Berita

Satu Unggahan di Media Sosial Bisa Menjadi Amal atau Dosa

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Di era digital, informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah unggahan dapat menyebar ke jutaan orang, membentuk opini, bahkan memengaruhi keputusan publik.

Sayangnya, kecepatan itu juga diiringi meningkatnya penyebaran hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, fitnah, hingga manipulasi konten yang mengancam kehidupan sosial.

Fenomena tersebut semakin kompleks seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Konten berupa foto maupun video hasil rekayasa kini tampil semakin realistis sehingga sulit dibedakan dari kenyataan.

Di tengah situasi tersebut, literasi digital saja dinilai belum cukup. Masyarakat juga membutuhkan pedoman etika yang berlandaskan nilai-nilai agama agar mampu menyikapi informasi secara bijak.

Pandangan itu disampaikan Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Ayi Yunus Rusyana saat menjadi narasumber dalam Gerakan Subuh Mengaji (GSM) yang diselenggarakan Aisyiyah Jawa Barat.

Dalam kajian bertajuk Fikih Informasi, ia mengulas bagaimana Islam memberikan panduan dalam menerima, mengolah, dan menyebarkan informasi di tengah disrupsi digital.

Menurut Ayi, Muhammadiyah sebenarnya telah merumuskan pedoman etika bermedia sosial melalui Hasil Musyawarah Nasional Tarjih Muhammadiyah di Makassar pada 2018 yang kemudian ditanfidzkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Pedoman tersebut menjadi respons atas berbagai persoalan informasi yang terus berkembang di ruang digital.

Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi informasi merupakan nikmat dari Allah SWT yang seharusnya dimanfaatkan untuk menghadirkan kemaslahatan, bukan justru menjadi sarana menyebarkan kebohongan, kebencian, maupun fitnah.

"Perkembangan teknologi informasi adalah nikmat dari Allah SWT. Namun, nikmat itu harus digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan, bukan justru menjadi sarana menyebarkan kebohongan, kebencian, ataupun fitnah," ujarnya.

Ayi menjelaskan, media sosial telah mengubah setiap orang menjadi produsen sekaligus penyebar informasi. Jika dahulu masyarakat hanya mengandalkan radio, televisi, atau surat kabar, kini siapa pun dapat menyampaikan informasi kepada publik hanya melalui telepon pintar dalam hitungan detik.

Di sisi lain, kemajuan teknologi AI membuat masyarakat harus semakin berhati-hati. Berbagai konten visual yang beredar di media sosial tidak lagi mudah dibedakan antara yang asli dan hasil manipulasi.

"Sekarang teknologi AI mampu menghasilkan video yang tampak nyata. Karena itu kita tidak boleh mudah percaya hanya karena melihat sebuah video atau unggahan di media sosial," katanya.

Dalam perspektif fikih informasi, lanjut Ayi, aktivitas bermedia sosial bukan sekadar urusan teknologi, melainkan juga bagian dari tanggung jawab keagamaan.

Oleh karena itu, setiap informasi yang diterima maupun dibagikan harus berlandaskan tiga nilai utama, yakni tauhid, akhlak karimah, dan kemaslahatan.

Tauhid mengajarkan bahwa kebenaran sejati bersumber dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Akhlak karimah menjadi landasan etika dalam berkomunikasi, sedangkan kemaslahatan menuntut agar setiap informasi yang disebarkan benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat.

"Kalau sebuah informasi tidak sesuai dengan nilai tauhid, tidak memperkuat akhlak, dan tidak membawa kemaslahatan, maka tidak perlu dibaca apalagi disebarkan," tegasnya.

Ayi juga mengingatkan pentingnya budaya tabayun sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 6.

Menurutnya, sebelum membagikan informasi, masyarakat perlu melakukan tiga langkah penting, yakni klarifikasi kepada pihak yang berwenang, konfirmasi kepada sumber utama, dan komparasi dengan berbagai referensi yang kredibel.

"Jika kita belum mampu melakukan klarifikasi, konfirmasi, dan komparasi, maka sikap terbaik adalah tidak menyebarkan informasi tersebut," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Islam secara tegas melarang penyebaran hoaks, fitnah, ghibah, adu domba (namimah), maupun berbagai bentuk cyberbullying.

Perbuatan tersebut bukan hanya melanggar etika sosial, tetapi juga termasuk perbuatan haram karena merusak kehormatan manusia dan mengancam persatuan umat.

"Hoaks dan kebohongan hukumnya haram mutlak karena dapat menimbulkan keresahan, memecah persatuan, dan merusak kehidupan sosial," katanya.

Lebih jauh, Ayi mengajak masyarakat memanfaatkan media sosial sebagai ruang dakwah yang mencerdaskan dan mencerahkan.

Dalam Islam, informasi memiliki fungsi mendidik (at-ta'lim), memberikan pencerahan (at-tanwir), menjernihkan persoalan (at-tawdhih), memperbarui wawasan (at-tajdid), serta menghadirkan nasihat (an-nasihah).

Karena itu, ia mendorong warga Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk aktif membagikan ilmu pengetahuan, ringkasan kajian, dan berbagai konten edukatif sebagai bagian dari dakwah amar makruf nahi mungkar.

Sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah, UM Bandung, lanjut Ayi, memiliki tanggung jawab melahirkan lulusan yang tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi.

Namun, memiliki integritas, kemampuan berpikir kritis, dan tanggung jawab moral dalam memproduksi maupun menyebarkan informasi. 

Penguatan literasi digital Islami, menurutnya, harus menjadi bagian dari kontribusi kampus dalam menjawab tantangan perkembangan teknologi.

Menutup kajiannya, Ayi mengajak keluarga, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, hingga pemerintah untuk bersama-sama membangun budaya digital yang sehat melalui penguatan literasi, pembiasaan tabayun, dan penegakan hukum terhadap penyebar hoaks serta fitnah.

"Kita berharap setiap aktivitas bermedia sosial menjadi bagian dari amal saleh yang membawa manfaat, memperkuat persaudaraan, dan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT," pungkasnya.***

Administrator

Kuliah Profesi Apoteker di UM Bandung, Bekal Nyata Menuju Dunia Kerja

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Memilih kampus untuk melanjutkan pendidikan profesi menjadi salah satu keputusan penting bagi lulusan Sarjana Farmasi. Yang dicari bukan sekadar tempat kuliah, tetapi lingkungan belajar yang mampu membentuk kompetensi, karakter, sekaligus kesiapan menghadapi dunia kerja sebagai apoteker.

Pertimbangan itulah yang mengantarkan Zakiatun Nufus, lulusan cumlaude Program Studi Farmasi STIK Siti Khadijah Palembang dengan IPK 3,57, memilih Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung.

Bagi perempuan yang pernah menjadi asisten dosen tersebut, pendidikan profesi bukan sekadar mengejar gelar, melainkan bekal untuk menjadi tenaga kesehatan yang profesional dan siap mengabdi kepada masyarakat.

"Saya melihat dosen-dosen di UM Bandung memiliki latar belakang pendidikan yang sangat baik. Mayoritas merupakan lulusan perguruan tinggi negeri maupun swasta ternama di Indonesia. Itu menjadi salah satu alasan saya yakin kuliah di sini," ungkapnya di sela-sela PKPA di Rumah Sakit Jiwa Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (14/07/2026).

Keyakinan itu semakin bertambah setelah mengikuti perkuliahan. Menurut Kia, sapaan akrabnya, proses pembelajaran berlangsung interaktif. Dosen tidak hanya menyampaikan teori, tetapi berbagi pengalaman nyata di lapangan sehingga mahasiswa memiliki gambaran yang lebih utuh tentang tantangan profesi apoteker.

Selain kualitas dosen, fasilitas pembelajaran juga menjadi nilai tambah yang ia rasakan. Laboratorium yang lengkap serta sarana praktik yang terus dikembangkan membuat mahasiswa dapat mengasah keterampilan sejak dini sekaligus membangun rasa percaya diri sebelum terjun ke dunia kerja.

Hal lain yang menurut Zakia membedakan PSPPA UM Bandung adalah penguatan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Baginya, seorang apoteker tidak hanya dituntut menguasai ilmu kefarmasian, tetapi memiliki etika profesi dan tanggung jawab moral dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

"Menurut saya, itu yang menjadi keunggulan Prodi Apoteker UM Bandung. Kami tidak hanya belajar tentang obat dan pelayanan kefarmasian, tetapi dibekali pemahaman agama yang berkaitan dengan etika profesi. Bekal itu penting karena apoteker nantinya akan berhadapan langsung dengan masyarakat," tuturnya.

Persiapan mahasiswa sebelum memasuki dunia praktik pun menjadi pengalaman yang paling berkesan baginya. Sebelum menjalani PKPA, mahasiswa mendapatkan pembekalan akademik, penguatan materi, hingga simulasi yang membantu mereka lebih siap menghadapi berbagai kondisi di wahana praktik.

Saat ini, Zakia menjalani PKPA di Rumah Sakit Jiwa Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Dari Senin hingga Jumat, ia mengikuti berbagai aktivitas pelayanan kefarmasian sejak pagi hingga petang sebagai bagian dari proses pembentukan kompetensi profesional calon apoteker.

Tak hanya itu, persiapan menghadapi Ujian Kompetensi Apoteker Indonesia (UKAI) juga dilakukan secara bertahap. Dosen akademisi maupun dosen praktisi rutin mengadakan diskusi, pembahasan studi kasus, serta latihan soal sehingga mahasiswa memiliki bekal yang matang sebelum mengikuti ujian.

"Kami tidak dilepas begitu saja. Sebelum menjalani praktik maupun menghadapi UKAI, kami mendapat pembekalan, pendampingan, dan diskusi intensif bersama dosen. Proses itulah yang membuat kami lebih siap dan lebih percaya diri," ujar Zakia.

Menurutnya, peluang karier lulusan profesi apoteker masih sangat luas. Seorang apoteker dapat berkarier di rumah sakit, puskesmas, apotek, industri farmasi, pedagang besar farmasi, dinas kesehatan, hingga BPOM. Bahkan, kesempatan menjadi wirausaha dengan mendirikan apotek sendiri juga terbuka lebar setelah memenuhi ketentuan profesi.

Oleh karena itu, Zakia mengajak para lulusan Sarjana Farmasi yang masih ragu untuk segera melanjutkan pendidikan profesi.

"Kalau ingin berkarier sebagai apoteker, jangan ragu melanjutkan ke pendidikan profesi. Selain menjadi syarat legal untuk bekerja, peluang kariernya juga sangat luas. Bahkan, kita juga punya kesempatan membangun usaha sendiri di bidang farmasi," pesannya.

Bagi gadis asal Palembang yang hobi membaca, menyanyi, dan menonton itu, pengalaman belajar di PSPPA UM Bandung bukan hanya membantunya memperoleh kompetensi akademik,.

Namun, juga membentuk kepercayaan diri, etika, dan kesiapan menjadi apoteker profesional yang siap memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

Itulah alasan mengapa ia merasa telah menemukan lingkungan belajar yang tepat untuk mengawali perjalanan kariernya sebagai tenaga kesehatan.***

Administrator

Kehadiran Ayah Berpengaruh pada Rasa Aman Anak, Dosen UM Bandung Jelaskan Alasannya

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Rizka Saputri menilai gerakan ayah mengantar anak di hari pertama sekolah seharusnya tidak dipandang sebagai agenda seremonial tahunan.

Lebih dari itu, gerakan tersebut perlu menjadi pintu masuk untuk membangun budaya pengasuhan yang menempatkan ayah sebagai sosok yang hadir secara utuh dalam tumbuh kembang anak.

Menurut Rizka, kehadiran ayah pada hari pertama sekolah memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar mengantar anak ke gerbang sekolah.

Momen tersebut menjadi simbol keterlibatan ayah dalam proses pendidikan sejak usia dini, sekaligus upaya memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak.

Ia mengungkapkan, keterlibatan ayah dalam pengasuhan menjadi isu yang penting di Indonesia. Berdasarkan data UNICEF tahun 2021, Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dalam fenomena fatherless.

Oleh karena itu, Gerakan Ayah Mengantar Anak dinilai dapat menjadi salah satu langkah awal untuk mengurangi minimnya keterlibatan ayah dalam kehidupan anak.

"Gerakan ini penting karena bisa menjadi salah satu upaya meminimalisasi fenomena fatherless di Indonesia. Kehadiran ayah pada hari pertama sekolah bukan sekadar mengantar, tetapi menunjukkan bahwa ayah juga memiliki peran dalam pendidikan anak," ujarnya, di kampus UM Bandung, pada Senin (13/07/2026).

Rizka menjelaskan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan dapat berdampak pada perkembangan psikologis anak.

Anak berpotensi mengalami penurunan rasa percaya diri, berkurangnya rasa aman, hingga kesulitan membangun kemampuan sosial saat berinteraksi dengan lingkungan.

Menurutnya, hari pertama sekolah merupakan fase transisi yang tidak mudah bagi anak. Mereka memasuki lingkungan baru, bertemu guru dan teman-teman yang belum dikenal, sehingga membutuhkan dukungan emosional dari kedua orang tuanya, terutama ayah yang kehadirannya sering kali kurang optimal dalam proses pengasuhan.

"Anak kita sedang memasuki lingkungan yang baru. Nah, kehadiran ayah akan membantu menumbuhkan rasa percaya diri dan rasa aman sehingga anak lebih siap beradaptasi dengan lingkungan sekolah," katanya.

Rizka menegaskan, Gerakan Ayah Mengantar Anak akan memberikan dampak yang lebih besar apabila tidak berhenti sebagai kegiatan simbolis.

Hal yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang, dari sekadar menjadikan momen ini sebagai seremoni menjadi komitmen jangka panjang dalam pengasuhan.

Menurutnya, keterlibatan ayah seharusnya dimulai sejak masa kehamilan, seperti mendampingi ibu saat pemeriksaan kehamilan, memenuhi kebutuhan ibu, hingga hadir saat proses persalinan.

Peran tersebut kemudian berlanjut ketika anak lahir, mulai dari mendampingi proses pengasuhan, berbagi tanggung jawab merawat anak, hingga aktif mengikuti perjalanan pendidikan anak di sekolah.

"Bukan hanya mengantar di hari pertama sekolah. Ayah juga perlu mengetahui siapa guru anak, mengikuti perkembangan belajarnya, hadir saat pembagian rapor, dan bersama-sama mengevaluasi tumbuh kembang anak," jelasnya.

Ia menambahkan, dalam keluarga, ayah dan ibu memiliki peran yang saling melengkapi. Oleh karena itu, pengasuhan yang ideal tidak dapat dibebankan hanya kepada ibu, tetapi membutuhkan kolaborasi yang konsisten antara keduanya.

Rizka berharap Gerakan Ayah Mengantar Anak dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa pendidikan anak dimulai dari keluarga.

Semakin aktif keterlibatan ayah sejak usia dini, semakin besar pula peluang anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, memiliki kemampuan sosial yang baik, dan siap menghadapi berbagai tahapan perkembangan di masa depan.***(FA)

Administrator

UM Bandung Hadirkan Riset Berbasis Bukti demi Masa Depan Pertanian Berkelanjutan

UMBANDUNG.AC.ID, Klaten -- Regenerasi petani menjadi salah satu tantangan paling mendesak dalam pembangunan pertanian Indonesia.

Menurunnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor ini mendorong perlunya kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Namun, mampu menciptakan ekosistem pertanian yang lebih inovatif, adaptif, dan menarik bagi kaum muda.

Berangkat dari isu tersebut, tim dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung penerima Hibah BIMA Program Penelitian Dosen Pemula (PDP) Tahun 2026 tengah mengembangkan penelitian bertajuk "Evaluasi Kebijakan Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan pada Petani di Eks-Keresidenan Surakarta, Jawa Tengah."

Penelitian ini diarahkan untuk mengukur efektivitas implementasi kebijakan pertanian berkelanjutan sekaligus merumuskan rekomendasi kebijakan yang lebih responsif terhadap tantangan di lapangan.

Salah satu tahapan penelitian dilakukan melalui diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) bersama Komunitas Petani Muda Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (11/7/2026).

Forum tersebut menjadi ruang bagi para peneliti untuk menggali pengalaman, kebutuhan, dan perspektif petani muda sebagai aktor utama dalam transformasi sektor pertanian.

Diskusi turut melibatkan 25 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang sedang menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sumber.

Kehadiran mereka memperkaya proses penelitian melalui pertukaran perspektif akademik sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menghasilkan solusi berbasis kebutuhan lapangan.

Ketua tim peneliti, Mohammad Hilal Nu'man, mengatakan penelitian ini memiliki urgensi yang tinggi mengingat keberlanjutan sektor pertanian sangat ditentukan oleh kualitas kebijakan yang mampu menjawab tantangan regenerasi petani.

"Penelitian ini diharapkan menjadi bahan evaluasi terhadap kebijakan sistem budidaya pertanian berkelanjutan yang telah berjalan. Selain itu, hasil penelitian juga dapat menjadi rekomendasi kebijakan yang lebih adaptif, khususnya dalam mendorong keterlibatan generasi muda sebagai aktor utama pembangunan pertanian di masa depan," ujarnya.

Menurut Hilal, hasil kajian awal menunjukkan bahwa persoalan regenerasi petani bukan hanya menjadi tantangan di Jawa Tengah. Namun, dialami berbagai daerah di Indonesia, termasuk Bandung Raya, Jawa Barat.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa upaya menarik minat generasi muda ke sektor pertanian memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif daripada sekadar program pendampingan.

Ia menilai pembangunan pertanian berkelanjutan perlu didukung oleh kebijakan yang mengintegrasikan teknologi, digitalisasi, kewirausahaan, dan penguatan komunitas.

Pendekatan tersebut dinilai lebih sesuai dengan karakter generasi muda sekaligus mampu meningkatkan daya saing sektor pertanian di tengah perubahan sosial dan ekonomi.

Sebagai perguruan tinggi yang mengusung visi Islamic Technopreneurial University, UM Bandung memosisikan riset sebagai instrumen strategis dalam menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).

Melalui kolaborasi multidisiplin, penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan pertanian berkelanjutan, penguatan ketahanan pangan, serta penyusunan kebijakan yang lebih aplikatif bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan.

Penelitian ini dipimpin oleh Mohammad Hilal Nu'man (Ilmu Hukum) dengan anggota Rikki Maulana Yusup (Administrasi Publik), Abin Suarsa (Manajemen Keuangan Berkelanjutan), dan Eni Kusumawati (Agribisnis). Tim lapangan diperkuat oleh Mety Mediastuti Sofyan (Administrasi Publik) bersama Sukri Ramadhan (Manajemen Industri Pangan/Pertanian).***

Administrator

Roni Tabroni Sebut Jurnalisme Harus Menjadi Kekuatan Sosial di Tengah Disrupsi Digital

UMBANDUNG.AC.ID, Jakarta -- Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Roni Tabroni menegaskan bahwa jurnalisme harus melampaui fungsi konvensional sebagai penyampai informasi.

Di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap mengutamakan kecepatan dan sensasi, media dituntut menjadi kekuatan yang mampu menggerakkan kepedulian sosial, mendorong aksi nyata, dan menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat.

Gagasan tersebut ia tuangkan dalam buku terbarunya berjudul "Jurnalisme untuk Kemanusiaan" yang diluncurkan di Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini menegaskan bahwa buku tersebut merupakan pengembangan dari karya sebelumnya, Jurnalisme Filantropi, yang lebih banyak membahas kerangka konseptual dan akademik. 

Melalui buku terbaru ini, ia berupaya menjawab kebutuhan mahasiswa, akademisi, hingga praktisi media yang menginginkan panduan implementasi jurnalisme filantropi dalam praktik jurnalistik sehari-hari.

Ia menegaskan, jurnalisme filantropi tidak berhenti pada proses menyampaikan fakta kepada publik. Lebih dari itu, media harus mampu menghubungkan informasi dengan tindakan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Jurnalisme filantropi bukan sekadar menyampaikan fakta, melainkan menghubungkan informasi dengan aksi nyata untuk kemaslahatan publik," ujar Roni.

Atas dasar itu, buku Jurnalisme untuk Kemanusiaan menyajikan panduan praktis yang dapat diterapkan di ruang redaksi.

Mulai dari perencanaan liputan, pengumpulan data, penyusunan naskah, pembangunan ekosistem media, hingga model bisnis yang memungkinkan media tetap berkelanjutan tanpa kehilangan orientasi kemanusiaan.

Bagi Roni, media memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar mendokumentasikan peristiwa. Jurnalisme seharusnya mampu menggerakkan kepedulian publik sekaligus menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan sosial.

"Media yang baik bukan hanya menghadirkan informasi, tetapi mampu menggerakkan kepedulian dan menghadirkan solusi bagi masyarakat," katanya.

Roni juga menilai konsep jurnalisme filantropi bukanlah gagasan yang lahir dari ruang hampa. Paradigma tersebut berakar kuat pada nilai-nilai luhur bangsa Indonesia seperti gotong royong, tolong-menolong, dan semangat berbagi yang telah lama menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

"Jurnalisme filantropi lahir dari nilai-nilai Indonesia, gotong royong, tolong-menolong, dan semangat berbagi yang telah menjadi kekuatan bangsa sejak lama," tuturnya.

Menurut Komisioner KPID Jawa Barat periode 2020–2024 itu, predikat Indonesia sebagai salah satu negara paling dermawan di dunia merupakan modal sosial yang sangat besar untuk membangun praktik jurnalistik yang tidak hanya mengejar perhatian publik. Namun, memperkuat solidaritas dan mendorong perubahan sosial yang berkelanjutan.

Pemikiran Roni mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh media yang hadir dalam peluncuran buku tersebut. Di antaranya Direktur TVMu Makroen Sanjaya, Ketua Lazismu Ahmad Mujadid Rais, Pemimpin Redaksi CNN Indonesia Titin Rosmasari, dan Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Teguh Santosa.

Titin Rosmasari menilai jurnalisme dan kemanusiaan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, liputan mengenai persoalan publik harus mampu mendorong lahirnya kebijakan yang menyelesaikan masalah, bukan sekadar menghadirkan cerita yang menyentuh emosi.

Sementara itu, Teguh Santosa menegaskan bahwa nilai kemanusiaan memang menjadi fondasi utama jurnalisme. Ia mengingatkan agar media tidak hanya bekerja di hilir dengan memberitakan dampak suatu peristiwa.

Namun, berperan di hulu melalui fungsi mitigasi dengan mengawal kebijakan publik agar berbagai krisis kemanusiaan dapat dicegah sejak awal.***

Administrator

UM Bandung Bangun Kepemimpinan Transformatif Guna Tingkatkan Mutu Akademik

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung terus memperkuat fondasi kelembagaan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya kampus menghadapi perubahan dunia pendidikan tinggi yang semakin dinamis.

Memasuki usia satu dekade, UM Bandung memilih fokus pada penguatan tata kelola. Tujuannya bukan sekadar menjaga organisasi tetap berjalan. Kampus ingin mempercepat transformasi akademik sekaligus memperluas dampaknya bagi masyarakat.

Komitmen itu diwujudkan dengan memperkuat kepemimpinan di tingkat universitas dan fakultas. Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menetapkan Arief Yunan sebagai Sekretaris Universitas, Ia Kurnia sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Cecep Taufiqurrohman sebagai Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) untuk masa bakti 2026–2030.

Bagi UM Bandung, pergantian kepemimpinan bukan sekadar mengisi jabatan. Momentum ini menjadi bagian dari strategi kampus untuk mempercepat peningkatan mutu akademik, memperkuat tata kelola, dan memperluas kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat.

Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto mengatakan, jabatan adalah amanah. Setiap pemimpin harus bekerja dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan semangat melayani. Pemimpin kampus juga dituntut mampu menjadi motor penggerak perubahan, bukan hanya menjalankan fungsi administratif.

"Jabatan ini bukan sekadar kehormatan, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik kepada persyarikatan, institusi, maupun kepada Allah SWT. Oleh karena itu, mari kita bekerja dengan penuh integritas, profesionalisme, dan semangat melayani," ujarnya.

Menurut Herry, tantangan perguruan tinggi saat ini semakin kompleks. Karena itu, kampus membutuhkan tata kelola yang profesional, adaptif, dan akuntabel. Penguatan kepemimpinan menjadi salah satu kunci agar inovasi dan kualitas layanan akademik terus berkembang.

Ia juga mengingatkan bahwa kemajuan universitas tidak pernah lahir dari kerja satu orang. Keberhasilan hanya bisa dicapai melalui kolaborasi seluruh sivitas akademika.

"Keberhasilan universitas bukan ditentukan oleh satu orang, melainkan hasil kerja bersama seluruh elemen. Mari bangun kolaborasi, saling menguatkan, dan jadikan nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan sebagai ruh dalam setiap langkah pengabdian," katanya.

Selain memperkuat tata kelola, UM Bandung juga terus mendorong peningkatan mutu akademik, pengembangan riset, perluasan jejaring kerja sama, dan lahirnya inovasi yang berdampak. Seluruh kebijakan, kata Herry, harus memberi manfaat bagi mahasiswa, dosen, dan masyarakat.

Arah pengembangan tersebut sejalan dengan pertumbuhan UM Bandung dalam beberapa tahun terakhir. Sejak meraih akreditasi "Baik Sekali" dari BAN-PT pada 2024, kampus ini terus memperluas layanan akademiknya.

Saat ini UM Bandung memiliki lima fakultas, 18 program studi sarjana, satu program magister, serta Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker. Dalam waktu dekat, Program Magister Pendidikan Agama Islam juga akan segera melengkapi jenjang pendidikan di kampus tersebut.

Melalui penguatan tata kelola dan kepemimpinan, UM Bandung ingin membangun organisasi yang lebih lincah menghadapi perubahan. Targetnya bukan hanya meningkatkan daya saing kampus, tetapi juga menghadirkan pendidikan yang berkualitas, inovatif, dan memberi manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.***(HMA)

Administrator