Berita

Siapa Menguasai Ruang Informasi, Berpeluang Membentuk Cara Berpikir Masyarakat

UMBANDUNG.AC.ID, Purwokerto -- Ketua PP Muhammadiyah sekaligus Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UM Bandung Dadang Kahmad menegaskan bahwa MPI memegang peran strategis sebagai penggerak utama transformasi dakwah Muhammadiyah di era digital. 

Di tengah derasnya arus informasi dan pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), Muhammadiyah dituntut hadir sebagai rujukan informasi yang kredibel sekaligus pelopor pemanfaatan teknologi yang beretika.

Hal tersebut disampaikan Dadang saat membuka Rapat Kerja Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah Tahun 2026 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Jumat (17/7).

Menurutnya, perubahan lanskap komunikasi menuntut dakwah Muhammadiyah untuk beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam yang menjadi fondasi Persyarikatan.

Ia menjelaskan bahwa dakwah pada masa kini tidak lagi cukup dilakukan melalui mimbar pengajian. Dakwah harus menjangkau ruang-ruang digital dengan memanfaatkan berbagai media komunikasi, mulai dari buku, jurnal ilmiah, media massa, televisi, radio, media sosial, podcast, video digital, hingga teknologi AI.

“Dakwah pada hari ini tidak cukup dilakukan hanya dari mimbar ke mimbar. Dakwah zaman kini harus berlangsung melalui buku, jurnal, media massa, televisi, radio, media sosial, podcast, video digital, hingga kecerdasan artifisial. Siapa yang menguasai ruang informasi, ia memiliki peluang besar membentuk cara berpikir masyarakat,” ujar Dadang.

Menurutnya, kemajuan teknologi informasi membawa dua wajah sekaligus. Di satu sisi membuka akses pengetahuan yang semakin luas, namun di sisi lain memunculkan tantangan berupa maraknya hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, hingga polarisasi sosial.

Oleh karena itu, Muhammadiyah harus mampu tampil sebagai sumber informasi yang terpercaya, menenangkan, mencerahkan, dan mempersatukan masyarakat.

“Muhammadiyah tidak boleh menjadi korban disinformasi, hoaks, ujaran kebencian, maupun polarisasi sosial. Muhammadiyah harus menjadi sumber informasi yang terpercaya, menenangkan, mencerahkan, dan mempersatukan,” tegasnya.

Dadang menambahkan, prinsip tabayyun sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 6 harus menjadi landasan dalam membangun budaya komunikasi yang sehat sekaligus praktik jurnalisme yang bertanggung jawab.

Verifikasi informasi, menurutnya, merupakan nilai Islam yang semakin relevan di tengah banjir informasi digital.

Selain itu, ia menaruh perhatian besar terhadap perkembangan Artificial Intelligence. Dadang menilai AI merupakan teknologi yang tidak boleh dipandang semata sebagai ancaman, tetapi juga tidak boleh diterima tanpa sikap kritis dan kerangka etik yang kuat.

“Muhammadiyah harus menjadi pelopor pemanfaatan AI yang berlandaskan nilai-nilai Islam, ilmu pengetahuan, dan etika kemanusiaan,” katanya, seperti dikutip dari laman muhammadiyah.or.id.

Oleh karena itu, Dadang berharap Rapat Kerja MPI mampu menghasilkan peta jalan transformasi digital Muhammadiyah yang komprehensif.

Beberapa agenda strategis yang perlu menjadi perhatian meliputi penguatan literasi digital warga Muhammadiyah, pengembangan arsip digital dan perpustakaan Muhammadiyah, penguatan media Muhammadiyah sebagai rujukan publik, pengembangan konten dakwah yang kreatif, ilmiah, dan dekat dengan generasi muda, hingga penyusunan pedoman etika pemanfaatan AI di lingkungan Persyarikatan.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah tumbuh sebagai gerakan ilmu yang berakar pada tradisi literasi. Oleh karena itu, budaya membaca, menulis, meneliti, dan berpikir ilmiah harus terus diperkuat agar tetap menjadi identitas utama Persyarikatan.

Dadang berharap perpustakaan Muhammadiyah tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi buku. Namun, berkembang menjadi pusat lahirnya gagasan, inovasi, riset, dan solusi atas berbagai persoalan umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Di bidang media, ia menegaskan pentingnya menghadirkan jurnalisme yang berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.

Menurutnya, media Muhammadiyah harus mampu memberikan perspektif yang mencerdaskan publik, memperkuat persaudaraan, membela kebenaran, serta menghadirkan optimisme di tengah berbagai tantangan zaman.

“Media Muhammadiyah jangan sekadar memberitakan peristiwa, tetapi harus menghadirkan perspektif yang mencerdaskan.

Jurnalisme Muhammadiyah harus menjadi jurnalisme untuk kemanusiaan yang membela kebenaran, memperkuat persaudaraan, mengangkat suara mereka yang lemah, serta menghadirkan harapan di tengah berbagai krisis,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan agar media Muhammadiyah tidak terjebak pada sensasionalisme demi mengejar perhatian publik.

Sebaliknya, objektivitas, keberimbangan, akurasi, serta akhlak harus menjadi prinsip yang melekat dalam setiap karya jurnalistik yang dihasilkan.

Menutup sambutannya, Dadang berharap Rapat Kerja MPI PP Muhammadiyah Tahun 2026 tidak berhenti pada penyusunan program administratif semata.

Namun, mampu melahirkan langkah-langkah strategis yang memperkuat Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu, gerakan dakwah, dan gerakan peradaban yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai Islam.***

Administrator

Produktif Berkarya, 12 Film Pendek Mahasiswa KPI UM Bandung Raih Pengakuan LSF RI

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Kreativitas mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung kembali menorehkan prestasi membanggakan.

Sebanyak 12 film pendek karya mahasiswa resmi dinyatakan lulus sensor oleh Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia, menandai bahwa karya yang lahir dari ruang perkuliahan telah memenuhi standar untuk dipublikasikan secara luas.

Ketua Prodi KPI UM Bandung, Rahmat Alamsyah, mengatakan capaian tersebut bukan sekadar memenuhi persyaratan administrasi. Namun, menjadi pengakuan resmi atas kualitas karya mahasiswa.

Menurutnya, keberhasilan ini menjadi penyemangat untuk terus meningkatkan mutu produksi film di lingkungan Prodi KPI.

"Raihan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas produksi film mahasiswa. Ketika karya sudah mendapat pengakuan dari lembaga resmi negara, standar yang kami bangun juga harus semakin tinggi," ujarnya, Sabtu (18/7/2026).

Dua belas film yang lolos sensor merupakan karya mahasiswa angkatan 2022 dan 2023. Film-film tersebut ialah "Amor Fati", "Hanya Rindu", "Where's My Home", "Titik Nol", "Paradox", "Just a Smile", "Luruh", "Bunga Terakhir", "Karma", "Langkah di Tengah Badai", "OBSESSED", dan "Titik Koma".

Rahmat menilai keberhasilan tersebut lahir dari proses kreatif yang dijalani mahasiswa secara serius, mulai dari penulisan naskah, penyutradaraan, produksi, hingga pascaproduksi.

Budaya berkarya yang terus dibangun menjadi kekuatan Prodi KPI dalam mencetak lulusan yang siap bersaing di industri kreatif.

Ke depan, Prodi KPI UM Bandung akan memperkuat ekosistem pembelajaran perfilman melalui pengembangan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE), penambahan mata kuliah produksi film, serta perluasan kolaborasi dengan pelaku industri.

Fokus tersebut melengkapi kekhasan Prodi KPI UM Bandung dalam penguatan kompetensi di bidang film, jurnalistik, media, dan daipreneur.

Produktivitas menghasilkan film pendek kini telah menjadi budaya akademik di Prodi KPI UM Bandung.

Mahasiswa tidak hanya ditantang menyelesaikan tugas perkuliahan. Namun, didorong menghadirkan karya yang mengangkat persoalan sosial dan memberikan dampak bagi masyarakat.

Salah satu karya yang mendapat perhatian ialah Where's My Home? garapan sutradara muda M Zaka Imam Hakim.

Film tersebut mengangkat isu perundungan di sekolah dan minimnya kehangatan keluarga melalui kisah seorang remaja yang kehilangan rasa memiliki tempat untuk pulang.

"Kami ingin menyampaikan bahwa rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi ruang yang menghadirkan rasa aman, kasih sayang, dan tempat bagi anak untuk didengar. Harapannya, film ini membuka ruang diskusi dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap isu yang kami angkat," kata Zaka.

Sebelumnya, pada Rabu, 15 Juli 2026, Prodi KPI UM Bandung dan mahasiswa semua angkatan juga menggelar Cinematology 3.0 tahun 2026 di Bandung Creative Hub (BCH).

Kegiatan ini merupakan ajang screening dan pemutaran perdana film-film karya mahasiswa KPI UM Bandung angkatan 2023-2024.***(FA) 

Administrator

Film Mahasiswa KPI UM Bandung Buktikan Sinema Kampus Makin Berkualitas

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Lampu dipadamkan, layar menyala, dan Bandung Creative Hub berubah menjadi ruang yang dipenuhi tawa, haru, hingga ketegangan.

Sebelas film pendek karya mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sukses menghipnotis penonton dalam ajang Cinematology 3.0, Rabu (15/07/2026).

Ajang tahunan tersebut menjadi panggung apresiasi bagi mahasiswa semester empat dan enam untuk menampilkan karya sinematik mereka.

Sebanyak 11 film diputar, yakni "Sink", "Sunyi", "Hasad", "Empty Within", "Rasiah", "Besok Jadi Apa", "Hening yang Kita Pilih", "Framed Memories", "Impian Tukang Bubur", "Salah Tempat", dan "Somnabulisme".

Beragam tema yang diangkat, mulai dari persoalan psikologis, relasi antarmanusia, hingga isu sosial, berhasil menghadirkan pengalaman emosional bagi penonton.

Kegiatan yang dihadiri mahasiswa lintas angkatan, orang tua, tamu undangan, dan masyarakat umum ini menunjukkan bahwa film mahasiswa telah berkembang menjadi karya seni yang mampu berkomunikasi dengan publik, bukan sekadar memenuhi tugas akademik.

Ketua Prodi KPI UM Bandung Rahmat Alamsyah mengatakan film merupakan bentuk karya budaya yang paling utuh karena memadukan gagasan, sastra, visual, audio, dan seni bertutur.

Menurutnya, film memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan sekaligus menanamkan nilai-nilai kehidupan.

"Film bukan sekadar sarana hiburan, melainkan bisa menjadi jalan menyebarkan nilai-nilai kebaikan Islam. Selain itu, melalui film juga kita bisa berdakwah," ujarnya.

Rahmat mengapresiasi perkembangan kualitas karya mahasiswa dan menegaskan bahwa penguatan bidang perfilman menjadi identitas Prodi KPI UM Bandung.

Ke depan, kurikulum akan diperkuat dengan mata kuliah produksi film agar mahasiswa menguasai seluruh proses kreatif, mulai dari pengembangan ide, penulisan skenario, penyutradaraan, sinematografi, hingga distribusi karya.

Ia menambahkan, Cinematology bukan hanya mengajarkan keterampilan teknis membuat film. 

Namun, membentuk mahasiswa menjadi content creator, filmmaker, storyteller, dan dai digital yang mampu menghadirkan karya visual berkualitas dengan berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah Sinematografi dan Produksi Film Dakwah Kelik Nursetiyo Widianto menjelaskan bahwa mahasiswa juga dilatih memahami ekosistem industri kreatif melalui promosi film, publikasi di media sosial, hingga penyelenggaraan pemutaran film secara mandiri.

Seluruh karya mahasiswa juga akan didaftarkan untuk memperoleh piagam lulus sensor dari Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

Tahun lalu, 12 film mahasiswa KPI UM Bandung berhasil memperoleh piagam lulus sensor.

Salah satu film yang menarik perhatian penonton adalah "Sunyi" karya sutradara muda Anadza Bilqis.

Film tersebut mengisahkan perjuangan seorang mahasiswa tunarungu di bidang komunikasi yang terinspirasi dari pengalaman Ziyan Shafi Nur Fadhilah, mahasiswa KPI angkatan 2023.

"Melalui film ini kami ingin menyampaikan bahwa komunikasi bukan hanya tentang mendengar dan berbicara, tetapi tentang empati, penerimaan, dan saling memahami. Harapannya, penonton dapat melihat bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkarya, dan meraih impiannya," tutur Bilqis.

Bilqis mengungkapkan, proses produksi "Sunyi" diawali dengan riset mendalam, penyusunan naskah, pengolahan visual, hingga pemilihan aktor yang mampu menggunakan bahasa isyarat agar cerita terasa autentik.

Menurutnya, pengalaman belajar di Prodi KPI UM Bandung membekali mahasiswa untuk terlibat dalam seluruh tahapan produksi film sehingga mampu melahirkan karya yang tidak hanya artistik, tetapi juga membawa nilai dakwah, edukasi, dan kepedulian sosial.

"Ke depannya, saya berharap film-film pendek karya mahasiswa Prodi KPI UM Bandung semakin berkembang. Tidak hanya diputar di lingkungan kampus, tetapi mampu berkompetisi di berbagai festival dan menjadi media dakwah serta edukasi yang memberikan dampak positif bagi masyarakat," pungkas Bilqis.***

Administrator

Kriya Tekstil UM Bandung Berbicara di Panggung Seni Dunia Lewat Karya Ken Atik

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung kembali menorehkan prestasi di kancah internasional melalui kiprah akademisinya di bidang seni.

Ketua Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion (KTF) UM Bandung Ken Atik berhasil lolos sebagai peserta Pameran Prakriti–Pustaka–Padma 2026, sebuah pameran seni internasional bergengsi yang digelar di Museum ARMA (Anak Agung Rai Museum of Art), Ubud, Bali.

Keikutsertaan Ken Atik menjadi bukti bahwa karya akademisi UM Bandung mampu bersaing di ruang apresiasi seni global.

Prestasi tersebut diraih melalui proses kuratorial yang diselenggarakan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, sehingga tidak semua seniman dapat menjadi bagian dari pameran yang mempertemukan puluhan perupa dari berbagai negara itu.

"Saya mendapat undangan dari ISI Bali untuk mengikuti Pameran Prakriti melalui proses kuratorial. Alhamdulillah karya saya lolos dan dapat menjadi bagian dari pameran internasional tersebut sebagai artist textile," ujar Ken.

Dalam pameran tersebut, Ken menghadirkan karya tekstil berukuran 110 x 225 sentimeter yang mengeksplorasi perpaduan teknik batik, lukis, art foiling, hingga ikat celup menggunakan pewarna sintetis di atas kain sutra.

Karya itu merepresentasikan kekayaan kriya tekstil Indonesia melalui pendekatan artistik yang memadukan tradisi dan eksplorasi visual kontemporer.

Bagi UM Bandung, capaian tersebut bukan sekadar keberhasilan individu. Keikutsertaan Ken Atik menjadi representasi kualitas akademisi sekaligus menunjukkan bahwa karya-karya yang lahir dari lingkungan kampus memiliki daya saing di tingkat internasional.

Meski tidak dapat hadir langsung pada pembukaan pameran di Bali, karya yang ditampilkan menjadi duta kreatif yang membawa nama Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung ke hadapan komunitas seni dunia.

"Ini menjadi kebanggaan bagi UM Bandung, khususnya Prodi Kriya Tekstil dan Fashion. Dosen-dosen kami terus mendapatkan kepercayaan untuk mengikuti berbagai pameran internasional. Semoga ini menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk terus berkarya dan membangun karakter profesional sebagai perupa ataupun desainer," katanya.

Menurut Ken, keterlibatan dosen dalam forum seni internasional merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Pengalaman berkarya, berjejaring, serta berdialog dengan seniman dari berbagai negara akan memperkaya proses pembelajaran di kelas sekaligus membuka perspektif baru bagi mahasiswa mengenai perkembangan seni dan desain di tingkat global.

Pameran Prakriti–Pustaka–Padma 2026 diselenggarakan oleh ISI Denpasar dengan Ketua Panitia I Wayan Suardana.

Mengusung tiga gagasan utama, yakni Prakriti sebagai simbol alam yang menjadi sumber inspirasi penciptaan, Pustaka sebagai warisan pengetahuan lintas generasi, dan Padma atau bunga teratai sebagai metafora proses kreatif yang terus bertumbuh.

Ajang seni yang dibuka Rektor ISI Bali Kun Adnyana pada 5 Juli 2026 itu merupakan bagian dari peringatan 30 tahun Museum ARMA.

Sebanyak 50 seniman dari delapan negara, yaitu Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, Iran, dan Indonesia, berpartisipasi dengan menghadirkan beragam medium karya, mulai dari patung, keramik, batik, wastra, tekstil, hingga seni kontemporer.

Keikutsertaan Ken Atik dalam forum bergengsi tersebut semakin mempertegas komitmen UM Bandung untuk mendorong dosen tidak hanya unggul dalam pendidikan dan penelitian. Namun, aktif berkarya di ruang-ruang kreatif internasional.

Pengalaman tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa agar terus mengembangkan kreativitas, memperluas jejaring, dan melahirkan karya yang mampu berbicara di panggung seni dunia.***

Administrator

HKI UM Bandung, Tempat Tumbuh Calon Praktisi Hukum

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Siapa bilang kuliah hukum isinya hanya menghafal pasal dan membaca buku tebal sepanjang hari?

Di Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, mahasiswa justru diajak belajar dengan cara yang lebih seru, aplikatif, dan relevan dengan persoalan yang benar-benar terjadi di tengah masyarakat.

Pengalaman itu dirasakan langsung oleh Fadila Rizka Anggraeni. Mahasiswi semester enam ini mengaku menemukan suasana belajar yang jauh dari kesan monoton.

Baginya, kuliah di HKI UM Bandung bukan sekadar mengejar nilai, tetapi menjadi ruang untuk bertumbuh, berdiskusi, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional.

Di balik kesibukannya sebagai mahasiswa, Fadila memiliki hobi membaca novel dan buku pengembangan diri.

Dua buku favoritnya, "Nunchi" dan "Laut Bercerita", membuatnya semakin peka terhadap persoalan kemanusiaan, empati, dan keadilan.

Ketertarikan itu kemudian menemukan jalannya ketika ia memutuskan bergabung dengan Prodi HKI UM Bandung.

"Di sini kita enggak cuma belajar teori hukum. Banyak mata kuliah yang membuat kita memahami bagaimana hukum hadir untuk menyelesaikan persoalan masyarakat," ujar Fadila saat ditemui di sela-sela Ujian Akhir Semester (UAS), Kamis (16/7/2026).

Menurutnya, mahasiswa mempelajari berbagai cabang ilmu hukum secara komprehensif. Mulai dari hukum perkawinan, waris, wakaf, penyelesaian sengketa keluarga, hingga hukum pidana, hukum perdata, dan hukum acara perdata.

Seluruh materi dipelajari melalui pendekatan akademis, islami, dan profesional sehingga mahasiswa memiliki bekal yang kuat, baik secara keilmuan maupun praktik.

Yang membuat Fadila semakin nyaman adalah budaya belajar di HKI UM Bandung yang terbuka dan suportif. Dosen tidak hanya mengajar di depan kelas.

Namun, menjadi mentor yang siap berdiskusi, memberikan arahan, serta mendorong mahasiswa untuk berani berpikir kritis dan menyampaikan pendapat.

Materi perkuliahan pun dirancang mengikuti perkembangan zaman. Hukum Islam dipelajari berdampingan dengan hukum nasional sehingga mahasiswa mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang dan lebih siap menghadapi tantangan dunia hukum yang terus berkembang.

Belajar di HKI UM Bandung juga jauh dari kata membosankan. Selain kuliah di kelas, mahasiswa aktif mengikuti diskusi, presentasi, analisis kasus, penelitian, hingga program magang di berbagai lembaga hukum, pengadilan, dan institusi lainnya.

Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja. Tak heran jika Fadila semakin optimistis menatap masa depannya.

Menurutnya, peluang karier lulusan HKI sangat luas, mulai dari hakim, advokat, pengacara, konsultan hukum, peneliti, dosen, hingga berbagai profesi di lembaga pemerintahan maupun institusi yang bergerak di bidang hukum. 

Anggapan bahwa lulusan HKI hanya bisa bekerja di Kantor Urusan Agama (KUA), menurutnya, sudah tidak lagi sesuai dengan realitas saat ini.

Bukan hanya soal akademik, Fadila juga menemukan lingkungan kampus yang membuatnya berkembang sebagai pribadi.

Teman-teman yang saling mendukung, dosen yang memotivasi, serta banyaknya kegiatan organisasi, kompetisi, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi pengalaman yang memperkaya perjalanan kuliahnya.

Ia pun mengapresiasi komitmen Prodi HKI UM Bandung yang terus menghadirkan pembelajaran inovatif agar mahasiswa siap menghadapi perubahan zaman.

Menurutnya, kampus memberikan ruang yang luas bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik, kepemimpinan, komunikasi, hingga pengalaman lapangan yang dibutuhkan di dunia kerja.

Menjelang akhir perbincangan, Fadila membagikan pesan bagi para pelajar yang sedang menentukan pilihan jurusan kuliah.

Menurutnya, memilih program studi tidak boleh sekadar ikut-ikutan teman atau tren media sosial.

"Kenali passion kalian sejak awal. Kalau kita kuliah di jurusan yang memang sesuai minat, proses belajarnya akan terasa lebih menyenangkan, kita lebih semangat berkembang, dan lebih siap menghadapi masa depan," tuturnya.

Bagi calon mahasiswa yang ingin belajar hukum dengan pendekatan yang aplikatif, didampingi dosen yang suportif, serta memperoleh pengalaman praktik sejak masih kuliah, Prodi Hukum Keluarga Islam UM Bandung menawarkan lebih dari sekadar ruang belajar.

Program studi ini menjadi tempat bertumbuh bagi generasi muda yang ingin membangun kompetensi, karakter, dan profesionalisme untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus tantangan dunia kerja.***

Administrator

UM Bandung Perkuat Budaya Riset, Ayi Yunus Dorong Dosen Raih Rekognisi Nasional

UMBANDUNG.AC.ID, Bandung -- Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung terus memperkuat budaya akademik dengan mendorong dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi sebagai peneliti yang produktif dan berdampak. 

Komitmen tersebut ditegaskan melalui peluncuran Sistem Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) yang diharapkan menjadi fondasi penguatan tata kelola riset di lingkungan kampus.

Wakil Rektor I UM Bandung Ayi Yunus Rusyana mengatakan, profesi dosen menuntut pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara utuh.

Mengajar di ruang kelas merupakan bagian penting dari tugas dosen, tetapi harus diiringi dengan penelitian, publikasi ilmiah, serta pengabdian kepada masyarakat yang berkualitas.

Menurutnya, salah satu tantangan yang masih dihadapi perguruan tinggi adalah pola pikir sebagian dosen yang masih memandang profesinya sebatas mengajar.

Padahal, dosen juga harus membangun karier akademik melalui jabatan fungsional dan menghasilkan karya ilmiah yang memberi kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan maupun kemajuan institusi.

"Masih ada dosen yang mindset-nya seperti guru. Cara pandang seperti ini harus mulai diubah. Dosen harus memikirkan jabatan fungsionalnya, membangun karier akademik, sekaligus berkontribusi terhadap kemajuan lembaga," ujarnya.

Ayi menegaskan, penelitian tidak boleh dipandang sebagai pemenuhan administrasi semata. Sebaliknya, riset harus dirancang melalui sistem yang jelas agar setiap tahapan.

Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hingga pelaporan, berjalan secara terarah dan menghasilkan luaran yang berkualitas.

"Jangan asal meneliti. Jangan hanya mengejar laporan selesai. Yang paling penting adalah outcome-nya. Dipublikasikan di jurnal apa, terindeks SINTA berapa, itu yang harus menjadi orientasi," katanya.

Oleh karena itu, kehadiran Sistem LPPM menjadi langkah strategis untuk membangun tata kelola penelitian yang lebih tertib, transparan, dan akuntabel.

Sistem tersebut diharapkan memudahkan dosen mengelola seluruh proses penelitian sekaligus mempercepat pengembangan karier akademik melalui peningkatan publikasi dan jabatan fungsional.

Selain itu, Ayi mendorong dosen UM Bandung untuk mulai berkompetisi memperoleh hibah penelitian nasional, seperti Program BIMA dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Menurutnya, hibah internal kampus sebaiknya menjadi stimulus bagi dosen baru sebelum melangkah ke kompetisi riset tingkat nasional.

Ia juga mengingatkan bahwa dampak penelitian tidak boleh berhenti pada publikasi jurnal. Hasil riset perlu dikomunikasikan kepada masyarakat melalui laman kampus, media massa, maupun media sosial agar menjadi rujukan publik dan memberikan manfaat yang lebih luas.

"Dengan sistem LPPM yang baru, saya berharap budaya riset di UM Bandung semakin kuat, semakin banyak dosen yang berkembang karier akademiknya, dan reputasi kampus terus meningkat melalui karya-karya ilmiah yang benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat," pungkasnya.***

Administrator