Berita

Kiai Saad Ibrahim: Bahasa Arab Bekal Penting Memahami Al-Qur’an dan Kitab Turats

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung dan Uhamka menggelar Seminar Nasional bertajuk Pembelajaran Bahasa Arab Berkemajuan di Pesantren Muhammadiyah” di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung pada Sabtu (20/06/2026).

Kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai daerah, mulai dari Lampung hingga Jawa Timur. Peserta terdiri atas pengelola dan pendidik pesantren, mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah, serta perwakilan lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Ketua LP2 PP Muhammadiyah Dr H Maskuri MEd menegaskan bahwa penguatan bahasa Arab menjadi kebutuhan penting bagi pesantren Muhammadiyah. 

Menurutnya, kemampuan bahasa Arab tidak hanya membantu santri memahami kitab-kitab turats, tetapi juga membuka peluang melanjutkan studi ke berbagai perguruan tinggi ternama di luar negeri.

“Peluang studi ke Mesir, Maroko, hingga Libya semakin terbuka bagi lulusan pesantren yang memiliki kemampuan bahasa Arab yang baik,” ujarnya.

Maskuri menyebut Muhammadiyah saat ini memiliki sekitar 448 pesantren di seluruh Indonesia. Ia berharap kualitas pembelajaran bahasa Arab terus meningkat, seiring bertambahnya kesempatan beasiswa luar negeri yang diberikan kepada kader Muhammadiyah, termasuk melalui kerja sama dengan Universitas Al-Azhar Mesir.

Sementara itu, Rektor UM Bandung Prof Dr Ir Herry Suhardiyanto MSc IPU menilai bahasa Arab memiliki peran strategis, baik dalam bidang keagamaan maupun hubungan internasional.

Ia mengingatkan bahwa bahasa Arab merupakan salah satu bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Dengan menguasai bahasa Arab, kita dapat mengakses sumber-sumber keilmuan Islam sekaligus memperluas peluang kerja sama di bidang ekonomi, diplomasi, dan hubungan internasional,” katanya.

Herry juga mendorong agar pembelajaran bahasa Arab di lingkungan Muhammadiyah dilakukan secara lebih menyenangkan dan adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).

Seminar nasional tersebut dibuka oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr KH Saad Ibrahim MA.

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa bahasa Arab memiliki kedudukan istimewa sebagai bahasa Al-Qur’an dan memiliki kekayaan kosakata yang sangat luas.

Menurut Kiai Saad, penguasaan ilmu bahasa Arab, termasuk nahwu dan sharaf, merupakan bekal penting untuk memahami Al-Qur’an dan kitab-kitab klasik Islam secara mendalam.

Oleh karena itu, ia mengapresiasi upaya LP2 PP Muhammadiyah dalam memperkuat pembelajaran bahasa Arab di pesantren.

Ia berharap seminar ini melahirkan inovasi dan metode pembelajaran yang lebih efektif sehingga santri Muhammadiyah mampu memahami kitab turats dengan lebih cepat dan mendalam.

Melalui seminar ini, Muhammadiyah berkomitmen terus memperkuat pembelajaran bahasa Arab sebagai bagian dari upaya mencetak kader yang unggul dalam keislaman sekaligus memiliki daya saing global.***

Administrator

Berani Berkarya Sejak Muda! Pelantikan HIPMI PT UM Bandung Jadi Titik Awal Perubahan Ekonomi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi (HIPMI PT) Universitas Muhammadiyah Bandung telah melaksanakan pelantikan pengurus periode 2026–2027 pada Kamis (04/06/2026) lalu.

Kegiatan ini menjadi momentum awal bagi kepengurusan baru untuk memperkuat gerakan kewirausahaan mahasiswa serta mendorong lahirnya generasi muda yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing.

Pelantikan HIPMI PT Universitas Muhammadiyah Bandung dirangkaikan dengan talkshow inspiratif yang menghadirkan Helmy Yahya sebagai pembicara utama.

Kehadiran tokoh yang dikenal sebagai pengusaha, kreator, dan praktisi industri kreatif tersebut diharapkan dapat memberikan motivasi sekaligus wawasan kepada mahasiswa mengenai pentingnya kepemimpinan, inovasi, dan keberanian dalam membangun usaha sejak usia muda.

Ketua Umum HIPMI PT Universitas Muhammadiyah Bandung terpilih Abu Darda Sungkar menyampaikan, kegiatan ini tidak hanya agenda organisasi.

Namun, menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami peran strategis kewirausahaan dalam menjawab tantangan ekonomi masa depan.

“Pelantikan ini menjadi langkah awal bagi HIPMI PT UM Bandung untuk menghadirkan program-program pengembangan mahasiswa," ujarnya.

"Kehadiran Helmy Yahya kami harapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda kampus agar berani berkarya, berinovasi, dan membangun usaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Semangat yang kami bawa sederhana, mahasiswa bergerak, ekonomi berdampak,” ujarnya.

Sejalan dengan visi “Techno Entrepreneur University”, UM Bandung terus mendorong tumbuhnya budaya kewirausahaan di lingkungan kampus.

Melalui HIPMI PT, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan kapasitas diri, membangun jejaring, dan memperoleh pengalaman praktis dalam dunia usaha.

Turut hadir dalam pelantikan ini para mahasiswa, pelaku usaha muda, organisasi kemahasiswaan, dan berbagai pemangku kepentingan menyaksikan rangkaian kegiatan pelantikan HIPMI PT UM Bandung yang diharapkan menjadi titik awal penguatan ekosistem kewirausahaan mahasiswa di kampus.***(Bewara Pers)

Administrator

Audiens Berpindah ke Platform Digital, KPI Dorong Transformasi Lembaga Penyiaran

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat periode 2023–2026, Amin Shabana, menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah secara signifikan cara masyarakat mengakses dan mengonsumsi informasi.

Kondisi tersebut menuntut lembaga penyiaran untuk bertransformasi agar tetap relevan di tengah pesatnya pertumbuhan platform digital.

Hal itu disampaikan Amin saat menjadi narasumber dalam Kuliah Umum Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bertajuk “Masa Depan Lembaga Penyiaran di Era Digital” di Auditorium KH Ahmad Dahlan pada Jumat (19/06/2026).

Menurut Amin, Indonesia saat ini memiliki sekitar 235,26 juta pengguna internet, 180 juta identitas pengguna media sosial, dan 151 juta pengguna YouTube. Data tersebut menunjukkan bahwa audiens media tidak hilang, melainkan berpindah ke platform yang lebih personal, cepat, dan berbasis algoritma.

“Lembaga penyiaran saat ini berada di persimpangan. Situasinya mirip dengan media cetak ketika menghadapi gelombang internet. Banyak media yang tidak mampu beradaptasi sehingga kehilangan pembaca. Kini tantangan yang sama dihadapi industri penyiaran,” ujarnya.

Ia menjelaskan, internet dan media sosial telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam mengakses informasi. Generasi muda, khususnya Gen Z, menghabiskan banyak waktu di telepon pintar, sementara algoritma digital terus menyajikan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna.

“Algoritma tidak bisa berbohong. Apa yang sering ditonton, itulah yang dianggap sebagai minat pengguna. Karena itu, lembaga penyiaran harus memahami perubahan perilaku audiens agar tidak ditinggalkan,” katanya.

Selain perubahan pola konsumsi media, Amin juga menyoroti maraknya infodemi, hoaks, dan krisis kepercayaan publik. Menurutnya, derasnya arus informasi di ruang digital membuat masyarakat semakin sulit membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan.

Dalam situasi tersebut, lembaga penyiaran memiliki peran penting sebagai sumber informasi yang kredibel karena bekerja dengan standar editorial, proses verifikasi, dan tanggung jawab hukum yang jelas.

“Setiap informasi harus diverifikasi. Sumber boleh berasal dari berbagai platform digital, tetapi informasi resmi tetap harus merujuk pada kanal yang kredibel agar kepercayaannya terjaga,” tegasnya.

Amin juga menilai regulasi penyiaran perlu diperbarui. Menurutnya, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran sudah tidak sepenuhnya mampu menjawab perkembangan ekosistem media yang kini didominasi platform digital, layanan streaming, media sosial, dan user generated content.

Sementara itu, Ketua Prodi KPI UM Bandung Rahmat Alamsyah berharap kuliah umum tersebut dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai perkembangan dunia penyiaran dan komunikasi digital.

Ia menilai salah satu isu penting yang perlu dipahami adalah konvergensi media, yaitu peralihan media konvensional ke platform digital yang melahirkan ledakan informasi sekaligus tantangan berupa banjir konten dan hoaks.

Rahmat mengaitkan fenomena tersebut dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya verifikasi informasi sebagaimana termaktub dalam QS Al-Hujurat ayat 6.

Menurutnya, umat Islam diajarkan untuk bersikap hati-hati dalam menerima informasi, menghindari dampak buruk berita yang tidak benar, dan mencegah penyesalan akibat menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

“Di era digital, kemampuan memilah informasi menjadi sangat penting. Semoga lembaga penyiaran dapat terus menjadi benteng informasi yang kredibel bagi masyarakat,” pungkasnya.***

Administrator

Takziah Virtual Tetap Bernilai Sunah, Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Perkembangan teknologi digital telah menghadirkan berbagai bentuk interaksi baru dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam pelaksanaan takziah.

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ali Yusuf menegaskan bahwa takziah virtual pada hakikatnya memiliki makna yang sama dengan takziah yang dilakukan secara langsung.

Dalam pemaparannya, Ali menjelaskan bahwa esensi takziah bukan terletak pada medianya, melainkan pada tujuan utamanya, yaitu memberikan penghiburan, penguatan, dan dukungan kepada keluarga yang sedang ditimpa musibah.

Menurutnya, secara bahasa takziah mengandung makna tasbir, tasliyah, dan tasbit al-qalb.

Tasbir berarti mendorong seseorang agar bersabar, tasliyah berarti menghibur agar tidak larut dalam kesedihan, sedangkan tasbit al-qalb berarti meneguhkan hati orang yang sedang berduka.

“Ketika seseorang meninggal dunia, keluarga yang ditinggalkan tentu berada dalam suasana kesedihan. Oleh karena itu, orang-orang di sekitarnya dianjurkan untuk menghibur, menguatkan, dan meneguhkan hati mereka,” jelasnya, seperti dikutip dari laman muhammadiyah.or.id, Kamis (18/06/2026).

Ali juga mengutip penjelasan Imam Nawawi yang mendefinisikan takziah sebagai upaya memotivasi orang yang tertimpa musibah agar lebih sabar, membantu meringankan kesedihan, serta mengurangi tekanan batin yang dirasakannya.

Takziah virtual

Ia menilai perkembangan takziah virtual mulai meluas sejak masa pandemi Covid-19.

Pada saat itu, berbagai pembatasan sosial membuat masyarakat tidak dapat berinteraksi secara langsung sehingga banyak aktivitas berpindah ke ruang digital.

Mulai dari kegiatan belajar, pengajian, pertemuan, hingga penyampaian belasungkawa dilakukan melalui berbagai platform daring.

Dalam konteks tersebut, takziah virtual menjadi salah satu alternatif yang memungkinkan seseorang tetap dapat menyampaikan simpati dan doa meskipun terhalang jarak.

Menurut Ali Yusuf, meskipun terdapat perbedaan pengalaman psikologis antara takziah langsung dan virtual, keduanya memiliki tujuan yang sama.

“Kalau secara langsung seseorang bisa merangkul, berjabat tangan, dan menyapa secara fisik. Sementara itu, secara virtual hal itu tidak dapat dilakukan. Namun, hakikatnya tetap sama, yakni menyampaikan belasungkawa dan memberikan dukungan psikologis kepada keluarga yang berduka,” ujarnya.

Dalam kajiannya, Ali menegaskan bahwa mayoritas ulama berpendapat hukum takziah adalah sunah.

Dasar pandangan tersebut di antaranya berasal dari hadis yang menceritakan perhatian Rasulullah Saw kepada seorang sahabat yang kehilangan anaknya.

Ketika mengetahui anak sahabat tersebut meninggal dunia, Rasulullah Saw mendatanginya untuk memberikan penghiburan dan penguatan.

Sikap Nabi itu menjadi landasan bahwa memberikan dukungan kepada orang yang tertimpa musibah merupakan amalan yang dianjurkan.

Oleh karena itu, baik takziah secara langsung maupun melalui media virtual tetap termasuk bentuk pelaksanaan sunnah selama tujuan utamanya adalah memberikan penghiburan dan mendoakan keluarga yang ditinggalkan.

Ali mengingatkan bahwa seluruh aktivitas yang berkaitan dengan pengurusan jenazah harus dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Kewajiban memandikan, mengafani, menyalatkan, dan menguburkan jenazah merupakan bentuk ibadah yang tidak semestinya dijadikan sarana memperoleh keuntungan materi.

Ia menyoroti sejumlah praktik di masyarakat yang terkadang memberikan imbalan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pengurusan jenazah maupun kegiatan takziah.

Menurutnya, semangat utama dalam takziah adalah membantu sesama dan menghibur keluarga yang berduka, bukan mencari keuntungan atau pemberian tertentu.

“Kalau bertakziah, maka bertakziahlah dengan ikhlas. Jangan sampai motivasinya bergeser karena berharap imbalan atau keuntungan tertentu,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Ali Yusuf juga menjelaskan bahwa seorang muslim diperbolehkan bertakziah kepada non-muslim. 

Ia mengaitkan hal itu dengan peristiwa wafatnya Abu Thalib, paman Rasulullah SAW sekaligus ayah dari Ali bin Abi Thalib.

Menurutnya, Nabi tetap memerintahkan Ali untuk mengurus jenazah ayahnya.

Dari peristiwa tersebut para ulama menjadikannya sebagai salah satu dasar kebolehan menyampaikan belasungkawa dan memberikan dukungan kemanusiaan kepada keluarga non-muslim yang sedang berduka.

Ali menepis anggapan bahwa takziah hanya boleh dilakukan dalam waktu tiga hari setelah kematian seseorang. 

Menurutnya, tidak terdapat batasan mutlak yang melarang seseorang bertakziah setelah tiga hari.

Jika seseorang baru memiliki kesempatan untuk menyampaikan belasungkawa setelah beberapa hari atau bahkan lebih lama karena faktor jarak dan kesibukan, hal itu tetap diperbolehkan.

“Kalau baru sempat menelepon, mengirim pesan, atau datang langsung setelah lebih dari tiga hari, tidak masalah. Takziah tidak dibatasi hanya tiga hari,” ujarnya.

Meski demikian, ia menjelaskan bahwa masa berkabung bagi keluarga pada umumnya adalah tiga hari.

Adapun bagi seorang istri yang ditinggal wafat suaminya berlaku masa idah selama empat bulan sepuluh hari sebagaimana ketentuan syariat.

Lebih lanjut, Ali menekankan bahwa tidak ada format baku dalam bertakziah. 

Hal yang terpenting adalah adanya unsur penghiburan, doa, serta ajakan untuk bersabar dan berharap pahala dari Allah SWT.

Dalam praktik takziah virtual, hal tersebut dapat diwujudkan melalui penyampaian belasungkawa, tausiah singkat, ataupun doa bersama yang dilakukan secara daring.

Ia juga menyoroti fenomena penyampaian testimoni mengenai kebaikan almarhum dalam acara takziah.

Menurutnya, memberikan kesaksian yang jujur tentang kebaikan seseorang yang telah wafat merupakan hal yang dibenarkan dalam ajaran Islam.

Ali mengutip hadis tentang jenazah yang dipuji oleh masyarakat karena kebaikannya, lalu Rasulullah SAW bersabda, “Wajabat” (telah ditetapkan).

Hadis tersebut menunjukkan pentingnya kesaksian yang tulus dari orang-orang yang mengenal almarhum semasa hidupnya.

Namun, demikian, ia mengingatkan agar kesaksian tersebut disampaikan secara jujur dan tidak dipaksakan.

Sebagai penutup, Ali menegaskan bahwa salah satu bentuk takziah yang paling dianjurkan adalah membantu meringankan beban keluarga yang ditinggalkan.

Bentuk bantuan itu dapat berupa menyediakan makanan, membantu kebutuhan keluarga, menyantuni anak yatim, atau memberikan dukungan material sesuai kemampuan.

Ia mengutip peristiwa wafatnya Ja’far bin Abi Thalib ketika Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk menyiapkan makanan bagi keluarganya karena mereka sedang disibukkan oleh musibah yang menimpa.

“Yang dianjurkan adalah membantu keluarga yang berduka, bukan malah membebani mereka. Semangat takziah adalah menghadirkan empati, meringankan beban, dan menguatkan hati mereka yang sedang kehilangan,” pungkasnya.***

---

Sumber foto: Ilustrasi Istockphoto dan Gemini

Administrator

Tahun Baru Hijriah Momentum Melahirkan Generasi Mahmudi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Tahun Baru Hijriah tidak seharusnya dimaknai hanya sebagai pergantian kalender Islam. Momentum hijrah perlu dijadikan sarana introspeksi dan perubahan diri menuju kehidupan yang lebih baik, baik secara spiritual, intelektual, maupun sosial.

Hal tersebut disampaikan Kaprodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Iim Ibrohim saat menjadi narasumber dalam Program Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat pada Senin (15/06/2026).

Menurutnya, hijrah yang dicontohkan Rasulullah SAW bukan sekadar perpindahan dari Makkah ke Madinah, melainkan proses transformasi diri untuk meraih ridha Allah SWT. Oleh karena itu, semangat hijrah harus diwujudkan melalui upaya membangun generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman.

“Hijrah adalah proses perubahan menuju kualitas diri yang lebih baik. Di dalamnya terdapat perjuangan, pengorbanan, kesabaran, dan komitmen untuk tetap berada di jalan Allah,” ujarnya.

Dalam kajian tersebut, Iim menegaskan bahwa ilmu merupakan fondasi utama peradaban Islam sekaligus warisan para nabi yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Oleh sebab itu, perjuangan di jalan Allah juga diwujudkan melalui kesungguhan dalam menuntut ilmu dan membina generasi penerus yang berkualitas.

Ia mengingatkan bahwa generasi muda saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari menurunnya semangat belajar hingga kecenderungan lebih mementingkan penampilan dibandingkan pengembangan kualitas diri. Karena itu, generasi muda perlu diarahkan untuk memperkuat ilmu, akhlak, dan spiritualitas.

Selain itu, perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), harus dimanfaatkan secara bijak sebagai sarana pembelajaran, bukan untuk melakukan kecurangan yang dapat merusak integritas dan karakter.

Sebagai solusi, Iim memperkenalkan konsep Generasi Mahmudi, yakni generasi yang berkarakter Qurani, amanah, rendah hati, santun, sabar, dan hidup sederhana. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kekuatan akhlak dan kedekatan kepada Allah SWT.

“Generasi yang kita harapkan bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan kokoh secara moral,” tegasnya.

Ia pun mengajak umat Islam menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum memperbaiki diri dan memperkuat pembinaan generasi. Menurutnya, masa depan umat dan bangsa sangat ditentukan oleh hadirnya generasi yang berilmu, jujur, amanah, dan istikamah dalam menjalankan nilai-nilai Islam.

“Hijrah harus melahirkan perubahan nyata. Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi berakhlak mulia dan siap melanjutkan perjuangan umat. Itulah Generasi Mahmudi yang menjadi harapan masa depan peradaban Islam,” pungkasnya.***

---

Sumber foto: Ilustrasi Istockphoto dan Gemini.

Administrator

Tips Praktis Agar Ketagihan Membaca Buku

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Agar semakin gemar membaca buku maupun e-book, yang dibutuhkan bukan sekadar niat. Namun, strategi yang membuat membaca menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Berikut beberapa tips praktis yang bisa diterapkan:

Mulai dari Buku yang Disukai

Jangan memaksakan membaca buku yang terlalu berat. Pilih tema yang sesuai minat, seperti agama, motivasi, sejarah Islam, bisnis, teknologi, atau novel inspiratif.

Tetapkan Target Kecil

Mulailah dengan target sederhana, misalnya 10 halaman per hari atau 15 menit membaca setiap hari. Target kecil lebih mudah dijalankan secara konsisten.

Manfaatkan Waktu Luang

Gunakan waktu menunggu, perjalanan, atau sebelum tidur untuk membaca e-book di ponsel atau tablet.

Selalu Bawa Bahan Bacaan

Simpan satu buku atau beberapa e-book di gawai sehingga kapan pun ada waktu kosong, Anda bisa langsung membaca.

Buat Jadwal Membaca Rutin

Misalnya, setelah subuh 15 menit. Sebelum tidur 20 menit. Membaca pada waktu yang sama setiap hari membantu membentuk kebiasaan.

Kurangi Distraksi

Saat membaca: Matikan notifikasi media sosial. Jauhkan aplikasi yang mengganggu fokus. Gunakan mode fokus pada smartphone.

Catat Poin Penting

Tuliskan kutipan, ide, atau pelajaran yang diperoleh. Cara ini membuat membaca lebih aktif dan mudah diingat.

Bergabung dengan Komunitas Literasi

Diskusi buku bersama teman atau komunitas akan meningkatkan motivasi untuk terus membaca.

Gunakan Metode "Sedikit Tapi Konsisten"

Membaca 10 halaman setiap hari lebih baik daripada 100 halaman sekaligus lalu berhenti berminggu-minggu.

Jadikan Membaca sebagai Ibadah

Bagi seorang muslim, membaca merupakan bagian dari tradisi keilmuan Islam. Wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah SAW adalah perintah "Iqra" (Bacalah). Dengan niat mencari ilmu yang bermanfaat, aktivitas membaca bernilai ibadah dan menjadi jalan menuju kemuliaan.

Kombinasikan Buku Cetak dan E-book

Saat di rumah gunakan buku cetak agar lebih fokus. Saat bepergian manfaatkan e-book agar tetap bisa membaca di mana saja.

Terapkan Ilmu yang Dibaca

Pengetahuan yang langsung dipraktikkan akan terasa lebih bermakna. Ketika merasakan manfaatnya, semangat membaca biasanya akan meningkat dengan sendirinya.

Kunci utamanya adalah konsistensi, bukan kecepatan. Membaca 15 menit setiap hari selama setahun akan menghasilkan pengetahuan yang jauh lebih besar daripada membaca berjam-jam tetapi hanya sesekali.

---

Sumber: Diolah dari ChatGPT

Foto: Istockphoto dan Gemini

Administrator