konten tanpa memerlukan proses penyuntingan manual yang kompleks.

Agung menambahkan bahwa teknologi AI juga dapat dimanfaatkan dalam pembuatan video dakwah yang lebih menarik bagi generasi digital. Melalui teknologi ini, visualisasi tokoh-tokoh Islam klasik dapat disajikan secara lebih kreatif sehingga mampu menarik perhatian audiens yang kini lebih akrab dengan media digital.

“Kita bisa menghadirkan konten dakwah yang lebih segar dan komunikatif sehingga mampu menjangkau masyarakat yang saat ini lebih dekat dengan dunia digital dibandingkan media konvensional,” jelasnya.

Namun demikian, Agung mengingatkan bahwa penggunaan AI juga harus disertai dengan sikap kritis dan kehati-hatian. Mahasiswa doktoral UIN Sunan Gunung Djati Bandung tersebut menilai bahwa teknologi AI masih memiliki keterbatasan dalam hal akurasi informasi.

Ia mencontohkan bahwa dalam beberapa kasus, AI dapat menggabungkan sumber informasi yang kurang tepat, seperti mencampurkan referensi Al-Qur’an dengan sumber yang tidak valid atau keliru dalam mengidentifikasi ungkapan bahasa Arab sebagai hadis.

Karena itu, menurutnya, setiap konten yang dihasilkan dengan bantuan AI perlu melalui proses verifikasi ulang, terutama ketika berkaitan dengan pengutipan ayat Al-Qur’an maupun hadis Nabi.

“Peran manusia tetap tidak tergantikan dalam menyempurnakan konten. Verifikasi diperlukan agar materi yang disampaikan benar-benar sesuai dengan sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah,” tegasnya.

Di akhir penyampaiannya, Agung mengingatkan agar masyarakat tetap bijak dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi AI. Ia menilai penggunaan teknologi tersebut seharusnya tidak berlebihan apalagi sampai menimbulkan ketergantungan.

“Yang terpenting adalah bagaimana inovasi dakwah di era digital ini tetap berlandaskan syariat, sehingga mampu membentuk masyarakat muslim yang semakin taat kepada Allah SWT di tengah transformasi teknologi,” pungkasnya.***(FA/FK)

Administrator