Berita

Pangan Lokal Tak Sekadar Tradisi, Tapi Solusi Kesehatan dan Ketahanan Pangan Bangsa

UMBANDUNG.COM, Bandung -- Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang melimpah dan berpotensi besar menjadi fondasi bagi kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat kedaulatan pangan nasional.

Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal karena pola konsumsi masyarakat semakin bergeser ke arah pangan ultraolahan (ultra-processed food) dan produk impor.

Hal itu disampaikan Dosen Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sekaligus Ketua Halal Center UM Bandung Dr Saepul Adnan MSi saat menjadi narasumber dalam Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat pada Rabu lalu.

Menurut Saepul, Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi di dunia. Kekayaan tersebut tidak hanya tercermin dari keanekaragaman flora dan fauna.

Namun, beragam komoditas pangan lokal yang tersebar di berbagai daerah dengan karakteristik dan keunggulan masing-masing.

Ironisnya, di tengah kekayaan hayati tersebut, masyarakat justru semakin meninggalkan pangan tradisional dan lebih memilih makanan yang telah melalui proses industri panjang.

Padahal, semakin tinggi tingkat pengolahan suatu makanan, semakin besar pula risiko hilangnya kandungan gizi alami serta meningkatnya penggunaan bahan tambahan pangan.

"Semakin jauh makanan dari bentuk aslinya, maka semakin besar pula risiko yang perlu kita waspadai. Sudah saatnya kita kembali mengenal, mencintai, dan memanfaatkan pangan lokal sebagai bagian dari gaya hidup sehat," ujarnya.

Saepul menjelaskan bahwa pangan lokal tidak semata-mata berfungsi sebagai sumber energi atau karbohidrat.

Lebih dari itu, pangan lokal merupakan bagian dari identitas budaya bangsa, hasil kearifan masyarakat yang diwariskan lintas generasi, sekaligus anugerah Allah SWT yang harus dijaga, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Ia menyoroti fenomena yang cukup paradoks. Ketika masyarakat Indonesia mulai meninggalkan pangan tradisional, berbagai negara justru mengembangkan artisan food.

Yakni produk pangan yang diolah secara alami dengan mengutamakan kualitas bahan baku, nilai gizi, dan keberlanjutan.

Oleh karena itu, Saepul mendorong masyarakat untuk mulai menerapkan diversifikasi pangan.

Menurutnya, ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai sumber pangan utama perlu dikurangi dengan memanfaatkan berbagai komoditas lokal yang tidak kalah bernilai gizi.

Indonesia memiliki banyak sumber pangan alternatif, seperti hanjeli, sorgum, ganyong, gadung, porang, umbi garut, hingga gembili yang berpotensi mendukung pola konsumsi yang lebih sehat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

"Kebergantungan terhadap satu jenis pangan bukan hanya meningkatkan kerentanan terhadap krisis pangan, tetapi mengurangi keberagaman asupan gizi masyarakat. Diversifikasi pangan menjadi langkah penting untuk menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan," jelasnya.

Saepul mencontohkan Jawa Barat sebagai salah satu daerah yang memiliki kekayaan pangan lokal sangat melimpah.

Kondisi geografis yang beragam, mulai dari wilayah pesisir, pegunungan, lembah, hingga dataran rendah, memungkinkan tumbuhnya berbagai komoditas yang memiliki potensi ekonomi maupun kesehatan.

Selain kaya nutrisi, sejumlah pangan lokal juga memiliki sifat fungsional yang bermanfaat bagi tubuh.

Gadung, misalnya, mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antioksidan, antidiabetes, dan antiinflamasi apabila diolah dengan benar.

Ganyong memiliki kandungan serat dan amilosa yang tinggi sehingga baik untuk membantu mengendalikan kadar gula darah.

Sementara itu, umbi garut dapat diolah menjadi beras analog dengan indeks glikemik rendah yang berpotensi menjadi alternatif pangan bagi penderita diabetes.

Adapun gembili mengandung prebiotik alami, seperti inulin dan glukomanan, yang bermanfaat menjaga kesehatan saluran pencernaan.

Meski demikian, Saepul menilai tantangan terbesar dalam pengembangan pangan lokal bukan terletak pada ketersediaan bahan baku, melainkan pada aspek hilirisasi.

Pengembangan teknologi pengolahan, penguatan rantai pasok, peningkatan investasi, dan perluasan akses pasar menjadi faktor penting agar pangan lokal mampu bersaing dengan produk modern.

Ia menegaskan bahwa industrialisasi pangan lokal tidak selalu identik dengan pembangunan pabrik berskala besar.

Pengembangannya dapat dimulai dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), komunitas masyarakat, hingga kolaborasi antardaerah yang tetap menjaga karakter dan nilai budaya lokal.

"Yang terpenting adalah bagaimana pangan lokal memiliki nilai tambah, berkualitas, aman dikonsumsi, mampu bersaing di pasar, tetapi tetap mempertahankan identitas dan keunikannya," katanya.

Sebagai bentuk komitmen terhadap pengembangan pangan lokal, UM Bandung telah menghadirkan Teaching Factory sebagai laboratorium inovasi yang mengembangkan berbagai produk berbasis komoditas lokal.

Beragam hasil penelitian, mulai dari roti berbahan hanjeli, produk berbasis sorgum, hingga inovasi aneka umbi lokal terus dikembangkan agar mampu menjawab kebutuhan industri sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Menurut Saepul, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai penghasil riset, teknologi, dan inovasi, sedangkan masyarakat menjadi mitra utama dalam proses produksi, pengembangan usaha, hingga hilirisasi hasil penelitian.

Kolaborasi antara kampus, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, lanjutnya, menjadi kunci agar inovasi pangan lokal tidak berhenti di laboratorium.

Namun, mampu memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pada kesempatan itu, Saepul juga mengajak masyarakat untuk kembali menggali potensi pangan khas daerah masing-masing.

Pengetahuan lokal dan pengalaman masyarakat dinilai menjadi sumber informasi yang sangat berharga bagi pengembangan riset pangan di masa depan.

"Kita tidak bisa membangun generasi unggul hanya melalui pendidikan. Generasi yang sehat lahir dari pangan yang bergizi, beragam, dan berasal dari kekayaan negeri sendiri," imbuhnya.

Oleh karena itu, mencintai pangan lokal sejatinya merupakan bagian dari ikhtiar membangun masa depan bangsa sekaligus mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia," pungkasnya.***(FA)

Administrator

Marketing Masa Kini Bukan Sekadar Promosi, tetapi Penggerak Pertumbuhan Bisnis

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Perkembangan teknologi, digitalisasi, dan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah kebutuhan dunia kerja. Oleh karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan prestasi akademik, tetapi harus membangun kompetensi yang relevan dengan tuntutan industri sejak di bangku kuliah.

Pesan tersebut disampaikan Indra Setya Pratama dalam materi "Navigasi Karier Marketing di FMCG Manufaktur" pada kegiatan Literasi Karier yang diselenggarakan Duta Literasi Manajemen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung pada Kamis (02/07/2026).

Indra mengatakan, peran marketing kini telah bergeser dari sekadar mempromosikan produk menjadi penggerak utama pertumbuhan bisnis, inovasi, hingga ekspansi perusahaan.

"Marketing tidak lagi hanya berfokus pada promosi produk, tetapi menjadi motor penggerak pertumbuhan perusahaan yang menghasilkan dampak nyata," ujarnya.

Menurutnya, industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG) menghadapi perubahan besar akibat digitalisasi pasar, perubahan perilaku konsumen, dan persaingan yang semakin ketat.

Kondisi tersebut menuntut perusahaan memiliki talenta yang mampu berpikir strategis, menguasai data, serta cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Ia menambahkan, marketer masa kini juga harus mampu menghubungkan kebutuhan konsumen dengan pengembangan produk dan proses produksi melalui kolaborasi bersama tim sales, supply chain, hingga research and development (R&D).

Dalam paparannya, Indra memperkenalkan tiga jalur karier utama di bidang marketing FMCG. Pertama, Brand-Centric Career yang berfokus pada pengembangan merek. 

Kedua, Digital & Data Career yang menitikberatkan pada analisis data dan pemanfaatan AI. Ketiga, Commercial & Growth Career yang berorientasi pada strategi bisnis dan pengembangan pasar.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kompetensi masa depan. Misal seperti kemampuan berpikir strategis, literasi digital dan data, memahami perilaku konsumen, kemampuan berkolaborasi lintas fungsi, adaptif terhadap perubahan, serta menerapkan praktik pemasaran yang etis dan berkelanjutan.

"Membangun karier tidak dimulai setelah wisuda, tetapi sejak masih menjadi mahasiswa. Setiap pengalaman organisasi, proyek, magang, hingga pengembangan keterampilan merupakan investasi untuk menjadi profesional yang siap bersaing," tegasnya.

Indra mendorong mahasiswa aktif mengikuti proyek nyata, menguasai berbagai perangkat digital, dan mengambil sertifikasi profesional untuk meningkatkan daya saing.

Menurutnya, marketing FMCG bukan sekadar profesi menjual produk, melainkan jalur menuju kepemimpinan bisnis yang mampu menghadirkan inovasi dan membawa perusahaan tumbuh secara berkelanjutan.

Dengan bekal kompetensi yang tepat, generasi muda Indonesia memiliki peluang besar untuk bersaing di tingkat regional maupun global.***

Administrator

Himakom UM Bandung Hadirkan Festival Komunikasi yang Lebih Inovatif

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sukses menggelar Communication Festival (Comfest) sebagai ajang kolaborasi, kreativitas, dan silaturahmi mahasiswa Ilmu Komunikasi se-Bandung Raya.

Acara ini berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, pada Kamis (02/07/2026).

Mengusung tema "Bersatu Bersama Komunikasi", Comfest menjadi transformasi dari kegiatan Ilkom Mencari Bakat (IMB). Tidak hanya menghadirkan kompetisi, festival ini memadukan unsur seni, kerohanian, dan pengembangan kapasitas mahasiswa.

Sejumlah kampus turut berpartisipasi dalam kegiatan ini, di antaranya Tel-U, Unisal, UPI, UBK, Unla, UIN, dan UKRI. Sasaran kegiatan ini adalah seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi di wilayah Bandung Raya agar dapat saling mengenal, berjejaring, dan berkolaborasi.

Ketua Pelaksana Comfest Rakha Mustafa mengatakan perubahan konsep tersebut bertujuan memperluas ruang kolaborasi antarmahasiswa Ilmu Komunikasi agar dapat saling mengenal, membangun jejaring, dan bertukar pengalaman.

"Kami berharap Comfest tidak berhenti sampai di sini, tetapi dapat diselenggarakan secara bergilir di berbagai kampus sehingga menjadi agenda kolaboratif mahasiswa Ilmu Komunikasi se-Bandung Raya," ujarnya.

Festival ini dimeriahkan dengan berbagai kompetisi dan pertunjukan seni, termasuk turnamen Mobile Legends yang diikuti mahasiswa lintas kampus.

Salah seorang mahasiswa UKRI yang berhasil meraih prestasi mengaku bangga atas pencapaiannya. "Prestasi akan datang jika sesuatu ditekuni dengan serius dan sungguh-sungguh," katanya.

Antusiasme peserta juga terlihat saat menyaksikan berbagai penampilan seni. Salah seorang pengunjung mengaku tertarik datang untuk menyaksikan penampilan Tricrikal dan grup band yang tampil.

"Penampilan Tricrikal menjadi bagian yang paling menarik bagi saya," ungkapnya seraya berharap Comfest dapat terus berkembang dengan melibatkan lebih banyak perguruan tinggi.

Dukungan terhadap Comfest juga datang dari Wakil Presiden BEM UM Bandung Fajar Abidin yang menilai festival tersebut menjadi contoh kegiatan kemahasiswaan yang mampu memperkuat kolaborasi sekaligus menginspirasi organisasi mahasiswa lainnya.

Sementara itu, Kaprodi Ilmu Komunikasi UM Bandung Agung Tirta Wibawa berharap Comfest dapat berkembang dari tingkat Bandung Raya menjadi agenda berskala nasional.

Menurutnya, festival ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kreativitas, kompetensi, dan prestasi di bidang komunikasi serta digital.

"Comfest menjadi ajang silaturahmi sekaligus menunjukkan kreativitas mahasiswa dalam menghadirkan kegiatan yang bermanfaat," tuturnya.

Senada dengan itu, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM Bandung Ijang Faisal menegaskan bahwa mahasiswa perlu belajar tidak hanya di ruang kelas.

Namun, bisa juga melalui pengalaman berorganisasi dan kegiatan kolaboratif yang mampu mengasah kepemimpinan, komunikasi, dan kemampuan bekerja sama.***(Bewara)

Administrator

UM Bandung Perkuat Kesadaran Mahasiswa Mengawal Tata Kelola Pemerintahan yang Akuntabel

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung terus memperkuat komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik. Namun, memiliki kepedulian terhadap tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik. 

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kuliah umum bertajuk "Pengenalan Ombudsman dan Sinergi Kolaborasi Kampus dengan Ombudsman" yang diselenggarakan bersama Ombudsman RI di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung pada Kamis (02/07/2026).

Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora UM Bandung Irianti Usman yang mewakili Rektor UM Bandung mengatakan bahwa kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa.

Mahasiswa bisa berdiskusi untuk memahami pentingnya pengawasan terhadap pelayanan publik sebagai bagian dari tanggung jawab warga negara.

Menurutnya, Ombudsman merupakan mitra strategis dalam memastikan kualitas pelayanan publik, baik di lingkungan pemerintah maupun sektor swasta.

Oleh karena itu, mahasiswa perlu memahami tugas dan fungsi Ombudsman sekaligus mengambil peran dalam mendukung terciptanya pelayanan publik yang profesional, transparan, dan berkeadilan.

"Kuliah umum ini menjadi momentum bagi mahasiswa untuk mengetahui bagaimana mereka dapat menjadi bagian dari upaya Ombudsman dalam mengawasi dan meningkatkan kualitas pelayanan publik di Indonesia," ujar Irianti.

Pelaksana Tugas Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Jawa Barat Fitry Agustine mengapresiasi komitmen UM Bandung dalam membangun kolaborasi dengan Ombudsman RI.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam melahirkan gagasan, inovasi, dan sumber daya manusia yang berintegritas guna mendukung tata kelola pemerintahan yang baik.

Ia berharap mahasiswa UM Bandung mampu menjadi generasi yang memiliki kepedulian terhadap pelayanan publik serta berkontribusi dalam menciptakan pemerintahan yang bersih melalui pengawasan yang partisipatif.

Sementara itu, Anggota Ombudsman RI, Maneger Nasution, menjelaskan bahwa pelayanan publik merupakan hak dasar setiap warga negara sekaligus indikator kualitas penyelenggaraan pemerintahan.

Namun, berbagai persoalan seperti pelayanan yang lambat, informasi yang tidak jelas, hingga praktik maladministrasi masih menjadi tantangan yang perlu dibenahi.

Menurutnya, Ombudsman RI hadir sebagai lembaga negara independen yang bertugas menerima dan menindaklanjuti laporan masyarakat, melakukan investigasi, mencegah maladministrasi, serta memberikan rekomendasi perbaikan terhadap sistem pelayanan publik.

Nasution juga menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa sebagai agen perubahan. Selain menjadi calon pemimpin bangsa, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai inovator, peneliti, edukator, sekaligus mitra kritis pemerintah dalam mendorong terwujudnya pelayanan publik yang lebih berkualitas.

Melalui kolaborasi antara UM Bandung dan Ombudsman RI, diharapkan lahir generasi muda yang berintegritas dan memiliki kesadaran terhadap pentingnya pengawasan pelayanan publik.

Mereka juga diharapkan mampu berkontribusi dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.***

Administrator

Tak Sekadar Asal Penciptaan, Dosen UM Bandung Kupas Makna Mendalam Tanah dalam Al-Qur'an

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Al-Qur'an menyebut manusia diciptakan dari tanah. Namun, penyebutan "tanah" dalam kitab suci itu tidak menggunakan satu istilah saja.

Beragam kata yang digunakan mengandung makna filosofis, psikologis, sosial, dan spiritual yang menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak diciptakan hingga menjalani kehidupan.

Hal tersebut disampaikan Dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sekaligus Ketua DKM Masjid Raya Mujahidin PWM Jawa Barat Ihsan Imaduddin dalam kajian Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat bertajuk "Menyelami Variasi Kata Tanah sebagai Bahan Pencipta Manusia dalam Al-Qur'an", Selasa lalu.

Menurut Ihsan, Al-Qur'an tidak sekadar menjelaskan asal-usul biologis manusia, tetapi juga menghadirkan pelajaran mendalam tentang pembentukan karakter, relasi sosial, hingga tujuan hidup manusia.

Hal itu tergambar melalui berbagai istilah yang digunakan Al-Qur'an untuk menyebut tanah.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam QS Al-Mu'minin ayat 12, "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah."

Menurutnya, setiap istilah memiliki pesan yang berbeda dan saling melengkapi dalam menjelaskan hakikat penciptaan manusia.

"Penggunaan berbagai istilah tanah dalam Al-Qur'an bukan sekadar variasi bahasa. Setiap kata menggambarkan karakter, tahapan pembentukan manusia, sekaligus proses perjalanan hidupnya," ujar Ihsan.

Ia menjelaskan, istilah thin atau tanah liat sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Isra ayat 61 menggambarkan fase awal kehidupan manusia yang masih lentur dan mudah dibentuk.

Fase ini menjadi simbol fitrah manusia yang suci serta pentingnya pendidikan dan lingkungan yang baik dalam membentuk karakter.

Sementara itu, thin lazib atau tanah liat yang lengket dalam QS Ash-Shaffat ayat 11 mengajarkan pentingnya ikatan sosial melalui kasih sayang, persaudaraan, dan gotong royong.

Namun, manusia juga diingatkan agar tidak terlalu melekat pada kenikmatan dunia hingga melupakan tujuan hidup yang hakiki.

Istilah sulalah yang berarti sari pati atau esensi terbaik dari tanah dalam QS Al-Mu'minin ayat 12 menunjukkan bahwa setiap manusia dianugerahi potensi terbaik oleh Allah SWT.

Potensi tersebut harus dikembangkan melalui ilmu, amal saleh, dan akhlak mulia agar memberi manfaat bagi sesama.

Adapun shalshal, yaitu tanah kering seperti tembikar yang disebut dalam QS Ar-Rahman ayat 14, melambangkan fase kedewasaan.

Pada tahap ini manusia dituntut memiliki prinsip hidup yang kuat, tetapi tetap terbuka terhadap nasihat dan perubahan menuju kebaikan.

Sementara turaab atau pasir dalam QS Ar-Rum ayat 20 mengingatkan bahwa manusia berasal dari sesuatu yang sederhana dan pada akhirnya akan kembali menjadi tanah.

Kesadaran tersebut menjadi landasan lahirnya sikap tawadu serta menjauhkan manusia dari kesombongan.

Makna yang tak kalah mendalam terdapat pada istilah hama'in masnun, yakni tanah hitam yang telah dibentuk sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Hijr ayat 26.

Menurut Ihsan, istilah ini menggambarkan proses pembentukan karakter melalui berbagai pengalaman hidup, termasuk kegagalan, luka, dan ujian.

"Apabila disikapi dengan benar, setiap ujian justru menjadi sarana pendewasaan yang membentuk pribadi lebih tangguh, arif, dan dekat kepada Allah SWT," jelasnya.

Ihsan menegaskan bahwa manusia merupakan makhluk yang utuh dengan dimensi fisik, psikologis, sosial, dan spiritual yang saling berkaitan.

Oleh karena itu, memahami asal-usul penciptaan manusia tidak cukup berhenti pada aspek tekstual, melainkan harus melahirkan kesadaran untuk menjaga kelembutan hati, memperkuat hubungan sosial, mengembangkan potensi diri, serta menjadikan setiap pengalaman hidup sebagai jalan mendekat kepada Allah SWT.

Ia pun mengajak umat Islam untuk menggali kekayaan makna Al-Qur'an secara lebih mendalam.

Menurutnya, enam variasi kata "tanah" bukan hanya menunjukkan keindahan bahasa Al-Qur'an, tetapi menjadi peta perjalanan manusia.

Mulai dari fitrah yang suci, membangun kepedulian sosial, mengembangkan potensi, menempa kedewasaan, menjaga kerendahan hati, hingga menjadikan setiap ujian sebagai proses pembentukan karakter.

"Memahami Al-Qur'an tidak cukup hanya pada makna harfiahnya, tetapi perlu menggali hikmah yang mampu membentuk manusia menjadi pribadi yang beriman, berilmu, rendah hati, serta senantiasa memberikan manfaat bagi sesama," pungkasnya.***(HMA)

Administrator

Budaya Mutu dan AIK Menjadi Fondasi UM Bandung Menuju Perguruan Tinggi Unggul

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Herry Suhardiyanto resmi melantik Ayi Yunus Rusyana sebagai Wakil Rektor I UM Bandung masa jabatan 2026–2029 pada Rabu (01/07/2026).

Ayi menggantikan Hendar Riyadi dan akan mendampingi rektor bersama jajaran pimpinan lainnya dalam menjalankan roda organisasi sesuai arah pengembangan yang telah ditetapkan.

Ayi menegaskan komitmennya untuk bersinergi dengan seluruh pimpinan dalam mempercepat terwujudnya UM Bandung sebagai perguruan tinggi unggul sebagaimana diamanatkan Persyarikatan Muhammadiyah.

Menurutnya, seluruh program strategis akan dijalankan secara terarah agar target tersebut dapat dicapai dalam waktu yang secepat-cepatnya.

Usai dilantik, Ayi memaparkan sejumlah program prioritas yang akan menjadi fokus kerjanya selama masa bakti hingga 2029.

Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kualitas akademik, budaya mutu, dan implementasi nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK).

Prioritas pertama adalah melakukan pembenahan dan pengembangan bidang akademik. Terutama melalui penguatan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE).

Ia menekankan, implementasi kurikulum OBE harus berjalan secara optimal agar mampu menghasilkan lulusan yang unggul, berkarakter Islami, dan memiliki jiwa technopreneur yang mampu menjawab tantangan zaman.

Prioritas kedua adalah peningkatan mutu institusi. Ayi berharap UM Bandung mampu membangun dan menjaga budaya mutu secara konsisten sehingga target menjadi kampus unggul, sebagaimana disampaikan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Rektor, dan PWM Jawa Barat, dapat segera terwujud.

Menurutnya, kerja keras, kolaborasi, dan komitmen terhadap budaya mutu harus menjadi karakter yang melekat pada seluruh sivitas akademika UM Bandung.

Prioritas ketiga adalah penguatan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK). Ia menekankan bahwa AIK tidak cukup dipahami sebagai pengetahuan semata.

Namun, harus diinternalisasikan dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari sehingga menjadi jiwa dan ruh seluruh sivitas akademika UM Bandung.

"Tiga hal inilah yang akan kami terus laksanakan dalam beberapa tahun ke depan untuk mewujudkan UM Bandung sebagai kampus unggul," tegas Ayi.

"Saya juga mohon dukungan dan doa dari seluruh sivitas agar program ini dapat dilaksanakan secara maksimal sesuai harapan kita bersama," tandasnya.

Pelantikan yang berlangsung khidmat di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Lantai 3 Gedung UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Kota Bandung, tersebut dihadiri berbagai unsur penting Persyarikatan Muhammadiyah.

Hadir dalam kesempatan itu Ketua PP Muhammadiyah sekaligus Ketua BPH UM Bandung Dadang Kahmad, Anggota Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Achmad Nurmandi, Sekretaris BPH UM Bandung Dadang Syaripudin, Ketua PWM Jawa Barat Ahmad Dahlan, Sekretaris PWM Jawa Barat Iu Rusliana, para dekan, ketua program studi, dan sivitas akademika UM Bandung.***

Administrator