Berita

Sivitas Prodi Manajemen Eratkan Silaturahmi dan Kekeluargaan

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sukses menyelenggarakan kegiatan Halal Bihalal bertajuk Antar Relasi Manajemen Optimal Nilai Islami (HARMONI) pada Sabtu (04/04/2026).

Acara yang berlangsung khidmat dan meriah di Auditorium Kiai Haji Ahmad Dahlan UM Bandung itu dihadiri oleh mahasiswa Program Studi Manajemen dari berbagai angkatan, jajaran dosen, serta para alumni.

Ketua Pelaksana Fahira Salsabila menjelaskan bahwa HARMONI merupakan program perdana HMM UM Bandung, sekaligus transformasi dari kegiatan sebelumnya yang bertajuk BERSINAR (Bersama Semarak Indahnya Ramadhan).

Kegiatan ini, menurutnya, lahir sebagai respons atas terbatasnya ruang interaksi dan silaturahmi antarmahasiswa Prodi Manajemen di tengah dinamika kesibukan akademik dan aktivitas organisasi masing-masing.

"Kegiatan ini menjadi sangat penting untuk menjaga dan mempererat tali silaturahmi dalam lingkungan organisasi, khususnya di lingkungan Prodi Manajemen," tegas Fahira.

Lebih dari sekadar seremonial, ia menegaskan bahwa HARMONI dirancang sebagai wadah strategis dalam membangun sinergi positif dan memperkuat ikatan kekeluargaan yang berkelanjutan antarmahasiswa Prodi Manajemen UM Bandung.

"Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai formalitas semata, melainkan benar-benar menjadi fondasi ikatan yang kuat dan berkesinambungan di antara kita semua," imbuhnya.

Senada dengan itu, Ketua HMM UM Bandung Faisal Taufiqurrohman menegaskan bahwa HARMONI merupakan media strategis dalam membangun silaturahmi, sekaligus momentum refleksi dan saling memaafkan bagi seluruh sivitas keluarga besar Manajemen UM Bandung.

"Dalam forum yang penuh keberkahan ini, saya mengajak seluruh peserta, tamu undangan, maupun dosen untuk membuka hati dan saling memaafkan dengan penuh keikhlasan," ujarnya.

Faisal juga menitipkan harapan besar kepada seluruh mahasiswa Prodi Manajemen agar konsisten menjalin silaturahmi secara langsung dan bersama-sama berkontribusi dalam mengangkat reputasi program studi.

"Saya berharap mahasiswa Manajemen mampu mengharumkan nama prodi sehingga secara kolektif dapat meningkatkan citra universitas agar sejajar dengan institusi-institusi pendidikan tinggi terkemuka lainnya," tandasnya.

Ketua Program Studi Manajemen UM Bandung Indra Sasangka turut menyampaikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia berharap semangat kolaborasi dan kebersamaan yang terbangun dalam HARMONI dapat menjadi budaya organisasi yang lestari di lingkungan Prodi Manajemen.

"Mulai hari ini dan ke depannya, semoga kalian selalu hadir satu sama lain, tidak ada sekat antarangkatan, dan tetap menjadi satu kesatuan yang solid dalam membangun silaturahmi," ungkap Indra.***(FK)

Administrator

Perguruan Tinggi Harus Berorientasi pada Penciptaan Lapangan Kerja

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas mendorong perguruan tinggi Muhammadiyah, khususnya Universitas Muhammadiyah Bandung, untuk merancang kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Menurutnya, langkah tersebut penting agar lulusan yang dihasilkan tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat luas.

Perguruan tinggi diharapkan menjadi motor penggerak lahirnya generasi mandiri dan produktif.

Dalam pandangannya, pengelolaan perguruan tinggi memiliki kemiripan dengan mengelola sebuah rumah makan, di mana kualitas pelayanan dan produk menjadi faktor utama dalam menarik minat masyarakat.

“Perguruan tinggi juga seperti itu. Kalau pelayanannya bagus, kurikulum, dan teaching learning process kita baik, maka orang-orang akan senang kepada kita,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan Pengajian Syawal yang digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan pada Kamis (02/04/2026).

Dalam kesempatan itu, Abbas menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan menjadi kunci utama dalam menghadapi persaingan global yang semakin ketat.

Ia menekankan bahwa pimpinan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam merancang kurikulum yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa masa kini.

Kurikulum harus bersifat dinamis dan mampu mengikuti perkembangan sosial, ekonomi, serta teknologi yang terus berubah.

Mengutip pandangan Ali bin Abi Thalib, Abbas mengingatkan pentingnya mendidik generasi sesuai dengan zamannya.

“Didiklah anak-anakmu, karena mereka hidup pada zaman yang bukan zaman kalian,” katanya, seraya mendorong keterlibatan mahasiswa dalam proses penyusunan kurikulum agar lebih responsif.

Ia menambahkan bahwa lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi pencipta lapangan kerja yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Saya berharap UM Bandung akan bisa melahirkan lulusan-lulusan pencipta lapang kerja, bukan hanya pencari lapang kerja,” ujarnya.

Kegiatan tersebut dihadiri seluruh sivitas akademika dan berlangsung hangat dengan nuansa kebersamaan.***(FA)

Administrator

Menginspirasi! Guru PAUD Berusia 77 Tahun Ini Tempuh Pendidikan di UM Bandung

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai kegiatan Pengajian Syawal dan Silaturahmi Bakda Idul Fitri 1447 Hijriah yang digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Bandung pada Kamis (02/04/2026).

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan saling memaafkan pasca-Idulfitri, tetapi juga menghadirkan kisah inspiratif yang menyentuh hati sivitas akademika. Salah satu momen yang paling berkesan adalah kehadiran seorang guru PAUD Aisyiyah yang menunjukkan semangat belajar luar biasa.

Dalam kesempatan itu, UM Bandung turut mengundang Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) sebagai bentuk penguatan sinergi antara dakwah dan pendidikan di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah.

Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto mengaku terharu saat mengetahui sosok inspiratif yang hadir, yakni Nur Fajriah. Ia merupakan mahasiswi Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Program Studi PIAUD asal Kota Bekasi yang tetap menempuh pendidikan di usia 77 tahun.

Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan apresiasi mendalam atas semangat tersebut. Ia menilai bahwa Nur Fajriah telah membuktikan bahwa konsep belajar sepanjang hayat bukan sekadar teori, melainkan praktik nyata yang dapat dijalani siapa saja tanpa batas usia.

Diketahui, Nur Fajriah memiliki pengalaman pengabdian sekitar tiga belas tahun di bidang pendidikan anak usia dini. Dedikasi dan semangatnya untuk terus belajar menjadi inspirasi bagi para peserta, khususnya guru-guru PAUD yang masih muda.

Dalam kesempatan tersebut, Nur Fajriah juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa agar tetap semangat dalam menempuh pendidikan. Menurutnya, usia bukanlah penghalang selama seseorang masih memiliki kesehatan fisik dan mental untuk belajar.

“Kalau menurut saya, kita niatkan belajar itu adalah untuk diri kita terlebih dahulu, kemudian juga untuk generasi yang akan datang. Namun, kita jalani dengan keikhlasan. Dengan keikhlasan, insyaallah semuanya akan berjalan dengan baik,” ujarnya.

Pesan tersebut disambut haru oleh para peserta dan menjadi motivasi tersendiri, terutama bagi mahasiswa yang hadir. Kisahnya menegaskan bahwa proses menuntut ilmu tidak mengenal batas usia dan harus terus dilakukan selama masih ada kesempatan.

Sementara itu, penceramah dalam kegiatan tersebut, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas, turut memberikan apresiasi atas semangat yang ditunjukkan Nur Fajriah. Ia bahkan memberikan “kadeudeuh” sebagai bentuk penghargaan dan dukungan atas dedikasi tersebut.

Apresiasi tersebut disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin yang memenuhi auditorium. Sosok Nur Fajriah pun tampak sehat dan bugar, menjadi bukti nyata bahwa semangat belajar dapat terus hidup meski usia tidak lagi muda.

Kegiatan Pengajian Syawal ini tidak hanya menjadi momentum silaturahmi, tetapi juga ruang refleksi bahwa pendidikan merupakan proses sepanjang hayat yang terbuka bagi siapa saja, serta dapat dijalani dengan keikhlasan sebagai bagian dari ibadah dan kontribusi bagi generasi mendatang.***(HMA)

Administrator

Muhammadiyah Harus Jadi Kekuatan Ekonomi Penentu Bangsa

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas menegaskan pentingnya penguatan sektor ekonomi sebagai bagian dari kemandirian umat. Ia mendorong Muhammadiyah untuk tidak hanya berfokus pada bidang pendidikan dan kesehatan, tetapi juga berani mengembangkan bisnis dan sektor ekonomi strategis.

Hal tersebut disampaikan Abbas saat mengisi pengajian Syawal di Auditorium KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung pada Kamis (02/04/2026). Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung kondisi global yang tengah dilanda ketidakpastian akibat konflik geopolitik yang berdampak pada krisis energi dan ekonomi dunia.

Menurut Abbas, terganggunya distribusi minyak dunia telah memicu kenaikan harga energi yang berdampak luas terhadap perekonomian global. Kondisi ini menyebabkan biaya produksi meningkat, harga barang melonjak, serta daya beli masyarakat menurun, yang pada akhirnya berimbas pada melemahnya investasi dan meningkatnya pengangguran.

Ia menilai, jika situasi tersebut tidak diantisipasi dengan baik, maka akan memicu persoalan sosial yang lebih luas, seperti meningkatnya angka kemiskinan dan kriminalitas. Oleh karena itu, diperlukan kesiapan dan kemandirian ekonomi, termasuk di tingkat nasional dan kelembagaan.

Dalam konteks Indonesia, Abbas menegaskan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh aspek politik dan militer, tetapi juga oleh penguasaan kapital. Menurutnya, kelompok yang memiliki kekuatan ekonomi akan sangat berpengaruh dalam menentukan arah kebijakan dan masa depan suatu negara.

Atas dasar itu, ia mendorong Muhammadiyah untuk mengambil peran lebih besar dalam pembangunan ekonomi. Menurutnya, organisasi tersebut perlu melakukan transformasi dengan memperkuat sektor bisnis agar mampu menjadi aktor penting dalam menentukan arah pembangunan bangsa.

Sebagai langkah konkret, Abbas menyinggung keterlibatan Muhammadiyah dalam pengelolaan sumber daya strategis sebagai upaya memperkuat kemandirian ekonomi. Ia menekankan bahwa pengelolaan tersebut harus dilakukan secara profesional, bertanggung jawab, serta tetap memperhatikan aspek kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Di sisi lain, Abbas juga menyoroti peran penting perguruan tinggi dalam mencetak generasi unggul di bidang ekonomi. Ia berharap kampus Muhammadiyah, termasuk UM Bandung, mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya menjadi pencari kerja. Namun, pencipta lapangan kerja melalui penguatan jiwa kewirausahaan serta kemampuan adaptasi terhadap perkembangan zaman.***

Administrator

Dadang Kahmad Ajak Umat Islam Tingkatkan Kepedulian dan Introspeksi Diri

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad mengajak umat Islam untuk memahami makna Halal Bihalal secara lebih mendalam.

Ia menegaskan bahwa tradisi tersebut tidak semestinya hanya dimaknai sebagai agenda seremonial tahunan pasca Idul Fitri, melainkan sebagai momentum memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas.

Dalam tausiah Halal Bihalal UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa (31/03/2026), Dadang menjelaskan bahwa tradisi Halal Bihalal di masyarakat Jawa Barat memiliki tiga unsur utama. 

“Dalam tradisi masyarakat Jawa Barat, Halal Bihalal tidak lepas dari tiga unsur utama. Apa saja? Yakni silaturahmi, tausiah, dan kebersamaan, termasuk di dalamnya makan bersama,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dadang menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan ketakwaan sebagaimana terkandung dalam nilai Surah Al-Anfal ayat 29.

Ia menyebut bahwa kehidupan sosial yang sehat harus dibangun di atas fondasi kesabaran, sikap saling memaafkan, serta menjauhi rasa dendam.

Mengutip sumber dari Humas UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dadang juga menyoroti pentingnya kejujuran dalam kehidupan bermasyarakat.

“Bekerjalah dengan kejujuran. Dalam sistem sosial kita tidak boleh ada dusta di antara kita, agar tercipta kehidupan yang harmonis dan membahagiakan,” katanya.

Ia turut membagikan pengalamannya saat berkunjung ke sejumlah negara seperti Selandia Baru, Swedia, dan Singapura.

Menurutnya, negara-negara tersebut menunjukkan praktik nilai-nilai keislaman yang kuat dalam kehidupan sosial, meskipun bukan negara dengan mayoritas penduduk muslim.

Mantan Direktur Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu berharap sivitas akademika dan umat Islam dapat terus meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT, memperkuat kepedulian sosial melalui sikap dermawan, serta berani mengakui kesalahan.

“Orang yang hebat adalah mereka yang mampu mengakui kesalahannya dan tidak merasa paling benar,” imbuh Dadang, yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Pembina Harian Universitas Muhammadiyah Bandung.

Menutup tausiahnya, Guru Besar Sosiologi tersebut mengajak umat Islam untuk menjadikan Halal Bihalal sebagai titik awal perubahan diri ke arah yang lebih baik.

“Selamat mengikuti Halal Bihalal. Mari menjadi pribadi yang hebat, bermanfaat, dan terbaik bagi sesama,” pungkasnya.***

_____

Sumber teks dan foto: uinsgd.ac.id

Administrator

Gunakan AI dengan Cerdas, Verifikasi Tetap Jadi Kunci Utama

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Dosen prodi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Ahmad Suryan menyoroti pentingnya peran sekaligus etika dalam penggunaan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang kini semakin lekat dengan aktivitas digital generasi muda.

Menurutnya, AI memiliki keunggulan dalam hal kecepatan pencarian informasi serta kemampuan mengolah dan merangkai data secara sistematis.

Namun, di balik kemudahan tersebut, teknologi ini tetap menyimpan potensi risiko apabila digunakan tanpa dilandasi etika yang kuat.

Ahmad menjelaskan bahwa meskipun AI mampu meningkatkan efisiensi dalam berbagai pekerjaan, pengguna tetap perlu berhati-hati terhadap kemungkinan munculnya informasi yang keliru, terutama jika sumber yang digunakan tidak kredibel.

Ia menegaskan bahwa niat positif menjadi fondasi utama dalam memanfaatkan teknologi ini agar tidak disalahgunakan.

Selain itu, pengguna juga diingatkan untuk tidak sepenuhnya bergantung pada kecanggihan AI.

“Menggunakan AI harus dilandasi niat yang baik dan tujuan yang positif agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain,” ujar Ahmad, dikutip dari kanal YouTube UM Bandung, Selasa (31/03/2026).

Dalam hal pencarian informasi, Ahmad mengimbau masyarakat agar tidak menjadikan AI sebagai satu-satunya rujukan, terlebih dalam persoalan penting seperti keagamaan.

Ia menyarankan agar setiap informasi yang dihasilkan AI tetap diverifikasi kepada pihak yang kompeten guna menghindari kesalahpahaman.

“Khusus dalam urusan agama, kita harus tetap bertanya kepada ahlinya seperti ulama atau kiai dan tidak menelan mentah-mentah hasil rangkuman AI,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ahmad juga membagikan tips teknis agar penggunaan AI lebih optimal, yakni dengan memberikan perintah atau pertanyaan yang spesifik agar hasil yang diperoleh lebih akurat.

Ia menambahkan, mengarahkan AI untuk merujuk pada sumber resmi, seperti situs Muhammadiyah dalam konteks ibadah, dapat membantu meminimalisir kesalahan informasi.

“Berikanlah perintah yang spesifik kepada AI agar informasi yang ditarik berasal dari sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.

Sebagai penutup, Ahmad menekankan pentingnya sikap kritis dan tanggung jawab sebelum menyebarluaskan konten yang dihasilkan AI ke ruang publik.

Ia berharap kemudahan akses informasi melalui teknologi ini justru mampu meningkatkan literasi digital masyarakat secara lebih bijak.

“Mari kita jadikan AI sebagai alat bantu yang bermanfaat dengan tetap mengedepankan verifikasi agar tidak menjadi sarana penyebaran informasi yang keliru,” tandasnya.***(FK)

Sumber Foto: Istockphoto

Administrator