Berita

Akreditasi Unggul dan Prospek Luas, Bioteknologi UM Bandung Layak Masuk Daftar Pilihanmu

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Memilih jurusan kuliah memang tidak mudah. Banyak calon mahasiswa bingung menentukan pilihan karena ingin kuliah di tempat yang bukan hanya memberikan ilmu, tetapi mampu membuka peluang karier di masa depan.

Bagi Ketua Himpunan Mahasiswa (Hima) Bioteknologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Nadzira Nurul Fadhilah, memilih jurusan bukan soal ikut tren. Yang terpenting adalah menemukan lingkungan belajar yang bisa mengembangkan potensi dan memberikan banyak pengalaman.

Menurut Nadzira, hal itu ia rasakan selama kuliah di Prodi Bioteknologi UM Bandung. Perkuliahan tidak hanya berisi teori, tetapi dipadukan dengan praktikum di laboratorium sehingga mahasiswa bisa langsung memahami penerapan ilmu bioteknologi dalam kehidupan nyata.

"Di sini kami bukan cuma belajar dari buku. Hampir setiap materi didukung dengan praktikum, jadi konsep yang dipelajari langsung dipraktikkan. Selain itu, dosen juga memastikan mahasiswa benar-benar paham, bukan sekadar mengejar nilai," ujarnya di Kampus UM Bandung pada Kamis (09/07/2026).

Ia juga menilai suasana belajar di Bioteknologi UM Bandung terasa nyaman dan suportif. Dosen aktif mendampingi mahasiswa, baik saat perkuliahan maupun ketika mengikuti berbagai kegiatan di luar kelas.

Mahasiswa didorong mengikuti penelitian, Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW), kompetisi, hingga pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, pengalaman tersebut membuat mahasiswa lebih percaya diri dan siap menghadapi dunia kerja.

"Dosen selalu memberikan ruang untuk berkembang. Mau ikut PKM, penelitian, P2MW, atau lomba karya ilmiah, kami selalu didukung. Jadi, selama kuliah, kami benar-benar didorong untuk berani mencoba dan mengembangkan kemampuan," katanya.

Tak hanya mengasah kemampuan akademik, perkuliahan membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang disiplin, mampu bekerja sama, berpikir kritis, dan terbiasa mencari solusi atas berbagai persoalan.

Nadzira menjelaskan, lulusan Bioteknologi memiliki prospek kerja yang luas. Selama kuliah, mahasiswa mempelajari mikrobiologi, genetika, biologi molekuler, kultur jaringan, teknologi pangan, pertanian, kesehatan, hingga lingkungan.

Bekal tersebut membuka peluang berkarier di industri farmasi, pangan, kesehatan, perusahaan bioteknologi, laboratorium, maupun lembaga penelitian.

Hal yang paling ia sukai adalah budaya riset yang sudah dibangun sejak mahasiswa masih kuliah. Mahasiswa diberi kesempatan mengikuti penelitian, magang, dan berbagai proyek inovasi sehingga terbiasa menghasilkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

"Kami diajak untuk tidak hanya menjadi mahasiswa yang pintar secara akademik, tetapi mampu menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Itu yang membuat kuliah di Bioteknologi terasa seru sekaligus menantang," ungkap mahasiswa angkatan 2023 tersebut.

Di akhir perbincangan, Nadzira mengajak calon mahasiswa yang menyukai biologi, kimia, kesehatan, lingkungan, pertanian, maupun teknologi untuk tidak ragu memilih Bioteknologi.

"Kalau kamu suka sains dan ingin ilmunya benar-benar bisa diterapkan untuk membantu banyak orang, Bioteknologi adalah pilihan yang tepat. Apalagi Prodi Bioteknologi UM Bandung sudah terakreditasi Unggul, jadi kualitas pembelajaran, fasilitas, dan pengembangan mahasiswanya sudah terbukti. Jangan takut memilih Bioteknologi, karena peluang kariernya luas dan masa depannya sangat menjanjikan," tutupnya.***(FA)

Administrator

QAF UM Bandung Hadirkan Ruang Pembinaan yang Relevan bagi Mahasiswa Gen Z

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Himpunan Mahasiswa Quranic Action Forum (QAF) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung terus memperkuat perannya sebagai wadah pembinaan mahasiswa melalui audiensi bersama Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) UM Bandung.

Pertemuan yang berlangsung pada Kamis (09/07/2026) tersebut menjadi langkah awal untuk membangun sinergi dalam mengembangkan dakwah kampus yang lebih adaptif, kreatif, dan relevan dengan kehidupan mahasiswa.

Audiensi diterima langsung oleh Ketua LPPAIK Dikdik Lukman, Sekretaris LPPAIK Rovii Husnaini,  Kaprodi Hukum Keluarga Islam sekaligus Pembina QAF Yudi Daryadi, serta Divisi Perkaderan LPPAIK yang juga Instruktur Nasional Supala.

Menjawab Kebutuhan Mahasiswa

Ketua Umum QAF Anggi Ahmad Taupiq menjelaskan bahwa lahirnya QAF berangkat dari kebutuhan mahasiswa akan ruang pembinaan yang lebih dekat dengan karakter generasi muda.

Menurutnya, di tengah derasnya arus globalisasi dan berbagai tantangan sosial, mahasiswa membutuhkan komunitas yang mampu menjadi tempat belajar, bertumbuh, sekaligus saling menguatkan.

"QAF didirikan bukan sekadar sebagai organisasi baru, melainkan sebuah solusi konkret untuk menyediakan wadah pembinaan, syiar kreatif, serta gerakan memakmurkan masjid kampus yang relevan dengan jiwa muda Gen Z," ujarnya.

Anggi menambahkan, QAF membawa visi menjadi pelopor dakwah kampus yang menghidupkan nilai-nilai Al-Qur'an dan Sunnah melalui pendekatan yang inklusif, inspiratif, dan membangun semangat Rahmatan lil 'Alamin.

LPPAIK Beri Dukungan Penuh

Menanggapi pemaparan program kerja QAF, Dr. Supala menyampaikan apresiasi sekaligus dukungan penuh terhadap keberadaan organisasi tersebut. Ia menilai QAF memiliki peran strategis dalam memperkuat kaderisasi dan pembinaan karakter mahasiswa di lingkungan kampus.

"Kami sangat menyambut baik kehadiran Quranic Action Forum. Ini menjadi angin segar bagi dakwah kampus. LPPAIK siap memberikan bimbingan, pendampingan, dan bersinergi agar gerakan ini berkembang secara berkelanjutan," ujarnya.

Menurutnya, kolaborasi yang kuat diperlukan untuk membangun ekosistem kampus yang religius, sehat, dan berkemajuan, sehingga mampu melahirkan mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan spiritualitas yang kokoh.

Lima Pilar Gerakan

Sebagai arah gerakan, QAF telah menyiapkan lima divisi strategis yang menjadi fondasi berbagai program kerja organisasi.

Divisi Pengembangan Sumber Daya Insani (PSDI) berfokus pada kaderisasi melalui program Akselerasi Kaderisasi (AKAS) dan Quranic Halaqah Rutin (Q-HAR).

Divisi Riset dan Kajian (RISKA) dikembangkan sebagai pusat kajian keislaman yang menghasilkan modul pembelajaran dan artikel ilmiah.

Divisi Dakwah Potensial menghadirkan syiar Islam melalui pendekatan kreatif, seperti literasi, seni, dan forum diskusi Millennial Sharia Forum.

Sementara itu, Divisi Media dan Kreatif (MEDKRAF) bertugas mengembangkan konten dakwah digital yang menarik, edukatif, dan relevan bagi generasi muda.

Adapun Divisi Sosial dan Pemberdayaan menjalankan berbagai aksi nyata, seperti Gerakan Memakmurkan Masjid Kampus (GMMK), Pemberantasan Buta Huruf Al-Qur'an (PBHA), hingga kegiatan sosial dan filantropi.

Melalui kolaborasi yang terjalin bersama LPPAIK, QAF berharap dapat menghadirkan gerakan dakwah kampus yang tidak hanya memperkuat nilai-nilai keislaman, tetapi juga memberi kontribusi nyata dalam membentuk mahasiswa UM Bandung yang berilmu, berkarakter, dan siap memberikan manfaat bagi masyarakat.***(FA)

Administrator

Prodi PAI UM Bandung Dorong Pendidikan Islam Adaptif di Era Global

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Pendidikan Islam di negara dengan populasi muslim minoritas menghadapi tantangan yang semakin kompleks di tengah masyarakat yang multikultural dan sistem kenegaraan yang sekuler. 

Kondisi tersebut menjadi perhatian para akademisi untuk merumuskan model pendidikan Islam yang tetap relevan, inklusif, dan mampu menjawab perkembangan zaman.

Merespons isu tersebut, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menggelar seminar internasional bertajuk "Mapping the Future: Memetakan Masa Depan Pendidikan Islam dalam Kerangka Multikultural dan Sekuler di Negeri Minoritas Muslim (Thailand dan Tiongkok)".

Seminar yang berlangsung secara hybrid di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung, Selasa (07/07/2026), menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus upaya merumuskan arah pengembangan pendidikan Islam di tingkat global.

Ketua Prodi PAI UM Bandung Iim Irohim mengatakan, pengalaman pendidikan Islam di Thailand dan Tiongkok memberikan banyak pelajaran mengenai kemampuan lembaga pendidikan Islam untuk bertahan dan berkembang di tengah berbagai keterbatasan.

Menurutnya, kedua negara tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Islam dapat tetap eksis dengan terus beradaptasi terhadap perubahan sosial, budaya, ataupun kebijakan negara tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai keislaman.

Senada dengan itu, Dekan FAI UM Bandung Afif Muhammad menilai kurikulum pendidikan Islam harus mampu hadir dan berkontribusi di ruang publik yang semakin beragam.

Oleh karena itu, pendidikan Islam perlu membangun pendekatan yang terbuka, moderat, dan mampu berdialog dengan masyarakat multikultural.

Sementara itu, Wakil Rektor I UM Bandung Ayi Yunus Rusyana menyampaikan dukungan penuh universitas terhadap pengembangan kajian-kajian internasional yang membahas isu strategis umat Islam di berbagai belahan dunia.

Ia juga mendorong Prodi PAI UM Bandung agar tidak berhenti pada penyelenggaraan seminar internasional, tetapi mampu menginisiasi konferensi internasional dengan menghadirkan akademisi dan pakar dari berbagai negara.

Pada sesi utama, seminar menghadirkan Muhammad Aziz, Penasihat sekaligus Ketua PCIM Tiongkok periode 2019–2022, yang mengangkat tema "Pendidikan Islam dan Dinamika Kehidupan Muslim di Tiongkok: Tantangan, Peluang, dan Masa Depan".

Ia menjelaskan bagaimana lembaga pendidikan Islam di Tiongkok beradaptasi dengan regulasi negara yang ketat. Sekaligus memanfaatkan kemajuan teknologi digital sebagai sarana memperluas dakwah dan literasi Islam.

Perspektif lain disampaikan Preecha Roengsamut, Vice Director Sangkhom Islam Wittaya School, Thailand, melalui materi "Transformasi Pendidikan Islam di Thailand dalam Masyarakat Multikultural".

Ia memaparkan bahwa sekolah-sekolah Islam di Thailand Selatan berhasil mengintegrasikan kurikulum nasional dengan nilai-nilai Islam dan budaya lokal sehingga mampu mencetak generasi muslim yang kompetitif sekaligus inklusif di tengah masyarakat mayoritas Buddha.

Sebagai pembicara penutup, dosen PAI UM Bandung Supala mengulas konsep Islam Berkemajuan dalam konteks masyarakat muslim minoritas. Menurutnya, pendidikan Islam tidak boleh bersifat eksklusif.

Namun, harus menjadi ruang dialog yang menghadirkan nilai-nilai rahmatan lil 'alamin serta memberikan solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan universal.

Seminar yang diikuti 425 peserta dari kalangan dosen, peneliti, praktisi pendidikan, dan mahasiswa tersebut berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mengenai strategi pengembangan pendidikan Islam di negara minoritas muslim.

Melalui forum ini, Prodi PAI FAI UM Bandung berharap lahir rekomendasi akademik yang dapat menjadi referensi bagi pengembangan kurikulum pendidikan Islam di Indonesia. Sekaligus memperkuat posisi UM Bandung sebagai pusat kajian pendidikan Islam yang adaptif terhadap dinamika global.***(FA)

Administrator

UM Bandung Perkuat Tata Kelola Riset Digital untuk Tingkatkan Daya Saing Dosen

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung terus memperkuat budaya riset dan pengabdian kepada masyarakat melalui peluncuran Sistem LPPM dan pengumuman penerima Hibah Internal 2026.

Inisiatif ini menjadi bagian dari transformasi tata kelola penelitian yang tidak hanya berorientasi pada digitalisasi administrasi. Namun, peningkatan kualitas riset, produktivitas dosen, dan dampak nyata bagi masyarakat.

Program yang digagas Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM Bandung tersebut dirancang untuk membangun sistem penelitian yang lebih efektif, transparan, akuntabel, terintegrasi, dan berbasis digital.

Melalui sistem baru ini, seluruh proses penelitian, mulai dari pengajuan proposal hingga pelaporan hasil, dapat dikelola secara lebih terstruktur dan mudah dipantau.

Kepala LPPM UM Bandung, Ijang Faisal, menegaskan bahwa peluncuran sistem tersebut merupakan bagian dari perubahan cara kerja dalam mengelola penelitian, bukan sekadar menghadirkan aplikasi baru.

"Hari ini kita tidak sekadar meluncurkan sebuah sistem informasi. Kita sedang memulai langkah baru untuk membangun tata kelola penelitian di Universitas Muhammadiyah Bandung yang lebih baik, efektif, transparan, akuntabel, dan terintegrasi," ujarnya.

Menurut Ijang, pengelolaan hibah penelitian selama ini melibatkan tahapan yang panjang, mulai dari pengajuan proposal, seleksi, pelaksanaan, monitoring, evaluasi, hingga pelaporan dan luaran penelitian.

Oleh karena itu, digitalisasi diharapkan mampu menyederhanakan proses sekaligus meningkatkan kualitas tata kelola.

"Digitalisasi bukan sekadar memindahkan dokumen dari meja ke layar komputer. Digitalisasi harus mampu mengubah cara kerja menjadi lebih sederhana, tertib, terukur, mudah dipantau, dan dapat dipertanggungjawabkan," katanya.

Lebih dari itu, Sistem LPPM UM Bandung dirancang mengikuti mekanisme pengajuan hibah BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Dengan demikian, sistem ini tidak hanya digunakan untuk mengelola hibah internal, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi dosen agar lebih siap bersaing memperoleh hibah penelitian tingkat nasional.

Oleh karena itu, peluncuran sistem tidak berhenti pada seremoni. Para dosen langsung melakukan simulasi pengajuan proposal menggunakan laptop dan proposal penelitian masing-masing untuk menguji sekaligus memberikan masukan terhadap sistem yang baru dikembangkan.

"Bapak dan Ibu dosen bukan sekadar peserta simulasi, tetapi pengguna pertama yang ikut menguji dan menyempurnakan sistem ini. Sistem yang baik bukanlah sistem yang hanya terlihat canggih, tetapi benar-benar mudah digunakan dan membantu pekerjaan penggunanya," tutur Ijang.

Pada kesempatan yang sama, LPPM juga mengumumkan penerima Hibah Internal 2026 yang telah lolos seleksi administrasi dan penilaian substansi oleh tim reviewer.

Menurut Ijang, hibah tersebut harus dipandang sebagai investasi akademik untuk meningkatkan kapasitas dosen, memperkuat rekam jejak penelitian, membangun kolaborasi, serta menghasilkan karya yang memberi manfaat luas.

"Kita ingin penelitian di UM Bandung terus bergerak dari sekadar terlaksana menjadi berkualitas, dari sekadar menghasilkan laporan menjadi menghasilkan luaran, dan dari sekadar memenuhi kewajiban akademik menjadi memberikan dampak nyata," tegasnya.

Ia berharap penelitian yang didanai mampu menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi, inovasi, hak kekayaan intelektual, bahan ajar, rekomendasi kebijakan, hingga solusi konkret bagi berbagai persoalan masyarakat.

Sementara itu, bagi dosen yang belum memperoleh pendanaan, hasil evaluasi reviewer diharapkan menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas proposal pada periode berikutnya.

Sementara itu, Wakil Rektor I UM Bandung, Ayi Yunus Rusyana, menegaskan bahwa dosen tidak cukup hanya menjalankan tugas mengajar. Namun, harus aktif membangun karier akademik melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. 

Menurutnya, sistem penelitian yang tertata akan membantu setiap tahapan riset berjalan lebih baik sekaligus mendukung peningkatan jabatan fungsional dosen dan reputasi akademik universitas.

Ayi berharap hibah internal menjadi batu loncatan bagi dosen UM Bandung untuk semakin percaya diri mengikuti kompetisi hibah nasional, khususnya Hibah BIMA Kemendiktisaintek.

Ia juga mendorong agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai laporan atau artikel jurnal. Namun, dipublikasikan melalui berbagai media agar dapat diakses masyarakat dan memberi manfaat yang lebih luas.

"Kita ingin lahir penelitian-penelitian yang tidak hanya berkualitas secara akademik, tetapi juga menjadi rujukan, diperbincangkan secara luas, memperkuat jejaring kolaborasi, dan meningkatkan daya saing UM Bandung di tingkat nasional," ujarnya.

Melalui peluncuran Sistem LPPM dan Hibah Internal 2026, UM Bandung menegaskan komitmennya membangun ekosistem riset yang unggul, digital, kolaboratif, dan berdampak.

Transformasi ini diharapkan mampu melahirkan lebih banyak penelitian berkualitas sekaligus mempersiapkan dosen agar semakin kompetitif di tingkat nasional maupun internasional.***

Administrator

Tak Sekadar Kuliah, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UM Bandung Bangun Portofolio Lewat Kompetisi Nasional

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kuliah di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bukan hanya soal belajar teori komunikasi di ruang kelas. Mahasiswanya juga didorong untuk menghasilkan karya, mengikuti kompetisi, dan menguji kemampuan di tingkat nasional.

Hal itu kembali dibuktikan dalam ajang SILAT APIK PTMA ke-5 Tahun 2026 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta, pada 24–26 Juni 2026. Mahasiswa Ilmu Komunikasi UM Bandung sukses membawa pulang deretan prestasi dari berbagai kategori kompetisi.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa kreativitas mahasiswa berkembang di banyak bidang. Bukan hanya produksi media, tetapi juga fotografi, film, public relations, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), hingga esports.

Prestasi tertinggi diraih tim mahasiswa angkatan 2023 yang berhasil menyabet Juara 1 Public Service Announcement (PSA) melalui karya bertema pelayanan publik. Tim tersebut terdiri atas Amesha Habibah, Kahla Almalikah, Mutia Agita Ardianti, M Fawaz Hawari, Wulan Cahya Indika Azahra, dan Zahra Annisha Rizky.

Tak kalah membanggakan, tim mahasiswa angkatan 2022 yang beranggotakan Nada Salsabila, Nadzri Adhlani, Nasywa Salsa Aulia, dan Yoga Muhammad Gumelar berhasil meraih Juara 3 Practicum Work Product Competition kategori Podcast.

Prestasi juga datang dari berbagai kategori lainnya. Kaisan Nailus (2023) sukses menjadi Juara 1 Fotografi kategori Lifestyle, sementara Muhammad Dzulfikar (2024) meraih Juara 1 AI Generated Poster Competition sekaligus membawa pulang penghargaan Best Innovation berkat kreativitasnya memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI).

Di bidang perfilman, Ikhsan Fadillah (2023) meraih Juara 2 Short Semi Documentary. Putri Aulia (2023) berhasil memperoleh Juara 2 Community-Based Public Relations Campaign kategori Problem Solving, sedangkan Rahman Hakim (2023) meraih Juara 3 AI Generated Video Competition.

Menariknya lagi, prestasi mahasiswa Ilmu Komunikasi UM Bandung tidak hanya hadir di bidang akademik dan industri kreatif. Maulana Putra (2023) juga berhasil meraih Juara 3 Mobile Legends Competition, menambah daftar capaian mahasiswa dalam ajang tersebut.

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UM Bandung Agung Tirta Wibawa mengatakan, prestasi yang diraih mahasiswa menunjukkan bahwa dunia komunikasi saat ini menuntut kemampuan yang semakin beragam. Oleh karena itu, mahasiswa tidak hanya dibekali teori, tetapi juga didorong aktif berkarya, berkolaborasi, dan mengikuti perkembangan teknologi.

"Keberhasilan para mahasiswa ini mencerminkan luasnya kompetensi yang dikembangkan Prodi Ilmu Komunikasi UM Bandung. Mulai dari produksi media digital, fotografi, perfilman, hubungan masyarakat, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan, hingga industri kreatif dan esports," ujarnya.

Menurut Agung, proses pembelajaran di Prodi Ilmu Komunikasi dirancang agar mahasiswa memiliki pengalaman nyata sebelum lulus. Mereka didorong mengikuti kompetisi, mengerjakan proyek kreatif, membangun portofolio, hingga mengembangkan kemampuan yang relevan dengan kebutuhan industri komunikasi digital.

Ia berharap prestasi tersebut dapat menjadi penyemangat bagi mahasiswa lain untuk terus mengasah kemampuan dan berani mencoba berbagai tantangan.

"Keberhasilan ini sekaligus mempertegas komitmen Prodi Ilmu Komunikasi UM Bandung dalam mencetak lulusan yang profesional, adaptif, kreatif, dan siap bersaing," tegasnya.

Deretan prestasi ini menjadi gambaran bahwa kuliah di Ilmu Komunikasi UM Bandung bukan sekadar mengejar nilai di kelas. Mahasiswa diberi ruang untuk bereksplorasi, membangun portofolio, memanfaatkan teknologi terkini, hingga membuktikan kemampuannya di panggung nasional.

Bagi calon mahasiswa yang ingin belajar sambil berkarya dan siap menghadapi dunia industri kreatif, pengalaman seperti inilah yang terus dibangun di Prodi Ilmu Komunikasi UM Bandung.***(FA)

Administrator

Kuliah di Bioteknologi UM Bandung, Mahasiswa Tak Hanya Belajar, Tapi Menciptakan Inovasi

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Menjadi mahasiswa Bioteknologi tidak hanya belajar teori di ruang kelas atau praktikum di laboratorium. Di Prodi Bioteknologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, mahasiswa juga didorong untuk mengembangkan ide, melakukan riset, hingga membangun inovasi yang menjawab berbagai persoalan di masyarakat.

Komitmen tersebut tercermin melalui Biotechnology of Champions, sebuah kompetisi akademik yang dirancang sebagai ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, menyusun gagasan ilmiah, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kompetisi riset dan kewirausahaan tingkat nasional.

Melalui kegiatan bertema Unlocking Potential Through Competition and Research Innovation itu, mahasiswa tidak hanya berkompetisi, tetapi juga berlatih mengembangkan solusi berbasis ilmu bioteknologi terhadap berbagai isu aktual, seperti pengembangan pangan fungsional, teknologi ramah lingkungan, inovasi kesehatan, hingga pengembangan obat.

Ketua Pelaksana Biotechnology of Champions Mela Komalasari mengatakan, kompetisi tersebut merupakan program unggulan Bidang Riset dan Pengembangan Himpunan Mahasiswa Bioteknologi (Himabit) yang menjadi bagian dari upaya membangun budaya riset sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah.

"Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat meningkatkan pola pikir kritis mahasiswa, mengasah kemampuan memecahkan masalah, dan menumbuhkan minat yang kuat terhadap dunia riset di bidang bioteknologi," ujarnya.

Menurut Mela, pengalaman belajar di Bioteknologi tidak berhenti pada penguasaan materi perkuliahan. Mahasiswa juga dibiasakan mengembangkan ide menjadi proposal ilmiah, menyusun solusi berbasis riset, hingga mengenal proses kompetisi yang banyak diikuti mahasiswa di tingkat nasional.

Karena itu, Biotechnology of Champions menghadirkan simulasi penyusunan proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). Simulasi tersebut memberi pengalaman awal bagi mahasiswa sebelum mengikuti kompetisi yang sesungguhnya.

Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar menyusun karya ilmiah. Namun, melatih kemampuan bekerja dalam tim, berpikir sistematis, serta menawarkan solusi yang aplikatif dan berdampak bagi masyarakat.

"Kami berharap pengalaman dari kegiatan ini mampu meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam ajang PKM dan P2MW, sehingga ide-ide inovatif yang lahir di kampus dapat berkembang menjadi solusi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat," kata Mela.

Sementara itu, Ketua Prodi Bioteknologi UM Bandung Wulan Pertiwi menilai budaya kompetisi menjadi salah satu cara efektif membangun ekosistem akademik yang sehat sekaligus memperkuat kualitas lulusan.

Menurutnya, mahasiswa membutuhkan ruang untuk menguji kemampuan, memperluas wawasan, serta membiasakan diri menghadapi tantangan riset dan inovasi sejak dini.

"Kegiatan seperti ini sangat penting untuk mengasah kompetensi, wawasan, dan semangat kompetitif mahasiswa di bidang bioteknologi, sekaligus menjadi wadah untuk menumbuhkan jiwa juara yang kelak bermanfaat bagi bangsa dan negara," ujarnya.

Ia menambahkan, pembelajaran di Prodi Bioteknologi UM Bandung dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami konsep-konsep bioteknologi. Namun, mampu menerapkannya dalam bentuk riset, inovasi, maupun pengembangan produk yang memiliki manfaat nyata.

Melalui berbagai kegiatan akademik, riset, organisasi kemahasiswaan, hingga kompetisi, mahasiswa didorong membangun portofolio sejak kuliah. Dengan bekal tersebut, lulusan diharapkan siap melanjutkan studi, berkarier di industri, menjadi peneliti, ataupun mengembangkan usaha berbasis inovasi bioteknologi.

Bagi calon mahasiswa yang ingin belajar di lingkungan yang mendorong lahirnya inovasi, budaya riset, dan pengalaman akademik yang aplikatif, Prodi Bioteknologi UM Bandung menghadirkan ruang untuk bertumbuh sekaligus mengembangkan potensi menjadi solusi bagi masyarakat.***(FK/HMA)

Administrator